Esensi ikhlas dan riya’

Salah satu sudut Madinah ramai oleh kerumunan orang siang itu. Ternyata ada satu orang yang dikerubuti belasan orang lain macam pedagang mainan anak-anak yang dikerumuni anak-anak kecil. Ternyata dialah Abu Hurairah, salah satu periwayat hadits Rasulullah. Maka bertanyalah Syafiy Al Ashbahi, satu di antara mereka, “Wahai Abu Hurairah, beritahukan kepada kami hadits Rasulullah yang kau ketahui hakikatnya.

“Akan aku sampaikan salah satu hadits Rasulullah yang kuketahui dan kupahami, “ jawab Abu Hurairah. Tetapi setelah mengucapkan itu, beliau malah pingsan. Tak tanggung-tanggung, hingga empat kali beliau tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di yaumul hisab adalah ahli jihad. Kemudian didatangkanlah mujahid tersebut ke hadapan Allah. Ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya di dunia dan iapun mengakuinya. Lalu Allah bertanya, “Apa yang telah kau lakukan atas nikmat itu?” Dijawabnya, “Aku berperang di jalanMu hingga menjemput syahidku.” Tetapi apa kata Allah, “Bohong kau! Kau melakukan semua itu agar semua orang mengenalmu sebagai orang yang pemberani dan yang demikian itu telah Aku perlihatkan kepadamu di dunia, kau dikenal sebagai orang yang pemberani.” Lalu Allah menyuruh malaikat melemparkan orang tersebut ke neraka.

Kemudian setelah itu, Allah memanggil hambaNya yang ahli ilmu, mengajar dan menghafal Al Qur-an. Lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah Allah berikan dan ditanya lagi dengan pertanyaan sama yang diberikan kepada orang pertama. Kemudian dijawabnya, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya kepada orang-orang yang belum tahu, serta membaca dan menghafal Al Qur-an untukMu.” Allah tetap menyebutnya sebagai pendusta, “Yang kau lakukan tak lain hanya agar manusia menganggapmu sebagai orang yang paling berilmu, kau juga ingin dikenal sebagai hafizh Qur-an yang baik. Semua juga sudah kukabulkan di dunia dan kini tak ada balasan yang lebih baik selain neraka.”

Lalu didatangkanlah orang ketiga, seorang yang diberi nikmat berupa keluasan rezeki dan keberlimpahan harta. Semua nikmat itu ditunjukkan padanya hingga ia mengakuinya. Allah pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan orang pertama dan kedua. Orang terakhir ini pun menjawab dengan bangga, “Tidak ada sepeserpun dari hartaku yang tidak kusedekahkan di jalanMu, ya Allah.” Ironis, Allah pun menolak jawaban tersebut dengan mengatainya pembohong, “Kau bersedekah agar dianggap orang sebagai ahli sedekah yang dermawan. Semua itu juga sudah telah Kucukupkan untukmu di dunia. Orang-orang mengenalmu sebagai sang dermawan.” Kemudian, sama seperti sebelumnya, Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke neraka.’” (HR Muslim)

Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Berlatih Ikhlas
Dari hadits riwayat Muslim di atas, maka keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting. Betapa pun seorang hamba mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, bahkan dikenal karena kedermawanannya, tapi jika tidak disertai dengan keikhlasan, maka menjadi sia-sialah amalnya.
Ternyata kata ikhlas, bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Atau bahkan tidak berucapkan ikhlas. Boleh jadi, tanpa kita sadari, keikhlasan kita bercampur dengan riya’ dan ingin menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang pemberani, yang berilmu, dan dermawan.
Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya, seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”
Ma’ruf al-Karkhi sampai memukul dirinya sendiri sambil berkata, “Wahai jiwa, ikhlaslah! Maka kamu akan bahagia.”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Ikhlas adalah memisahkan amal dari cacat seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”
Yusuf bin Husain berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Berapa besar kesungguhanku untuk mengeluarkan pamer dari dalam hati, namun sepertinya ia menetap di hati dalam bentuknya yang lain.”
Setiap kali Ayyub as-Sakhtiyani berbicara, ia mengusap wajahnya sambil berkata, “Aku terserang demam.” Padahal ia takut pamer dan ujub. Dia takut kalau orang-orang berkata tentang dirinya seperti ini. Dia menangis karena takut pada Allah.
Seorang ulama mengatakan, “Jika Allah tidak suka kepada seseorang, maka Allah memberinya tiga hal dan menghalanginya dari tiga hal. Pertama, Allah memberi dia teman yang saleh, namun dirinya tidak menjadi orang saleh. Kedua, Allah memberi dia amal saleh, namun dia tidak ikhlas menjalankannya. Ketiga, Allah memberi dia hikmah, namun dia tidak mempercayainya.”

Hakikat Riya
Riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedanghkan sum’ah (ketenaran) berasal dari kata Samaa’ (mendengar). Riya’ adalah ingin dilihat orang-orang supaya mendapat kedudukan. Riya’ itu tersamar seperti jalannya semut. Termasuk riya’, yaitu orang yang berpura-pura zuhud, berjalan memaksa diri untuk bersikap tenang dan bersikap lemah-lembut.
Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali menegaskan, riya itu haram dan pelakunya dibenci oleh Allah Swt. Hal itu ditunjukkan dalam QS. Al-Ma’un: 4- 6: “Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.”
Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa kita selamat?” Rasulullah menjawab, ”Bila manusia tidak mengamalkan ketaatan kepada Allah swt demi mengharap pujian orang-orang.”
Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan atas kamu adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Riya.”
Lalu Allah Swt berkata di Hari Kiamat ketika membalas manusia-manusia atas amal-amal mereka: “Pergilah (kamu) kepada orang-orang dulu kamu berbuat riya terhadap mereka di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapat balasan dari mereka?”
Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Berlindunglah kamu dengan Allah dari jubbul huzun (lembah duka). Sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?’ Nabi Saw menjawab, “Sebuah lembah di neraka Jahanam yang disediakan bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya”.#

2 pemikiran pada “Esensi ikhlas dan riya’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s