Faktor Penyebab Anak Menjadi Tempramental

Secara umum, temperamen bisa diartikan sebagai perbedaan perilaku dan emosi yang ditunjukkan oleh seseorang ketika ia merespon suatu hal. Temperamen bisa dibilang sebagai karakter diri seseorang yang terbentuk sejak lahir. Maka secara khusus, temperamen pada anak sendiri merupakan sebuah gambaran bagaimana ia memahami dan menyikapi berbagai hal yang ada di sekelilingnya.

Bahagia dalam konsep Islam

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.

Lantas apakah yang disebut”bahagia’ (sa’adah/happiness)?

Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Dalam Islam “Kesejahteraan’ dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.

Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta’ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.’

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.

Ma’rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.

Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah”, dan bersakssi bahwa “Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.”

Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.

Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka “senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.

“Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.

“Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…”

“Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”

Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Menjaga diri dari sifat Munafik

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Tanda orang munafik ada tiga. Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat. (HR Bukhari). Dalam HR Muslim ada penambahan, ”Walaupun ia puasa, shalat, dan mengaku sebagai Muslim.”

Menurut para ulama, penipuan, makar, pengelabuan dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam nifak. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’u l-Ulum wa l-Hikam membagi nifak dalam dua jenis.

Pertama, nifak besar (akbar) yang biasa dikenal dengan nifak i’tiqady. Pelakunya berkamuflase mengaku beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan hari akhir.

Namun, di balik itu ia mendustakan semua atau sebagiannya. Nifak seperti ini ada pada zaman Muhammad SAW dahulu. Saat itu, Abdullah bin Ubay menjadi panutan kaum munafik. Ia menyebarkan isu bahwa antara Ummul Mukminin Aisyah dan Shafwan bin Mu’aththal ada affair.

Kedua adalah nifak kecil (asghar) yang bersifat amali. Biasanya si pelaku bersikap hipokrit (munafik) dengan menampakkan kebaikan yang sejatinya tidak demikian. Sebagian ciri-ciri nifak jenis ini seperti dusta, ingkar janji, dan khianat.

Sudah jamak diketahui bahwa dusta dalam berbicara adalah sifat yang tidak terpuji. Apalagi kalau dusta kepada orang yang percaya akan kejujuran si pembicara. Dalam al-Musnad ada sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Sebuah pengkhianatan yang besar jika kamu berbicara dengan saudaramu dan ia percaya kepadamu (bahwa kamu tidak akan berdusta), sedangkan kamu berdusta kepadanya.”

Sedangkan ingkar janji adalah perkara yang dilarang keras dalam Islam, baik dalam urusan yang besar maupun remeh. Abdullah bin Amir pernah bercerita, ”Suatu ketika Muhammad SAW berkunjung ke rumah kami. Ketika itu aku masih kecil. Tatkala aku hendak keluar rumah untuk bermain, ibuku memanggilku, Abdullah! sini ibu punya sesuatu untukmu.”

Maka Rasulullah bertanya, ”Apa yang akan kamu berikan buat anakmu?” ”Akan kuberi kurma,” jawab ibuku. Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya kamu tidak memberi apa-apa kepada anakmu maka kamu dicatat telah berbuat dusta.” (HR Abu Daud).

Mengenai amanah, ia merupakan perwujudan kepercayaan orang kepada yang diamanahi. Sangat tidak wajar jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada pengkhianat. Selayaknya seorang Muslim membalas kepercayaan saudaranya dengan menjaga amanah yang dibebankan kepadanya.

Menjaga diri dari tiga sifat di atas sangatlah perlu. Jika tiga sifat itu bersemayam dalam diri seseorang dan tidak segera diobati, maka pada gilirannya akan menggiring pada nifak akbar yang ancamannya tidak ada selain api neraka.#

Menggali Potensi diri untuk beramal sholeh

Manusia beruntung dan bahagia adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang beramal saleh. Namun, sedikit saja orang menyadari hal itu. Hanya Mukmin sejati yang mampu memahaminya. Ia menjadikan dunia sebagai persiapan menuju akhirat. Karena itu, ia pun menjadikan berbagai fasilitas yang ada sebagai sarana memperbanyak amal saleh.

Kehidupan dunia bukanlah tujuan utama, melainkan jembatan menuju akhirat. Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lain sebagai tempat ibadah, tempat bersedekah, tempat berjihad, dan tempat ia berlomba dengan saudaranya untuk menggapai kebaikan (surga). Berharap, atas usahanya itu ia tergolong orang-orang yang bertakwa. Ia senantiasa memperbanyak bekal, yaitu takwa. Ia meyakini hanya dengan takwa, kebahagiaan sejati bisa diraih.

Allah SWT berfirman, “Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqarah:197). Kehidupan dunia hanya sementara. Jadikan iman sebagai motivator, pendorong diri untuk terus beramal saleh. Sebab, hanya amal saleh yang akan menemani perjalanan kita, kelak setelah mati. Manfaatkan waktu yang terbatas ini untuk beribadah sebaik mungkin. Beramal saleh dengan apa yang kita miliki. Jika dikaruniai harta, berinfaklah.

Jika diberikan ilmu, manfaatkan dan ajarkanlah. Bantulah orang yang membutuhkan. Sekecil apa pun ke sempatan berbuat baik hadir, kita harus mampu memaksimalkannya. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS ar-Ra’d Ayat: 29). Ketahuilah segala apa yang kita peroleh adalah dari Allah. Maka sudah sepatutnya, kita pergunakan di jalan yang Dia ridai. Gunakan semua itu untuk memperoleh pahala dari-Nya (QS al-Qashash:77).

Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lebih dari sebuah penjara. Ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya, apalagi mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika melewati batas itu, dirinya akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung pada penyesalan. Begitulah Rasulullah SAW mengabarkan, dalam sabdanya, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim).

Keimananlah yang senantiasa membimbing hati dan penglihatannya. Ketika melihat suatu kegelapan, ia akan mengingat kegelapan alam kubur. Jika melihat sesuatu yang menyakitkan, ia akan ingat siksa Allah. Jika men dengar suara yang keras, ingat suara sangkakala hari kiamat. Saat melihat orang yang tidur nyenyak, ia mem bayangkan orang yang meninggal. Manakala melihat kelezatan, pikirannya langsung ke surga.

Kesadaran itu akan membuat Mukmin sejati selalu waspada dan mawas diri. Sesegera mungkin menjauhi kemaksiatan dan bergegas dalam beramal saleh.#

Hikmah dibalik setiap Takdir

Terkadang manusia harus menjalani ketentuan dan ketetapan yang dalam pandangan matanya terlihat pedih dan menyakitkan, jiwanya ikut membenci, sedih dan galau, lalu sampai pada suatu titik dimana ia berkesimpulan bahwa apa yang dialaminya merupakan takdir buruk dari Allah Ta’ala kepada dirinya. Padahal tanpa diketahuinya, takdir itu di kemudian hari menjadi kebaikan yang banyak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang terlihat baik dan semua urusannya lancar tanpa masalah, namun ternyata di kemudian hari semua berujung pada keburukan dan petaka.

Beriman Terhadap Takdir

Iman kepada Takdir merupakan salah satu pokok iman dan merupakan rukun iman yang enam. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

Patut diketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip yang harus diimani oleh setiap muslim. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, sejak zaman azali hingga selamanya, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta’ala maupun perbuatan makhluk-Nya.

Kedua, mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfuzh catatan takdir segala sesuatu.

Ketiga, mengimani bawa segala sesuatu tidak akan terjadi melainkan karena kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah Ta’ala sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya.

Keempat, mengimani bahwa segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Dan ciptaan Allah Ta’ala mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya dan gerak-geriknya. (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 63-64)

Antara Takdir Allah dan Kehendak Makhluk-Nya

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan bahwa manusia memiliki kehendak dalam perbuatan-perbuatannya serta memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang menunjukkan ketetapan hal tersebut. Dengan kehendak dan kemampuannya dia bisa melakukan dan meninggalkan sesuatu. Dia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar. Namun, kehendak dan kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “(yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir : 28-29). (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 64-65)

Diantara prinsip ahlussunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Ahlussunnah beriman bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan seluruh takdir sejak zaman azali, dan Allah Ta’ala mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qadariyyah adalah kelompok yang mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah Ta’ala, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah Ta’ala terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah Ta’ala, Jadi menurut mereka hamba dipaksa dalam perbuatannya. (Al-Mufid fi Muhimmati At-Tauhid, hal 37-38)

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah Ta’ala berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah Ta’ala yang buruk, seluruh perbuatan Allah Ta’ala mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah Ta’ala. (Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 70)

Perhatikanlah kisah Ibunya Nabi Musa saat melarungkan bayinya ke sungai Nil. Jika kita membaca susunan kejadian sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada yang paling menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan Ibu Musa selain saat diilhamkan ke dalam hatinya oleh Allah Ta’ala agar menghanyutkan bayinya ke dalam sungai Nil. Namun, cerita ini berakhir dengan keindahan. Allah Ta’ala mengembalikan anaknya tersebut ke dalam pangkuannya dan kelak anaknya tersebut menjadi seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil.

Jangan Hanya Bersandar Kepada Takdir

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala bukan berarti kita hanya tinggal duduk berpangku tangan dan menunggu semuanya terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali. Sungguh ini adalah kesalahan yang nyata. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Apabila kita telah mengambil sebab dan mendapatkan hasil di luar keinginan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya telah terjadi. Andai pun Allah Ta’ala menakdirkan yang lain sungguh hal itu akan terjadi pula. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seadainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullahi wa maa sya’a fa’ala’ Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pinta syaitan.” (HR. Muslim no. 2664) (Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad li Syaikh Al-Fauzan, hal 316)

Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Takdir

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang berharga. Demikian pula keimanan yang benar terhadap takdir akan memberikan manfaat yang besar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Hanya bersandar kepada Allah Ta’ala ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada qadar Allah Ta’ala.
  2. Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
  3. Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah Ta’ala yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan qadar Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yng demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan terlalu sedih dan putus asa terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid : 22-23) (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 69-70)

Ada Hikmah di Balik Setiap Takdir

Setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaknya seorang mukmin menghadirkan tawakkal kepada Allah Ta’ala, bekerja dan bersungguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera mengingatkan dirinya akan kaidah mulia ini. Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216) (Qawa’id Qur’aniyyah, hal. 21)

Ketahuilah, keburukan yang terjadi dalam takdir tidak selamanya merupakan keburukan yang hakiki bagi hamba, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan. Apapun yang menimpa dirinya, segalanya telah diatur oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menginginkan agar dirinya mengimani segala takdir Allah Ta’ala dan menyadari bahwa demikianlah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya, Dia menjadikan kehidupan beserta segala lika-liku kebahagian dan kesedihan membuat mereka hanya bergantung kepada Allah Ta’ala semata. Wallahul muwaffiq.

Sandaran bagi hati yang lelah

Ada 4 tempat untuk mengistirahatkan hati:
1. Teman yang shalih

2. Majelis ilmu

3. Qur’an yaitu baca qur’an/hafalkan al qu’ran. Semakin dekat dengan mushaf, semakin bersih hatinya dan semakin dekat pula pada Allah.

4. Mengingat kematian agar kita bisa meninggalkan dosa dosa.

Surat Cinta dari DIA

Ketika Allah Rindu

Sungguh Agung dan Mulia Allah, yang mengatur jalannya kehidupan dan menetapkan rezeki setiap hambanya tanpa ada yang alpa satu pun..

ketika kita berada dipuncak kesenangan/kebahagiaan maka Allah menyapa kita, agar tidak terlalu tinggi mendaki angan-angan yanng masih abstrak..

ketika kondisi kita fit, keadaan tubuh sehat dan bugar maka Allah memanggil kita dengan santun, agar selalu memuji dan mengucapkan syukur atas nikmatnya..

ketika kita disibukkan dengan mengurus pundi-pundi kekayaan, perhiasan, ternak, sawah dan ladang maka Allah menegur kita dengan indah agar ingat siapa yang meminjamkan harta itu semua kepada kita..

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS. Ali Imraan 14.

Tahukah engaku wahai saudaraku, Allah rindu pada kita. Disaat kita tenggelam dalam gemerlap harta, kesibukan yang bersifat duniawi kita selalu membusungkan dada, menegakkan kepala tanpa pernah menoleh kebelakang, apa tujuan dari semua itu.

Dalam hadist qudsi ALLAH berfirman: “Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya” (HR.Thabrani dari Abu Umamah)

Allah sedang rindu pada rintihan hambanya yang dulu sering, sekarang sudah jarang. Jarang sekali kita mengingat-Nya dalam kesibukan dunia, bahkan tidak sema sekali.

Maka disaat itulah allah menunjukkan kerinduannya lewat cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita dalam menjalani hidup didunia ini. Allah ingin sekali mendengar kembali rintihan hamba-Nya, mengadu kepada-Nya tentang kehidupannya selama ini.

Namun seringkali, kita tidak menggubris keirinduan itu wakau sadar ada kesulitan (ujian) yang ditaburkan oleh Allah di jalan-jalan kita.

Disaat sehat, Allah menguji dengan sakit. Tapi disakit itu seberapa banyak diantara kita yang mengucap istighfar, atau berdoa, mendisiplinkan ibadah.

Saat kita diuji dengan kelaparan beberapa saat, maka seberapa banyak diantara kita yang mengingat-Nya lalu mengucap syukur atas rasa sehat kita dulu. Tapi ironinya, dalam keadaan lapar, wajah kita menjadi masam lalu otak yang kotor ini hanya memberi signal kepada makanan (nasi goreng, dll), tanpa pernah malu dan mengingat kepada pemilik-Nya.

Sungguh saudaraku, hati akan menjadi gersang dengan serangkaian hal yang ‘meremehkan’ Allah dari segala aspek. Hari itu akan mengeras, lebih keras dari pada batu, sehingga ketika ada hal-hal yang lembut lagi indah masuk dihati kita, tak akan bisa, sudah dikalahkan oleh kiatnya keburukan dan nafsu yang memupuk hati ini. Na’udzubillah..

Ingatlah saudaraku, ketika Allah menegurmu lewat berbagai hal, ucapkan syukur terbaikmu. Ingat keagungan dan kebesaran-Nya yang terus mengiringi hari-harimu.

Bagaimana mungkin kita dapat hidup didunia ini jika Sang Pengasih melupakan kita? Jika begitu masih enggankah kita bersyukur? Maka tidak akan dapat hidup seorang manusia didunia ini tanpa rasa Syukur. Sedangkan saat kita mengucapkan Syukur saya juga atas karunia Allah subhanahu wata’ala..

Ya Allah, ajarilah kami untuk tidak congkak dan sombong dalam luasnya Rizki-Mu

Ya Allah, ajarilah kami untuk berbagi lewat rizki yang Engkau titipkan kepada kami..

Ya rabb, ajarkan kami memberi sebelum meminta,

Ajarkan kami untuk jernih berfikir sebelum bertindak,

Ajarkan kami diam dalam kemarahan,

Ajarkan kami ridha dalam kesulitan,

Didiklah kami agar memiliki kelembutan hati seperti Abu Bakar As-Shiddiq

Agar memiliki kebijaksanaan seperti Umat bin Khattab

Agar memiliki kedermawanan seperti Utsman bin Affan

Agar memiliki kecerdasan seperti Ali bin Abi Thalib..

Aamiin.

<span>%d</span> blogger menyukai ini: