Membangun Peradapan Islam

Ketika Rasulullah Saw, sampai di kota Madinah dalam perjalanan hijrah yang panjang. Bukan rumah atau istana yang beliau dirikan sebagai tempat kediamannya, bukan pula mendirikan benteng untuk pertahanan dari serangan kafir Quraisy atau membangun pasar guna menghidupkan perekonomian umat.
Namun yang pertama didirikan Rasulullah Saw adalah masjid yaitu Masjid Nabawi yang berfungsi sebagai pusat kegiatan umat. Hal ini memberi sinyal betapa besarnya keberadaan dan keutamaan masjid bagi Rasulullah Saw, dalam membina umat dan membangun peradapan Islam.

Pada masa Rasulullah Saw, masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah khusus seperti melaksanakan shalat, membaca Al-Quran atau berzikir akan tetapi masjid dijadikan dengan tujuan utama sebagai pusat aktifitas umat Islam, sebagai pusat membangunan kejayaan islam.

Di masjid Rasulullah Saw, membicarakan persoalan umat dan solusinya, membina keimanan dan keislaman sahabat sebagai sarana dakwah, sebagai tempat menggagas dan merancang pengembangan ekonomi dengan mendirikan baitul maal, sebagai tempat yang menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan pembinaan umat.
Di masjid Rasulullah Saw juga menerima tamu negara, mengelola dan mengatur politik internal dan eksternal bahkan juga mengatur strategi perang.

Sejarah menorehkan catatan tentang masjid sebagai pusat peradaban umat Islam. Masjidil Haram di Mekah, Masjid Nabi di Madinah, Masjid besar dipusat-pusat peradaban umat Islam klasik di Damaskus, Baghdad, Andalusia di Spanyol dan kota Islam lainnya adalah saksi sejarah gemilangnya umat Islam masa lalu.

Peningkatan sumber daya insani umat adalah tujuan utama ajaran Islam. Maqasidus syariah (tujuan syariat), yaitu hifzul al-din, al-nafs, al-aql, al- nasal dan al-mall, (menjamin terpeliharanya keimanan, nyawa, akal sehat, keturunan suci dan kepemilikan) intinya adalah membangun sumber daya insani yang berkualitas dan bermartabat. Oleh karenanya, setiap program yang dilakukan oleh Masjid adalah sebagai pusat kebudayaan Islam harus mengacu kepada tujuan syariat di atas.

Masjid adalah tempat beribadah umat Islam, baik dalam arti khusus (mahdlah) maupun luas (ghairu mahdlah). Bangunannya yang besar, indah dan bersih sangat didambakan, namun masih kurang bermakna apabila tidak ada aktivitas syi’ar Islam yang semarak. Shalat berjama’ah dan kegiatan dakwah merupakan parameter adanya kemakmuran Masjid, dan sekaligus menjadi indikator kereligiusan umat Islam di sekitarnya. Dan Kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan dan lain sebagainya juga harus disemarakan dalam memakmurkan Masjid.

Masjid adalah Baitullah tempat kita beribadah dan kembali kepada-Nya. Di Masjid kita mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berjama’ah dalam shaff-shaff yang teratur. Sikap dan perilaku egaliter dapat dirasakan, kebersamaan dan ukhuwah nampak dengan jelas, serta perasaan saling mengasihi sesama muslim terbentuk dengan baik. Di sini pula ghirah Islam dan kesatuan jama’ah menjadi nyata.

Prinsipnya semua kegiatan umat dan kenegaraan berawal dari masjid dan berakhir juga dari masjid sehingga sangat terasa kesemarakan dan keaktifan masjid sebagai pusat pembangunan peradapan islam.

Di era sekarang ini sebagian besar fungsi masjid hanya sebagai tempat ibadah ritual keagamaan bagi umat ini, masjid tidak lebih hanya sebatas sebagai tempat sholat saja, bahkan kita lbh cenderung membatasi fungsi masjid dari ibadah bersifat muamalah. Lebih ekstrim lg ada yang menganggap bahwa urusan ekonomi, sosial dan politik harus dipisahkan dari urusan agama.. Seolah olah agama islam hanya mengatur urusan ritual peribatan saja dan menganggap masjid sebagai tempat ibadah ritual semata. Propaganda ini sangatlah merusak prinsip2 yang ada di dalam islam, yang pada ujungnya akan menggiring pemikiran umat islam kearah prinsip2 yg sekuler ala barat dan ala komunis di timur.

Sebagai masyarakat muslim sdh seharusnya kita berupaya untuk mengembalikan peranan masjid seperti apa yang di ajarkan rasulullah.. Mengembalikan fungsi masjid agar dapat mengambil fungsi dan peran penting dalam membangun peradaban umat. Masjid hendaknya dapat dijadikan sebagai “Islamic Centre” yang menjadikan masjid sebagai tempat yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap masyarakat umum, terhadap ilmu dan pendidikan, terhadap pembangunan ekonomi masyarakat maupun terhadap kehidupan politik dan kenegaraan, karena sebetulnya di dalam islam tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan akhirat, tidak mengenal pemisahan antara ekonomi dan ibadah ritual, tidak mengenal pemisahan agama dan politik. Dalam islam Semuanya urusan dunia adalah urusan akherat.#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: