Peradaban Mesopotamia dan Kontribusinya terhadap peradaban Islam

Warisan Ilmu Pengetahuan Islam dari Peradapan Mesopotamia

Jika kita perhatikan Peradapan Mesopotamia ternyata juga mempunyai pengaruh terhadap ilmu pengetahuan peradapan Islam. Mari kita ingat warisan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendahului kedatangan Islam pada abad ke-7 M dan apa yang mungkin di warisi oleh bangsa Arab bersama umat manusia lainnya.

Menurut pendapat beberapa sejahrawan bahwa peradaban memiliki manifestasi paling awal di lembah Tigris-Efrat (Mesopotamia). Yang mana kota-kota yang muncul di Sumeria, termasuk Ur (di dirikan ca 4000 SM), Uruk, dan Babel. Dimana yang pada 600 SM adalah yang terbesar. Kota ini di bawah kekuasaan Raja Nebukadnezar II.

Teknologi perkapalan Peradaban Mesopotamia

Di sini Kapal layar sudah di kenal sejak 5000 SM; roda, yang di temukan di Mesopotamia, yang mana gunakan oleh pembuat tembikar, dan oleh tentara untuk transportasi. Bobot standar di gunakan dalam perdagangan (berdasarkan syikal 8,36 gr = 129 butir); ukuran syikal dan mina di gunakan pada milenium ke-3 dan ke-2 SM, dan catatan di simpan pada tablet tanah liat yang di panggang; batu bata di bakar di tempat pembakaran pada milenium ke-4 SM, dan arsitektur monumental Ziggurat menampilkan kolom, kubah, lengkungan dan kubah.

Peradaban Mesopotamia yang sama dari Sumeria, Asyur dan Babel juga memunculkan Kode Hukum Raja Hammurabi (ca 1750 SM).

Penguasaan Astronomi bangsa Sumeria pada masa peradaban Mesopotamia

Bangsa Sumeria, yang mahir dalam astronomi, membuat katalog bintang pada milenium ke-2 SM. Mereka juga mengidentifikasi Zodiac, dan menggunakan kalender matahari 12 bulan bersama dengan kalender lunar 354 hari; tetapi pada milenium ke-3 SM secara teratur menggunakan kalender 360 hari, yang telah di adopsi, dalam bentuk yang di modifikasi, oleh orang Yahudi dan Muslim. Orang Babilonia mencatat gerhana matahari sejak 763 SM. Juga merancang instrumen untuk mendeteksi kapan sebuah bintang atau planet akan muncul di selatan.

Pertumbuhan Ilmu pengetahuan di masa peradaban Mesopotamia

Ilmu Matematika

Beberapa pencapaian ini di hasilkan dari perkembangan matematika, terutama dengan penerapan tabel perkalian. Solusi untuk persamaan kuadrat dan kubik tercapai; teorema yang mengatur geometri bidang di ciptakan, bersama dengan sistem enam puluh untuk mengukur waktu. Begitu pula posisi di gunakan di Mesopotamia empat ribu tahun yang lalu. Orang Asyur menggunakan jam air.

Pembuatan Peta dan Ilmu Kedokteran

Raja Sargon membuat peta di Mesopotamia untuk tujuan pengumpulan pajak (ca 2400 SM).

Dalam bidang pengobatan dan pembedahan juga berkembang di Mesopotamia. i mana penambalan gigi di praktikkan, dokter menetapkan profesi penting, dan ahli bedah yang tidak kompeten bertanggung jawab untuk memberi kompensasi kepada pasien jika terjadi kesalahan.

Peralatan dan perabot paradaban Mesopotamia

Lampu yang terbuat dari batu dan tembikar di gunakan di Mesopotamia kuno. Meskipun mata bajak di gunakan di Kanaan (Palestina kuno).. rang Mesopotamia menggunakan bentuk bajak primitif yang di sebut arda, yang telah di temukan di Uruk.

Sistem Irigasi dan Metalurgi Mesopotamia

Sistem irigasi menyebabkan revolusi dalam pertanian Mesopotamia. Selanjunya Metalurgi juga berkembang di wilayah Timur Tengah ini. Berbagai kemajuan dalam peradaban Mesopotamia menjadi bagian dan warisan inspirasi bagi perkembangan peradaban Islam kedepannya.

Peradaban Mesopotamia

Baca dan Tonton Juga:

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam

Ilmu Psikologi dalam Islam

Sejarah peradaban Mesopotamia

Kebahagiaan dan Cara Menghadapi Ketakutan Tidak Akan Bisa Meraihnya

Kebahagiaan dan Cara Menghadapi Ketakutan Tidak Akan Bisa Meraihnya. Mungkin sudah waktunya untuk mengakui bahwa ketakutan Anda akan kebahagiaan lebih besar daripada keinginan Anda untuk memilikinya sendiri.

Kami melewati hidup ini selamanya untuk mengejar kenyamanan dan kebahagiaan yang lebih besar. Betapapun nyamannya kita, kebahagiaan tampaknya menjadi satu-satunya harapan besar yang luput dari begitu banyak dari kita. Mengapa? Mengapa kita berjuang untuk bahagia padahal itu adalah satu-satunya hal yang diperjuangkan dan diusahakan oleh begitu banyak orang? Faktanya adalah bahwa banyak dari kita takut akan kebahagiaan sejati dan apa artinya bagi hidup kita dan hubungan kita. Jika kita ingin kegembiraan menjadi fondasi masa depan kita, kita harus mengakui ketakutan ini – dan dari mana asalnya – sehingga kita bisa maju.

Mengapa Anda takut akan kebahagiaan sejati

Pernahkah Anda mempertimbangkan fakta bahwa ketakutan Anda akan kebahagiaan mungkin menghalangi Anda untuk menemukannya? Ketika kita belum mengetahui banyak kebahagiaan dalam hidup kita, itu bisa menjadi ikan paus yang sulit kita kejar di jalan kosong entah kemana. Kita menjadi takut akan kebahagiaan sejati, dan kita melihatnya sebagai upaya yang tidak nyaman dan sulit. Begitu melihat emosi positif ini sebagaimana adanya, kita dapat menghilangkan rasa takut kita dan bergerak menuju kegembiraan.

Ketakutan Tidak Tercapainya Kebahagiaan Menimbulkan Rasanya tidak nyaman

Mungkin alasan paling umum mengapa kita takut pada kebahagiaan kita sendiri adalah jumlah ketidaknyamanan yang ditimbulkannya. Saat Anda tidak terbiasa bahagia secara alami, itu bisa terasa asing dan tidak nyaman. Saat Anda meluncur menuju kebahagiaan, temboknya naik. Kemudian, perilaku menyabotase diri dapat muncul dan penurunan perlahan ke dalam kesengsaraan memulai siklusnya lagi.

Merasa tidak berharga Merupakan Penghalang Kebahagiaan

Apakah Anda memiliki harga diri yang rendah? Apakah Anda kesulitan untuk melihat diri Anda sebagai orang yang berharga dan menyenangkan? Kamu tidak sendiri. Banyak dari kita telah rusak dan trauma secara mental dan emosional selama bertahun-tahun, dan itu mengajari kita untuk melihat diri kita sendiri dalam cahaya redup. Namun, perasaan tidak berharga ini berbahaya. Tidak hanya itu membawa kita ke jalan menuju hubungan beracun dan masa depan yang tidak memuaskan – itu mencegah kita untuk mencapai kebahagiaan sejati.

Harapan Akan Kebahagiaan yang tidak realistis

Ketika Anda menghabiskan hidup Anda untuk membangun gagasan besar tentang kebahagiaan, Anda sebenarnya dapat menyakiti diri Anda sendiri dengan menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Menjadi benar-benar bahagia bukanlah keajaiban. Bukan berarti tidak ada pergumulan atau sakit hati dalam hidupmu lagi. Ini berarti bahwa Anda telah menyelaraskan diri Anda dengan orang-orang dan pengalaman yang memungkinkan Anda untuk merasa dilihat, dicintai, didukung, dan dihargai dalam hidup. Untuk menemukan kebahagiaan yang bertahan lama, kita harus realistis tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu.

Terlalu banyak usaha Untuk Mendapatkan Kebahagiaan

Kehidupan apa yang membuatmu bahagia? Apakah Anda melihatnya penuh dan sibuk? Apakah Anda melihatnya datang dengan banyak tanggung jawab atau manajemen ekstra? Beberapa orang melihat kebahagiaan (dan kesuksesan dalam istilah apa pun) sebagai bukit yang luar biasa untuk didaki. Pendakian itu, bagi mereka, adalah upaya — dan ketika Anda terus-menerus dikecewakan oleh kehidupan — banyak upaya itu menjadi ide yang menakutkan dan tidak menyenangkan.

Menghindari pertumbuhan

Pertumbuhan itu sulit, dan siapa pun yang memberi tahu Anda sebaliknya adalah pembohong. Butuh banyak waktu dan banyak eksperimen untuk mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. Terkadang, kami merasa tidak sanggup menghadapi tantangan itu. Saat itulah masalah penghindaran muncul. Apakah Anda menghindari pertumbuhan sebagai pribadi? Menempatkan pekerjaan untuk menyembuhkan rasa sakit di masa lalu? Apakah Anda mengubah keyakinan yang sudah ketinggalan zaman? Jika Anda takut menjadi sesuatu yang melampaui diri Anda sekarang, Anda akan mencegah diri Anda sendiri untuk bahagia.

Bagaimana Caranya Menghilangkan Rasa Takut Dan Mulai Menikmati Kebahagiaan

Apakah Anda sudah mengambil langkah pertama yang penting untuk mengakui ketakutan Anda? Ini adalah permulaan yang kuat untuk tindakan yang kita butuhkan untuk memperbaiki hidup kita. Dengan membangun kembali harga diri kita dan membentuk kembali cara kita melihat upaya mengejar kebahagiaan, kita dapat lebih menyesuaikan diri dengan orang-orang dan pengalaman yang memberi kita kesenangan yang lebih besar. Mengejar hasrat kita, bagaimanapun juga, adalah cara kita menemukan jalan menuju kebahagiaan sejati dan abadi.

Fokuskan kembali harga diri Anda

Ada sedikit perubahan positif yang dapat dilakukan dalam hidup kita tanpa dasar harga diri yang kuat untuk bekerja. Keyakinan pada siapa kita dan apa yang kita inginkan adalah inti dalam melewati kehidupan yang sangat singkat ini. Alih-alih bergerak di dunia dengan perasaan tidak aman dan ketakutan, temukan kekuatan untuk memanfaatkan kepercayaan diri Anda. Dari sini, Anda akan dapat bergerak menuju kebahagiaan tidak peduli apa pun rintangan atau kesulitan hidup yang menghadang Anda.


Fokus kembali pada harga diri Anda. Mulailah membangun kembali cara Anda memandang diri sendiri dan kepercayaan diri yang Anda rasakan di sekitar hal-hal seperti mengejar peluang dan hubungan. Semakin besar harga diri Anda, semakin besar kesenangan yang dapat Anda rasakan baik di saat-saat besar maupun kecil dalam hidup Anda.


Terlalu banyak dari kita yang menyangkal kebahagiaan diri sendiri karena kita merasa tidak layak mendapatkannya. Harga diri kita yang rendah membuat kita terjebak dan membuat kita tetap kecil. Coba taktik lain. Mengapa Anda tidak mencoba mencintai diri sendiri dan melihat nilai Anda sebagai gantinya? Semakin tinggi Anda mengangkat diri sendiri, semakin Anda akan mulai menikmati pengalaman sehari-hari dalam kehidupan sehari-hari Anda. Alih-alih bersembunyi di sudut, fokuslah untuk membangun diri Anda sendiri. Rangkullah kekuatan dan kelemahan Anda sehingga Anda dapat menikmati kehidupan yang ada di hadapan Anda.

Identifikasi perilaku sabotase

Apa yang terjadi jika Anda mendekati apa yang Anda inginkan? Apakah sensasi itu memotivasi Anda untuk mendorong lebih keras? Atau apakah tekanan dan kegembiraan menyebabkan Anda panik dan menjauh? Perilaku menyabotase diri sering kali berada di balik kurangnya kebahagiaan dalam hidup kita. Ketika kita keluar dari jalan kita sendiri, kita sering menemukan bahwa ada sedikit kegembiraan yang bisa didapat di sekitar. Apakah Anda serius untuk menyelaraskan hal-hal yang membawa terang ke dalam hidup Anda? Jujurlah tentang semua cara Anda menahan diri agar tidak bahagia.


Carilah perilaku sabotase yang menghalangi Anda untuk mendapatkan hal-hal yang Anda inginkan dalam hidup. Bagaimana Anda menahan diri dari kebahagiaan? Dengan cara apa Anda menyingkirkan kebahagiaan yang memang pantas Anda dapatkan? Sekaranglah waktunya untuk mencari semua cara kecil untuk meledakkan dan meledakkan hal-hal yang penting bagi Anda.
Banyak dari ini terkait dengan harga diri kita. Ketika harga diri Anda kurang, Anda menyingkirkan segala sesuatunya dengan keyakinan (yang salah) bahwa Anda tidak pantas mendapatkannya. Dalam hubungan, Anda dapat memilih pasangan yang tidak tersedia secara emosional yang Anda tahu Anda tidak perlu berkomitmen. Atau, Anda mungkin menjauhkan pasangan yang tepat dengan perilaku buruk yang dimaksudkan untuk membuktikan nilai rendah Anda. Itu juga bekerja di aspek lain dalam hidup kita. Menolak promosi, menolak mengejar impian kita, ini juga cara kita menyabot kebahagiaan kita.

Tulis ulang alur cerita Anda

Banyak orang yang sengsara berasal dari orang-orang yang sengsara. Itu satu-satunya hal yang pernah mereka ketahui, dan pola yang telah mereka tetapkan untuk hidup dan hubungan mereka. Namun, kami tidak harus datang dari surga untuk membangunnya sendiri. Kita bisa membuat pilihan sadar untuk keluar dari siklus racun yang membuat kita sengsara dan kecil. Namun, melakukan ini membutuhkan lebih dari sekadar kepercayaan pada diri sendiri. Hal ini membutuhkan komitmen untuk menulis ulang narasi Anda secara besar-besaran.
Tulis ulang alur cerita Anda. Berasal dari tempat kesengsaraan bukan berarti Anda tidak akan pernah bisa bahagia. Anda dapat membuat pilihan sadar untuk menjalani kehidupan apa pun yang ingin Anda jalani. Meskipun beberapa dari kita memiliki bukit yang lebih curam untuk didaki, kita masih bisa sampai di tempat yang sama: Kehidupan bahagia yang secara otentik selaras dengan kebutuhan kita.


Buat keputusan sadar untuk menulis ulang narasi pribadi Anda sekarang. Nya. waktu bagi Anda untuk membuat pilihan menjadi orang yang lebih menyenangkan dengan kehidupan yang lebih menyenangkan. Beranjak dari keadaan apa pun yang diciptakan untuk Anda dalam hidup. Anda tidak harus mempertahankan gaya hidup dan pola yang sama seperti yang dilakukan orang tua Anda; Anda dapat keluar dari rezim menyedihkan yang dibangun teman dan orang yang Anda cintai untuk diri mereka sendiri. Jatuhkan game dan jadilah nyata. Anda ingin menjadi siapa? Kehidupan apa yang ingin Anda ciptakan untuk diri Anda sendiri?

Penuhi gangguan positif

Saatnya untuk mempertimbangkan fakta bahwa kebahagiaan mungkin hilang dari Anda karena Anda tidak melakukan apa yang perlu Anda lakukan untuk mewujudkannya ke dalam hidup Anda. Hal-hal ini tidak datang tanpa usaha, dan tentunya tidak datang dengan berdiri di pinggir jalan dan menunggu mereka untuk muncul. Anda tidak perlu menunggu kebahagiaan jatuh ke pangkuan Anda. Anda dapat menarik setiap sudut keberadaan Anda dengan mengisi hidup Anda dengan hal-hal positif dan gangguan positif.


Berhentilah terlalu memikirkan hal-hal negatif di sekitar Anda dan cari tahu bagaimana mengisi hidup Anda dengan gangguan positif. Kebahagiaan hampir transendental. Itu tidak dapat dipanggil secara langsung – seperti pesanan bahan makanan langsung ke mobil Anda. Itu adalah sesuatu yang muncul sebagai hasil dari menemukan saluran yang tepat untuk menyelaraskan diri kita dengan kehidupan.


Keluar dari pola pikir negatif Anda dan kelilingi diri Anda dengan kepositifan dan kesenangan sebanyak yang Anda bisa. Jika Anda sedang mencari pekerjaan, carilah pekerjaan yang Anda sukai setiap hari. Carilah teman baik yang mengangkat Anda dan melihat yang terbaik dalam diri Anda bahkan saat Anda sedang sedih. Kejarlah hanya hubungan yang membuat Anda puas dan saling menghormati. Jangkau dunia dan cari hal-hal yang memicu minat Anda; hal-hal yang membuat Anda merasa nyaman dengan diri sendiri. Itu adalah hal-hal yang harus kita kejar untuk membawa lebih banyak kebahagiaan ke dalam hidup kita.

Kejar gairah bukan kebahagiaan

Mengejar kebahagiaan. Itu adalah frasa yang sering kita dengar berulang kali, tetapi itu adalah frasa yang banyak dari kita salah paham. Mengejar kebahagiaan tidak sama dengan mengejarnya. Saat Anda mengejar kebahagiaan sebagai akhir dari segalanya dan menjadi-segalanya, Anda berakhir dengan masa depan yang kosong. Kebahagiaan bukanlah fokus dari pengejaran kita dalam hidup ini. Itu adalah hasil dari mengejar hal yang benar dalam hidup kita.

Berhentilah mengejar kebahagiaan dan mulailah mengejar hasrat Anda. Kebahagiaan itu sendiri seharusnya tidak pernah menjadi tujuan kita. Itu harus datang sebagai hasil dari pencapaian tujuan yang memberi kita kepercayaan diri dan kepositifan. Ubah cara Anda melihat pengejaran kebahagiaan tertinggi ini.


Cari orang, tempat, dan hal-hal yang menarik minat Anda dan bangkitkan keingintahuan Anda. Alih-alih mengisi waktu Anda secara obsesif dengan mempertanyakan apa yang akan membuat Anda bahagia – isi hidup Anda dengan orang-orang yang membuat Anda tersenyum, dan pengalaman yang membuat Anda merasa dihargai atas usaha dan waktu yang Anda sisihkan. Saat Anda membuat kebahagiaan, tujuan utama Anda apa pun yang Anda lakukan, Anda memberi banyak tekanan pada diri sendiri (dan peluang apa pun yang Anda fokuskan).

Menyatukan semuanya

Apakah Anda berjuang untuk menemukan kebahagiaan abadi dalam hidup Anda? Kita disuruh mengejar kebahagiaan sejak usia sangat muda. Namun, seringkali dalam pengejaran ini, kita melupakan segala sesuatu yang sebenarnya membawa kepuasan dan kegembiraan. Dalam prosesnya, rasa takut mengambil alih kemudi dan kita menemukan diri kita benar-benar terasing dari kehidupan yang benar-benar bahagia. Jika Anda serius ingin menciptakan masa depan yang Anda hargai, Anda harus menerima bahwa rasa takut akan kebahagiaan menahan Anda. Kemudian Anda dapat mengambil tindakan dan membuat perubahan yang penting bagi masa depan Anda.

Fokus Kembali


Fokus kembali pada harga diri Anda dan bangun kembali cara Anda memandang diri sendiri dan hubungan Anda di dunia pada umumnya. Untuk benar-benar bahagia, kita harus mencintai diri sendiri dan percaya pada hal-hal yang ingin kita kejar. Cari perilaku sabotase yang menghalangi Anda dari peluang yang Anda hargai. Kita sering kali menjadi penghalang terbesar yang menghalangi kebahagiaan kita sendiri. Tulis ulang alur cerita Anda dan ketahuilah bahwa Anda memiliki hak untuk mematahkan pola penderitaan yang membuat Anda terjebak dan sengsara. Isi hidup Anda dengan gangguan positif; orang yang membuat Anda tersenyum, dan pengalaman yang membuat Anda merasa baik. Kebahagiaan bukanlah tujuan akhir. Itu yang terjadi saat kita menyesuaikan diri dengan orang dan gaya hidup yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan kita. Temukan inti diri Anda dan kejar minat Anda. Kebahagiaan abadi akan datang sebagai hasil dari kehidupan yang dijalani dengan baik.

Baca Juga:

Keraguan dalam kehidupan rumah tangga

Memahami hikmah dibalik takdir

Bahagia dalam konsep Islam

Rizki Menurut Al Ghazali

Rizki Menurut Al Ghazali. Banyak muslim yang tahu bahwa Allah memiliki asma’ul husna berupa ar-Razzak. Banyak pula yang tahu bahwa makna ar-Razzak adalah dzat pemberi Rizki. Tapi jarang yang tahu apakah makna Rizki tersebut? Apakah rezeki itu adalah setiap yang kita pinta dalam doa kita? Dan bagaimana bentuk keyakinan kita bahwa Allah dzat pemberiRizki. Kita akan simak uraian al-Ghazali tentang makna tersebut dalam kitab berjudul al-Maqsad al-Atsna fi Syarhi Asmail Husna.

Pendapat Al Ghazali Tentang Rizki

“Allah lah yang menciptakan Rizki, menciptakan orang yang menerima Rizki, yang memberikan kepada mereka dan menciptakan hal yang membuat mereka menikmati Rizki tersebut” begitu ungkap al-Ghazali. Dari sini al-Ghazali secara tidak langsung menyatakan bahwa lafadz tersebut tidaklah melulu pada soal bentuk Rizki, tapi juga mengenai penerima, cara menerimakan dan bagaimana si penerima menikmati rezeki tersebut. Sehingga secara tidak langsung beliau mengingatkan bahwa perihal nama ar-Rozzak jangan hanya di kaitkan dengan bentuk Rizki, tapi juga keberadaan penerima, cara menerimakan dan cara penerima menikmati Rizki tersebut.

Hal itu menyadarkan kita bahwa:

1) Kuasa Allah terkait rezeki tidak terbatas bentuk Rizki, tapi juga semisal bagaimana Allah memunculkan Rizkitersebut;

2) Sesuatu yang sering kita remehkan kadang itu adalah sebuah Rizki yang di peruntukkan pada sesuatu yang tidak kita sadari. Semisal sebutir nasi yang jatuh; yang tampak tak berguna adalah Rizki seekor semut yang sebelunya mondar-mandir mencari makanan;

3) Apakah setiap orang yang di beri apa yang ia pinta akan selalu bisa menikmatinya? Misalnya, orang meminta uang banyak kemudian di beri Allah akan lantas bisa menikmatinya? Bagaimana bila saat menerima uang itu si peminta terkena stroke sehingga tidak bisa bergerak dan tidak bebas memakan makanan yang ia sukai?

Al-Ghazali kemudian meneruskan:

“Rezeki ada dua. 1) Rizki dzahir, yaitu rezeki berupa bahan pokok dan makanan. rezeki ini di peruntukkan untuk anggota dzahir, yaitu badan manusia. 2) Rizki bathin, yaitu berbagai pengetahuan tentang keagungan dan ketersingkapan pada Allah. rezeki ini di peruntukkan pada hati”

Bentuk Bentuk Rezeki Menuru Al Ghazali

Dari sini, al-Ghazali menerangkan bahwa rezeki tidaklah selalu berupa materi atau hal yang kembali kepada jasad dan mempertahankannya hingga ajal. Tapi, bisa juga bertambahnya pemahaman, pengetahuan, pengalaman atau keyakinan atas dzat Allah taa’la yang bisa jadi berupa hikmah atas berjalannya satu taqdir Allah. Orang yang berdoa sebelum bepergian agar di beri keselamatan, tapi Allah mentaqdirkannya mengalami kecelakaan, bisa jadi di beri rezeki tidak berupa keselamatan pada jasad yang bersifat sementara hingga ajal, tapi berupa kesadaran bahwa Allah yang berkuasa atas segala hal. Hamba bisa meminta, tapi tak bisa menuntut Allah agar mengabulkannya.

Lalu bagaimana cara kita menghayati atau memperkuat pemahaman kita nama tersebut? Al-Ghazali mengarahkan hendaknya ia mendalami sifat ini. Dan menyadari bahwa Allah lah pemilik diri nya. Sehingga ia tidak menanti rezeki kecuali darinya dan tidak bertawakkal kecuali padanya. Seorang petani yang gagal panen semisal, tidak akan terlalu di risaukan sebab kegagalan usahanya. Karena bukan usahanyalah yang memberi rezeki, tapi Allah. Dan Allah memiliki banyak jalan dan banyak cara memberi rezeki. Saat sadar bahwa Allah lah pemberi rezeki, maka ia akan ingat bahwa gagal panen hanyalah kegagalan kecil yang tak sebanding dengan cara Allah memberikan rezeki yang terbaik bagi kita.

Baca dan tonton Juga:

Cara Meraih Sukses Menurut Islam

Meraih Kebahagiaan Hidup

Faktor Penyebab Anak Menjadi Tempramental

Secara umum, temperamen bisa diartikan sebagai perbedaan perilaku dan emosi yang ditunjukkan oleh seseorang ketika ia merespon suatu hal. Temperamen bisa dibilang sebagai karakter diri seseorang yang terbentuk sejak lahir. Maka secara khusus, temperamen pada anak sendiri merupakan sebuah gambaran bagaimana ia memahami dan menyikapi berbagai hal yang ada di sekelilingnya.

Bahagia dalam konsep Islam

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.

Lantas apakah yang disebut”bahagia’ (sa’adah/happiness)?

Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Dalam Islam “Kesejahteraan’ dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.

Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta’ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.’

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.

Ma’rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.

Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah”, dan bersakssi bahwa “Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.”

Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.

Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka “senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.

“Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.

“Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…”

“Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”

Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Baca Juga :

Menghadapi rasa takut tidak mampu meraih bahagia

Kuatir tidak mampu meraih bahagia

Menjaga diri dari sifat Munafik

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Tanda orang munafik ada tiga. Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat. (HR Bukhari). Dalam HR Muslim ada penambahan, ”Walaupun ia puasa, shalat, dan mengaku sebagai Muslim.”

Menurut para ulama, penipuan, makar, pengelabuan dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam nifak. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’u l-Ulum wa l-Hikam membagi nifak dalam dua jenis.

Pertama, nifak besar (akbar) yang biasa dikenal dengan nifak i’tiqady. Pelakunya berkamuflase mengaku beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan hari akhir.

Namun, di balik itu ia mendustakan semua atau sebagiannya. Nifak seperti ini ada pada zaman Muhammad SAW dahulu. Saat itu, Abdullah bin Ubay menjadi panutan kaum munafik. Ia menyebarkan isu bahwa antara Ummul Mukminin Aisyah dan Shafwan bin Mu’aththal ada affair.

Kedua adalah nifak kecil (asghar) yang bersifat amali. Biasanya si pelaku bersikap hipokrit (munafik) dengan menampakkan kebaikan yang sejatinya tidak demikian. Sebagian ciri-ciri nifak jenis ini seperti dusta, ingkar janji, dan khianat.

Sudah jamak diketahui bahwa dusta dalam berbicara adalah sifat yang tidak terpuji. Apalagi kalau dusta kepada orang yang percaya akan kejujuran si pembicara. Dalam al-Musnad ada sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Sebuah pengkhianatan yang besar jika kamu berbicara dengan saudaramu dan ia percaya kepadamu (bahwa kamu tidak akan berdusta), sedangkan kamu berdusta kepadanya.”

Sedangkan ingkar janji adalah perkara yang dilarang keras dalam Islam, baik dalam urusan yang besar maupun remeh. Abdullah bin Amir pernah bercerita, ”Suatu ketika Muhammad SAW berkunjung ke rumah kami. Ketika itu aku masih kecil. Tatkala aku hendak keluar rumah untuk bermain, ibuku memanggilku, Abdullah! sini ibu punya sesuatu untukmu.”

Maka Rasulullah bertanya, ”Apa yang akan kamu berikan buat anakmu?” ”Akan kuberi kurma,” jawab ibuku. Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya kamu tidak memberi apa-apa kepada anakmu maka kamu dicatat telah berbuat dusta.” (HR Abu Daud).

Mengenai amanah, ia merupakan perwujudan kepercayaan orang kepada yang diamanahi. Sangat tidak wajar jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada pengkhianat. Selayaknya seorang Muslim membalas kepercayaan saudaranya dengan menjaga amanah yang dibebankan kepadanya.

Menjaga diri dari tiga sifat di atas sangatlah perlu. Jika tiga sifat itu bersemayam dalam diri seseorang dan tidak segera diobati, maka pada gilirannya akan menggiring pada nifak akbar yang ancamannya tidak ada selain api neraka.#

Menggali Potensi diri untuk beramal sholeh

Manusia beruntung dan bahagia adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang beramal saleh. Namun, sedikit saja orang menyadari hal itu. Hanya Mukmin sejati yang mampu memahaminya. Ia menjadikan dunia sebagai persiapan menuju akhirat. Karena itu, ia pun menjadikan berbagai fasilitas yang ada sebagai sarana memperbanyak amal saleh.

Kehidupan dunia bukanlah tujuan utama, melainkan jembatan menuju akhirat. Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lain sebagai tempat ibadah, tempat bersedekah, tempat berjihad, dan tempat ia berlomba dengan saudaranya untuk menggapai kebaikan (surga). Berharap, atas usahanya itu ia tergolong orang-orang yang bertakwa. Ia senantiasa memperbanyak bekal, yaitu takwa. Ia meyakini hanya dengan takwa, kebahagiaan sejati bisa diraih.

Allah SWT berfirman, “Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqarah:197). Kehidupan dunia hanya sementara. Jadikan iman sebagai motivator, pendorong diri untuk terus beramal saleh. Sebab, hanya amal saleh yang akan menemani perjalanan kita, kelak setelah mati. Manfaatkan waktu yang terbatas ini untuk beribadah sebaik mungkin. Beramal saleh dengan apa yang kita miliki. Jika dikaruniai harta, berinfaklah.

Jika diberikan ilmu, manfaatkan dan ajarkanlah. Bantulah orang yang membutuhkan. Sekecil apa pun ke sempatan berbuat baik hadir, kita harus mampu memaksimalkannya. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS ar-Ra’d Ayat: 29). Ketahuilah segala apa yang kita peroleh adalah dari Allah. Maka sudah sepatutnya, kita pergunakan di jalan yang Dia ridai. Gunakan semua itu untuk memperoleh pahala dari-Nya (QS al-Qashash:77).

Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lebih dari sebuah penjara. Ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya, apalagi mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika melewati batas itu, dirinya akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung pada penyesalan. Begitulah Rasulullah SAW mengabarkan, dalam sabdanya, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim).

Keimananlah yang senantiasa membimbing hati dan penglihatannya. Ketika melihat suatu kegelapan, ia akan mengingat kegelapan alam kubur. Jika melihat sesuatu yang menyakitkan, ia akan ingat siksa Allah. Jika men dengar suara yang keras, ingat suara sangkakala hari kiamat. Saat melihat orang yang tidur nyenyak, ia mem bayangkan orang yang meninggal. Manakala melihat kelezatan, pikirannya langsung ke surga.

Kesadaran itu akan membuat Mukmin sejati selalu waspada dan mawas diri. Sesegera mungkin menjauhi kemaksiatan dan bergegas dalam beramal saleh.#

%d blogger menyukai ini: