Penjara adalah Hadiah Rutin Ulama Oleh Penguasa

Ulama ditahan itu biasa. Ciri ulama pemberani sepanjang sejarahnya adalah akrab dengan penjara. Bagi ulama dan pejuang, penjara itu tempat biasa, kawan akrab, tidak aneh bahkan kenikmatan. Justru bahwa mereka pejuang beneran, pejuang ori, sejauh mana akrab dengan penjara.

Karena keberanian ulama, sepanjang sejarahnya, pasti meresahkan, menggelisahkan dan membuat gerah para penguasa dan penjara adalah hadiah dan pahalanya di dunia sebagai medan perjuangan. Zaman Nabi begitu, zaman kekhilafahan begitu, zaman kolonial begitu, zaman penguasa modern apalagi, zaman Orde Lama dan Orde Baru juga sama. Sekarang, ya apa anehnya. Jangan tanya apa kesalahannya dan mengapa penguasa memenjarakannya.

Sejarah banyak menyimpan catatan para ulama dipenjara. Imam Abu Hanifah pernah dipenjara, As-Sarakhsi, (ulama mazhab Hanafi) pernah penjara, Ibn Taimiyyah pernah dipenjara, Sayyid Qutb pernah dipenjara, Buya Hamka pernah dipenjara. Semuanya akrab dengan penjara. Apa ulama jadi hina dengan dipenjara? Tidak pernah sekalipun dalam sejarah, ulama jadi hina gara-gara masuk penjara. Justru itu kemuliaan yang dikenang sejarah karena penjara adalah simbol perlawanan moral ulama.

Bahkan banyak ulama menyelesaikan karya besarnya yang bermanfaat sebagai amal jariyah dan ilmunya dikenang sepanjang sejarah karena karya² besarnya di dalam penjara: As-Sarakhsi menulis kitab ilmu fikih Mazhab Hanafi yang terkenal, berjudul Al-Mabsūth. Sayyid Qutb menulis Tafsir “Fi Dzilalil Qur’an” dalam penjara, Buya Hamka menyelesaikan Tafsir “Al-Azhar”-nya dalam penjara.

Penjara adalah hadiah rutin buat para ulama pemberani yang mengkritik atau melawan penguasa yang tidak semua ulama sanggup melakukannya. Ulama yang fokusnya pada jama’ah dan umat (dakwah amar makruf) tidak memasuki politik atau tidak meresahkan penguasa ya tentu akan aman-aman saja walaupun tidak semua ulama merasa aman karena hakikatnya semua ulama pernah dipenjara, hanya bentuknya beda-beda: Ada penjara kenikmatan duniawi, ada penjara sosial, ada penjara popularitas, ada penjara kebebasan diri dan penjara jeruji besi. Semua tergantung medan dakwahnya.

Ciri ulama yang berpengaruh pada penguasa adalah dakwahnya yang mengganggu penguasa. Bukan mengganggu tugasnya mengurusi rakyat tapi menganggu dari kemungkinan lalai atas tugasnya menegakkan keadilan, lalai dari kewajiban menjalankan syariat agama, lalai dari mengingat murka Allah bila memerintah tidak adil, lalai mengingat akhirat yang akan menghisab tugas kepemimpinannya, lalai dari mengingat ancaman neraka jahanam bila menyakiti rakyatnya dan seterusnya.

Penjara adalah ciri seorang ulama berpengaruh kepada penguasa karena ia mendakwahinya dengan kritik atau teguran keras bukan menghibur dan menyenangkannya apalagi salah benar didukung yang oleh Imam Al-Ghazali disebut sebagai ulama su’. Ulama su’ itu konon lebih berbahaya ketimbang dajjal. Wajar, karena ia menjual agama kepada penguasa demi keselamatan dirinya dan kesenangan duniawi yang tugas ulama justru menasehati dan menegur penguasa agar tidak melenceng dari jalan Allah.

Beberapa ulama terdahulu pernah diterpa cobaan hingga pada akhirnya ditahan dan dipenjara karena menentang penguasa saat itu. 

Meski begitu, terpaan masalah itu sekalipun tidak membuat mereka jauh dari Allah SWT. Mereka tetap berjuang dengan berbagai karya-karyanya demi kemaslahatan umat Muslim.

Imam empat mazhab pun pernah merasakan kurungan penjara. Termasuk juga Ibnu Taimiyyah. Berikut ini adalah lima ulama yang pernah ditahan di penjara oleh rezim penguasa saat itu.

1. Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah dicabuk dan dipenjara di era penguasa al-Manshur pada zaman Dinasti Abbasiyah. Dia ditahan karena menolak dijadikan qadhi. Sebelum itu, di zaman Dinasti Umayyah, Imam Abu Hanifah juga pernah ditahan saat Marwan bin Muhammad menjadi penguasa karena menolak tawaran menjadi hakim.

Beliau meninggal dunia pada bulan Rajab 150H/767M ketika berusia 68 tahun), yakni ketika berada di dalam penjara karena memakan makanan yang telah diracuni. Dalam riwayat lain, disebutkan beliau dipukul dalam penjara sampai wafat. 

Meninggalnya Imam Abu Hanifah menjadi kehilangan yang amat besar bagi umat Islam. Sholat jenazahnya dilakukan sebanyak denam gelombang, dan dengan jamaah setiap sholat mencapai 50 ribu orang.

2. Imam Malik

Imam Malik pernah dihukum gubernur Kota Madinah pada tahun 147H/764M. Beliau dihukum karena mengeluarkan fatwa bahwa hukum talaq yang akan dilaksanakan penguasa tidak sah.

Ketika itu, Kerajaan Abbasiyah membuat fatwa, yaitu seluruh penduduk perlu taat kepada pemimpin. Siapa pun yang tidak mau makan akan terjatuh talaq atas istirinya. Lalu Imam Malik dicambuk karena melawan perintah Abu Ja`far al-Manshur, karena meriwayatkan hadist bahwa tidak ada talak bagi orang yang dipaksa.

3. Imam Syafii

Imam Syafii pernah dituding mendukung Syiah oleh orang yang dengki dengan dirinya, yaitu Mutharrif bin Mâzin. Mutharrif memprovokasi Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Imam Syafii dan orang-orang Alawiyin.

Mutharrif memfitnah dan melaporkan pada Khalifah Harun bin Rasyid, lalu menyebut Imam Syafii terlibat dalam rencana merongrong kekuasaan Harun Al-Rasyid. Kemudian Imam Syafii ditangkap. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai, lalu diarak di jalanan sebagai sosok yang tertuding melawan kekuasaan negara.

Namun Khalifah Harun Al-Rasyid adalah sosok yang cerdas dan bijaksana. Tuduhan bahwa beliau seorang yang terlibat sebagai bagian dari Syiah Rafidhah yang diduga merencanakan konspirasi perlawanan tidak terbukti kemudian dilepaskan.

4. Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal pernah dicambuk dan dipenjara selama 30 bulan oleh Khalifah Makmun karena tidak mengakui sisi kemakhlukan Alquran seperti yang diyakini aliran muktazilah.

Khalifah Al-Makmun saat itu menyukai bidang filsafat dan mulai memaksakan pandangannya tentang Alquran bahwa Alquran adalah makhluk, lantas para ulama dipaksa mengikuti pemikirannya. 

Namun Imam Ahmad bin Hanbal menolak mengikuti pemikiran Al-Makmun dan meyakini Alquran adalah kalamullah dan bukan makhluk. Setelah itu Imam Ahmad dipenjara. Lalu bebas setelah Khalifah Al-Mutawakkil menjalankan kekuasaan.

5. Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah juga pernah dipenjara di Kairo lalu diasingkan ke Alexandria karena perbedaan pendapat dengan ulama lain yang sezaman kala itu. Setelah bebas, ia berangkat ke Syam dan mengajar di Damaskus. Namun di sana dia kembali berbeda pendapat dalam hal persoalan sumpah dengan talak.

Karena masalah itu, dia kembali dipenjara selama lima bulan. Ia sempat bebas, tetapi setelah itu dipenjara lagi di penjara Damaskus bersama muridnya yang setia, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Di penjara, Ibnu Taimiyah mendapatkan waktu yang banyak untuk membaca dan menulis sejumlah buku untuk kemudian dikirim ke luar penjara.

Pada akhirnya, penguasa saat itu malah meminta agar kitab, kertas, tinta dan pena yang digunakan itu dikeluarkan dari dalam penjara Ibnu Taimiyah. Pada tahun 728 H, Ibnu Taimiyah dilarang membaca. Kemudian Ibnu Taimiyah jatuh sakit dan meninggal dunia#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: