Mengawali kembali Kejayaan Islam

Sejarah telah mencatat Peradaban besar dunia dipergulirkan dari satu bangsa kepada bangsa yang lain, diawali dari Mesir sekian ribu th yg lalu, kemudian berpindah ke Babilonia, kemudian beralih ke Aegian, terus bergeser ke Yunani.
Dari Yunani bergerak ke Carthago, lalu beralih ke Romawi, kemudian berpindah ke umat Islam (Arab) dan selanjutnya dari umat Islam bergeser ke Barat.
Peradaban besar tidak bertahan di satu kawasan atau bangsa tertentu, tetapi berpindah dari satu bangsa ke bangsa yang lain.
Itulah fakta sejarah yang dapat kita saksikan. Segala ciptaan manusia, termasuk kebudayaan dan peradaban, pada saatnya pasti akan berakhir. Selalu terjadi siklus peradaban sebagai sunnatullah yang pasti berlaku. Dalam konteks ini, Allah menegaskan dalam Al Quran: “Dan demikianlah hari-hari kejayaan dan keterpurukan itu Kami gilirkan di antara para manusia.” (QS Ali Imran,)

Dalam Peradaban Islam sendiri, masa keemasan peradaban berlangsung selama 7 abad (abad 7-13 M), membentang dari Sungai Indus di Timur sampai ke Andalusia di Barat. Para sejarawan menyebut dimasa inilah puncak kemajuan peradaban Islam sebagai The Golden Age of Islam. Dimasa ini ilmu pengetahuan dan kebudayaan berkembang sangat pesat.
Misalnya Ibnu Sina yang dikenal sebagai ahli ilmu kedokteran menulis buku Al-Qanun fit-Thib (Qanun of Medicine) yang menjadi rujukan otoritatif di perguruan tinggi Eropa sampai abad ke-15.

Al-Khwarizmi yang dikenal sebagai ahli astronomi dan matematika menulis buku Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Perhitungan Integral dan Persamaan).
Buku inilah yang memperkenalkan ilmu aljabar (algebra) ke Eropa dan menyebarkan angka-angka Arab di dunia Barat. Selanjutnya Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd terkenal sebagai filosof yang banyak kontribusi dan pengaruhnya di Eropa. Al- Kindi terkenal dengan metode filsafatnya yang menggabungkan dalil Plato dan Aristoteles dengan cara Neo-Platonis.

Al-Farabi merekonsiliasi ide filsafat Plato, Aristoteles, dan sufisme. Pengaruh Rusyd sangat menonjol atas filsafat skolastik Kristen di Eropa pada abad Pertengahan. Di bidang sejarah dan sosiologi, Ibnu Khaldun adalah pakarnya. Karyanya, Muqaddimah, banyak memberikan kontribusi dan pengaruh terhadap pemikiran sarjana Eropa.

Kepakaran dan kebesaran Ibnu Khaldun diakui oleh sejarawan Toynbee. Masa keemasan peradaban Islam baik di Timur maupun di Barat pada akhirnya runtuh. Peradaban Islam di Timur berakhir ketika pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerang Baghdad (Daulah Abbasiyah) pada tahun 1258.

Masa keemasan peradaban Islam di Barat juga berakhir ketika pasukan Kristen melakukan reconquesta pada 1492 terhadap Dinasti Nashiriyah (Bani Ahmar) yang merupakan dinasti muslim terakhir di Andalusia. Pasca-Baghdad dan pasca-Cordova, ada tiga peradaban besar Islam yang muncul, yaitu Turki Usmani, Dinasti Safawiyah di Persia, dan Dinasti Mughal di India. Tiga peradaban Islam ini pun pada akhirnya mengalami kemunduran.

Setelah peradaban Islam mengalami kemunduran, Barat mengambil alih obor peradaban dunia sampai sekarang ini. Peradaban Barat berwatak sekuler, yakni memisahkan masalah ukhrawi dari masalah duniawi. Sistem politik, kenegaraan, moralitas, pandangan hidup, seni budaya, dan pendidikan Barat adalah sekuler. Sekularis memenjadi ciri khas peradaban Barat.

Dalam peradaban sekuler, nilai spiritualitas kurang mendapat perhatian secara penuh, sementara nilai keduniawian mendapat perhatian yang berlebih.
Peradaban sekuler Barat mengakibatkan terjadinya kegersangan rohani, alienasi, dan kehampaan spiritual yang menyebabkan masyarakatnya terjauh dari Tuhan yang menurut pandangan islam hal ini bisa membawanya menuju kehancuran.
Para analis kebudayaan dunia meramalkan akan datangnya suatu kebudayaan dan peradaban baru, yang mana peradaban baru yang akan muncul bercorak “keagamaan yang ideal” (religiously ideational) yang merupakan “persenyawaan yang selaras antara estetika-teoritika” Atau peradaban yang bertumpu pada “kesukarelaan etika dan rasional”
Jika hal ini benar akan terjadi maka inilah Peluang Kebangkitan Kembali Peradaban Islam.

Faisal Ismail, Guru Besar Pascasarjana FIAI UII Yogyakarta pernah menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya berpotensi besar menjadi salah satu pusat peradaban Islam di dunia. Tandanya dapat dilihat antara lain dari semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam dari tingkat PAUD, TK, SD, sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Kualitas ilmiah dan kesarjanaan muslim di setiap disiplin keilmuan bertambah baik. Kondisi sosial ekonomi muslim meningkat.

Pesantren selain berbasis di perdesaan, juga tumbuh di kota-kota. Masjid didirikan di desa-desa dan di kota-kota. Majelis taklim dan majelis zikir bermunculan baik di desa maupun di kota. Kajian-kajian keislaman moderat berkembang di kampus-kampus.

Bank syariah mulai bermunculan dan sistem keuangan berbasis syari’ah mulai sedikit demi sedikit diterapkan. Ada hotel syariah dan ada pula wisata2 halal di negeri ini. Banyak wanita yang secara sadar memakai hijab. Keislaman dan keindonesiaan atau Islam dan Pancasila berjalan bergandengan secara harmonis di negeri ini.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah telah bersabda bahwa pembawa kejayaan Islam pada akhir zaman akan datang dari arah timur dunia.

Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia berpeluang besar untuk Allah takdirkan menjadi pembawa bendera kejayaan islam berikutnya, menjadi pusat peradaban Islam berikutnya.

Peradaban Islam ini tentunya merupakan bagian integral dari peradaban Indonesia berdasarkan Pancasila yang antiekstremisme, antiradikalisme, dan antiterorisme. Karena Ekstremisme, radikalisme, dan terorisme bukan ajaran islam dan diluar nilai nilai Pancasila.

Semua insyaallah bisa terwujud jika Indonesia mampu keluar dari himpitan dua kebudayaan besar, yakni kebudayaan Barat yg bercorak liberal dg kapitalisnya dan kebudayaan komunis dg paham sosialismenya.

Indonesia insyaallah akan segera menggenapi syarat syarat yang ditetapkan Allah untuk membawa panji kejayaan islam diakhir zaman. Aamiin.#

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: