Simpul Islam Terlepas , mengapa bisa terjadi.? apa penyebabnya.?

Simpul Islam Terlepas! “, Dalam sebuah hadits rosulullah menyampaikan “Sungguh, simpul-simpul Islam akan di lepaskan satu demi satu, setiap kali satu simpul terlepas, orang-orang ber-gantung pada simpul berikutnya. Yang pertama terlepas adalah al-hukm (Pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah sholat.” (Imam Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini) 

Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini menyatakan bahwa hadits tersebut seluruh isnadnya shohih. Hadits tersebut juga di riwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman, Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu’jam al-kabir, dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Imam Ahmad.

Adapun Imam Ahmad menukil hadits di atas berturut-turut dari Walid bin Muslim, dari Abdul Aziz bin Ismail bin Ubaidillah, dari Sulaiman bin Habib, dari Abu Umamah al-bahili, dari Rasulullah saw. Selain itu, Muhammad bin Nusr bin al-Hajjaj al-Muruzi dalam kitab Taqdir Qadr ash-shalah, al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawa’id, dan al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir juga menilai hadits di atas adalah hadits yang tidak di ragukan lagi tentang keshahihannya. Karena itu, hadits di atas hadits yang dapat di terima terkait dengan berita yang di sampaikan. Sebab berdasarkan riwayatnya adalah shohih dan di rayahnya tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Simpul Islam yang pertama kali lepas adalah rusaknya hukum (pemerintahan) dan penguasanya

Terkait dengan simpul-simpul islam tersebut Imam al-hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini juga mengeluarkan beberapa hadits yang lain, di antaranya : “Sungguh, simpul-simpul Islam akan di lepaskan satu demi satu, (pada saat itu) akan ada para pemimpin yang tersesat, dan sungguh keluarlah dajjal yang ketiga pada masa itu.” Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya menilai bahwa hadits tersebut merupakan berita tentang simpul Islam yang pertama kali terlepas adalah dari sisi rusaknya hukum (pemerintahan) dan penguasanya.

Sedangkan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihhya menyatakan tentang terlepasnya simpul-simpul Islam dan terpecah belahnya jama’ah (kesatuan) umat Islam. Sehingga, berita tentang terlepasnya simpul-simpul Islam sangat erat kaitannya dengan sistem pemerintahan, para penguasa, dan hukum-hukum yang di terapkan. Karena ketiganya merupakan penjaga kesatuan umat dan pelaksanaan ajaran Islam agar bisa di terapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Imam Ibnu Mandzur dalam kitab lisan al-Arabmenyatakan bahwa ‘ura adalah jamak dari ‘urwah. Sedangkan kata ‘urwah sendiri secara bahasa memiliki beberapa makna antara lainalwutsqa (perjanjian) atau tamassuk (pegangan). Al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir menyatakan bahwa ‘ura islam adalah gaya majaz isti’arah yang di gunakan untuk menyebut perkara agama berupa cabang-cabang Islam yang di jadikan pegangan dan tempat untuk bergantung.

Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman menyebutkan yang di maksud ‘urwah adalah hal-hal yang menjadi pegangan dalam menjaga agama, hukum-hukum, serta syari’at-syari’atnya. Demikian pula penjelasan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shohihnya. Beliau menjelaskan bahwa ‘ural Islam adalah hudud, ahkam, dan beberapa perkara yang berkaitan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, simpul-simpul Islam adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri, di mana ajarannya meliputi berbagai perkara; baik aspek pemerintahan yang menjalankan hukum atau aspek ibadah ritual seperti pelaksanaan ibadah sholat.

Simpul Islam yang terpenting adalah Aspek pemerintahan dimana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari islam

Sistem pemerintahan islam

Oleh sebab itu, aspek pemerintahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari islam seperti halnya sholat. Hadits ini telah menggugurkan pendapat orang bahwa pemerintahan adalah urusan dunia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ajaran islam.

Justru sebaliknya, hadits di atas menyatakan bahwa salah satu simpul ajaran islam yang mesti di pegang adalah sistem pemerintahan yang menjalankan seluruh hukum-hukum Islam.

Karena itu pula, memisahkan pemerintahan dari islam sama artinya dengan membuang salah satu simpul islam. Realitas telah menunjukkan, ketika pemerintahan islam yakni khilafah di Turki berhasil di runtuhkan oleh Inggris dan anteknya Mushafa kemal at-tartuk. Ketika itu banyak sekali hukum-hukum islam yang harusnya di terapkan, di abaikan begitu saja, bahkan hilang dari ruang publik pengaturan masyarakat. Hingga sekarang, hanya tersisa pada sektor privat yang tercermin pada ritual ibadah, unsur akhlak, dan pernikahan semata.

Dalam hadits di atas mengabarkan bahwa ‘ura islam itu akan di urai satu persatu. Ungkapan dalam bentuk fasif (bina majhul) menunjukkan bahwa terurainya ‘ural islam itu tidak terjadi dengan sendirinya. Tetapi di urai atau dirusak, bahkan dihancurkan oleh orang yang tidak suka terhadap ajaran-ajaran Islam. Sehingga, umat Islam terperdaya dan mengikuti jejak langkah mereka. Bahkan, mereka mampu untuk memperalat umat islam untuk menghancurkan ajaran-ajarannya sendiri.

Simpul Islam terlepas karena Rusaknya sistem Hukum

Kalimat al-hukm yang menjadi kalimat pertama dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa al-hukm menjadi fokus pertama atau sasaran utama untuk dihancurkan. Jika al-hukm berhasil di urai atau di rusak maka itu menjadi pembuka bagi terurainya simpul-simpul islam yang lain. Hingga perkara terakhir yang menjadi benteng umat Islam yang berkaitan dengan ibadah sholat pun, di abaikan dan di sepelekan pelaksanaannya. Padahal, bila masih ada sistem pemerintahan Islam, umat Islam yang tidak melaksanakan sholat tetap terkena hukuman sebagaimana penjelasan para ulama mazhab dalam kitab-kitab mereka.

Munculnya pemahaman yang keliru berkaitan dengan hak asasi manusia seringkali menyesatkan. Seperti contoh di mana seorang ayah sekalipun tidak boleh memukul anaknya walaupun dalam urusan agar anaknya mau melaksanakan ibadah sholat. Hal ini bergesekan dengan ajaran islam. Kita tahu sebagaimana hadits Rasulullah saw. Hal ini merupakan upaya agar anak-anak umat ini memiliki pemahaman sebagaiman orang-orang yang berupaya untuk memisahkan simpul-simpul islam.

Karena itu, ‘urwah islam yang berkaitan dengan ibadah sholat serta metode menegakkannya harus tetap di jaga. Anak-anak umat ini harus di ajarkan bagaimana pentingnya melaksanakan ibadah sholat, termasuk tatacara mengerjakannya. Namun, upaya yang terakhir ini menuntut kita untuk menggalang persatuan dalam rangka mewujudkan ‘urwah al-hukm. Karena ‘urwah al-hukm akan melindungi dan melaksanakan seluruh pelaksanaan ‘ural islam. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa imam (penguasa dalam Islam) adalah junnah (perisai). Perisai yang melindungi Islam dan kaum Muslim dari berbagai penindasan, kedzholiman, dan keterjajahan sebagaimana yang kita saksikan hari ini.

Pemimpin yang tersesat dan sistem hukum yang rusak

Dengan demikian, apa yang di jelaskan oleh para ulama berkaitan terlepasnya simbol islam. Adalah karena pemimpin yang tersesat atau rusaknya penguasa serta hukum-hukum islam yang tidak di jalankan lagi. Hal ini menjadi bukti tersendiri dengan lahirnya realitas yang semakin mengkhawatirkan terkait dengan ajaran-ajaran islam.

Upaya untuk memperbaiki merupakan kewajiban utama bagi anak-anak umat ini agar Islam sebagaimana pernah di terapkan pada masa yang lalu. Islam tampil kembali sebagai komponen bangsa yang sangat di segani kawan dan ditakuti oleh lawan. Bandingkan dengan realitas institusi yang di miliki oleh umat islam pada masa ini. Sistem tatanegara yang di terapkan oleh umat Islam saat ini menimbulkan dampak perpecahannya yang cukup banyak. Sistem saat ini tidak mampu mengangkat harkat dan martabat islam dan kaum muslim dari berbagai penjajahan yang di lakukan oleh Barat dan kaum kapitalis. Bahkan anak-anak umat islam rela dan dengan senang hati menghamba pada Barat, walaupun mereka telah melecehkan keberadaan islam.

Karena itu, pernyataan bahwa ‘ural islam sangat erat kaitannya dengan terpecah belahnya kesatuan umat islam telah terlihat di depan mata. Al-hukm yang menjadi titik fokus penyerangan yang pertama kali benar-benar telah menjadikan umat islam tidak mampu lagi untuk melindungi urwah-urwah islam yang lainnya.

Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan kembali ‘urwah al-hukm, yakni sistem hukum yang menerapkan seluruh hukum-hukum Allah dan dapat melindungi umat ini dari kedzholiman. Hal ini merupakan upaya strategis untuk memperbaiki seluruh simbol-simbol islam.

Di sisi lain, penerapan seluruh hukum-hukum Allah dan kuatnya kembali persatuan umat Islam bukan dalam rangka menjajah berbagai negeri dan mendzholimi manusia sebagaimana yang telah di lakukan Barat pada umat islam. Namun, islam yang tampil dengan seluruh potensi dan seluruh kekuatannya hanya di tujukan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah.

Baca dan Tonton juga:

Sejarah Pertumbuhan Islam Eropa

Muncul dan hancurnya suatu Peradapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s