Timbul dan Runtuhnya Peradaban Suatu Bangsa

Manusia diperkirakan ada sejak 200.000 tahun silam. Namun hadirnya manusia dalam suatu peradaban diperkirakan oleh para ilmuwan hanya ada sekitar 6000 tahun lalu.

Kala itu, banyak lahirnya peradaban peradapan kuno seperti Mesir atau Romawi. Ternyata, peradaban yang dahulu maju, kuat dan digjaya kini telah hancur, mengundang tanda tanya terkait penyebab keruntuhannya. Banyak Ilmuwan yang mencoba mengungkap penyebab lenyapnya peradaban tadi hingga kini masih dibuat penasaran dan tanpa adanya jawaban yang meyakinkan.

Sejarah telah mencatat bagaimana peradapan masa lalu hadir dan tenggelam silih berganti,

Peradaban Lembah Indus

Peradaban yang muncul di tahun 3300 sebelum masehi ini terkenal akan sistem drainase majunya. Sisa-sisa peradaban Lembah Indus bisa kita lihat di kawasan Pakistan, sekitar sungai Gangga di India, hingga dekat Laut Arab.

Tidak hanya sistem drainase, bangsa Indus juga dikenal sebagai pembangun kota yang terstruktur dan terorganisasi. Tembok dan rumah-rumah dibangun kokoh dan rapi tidak kalah dengan pembangunan saat ini.

Sayangnya, berdasarkan jurnal ilmiah yang dipublikasikan tahun 2012, peradaban Indus tiba-tiba menghilang sekitar 1600 tahun sebelum masehi. Pemukiman maju lembah Indus berubah menjadi kota mati setelah ditinggal penghuninya.

Teori yang diajukan ilmuwan adalah perubahan iklim di mana hujan turun, penyebab kekeringan dan berangkat. Tetapi, teori ini belum terbukti sampai saat ini.

Peradaban Rapa Nui

Berbicara soal Pulau Paskah di Chili, tentu tidak lepas dari keberadaan Patung raksasa ‘Moai’. Namun, yang tidak kalah menarik adalah tepat bangsa Rapa Nui, warga asli pulau Paskah.

Saat bangsa Eropa datang ke pulau tersebut tahun 1722, mereka hanya menemukan sekitar 3000 penduduk saja. Padahal untuk membangun ratusan patung Moai di pulau itu, diperkirakan butuh 30.000 orang.

Tentu saja tepat 90 persen peradaban Rapa Nui Pulau Paskah menimbulkan pertanyaan yang besar. Ilmuwan memprediksi bangsa Rapa Nui berlebihan mengeksploitasi alam di Pulau Paskah demi membangun patung Moai.

Saat sumber daya alam menipis, terutama pepohonan, bangsa Rapa Nui diklaim melakukan ‘transmigrasi’ besar-besaran dan keluar dari pulau itu. Benar atau tidaknya teori ini masih menjadi harapan.

Peradaban Maya

Bangsa Maya diketahui pertama kali muncul 1800 sebelum masehi, atau 3816 tahun lalu. Mereka adalah bangsa yang hidup dari pertanian yang wilayah semenanjung Yucatan di Guatemala, Belize, Meksiko, serta Honduras.

Tapi, peradaban Maya dilaporkan lenyap secara tiba-tiba. Ketika itu, di tahun 1517, bangsa Spanyol berlayar ke Amerika Tengah menghancurkan peradaban yang terkenal akan ritual kematiannya itu. Akan tetapi, saat mereka tiba di sana, bangsa Maya telah hilang.

Mencapai masa keemasan sekitar tahun 900 masehi, satu per satu kota besar bangsa Maya secara misterius ditanggalkan setelahnya. Padahal, awalnya satu kota besar bisa dihuni sampai 2 juta orang.

Kota-kota besar seperti Chichen Itza, Uxmal, dan Mayapan tidak diketahui tetap ada hingga tahun 1500 Masehi. Namun sekali lagi, saat bangsa Spanyol datang di tahun 1517, semua kota Maya sudah tertutup rimbunnya hutan.

Peradaban Gobekli Tepe

Bagi Anda yang masih asing dengan peradaban ini, Gobekli Tepe adalah sebuah kuil zaman batu yang dibangun 9500-9000 sebelum masehi di pegunungan Anatolia Tenggara, Turki.

Gobekli Tepe sebagai kuil tertua di Bumi dan di bangun oleh bangsa Swiderian. Bangsa yang pertama kali muncul tahun 10.900 tahun sebelum masehi ini adalah penduduk Eropa pertama yang hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan.

Menariknya, ilmuwan tidak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan lain di sekitar Gobekli Tepe. Bahkan, kuil itu seakan-akan sengaja dikubur oleh puluhan, mungkin ratusan orang yang membangunnya.

Mengingat Gobekli Tepe sudah berumur 11.000 tahun lebih, ilmuwan sangat penasaran mengapa bangsa Swiderian meninggalkan kuil itu dan begitu saja.

Peradaban Olmec

Bangsa Olmec yang terbentuk tahun 1200 sebelum masehi di kawasan Meksiko adalah peradaban tertua di benua Amerika, hingga akhirnya mempengaruhi suku Maya dan Aztec.

Peradaban Olmec juga sudah menyembah dewa sebelum bangsa Maya, bahkan menjalankan ritual persembahan manusia pada dewa. Beberapa dewa Olmec yang diketahui adalah naga, burung raksasa, monster ikan, dan dewa air.

Bangsa Olmec juga terkenal akan karya ukiran mereka, misalnya patung kepala raksasa dan ukiran batu giok. Kekayaan budaya membuat Olmec kerap dikatakan ‘ibu’ kebudayaan peradaban Amerika kuno.

Peradaban ini mulai menghilang dalam waktu singkat di tahun 400 sebelum masehi. Pusat-pusat pemerintahan Olmec yang ada di kota La Venta dan San Lorenzo disebut ilmuwan sudah sepi penghuni saat itu sebelum akhirnya benar-benar lenyap.

Tidak ada yang tahu alasan pasti laporan bangsa Olmec. Ilmuwan hanya bisa memprediksi kalau kelenyapannya berdasar soal iklim atau konflik tak berkesudahan.

Peradaban atau tamadun memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan perkembangan suatu bangsa. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, teknologi, kekuatan militer dan juga tinggkat kekuasaan untuk menggendalikan bangsa lainnya. Anggota-anggota dalam peradaban suatu bangsa tersusun atas beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hierarki sosial, ekonomi dan juga kekuatan kekuasaan.

Ibnu Khaldun hidup pada masa (1332-1406 M), Dia mengartikan sejarah dalam kitabnya yang fenomenal Muqaddimah sebagai “catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia”.

Ibnu Khaldun mempelajari  tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu seperti kelahiran, keramah-tamahan, dan solidaritas golongan, tentang revolusi dan pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan lain. Dan sebagai akibatnya, kemudian  timbul kerajaan-kerajaan dan negara dengan tingkatan bermacam kegiatan dan kedudukan orang. Baik itu untuk mencapai kemajuan kehidupannya, berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan umumnya tentang segala macam perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.

Sebagai seorang sejarawan konsep-konsep sejarah pun bermunculan dari penjelasan Ibnu Khaldun tersebut, mulai dari “umat manusia”, “peradaban”, “watak masyarakat”, “solidaritas golongan” (ashobiyah), “revolusi”, “pemberontakan”, “kerajaan”, “negara”, “tingkatan dalam masyarakat”, “ilmu pengetahuan dan keterampilan”, “kemajuan” hingga “perubahan” atau “proses”.” Ilmu sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah ilmu yang sangat urgen bagi umat manusia di samping sangat digemari berbagai kalangan.

Bagi Ibnu Khaldun, sejarah terbangun dari dua sisi, sisi luar (material, lahiriah) dan sisi dalam (sisi batiniah, filosofinya). Sisi luarnya sejarah menjelaskan kondisi tentang makhluk Tuhan (umat manusia), menguraikan hal ihwalnya, perluasan wilayah dan perputaran kekuasaan di berbagai negeri.

Sisi dalam, atau bisa juga dikatakan sisi batiniah sejarah merupakan tinjauan, kajian, dan analisis tentang berbagai kejadian dan elemen-elemennya, ilmu yang mendalami tentang berbagai peristiwa dan sebab-akibatnya, serta pula filsafat moralnya.

Dengan demikian, Ibnu Khaldun termasuk sejarawan yang mensyaratkan tinjauan peristiwa, analisis, pola-pola dan sebab-akibatnya sebagai syarat ilmu dan penulisan sejarah. Menarik disimak bahwa mayoritas sejarawan Muslim, termasuk Ibnu Khaldun mempercayai bahwa filsafat moral (tentu saja yang berlandaskan Islam) adalah bukan hanya sekedar unsur belaka, tetapi juga dianggap “ruh” sejarah.

Maka, hal tersebut mengingatkan pada pemikiran George Frederick Hegel, filsuf idealisme Jerman, yang membagi sejarah ke dalam tiga jenis: sejarah asli, sejarah reflektif dan sejarah filsafati. Ibnu Khaldun ditinjau darisisi “dalam” sejarahnya memiliki kemiripan dengan sejarah reflektifnya Hegel, di mana cara penyajian sejarah tidak dibatasi oleh waktu peristiwa sejarah yang ditulis sejarawan, tetapi ruhnya melampaui masa kini dan masa lalu. Sebagai contoh yang umum bagi kita,adalah penulisan sejarah yang dihubung-hubungkan dengan rasa nasionalisme, persatuan Indonesia, atau dengan “spirit Islam”.

Sejarah jenis ini selalu dihubung-hubungkan dengan spirit atau ruh yang bisa dipetik generasi masa kini tanpa selalu terkait dengan waktu peristiwa sejarahnya sendiri. Misalnya dalam buku Menemukan Sejarah dan Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, dari beberapa aspek, kedua buku tersebut bisa mencontohkan sisi “dalam” sejarah, atau sejarah reflektif.

Sama halnya dengan Ibnu Khaldun, saya teringat Goldwin Smith, sejarawan dari Universitas Oxford di abad 19 dalam bukunya The Study of History: Two Lectures mengakui bahwa filsafat moral -sebagai sisi “dalam” sejarah- merupakan suatu kesatuan dengan sejarah. Smith menyatakan dengan untaian kata yang bernuansa slogan, “Sejarah adalah sebuah rangkaian fakta belaka tanpa filsafat moral, dan tanpa sejarah, filsafat moral cenderung menjadi mimpi belaka.”

Dari sisi “luar” atau lahiriyah sejarah, Ibnu Khaldun memiliki gagasan yang kemudian dikenal sebagai scientific history (sejarah ilmiah) setidak-tidaknya dengan empat tahapan, pertama, untuk membangun rekonstruksi penulisan sejarah terlebih dahulu diungkapkan metode kritik sejarah yang menjadi landasan pemikiran sejarahnya.

Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan sejarawan terdahulu, Ibnu Khaldun akhirnya dapat merumuskan pemikiran sejarahnya sendiri; Kedua, membuang hal-hal yang dianggap tidak diterima nalar (rasio); ketiga, objektivitas sejarah, dan terakhir (keempat), pendekatan empiris pada sejarah (historical empiricism approachment).

Menurut Muhammad Enan dalam Ibnu Khaldun: His Life and Works penulisan sejarah Ibnu Khaldun didasarkan oleh dua motif yakni semangat ilmiah dan kenegarawanannya, serta argumennya dalam sejarah menggambarkan pelepasan dari belenggu tradisi ilmiah sebelumnya.

Sehingga sering dikatakan Ibnu Khaldun menciptakan bentuk baru ilmu sejarah menjadi sejarah ilmiah (Scientific History), ini merupakan suatu terobosan ilmiah yang belum ada di masa itu, sebagaimana yang diutarakan Muhammad Syafi’i Ma’arif dalam Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur. Di Eropa, usaha-usaha untuk menjadikan sejarah sebagai “suatu disiplin yang ilmiah” baru dipopulerkan abad 19 oleh sejarawan Jerman, Leopold von Ranke.

Terkait dengan konsep “perubahan” dan “proses” sebagai konsep sejarah yang paling utama, di mana kedua konsep tersebut dianggap paling utama oleh sejarawan dan filsuf Barat di abad 19 dan abad 20, sekalipun dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda. Semua pakar Barat yang mainstream meyakini bahwa-meminjam ungkapan Ankersmith di buku Refleksi Tentang Sejarah- “pada hakikatnya sejarah merupakan suatu proses kemajuan.”

Di antara pakar yang berpendapat demikian ialah sejarawan terkemuka Jerman,Johann Gustav Droysen dalam bukunyaOutline of the Principles of History,lalu George Frederick Hegel, Karl Marx, Oswald Spaengler, Goldwin Smith hingga Auguste Comte. Johann Gustav Droysen bahkan mengatakan, “History is humanity becoming and being conscious concerning itself.” Sejarah bermakna “menjadi” atau berproses untuk menjadi.

Hingga kini “perubahan” dan “proses” dianggap sebagai unsur utama sejarah. Masih dengan ungkapan Droysen,“ setiap hal di masa sekarang merupakan salah satu yang telah datang untuk menjadi,” begitu pula seterusnya. William P. Atkinson dalam On History and the Study of History menyatakan lebih jauh bahwa sejarah adalah kisah bangkit dan pertumbuhan masyarakat manusia, dan masyarakat terbentuk dari hubungan; Jika manusia bukan makhluk sosialia tidak punya sejarah.

Ibnu Khaldun tentu juga meyakini bahwa kehidupan manusia akan selalu mengalami proses dan perubahan. Ini adalah sebuah sunnatullah, di mana bukan hanya orang Muslim saja yang percaya tapi juga kepercayaan yang diterima semua keyakinan, ideologi dan agama. Hanya saja umat Islam memahami itu semua dari tuntunan wahyu ilahi kitab suci Al-Qur’an, bahwa sejak awal kehidupan manusia hingga hari kiamat senantiasa terjadi siklus masa kejayaan dan kehancuran dari berbagai masyarakat, umat maupun peradaban yang ada. Firman Allah SWT:
 
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antaramanusia…(QS Ali Imran:140).

Rasanya Ibnu Khaldun pun terinspirasi oleh ayat ini, di mana ayat yang membahas tentang Perang Uhud ini jika ditinjau secara keumuman lafazh maka bermakna senantiasa akan terjadi jatuh-bangun, kejayaan-kehancuran, maju-mundur hingga jatuh-bangunnya peradaban-peradaban manusia.

Uni Soviet yang merupakan peradaban terkuat dengan ideologi komunisnya sejak memenangi Perang Dunia II (1939-1945), mulai tahun 1980-an merosot drastis hingga benar-benar runtuh memasuki tahun 1990. Begitu juga Amerika Serikat yang sejak memasuki abad 20 merupakan ‘pemimpin’ peradaban Barat (menggantikan Inggris) dan kokoh sebagai pemuncak peradaban bahkan jauh lebih lama dari Uni Soviet (rival Amerika Serikat) menurut “hukum sejarah” dari Al-Qur’an maupun yang populer dikemukakan Ibnu Khaldun, pasti juga akan runtuh.

Hal itu dibenarkan oleh Samuel Huntington dalam buku masterpiecenya The Clash of Civilization, di mana ia mengungkap di banding tahun 1920-an, Barat termasuk Amerika Serikat jauh mengalami kemerosotan. Faktanya memang demikian, negeri-negeri seperti China, Korea Selatan, Afghanistan, Iraq hingga yang paling baru ‘komunitas’ jihad Suriah belakangan ini mampu merepotkan negara adidaya nomor wahid tersebut.

Sampai-sampai Huntington berpendapat agar Amerika Serikat dan Barat ingin tetap menjadi ‘pemimpin’ peradaban-peradaban dunia, maka solusinya adalah dengan menghentikan laju dan gerak peradaban yang sedang tumbuh seperti peradaban Islam dan China, dengan cara apa pun.

Dalam teorisiklus sejarah Ibnu Khaldun pun dijelaskan adanya siklus atau fase-fase, di mana peradaban lahir, tumbuh, berkembang hingga mencapai puncak kejayaannya, kemudian mengalami kemunduran,hingga akhirnya mengalami keruntuhan sama sekali.

Menurut Tarif Khalidi dalam buku Classical Arab Islam: The Culture and Heritage of the Golden Age “Ilmu umran” (peradaban dan masyarakat) dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun bisa dikatakan sebuah science of social biology atau biology of civilization.

Ibnu Khaldun sendiri jelas menyatakan di bukunya bahwa peradaban umat manusia adalah sesuatu yang bergerak dan berproses layaknya makhluk hidup. Dalam kehidupan biologis adafase-fase kehidupan yang harus dilaui, dari mulai lahir, tumbuh berkembang menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa, kemudian mengalami proses penuaan dan akhirnya meninggal dunia. Masa kejayaan dan keruntuhan suatu peradaban berada dalam proses dialektis, berbenturan antar suatu peradaban menetap yang disebut hadharah dan peradaban yang nomaden atau ‘bar-bar’ yan disebut badawah.

Peradaban yang dikenal dalam pemahaman modern adalah hadharah, namun menurut Ibnu Khaldun peradaban semacam ini memiliki kelemahan yang pasti, yaitu selalu berproses dan berubah ke arah keruntuhan ketika sudah mencapai fase tenang, bermegah-megahan serta bermewah-mewahan.

Fase di mana sebuah peradaban telah memuncak, materi berkelimpahan di mana-mana, baik dari penarikan pajak, hasil bumi negara dan lain-lainnya. Selain merusak jiwa manusia, kemewahan dan kemegahan merusak pula ashabiyah, ikatan fanatisme antar sesama manusia di dalam sebuah peradaban, padahal ikatan fanatisme peradaban adalah penopang peradaban itu sendiri. Kultur hadharah pasti bergerak dan berubah ke arah kemewahan dan kemegahan.

Kehidupan bermewah-mewahan serta bermegahan pasti membawa kehancuran, begitulah satu dari logika Ibnu Khaldun yang terkenal. Ia sendiri mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an
Bilamana Kami berkehendak menghancurkan sebuah kota (peradaban), Kami suruh (jadikan) orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan dan melampaui batas, tetapi mereka durhaka, maka pantaslah mereka menerima adzab kemudian Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.”(QS 17:16)

                                                           

Rupa-rupanya Ibnu Khaldun meyakini bahwa sumber kerusakan moral serta kehancuran peradaban berawal dari kesombongan, bermewah-mewahan dan bermegah-megahan. Tidak ada satupun peradaban yang selamat dari ‘penyakit’ semacam ini, tak terkecuali peradaban Islam di masa belakangan. Dari sinilah nampak solusi dari Ibnu Khaldun, peradaban ‘hadharah’ dengan segala kekuasaan dan kejayaannya wajib diatur dan dilandasi syariah Allah, terus-menerus. Kerangka sisi “dalam” sejarah Ibnu Khaldun berujung kepada keharusannya bermoral (beradab) dan menegakan syariah.

Oleh sebab itu jika ada suara-suara dari sebagian intelektual yang menganggap Ibnu Khaldun adalah sejarawan “sekular” Muslim, maka hal tersebut keliru. Dalam perjalanan sejarah berbagai peradaban besar, pendapat Ibnu Khaldun sulit untuk dibantah karena peradaban-peradaban besar merosot dan jatuh utamanya karena kecongkakan, bermegah-megahan dan bermewahan. Sebagian sejarawan dan pakar dunia Barat seperti Spengler dan Huntington sendiri mempercayai bahwa peradaban yang meyakini ia berada di puncak kejayaan dan kedigdayaan sesungguhnya telah berada dalam kemerosotan dan kejatuhannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika kalian telah sibuk dengan dirham dan dinar, berjual beli ‘inah (mengandung riba), mengikut ekor sapi (sibuk bertani), dan meninggalkan jihad, Allah akan memasukan kalian ke dalam kehinaan, Dia tak akan memperdulikan kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sabda lain beliau SAW “kalian dihinggapi penyakit Al-Wahn, yaitu kecintaan pada dunia dan takut mati (dalam memperjuangkan Islam)” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Nampaknya hadits ini membuat kita percaya bahwa teori perihal kemerosotan dan kejatuhan sebuah peradaban (termasuk peradaban Islam) dari Ibnu Khaldun adalah benar.#

Korupsi adalah Penghianatan terhadap Negara

Istilah pengkhianat negara (traitor) memang tidak akrab dalam keseharian kita. Istilah tersebut semakin tidak menemukan momentum di tengah arus neoliberalisme politik dan ekonomi di mana batas-batas teritoral negara (baik secara fisik ataupun imajiner) sudah digilas oleh globalisasi dan universalisme. Munculnya fenomena global citizen, misalnya, semakin memupuskan makna magis pengkhianat negara.

Pengkhianat negara, menurut kamus Merriam Webster edisi online, diartikan sebagai a person who is not loyal or true to a friend, duty, cause, or belief or is false to a personal duty dan a person who betrays his or her country: a person who commits treason. Dalam kamus bahasa Turki nedirnedemek.com, pengkhianat negara adalah vatanin yuksek cikarlarini hice sayarak onun aleyhinde is goren kimse (seorang yang merongrong dan mengkhianati kepentingan utama negara).

Dua referensi di atas secara tersurat mempunyai kesamaan pengertian normatif dan kemudian menjadi arus utama memahami praktik-praktik penyebutan pengkhianat negara dalam wacana politik kekuasaan, yaitu seseorang ataupun kelompok yang bekerja sama dengan musuh atau agen luar demi memuluskan kepentingannya yang berlawanan atau mencederai tujuan dan falsafah negaranya sendiri.

Definisi tersebut merupakan warisan masa-masa perang, yang menjadi propaganda sekaligus peneguh kekuatan melawan musuh-musuh di luar kelompok mereka. Setelah Perang Dunia II, pengkhianat negara sudah mulai tidak laku dalam pusaran kampanye ataupun propaganda kekuasaan.

Kenapa mereka yang telah mendustai tugas negara dan kesepakatan bersama dengan melakukan abuse of power -seperti para koruptor- tidak masuk dalam istilah pengkhianat negara? Padahal pada gilirannya, koruptor tidak hanya melumpuhkan sendi-sendi negara tetapi juga bisa menjerumuskannya ke dasar jurang kehancuran. Dalam kondisi demikian martabat dan kehormatan negara semakin disepelekan di muka internasional. Bagaimanapun negara yang digerogoti oleh korupsi akan tertatih menuju kelumpuhan.

Istilah pengkhianat negara adalah istilah yang sesuai untuk menjadi label bagi sel sel penghancur sendi-sendi bangsa dan negara, yakni para koruptor. Analisis ini bertolak pada prinsip dan makna negara demokrasi, yang di dalamnya kepentingan rakyat menjadi dasar utama di balik sistem yang lahir dari Yunani itu.

Pemerintahan “dari, oleh dan untuk rakyat” adalah diktum yang mengokohkan prinsip demokrasi demi mengejawantahkan rule of the people. Dalam negara demokrasi, kepentingan utama adalah hajat orang banyak, bukan perorangan dan bukan pula golongan.

Maka dari itu, segala bentuk penghancuran dan abuse of power -berupa tindak korupsi yang dilakukan oleh para birokrat- secara langsung akan berdampak kepada rakyat banyak sebagai muara serta tujuan bernegara dan berbangsa di bawah asas demokrasi. Tindak kejahatan white collar, yang juga dikenal dengan extraordinary crime itu, menjadi momok paling berbahaya karena, jika virus mematikan itu sudah menjangkiti struktur negara, organisme birokrasi akan membusuk dan kehilangan fungsinya.

Dalam situasi demikian akan terjadi pelanggaran dan mutilasi atas tugas dan amanah undang-undang yang lahir sebagai produk konsensus rakyat. Perampokan besar-besaran terhadap kekayaan negara akan terjadi pada saat yang sama. Potensi korupsi berjamaah tidak bisa dielakkan lagi dan eksistensi lembaga hukum akan tersandera di tengah sarang penyamun. Korupsi sempurna menjadi sindrom dan way of life dari elemen paling bawah struktur negara seperti kepala desa, pegawai di kecamatan, bupati, gubernur, ekskutif, legislatif, yudikatif, kejaksaan, Mahkamah Konstitusi dan semua level struktur birokrasi kita sudah digerogoti penyakit korupsi.

Kenapa koruptor harus disebut pengkhianat negara?

Kita harus mencari istilah paling ekstrim, yang pada dirinya mengandung makna yang secara langsung menohok kesadaran dan pemahaman bangsa ini. Nama dan penyebutan sangat penting untuk memberikan tekanan dan beban psikologis serta sosiologis, yang pada akhirnya nanti menjadi efek jera.

Sebutan untuk “koruptor”, rasanya tidak cukup mewakili dampak akibat dari kejahatan tersebut. Untuk itu, melabeli para koruptor dengan kata “pengkhianat” akan menawarkan intensitas dan pergumulan emosi yang lebih tepat. Para pelaku tindak pidana korupsi bisa juga disebut sebagai pengkhianat bangsa atau pengkhianat negara.

Bagi Indonesia hari ini, korupsi bukan lagi kasus kejahatan biasa, tapi sebuah tragedi yang akan menghancurkan generasi masa depan. Korupsi hari ini sudah menjadi budaya dalam politik dan pemerintahan, Pelan tapi pasti, korupsi telah menjadi sindrom, way of life dan bahkan menjangkiti pikiran (corrupted mind) yang akan mengancam dan merusak cara pikir masyarakat dan bangsa ini ke depan, lebih parah lagi dengan penegakan hukum yang lemah dan tebang pilih demi untuk melindungi para penghianat negara dan jaringan kejahatannya.

Dalam suatu kisah, Wajah Rasulullah SAW seketika berubah merah padam, tak dapat menahan keberangannya begitu mendengar laporan Usamah bin Zaid tentang kasus pencurian yang melibatkan seorang wanita bangsawan Quraisy dari Bani Makhzumiyah. Kasus ini segera merebak menjadi berita utama di kalangan kaum Quraisy. Pasalnya, kasus ini dirasakan sangat mencoreng wajah dan merusak kredibilitas kaum Quraisy, yang selama ini disegani dan dihormati masyarakat Arab.

Suatu pertemuan terbatas segera diadakan oleh beberapa tokoh Quraisy guna mengambil langkah-langkah pengamanan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, disepakati bahwa Usamah bin Zaid diutus untuk melobi Rasulullah SAW.

Sebagai Kepala Negara yang berkuasa penuh, kaum elite Quraisy berharap Rasulullah SAW dapat meredam kasus ini sebelum pelakunya diseret ke sidang mahkamah pengadilan. Mereka yakin Usamah dapat bernegosiasi dengan Rasulullah karena selama ini Usamah dikenal sebagai orang dekat Rasulullah, bahkan dijuluki Hibbu Rasulillah, anak emasnya Rasulullah. Ia termasuk anak muda pemberani.

Dengan mudah Rasulullah SAW menangkap maksud terselubung di balik pembicaraannya dengan Usamah. Yakni, adanya upaya kolusi dan persekongkolan yang bertujuan memetieskan kasus pencurian tersebut. Karena itu, dengan nada tinggi Beliau berkata kepada Usamah:

Apakah kamu mau menjadi pembela perkara yang melanggar batas-batas hukum Allah?” Beliau kemudian naik ke atas mimbar dan di hadapan massa yang hadir, dengan tegas Beliau mengingatkan: “Sesungguhnya hancur binasa bangsa-bangsa sebelum kamu disebabkan, bila yang mencuri datang dari kalangan kaum elite, mereka biarkan tanpa diambil tindakan apa pun. Tetapi, bila yang mencuri datang dari orang-orang lemah, segera mereka ambil tindakan. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Butir-butir kata mutiara yang terlontar, “Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri“, adalah sangat tidak mungkin terjadi dalam rumah tangga Rasulullah. Seorang putri kandungnya melakukan pencurian? Pernyataan ini lebih merupakan sebuah pesan moral yang mempunyai pengaruh besar dalam tatanan kehidupan bangsa. Bahwa keadilan merupakan urat nadi kehidupan suatu bangsa yang membawa rasa tenteram, meraih kesejahteraan.

Oleh karena itu, keadilan dan persamaan hak di hadapan hukum wajib ditegakkan tanpa pilih kasih. Dan, bahwa kolusi dan persekongkolan adalah suatu tindakan kejahatan yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara yang harus ditindak tegas demi keselamatan bangsa.

Cepat atau lambat, negeri manapun di dunia ini akan dihadapkan pada sebuah ancaman kehancuran, berakibat runtuhnya tatanan kehidupan bangsa.

Wallahu a’lam

Wali Allah, Siapa yang dimaksud?

Siapakah wali Allah itu? Apa dan siapa sebenarnya yang dimaksud wali allah.? 

Sesungguhnya ada perbedaan persepsi antara apa yang Al Quran jelaskan dan pandangan kebanyakan masyarakat Muslim di negara kita tentang kriteria wali Allah. Secara prinsip Islam menganggap, wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah sehingga selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS  Yunus [10]: 62-64).

Ibnu Katsir mengatakan, pada ayat tersebut di atas Allah menjelaskan bahwa wali-wali-Nya adalah mereka yang beriman dan selalu bertakwa. Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah yang tidak mempunyai kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari kiamat nanti dan tidak pula bersedih akan apa yang mereka tinggalkan di dunia ini.

Sedangkan, kriteria wali Allah yang berkembang dalam masyarakat lebih ditekankan pada aspek karomah yang ada pada diri orang yang dianggap wali Allah tersebut seperti berjalan di atas air, shalat di atas angin, bisa membaca pikiran orang, menyampaikan ramalan ramalan akan masa depan atau kesaktian-kesaktian lainnya. Kesimpulannya, mereka yang mempunyai kesaktian-kesaktian itulah yang dianggap sebagai wali.

Padahal, kesaktian-kesaktian itu bisa juga dilakukan dan diperlihatkan oleh dukun, paranormal, atau tukang sihir. Dalam Islam, ada atau tidaknya karomah dalam diri seseorang bukanlah menjadi ukuran bagi seseorang dianggap sebagai wali Allah atau bukan. Ukurannya adalah kokohnya tauhid, keimanan di dalam hati dan ketakwaan yang terpancar dalam ibadahnya serta akhlak dan muamalah kepada sesamanya.

Para sahabat Nabi Muhammad  tidak pernah memanggil ahli ibadah di antara mereka dengan sebutan wali atau auliya Allah. Rasyid Ridha menegaskan, tidak pantas bagi seorang Muslim meyakini secara pasti bahwa seseorang yang telah meninggal itu sebagai wali Allah yang diridai-Nya dan akan mendapatkan yang dijanjikan Allah kepada auliya-Nya.

Sebab, hal itu merupakan sikap melampaui batas dalam hal ilmu gaib dan tergolong mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan. Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa akhir hidup seseorang tidak ada yang mengetahuinya dan kita tidak boleh memastikan seseorang mati dalam keimanan dan akan mendapatkan surga Allah kecuali ada nash dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita hanya berbaik sangka kepada semua orang beriman dan orang yang kita lihat keistiqamahannya dalam beragama. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan hal tersebut. Ada seorang perempuan bernama Ummul A’la, seorang perempuan Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah, berkisah bahwa pada saat itu dilakukan undian untuk melayani para Muhajirin.

Menurut Ummul A’la, ia mendapati Utsman bin Mazh’un yang kemudian tinggal di rumahnya. Sayangnya, Utsman jatuh sakit yang menyebabkan kematiannya. Di hari kematiannya, setelah dimandikan lalu dikafani, Rasulullah masuk dan Ummul A’la mengatakan, “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Mazh’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Rasulullah bersabda, “Dari mana kamu tahu Allah telah memuliakannya?” Ia menjawab, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu, siapa yang Allah muliakan?” Rasul menjawab, “Adapun dia, telah datang kematiannya. Demi Allah berharap kebaikan untuknya. Demi Allah aku sendiri tidak tahu-padahal aku ini adalah utusan Allah-apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”Ummul ‘Ala mengatakan, “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” (HR Bukhari).

Apa dan bagaimana Hadits Yang Paling Mulia Tentang Sifat-Sifat Wali-Wali Allah HADITS YANG PALING MULIA TENTANG SIFAT-SIFAT WALI-WALI AllAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’

Kelengkapan hadits ini adalah:  “Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu  yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248,

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya penolong (wali)mu hanyalah Allâh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allâh). Dan barangsiapa menjadikan Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allâh itulah yang menang.” [al-Mâidah/5:55-56]

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sifat kekasih-kekasih-Nya yang Allâh Azza wa Jalla  cintai dan mereka mencintai-Nya yaitu rendah hati terhadap kaum mukminin dan tegas terhadap orang-orang kafir. Ketahuilah, bahwa segala bentuk kemaksiatan adalah bentuk memerangi Allâh Azza wa Jalla , semakin jelek perbuatan dosa yang dikerjakan, semakin keras pula permusuhannya terhadap Allâh. Karena itulah Allâh  menamakan pemakan riba[3] dan perampok[4] sebagai orang-orang yang memerangi Allâh dan Rasul-Nya. Karena besarnya kezhaliman mereka kepada hamba-hamba-Nya serta usaha mereka mengadakan kerusakan di bumi. Demikian pula orang yang memusuhi  para wali Allâh Azza wa Jalla . Mereka itu telah memusuhi Allâh dan telah memerangi-Nya.[5]


Sifat dan ciri-ciri wali-wali Allâh Azza wa Jalla Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sifat  para wali-Nya. Pertama, mereka memiliki iman yang jujur; Dan kedua, mereka bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : … Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan dimanapun mereka…[6]


Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Maksud wali Allâh adalah orang yang mengenal Allâh, selalu mentaati-Nya dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.”[7]

Pintu ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi wali Allâh. Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa para wali Allâh itu bertingkat-tingkat. Allâh berfirman, yang artinya,
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” [Fâthir/35:32]

Tingkatan-tingkat itu adalah : Pertama, orang yang menzhalimi diri sendiri. Mereka adalah pelaku dosa-dosa. Ibnu Katsir t berkata, ”Mereka yang melalaikan sebagian hal-hal yang wajib dan melakukan sebagian perbuatan haram.”
Kedua, orang yang pertengahan. Mereka yang melaksanakan hal-hal yang wajib, menjauhi yang haram, namun mereka meninggalkan yang sunat dan terjatuh pada yang makruh.
Ketiga, orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, mereka selalu melaksanakan yang wajib dan yang sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh.

Adapun wali Allâh yang paling utama adalah para Nabi dan Rasul ’Alaihimus shalatu wassalam. Dan setelah mereka adalah para sahabat Radhiyallahu anhum.
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allâh, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allâh dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allâh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” [al-Fath/48:29]

Para sahabat Radhiyallahu anhum merupakan contoh yang agung dalam mewujudkan perwalian kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa ingin meraih ridha Allâh, maka hendaknya dia menempuh jalan mereka.

Wali-wali Allâh mereka tidak memiliki ciri-ciri yang khusus. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Para wali Allâh tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dan manusia umumnya dalam perkara yang mubah. Mereka tidak berbeda dalam hal pakaian, menggundul rambut atau memendekkannya, karena keduanya perkara yang mubah. Sebagaimana dikatakan, betapa banyak orang yang jujur memakai pakaian biasa, dan betapa banyak zindiq yang memakai pakaian bagus.”[8] Para wali Allâh tidak ma’shûm (terjaga dari dosa). Mereka manusia biasa terkadang salah, keliru, dan berbuat dosa.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabbnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik, agar Allâh menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” [az-Zumar/39:33-35]

Ayat ini memberi gambaran tentang wali-wali Allâh, yaitu Allâh akan memberi pahala yang lebih baik dari amalan mereka. Ini merupakan balasan atas taubat mereka dari perbuatan dosa. Ayat ini juga menetapkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul, terkadang berlaku salah dan dosa. Diantara dalil yang menguatkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul yaitu para sahabat jatuh dalam kesalahan adalah terjadinya peperangan diantara mereka dan juga ijtihad-ijtihad mereka yang terkadang keliru. Dan ini sudah diketahui oleh mereka yang sering membaca perkataan-perkataan para sahabat dalam kitab-kitab fiqih  dan yang lainnya.[9] Meski demikian, kita tidak boleh mencela mereka, bahkan kita dianjurkan untuk mendo’akan kebaikan untuk mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa, ’Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-ssaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha penyantun, Maha penyayang.” [al-Hasyr/59:10]

Para shahabat adalah orang-orang yang dijanjikan ampunan oleh Allâh Ta’ala dan dijanjikan Surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fath ayat 29. Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan hal-hal yang Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”

Setelah Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa memusuhi  para wali-Nya berarti memerangi-Nya, selanjutnya Allâh menjelaskan sifat para wali-Nya. Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan apa yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada-Nya. Wali-wali Allâh ialah orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Sebaliknya, musuh-musuh Allâh ialah orang-orang yang dijauhkan dan terusir dari rahmat Allâh Azza wa Jalla sebagai akibat amal perbuatan mereka.

Allâh Azza wa Jalla membagi  para wali-Nya menjadi dua kelompok : Pertama, yang mendekatkan diri dengan melaksanakan hal-hal wajib.  Ini mencakup melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan, sebab semuanya itu termasuk melaksanakan yang diwajibkan oleh Allâh kepada para hamba-Nya.
Kedua, yang mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunat setelah amalan-amalan wajib. Dengan jelas bahwa tidak ada bisa mendekatkan kepada Allâh, menjadi wali-Nya, dan meraih kecintaan-Nya kecuali dengan menjalankan ketaatan yang disyari’atkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya.

Jika ada yang mengklaim dirinya meraih derajat wali dan dicintai Allâh Azza wa Jalla  tetapi tidak jalan ini, maka jelas ia dusta. Seperti kaum musyrik yang mendekatkan diri kepada Allâh dengan cara menyembah tuhan-tuhan selain Allâh. Seperti dikisahkan Allâh Azza wa Jalla tentang mereka, yang artinya, “…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ”Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya…” [az-Zumar/39:3]

Dan Allâh mengisahkan tentang orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mengklaim mereka anak-anak dan kekasih[10] Allâh Azza wa Jalla , padahal mereka terus-menerus mendustakan para rasul, mengerjakan larangan-Nya serta meninggalkan kewajiban. Oleh karena itu dalam  hadits di atas, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa wali-wali Allah itu terbagi dalam dua tingkatan :

Pertama, tingkatan orang-orang yang mendekatkan diri dengan mengerjakan hal-hal yang wajib. Ini tingkatan al-muqtashidîn (pertengahan) atau golongan kanan. Mengerjakan amalan fadhu adalah amalan terbaik. Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu mengatakan, ”Sebaik-baik amal ialah menunaikan apa saja yang diwajibkan Allâh Azza wa Jalla .” ’Umar bin ’Abdul ’Aziz Radhiyallahu anhuma berkata dalam khutbahnya, ”Ibadah yang paling baik ialah menunaikan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.”[11] Karena tujuan Allâh Azza wa Jalla mewajibkan berbagai kewajiban ini supaya para hamba bisa mendekatkan diri kepada-Nya dan agar mereka bisa meraih ridha dan rahmat Allâh Azza wa Jalla .

Kedua, tingkatan orang-orang yang berlomba-lomba (dalam kebaikan), yaitu orang-orang yang mendekat diri dengan ibadah-ibadah wajib kemudian bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari yang makruh dan bersikap wara’ (takwa). Sikap itu menyebabkan seseorang dicintai Allâh, seperti difirmankan Allâh, “Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” Dan barangsiapa dicintai Allâh, maka Allâh akan anugerahkan rasa cinta kepada-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya.

Itu semua menyebabkannya semakin dekat dengan Allâh dan terhormat di sisi-Nya seperti difirmankan Allâh Azza wa Jalla : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allâh mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [al-Mâidah/5:54]

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa orang yang tidak cinta dan tidak berusaha mendekat kepada Allâh, maka Allâh tidak akan memperdulikannya dan tidak akan memberikannya anugrah yang agung ituyaitu rasa cinta. Jadi, orang yang berpaling dari Allâh, ia tidak akan mendapatkan ganti Allâh untuk dirinya sedang Allâh Azza wa Jalla mempunyai banyak pengganti untuknya. Barangsiapa meninggalkan Allâh Azza wa Jalla , maka ia tetap merugi. Bagaimana tidak, karena ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari dunia, padahal dunia dan seisinya disisi Allâh Azza wa Jalla tidak lebih berharga dari satu helai sayap seekor nyamuk.

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, Allâh berfirman dalam  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,”Dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir,” maksudnya, mereka bergaul dengan kaum mukminin dengan rendah hati dan tawadhu’, dan mereka memperlakukan orang-orang kafir dengan sikap keras. Karena ketika mereka sudah mencintai Allâh, maka tentu mereka juga mencintai  para wali Allâh sehingga  mereka bergaul dengan para wali Allâh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka juga membenci musuh-musuh Allâh yang memusuhi-Nya lalu memperlakukan dengan sikap keras.

Allâh berfirman : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ  Muhammad adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka…” [al-Fath/48:29]

Kesempurnaan cinta seseorang kepada Allâh dibuktikan dengan memerangi musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla . Jihad juga merupakan wahana untuk mengajak orang-orang yang berpaling dari Allâh agar kembali setelah sebelumnya didakwahi dengan hujjah dan petunjuk. Jadi, para wali Allâh itu ingin membimbing manusia menuju pintu Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa tidak merespon dakwah dengan sikap lemah lembut, ia perlu diajak dengan sikap keras.

Disebutkan dalam hadits, عَجِبَ اللهُ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُوْنَ إِلَـى الْـجَنَّةِ فِـيْ السَّلَاسِلِ Allâh merasa heran kepada kaum yang dituntun ke surga dalam keadaan dibelenggu.[12]

Diantara sifat wali  Allâh yang disebutkan dalam firman-Nya  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,“Dan yang tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela,” maksudnya, orang-orang yang mencintai Allâh hanya menginginkan ridhai-Nya. Ia ridha kepada siapa saja yang Allah ridhai dan benci kepada siapa saja yang Dia benci. Jadi, orang yang masih takut celaan dalam mencintai pihak yang dicintainya, berarti cintanya tidak benar.

Selanjutnya dalam firman-Nya al-Maidah/5:54 tersebut,
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Itulah karunia Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” Karunia maksudnya ialah derajat kewalian dengan sifat-sifat yang telah disebutkan.#

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Terlepasnya Simpul Islam

“Sungguh, simpul-simpul Islam akan dilepaskan satu demi satu, setiap kali satu simpul terlepas, orang-orang bergantung pada simpul berikutnya.Yang pertama terlepas adalah al-hukm (Pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah sholat.” (Imam Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini) 

Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini menyatakan bahwa hadits tersebut seluruh isnadnya shohih.Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman, Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu’jam al-kabir, dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Imam Ahmad. Adapun Imam Ahmad menukil hadits di atas berturut-turut dari Walid bin Muslim, dari Abdul Aziz bin Ismail bin Ubaidillah, dari Sulaiman bin Habib, dari Abu Umamah al-bahili, dari Rasulullah saw.Selain itu, Muhammad bin Nusr bin al-Hajjaj al-Muruzi dalam kitab Taqdir Qadr ash-shalah, al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawa’id, dan al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir juga menilai hadits di atas adalah hadits yang tidak diragukan lagi tentang keshahihannya. Karena itu, hadits di atas hadits yang dapat diterima terkait dengan berita yang disampaikan, sebab berdasarkan riwayatnya adalah shohih dan dirayahnya tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Terkait dengan simpul-simpul islam tersebut Imam al-hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini juga mengeluarkan beberapa hadits yang lain, diantaranya : “Sungguh, simpul-simpul Islam akan dilepaskan satu demi satu, (pada saat itu) akan ada para pemimpin yang tersesat, dan sungguh keluarlah dajjal yang ketiga pada masa itu.” Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya menilai bahwa hadits tersebut merupakan berita tentang simpul Islam yang pertama kali terlepas adalah dari sisi rusaknya hukum (pemerintahan) dan penguasanya.Sedangkan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihhya menyatakan tentang terlepasnya simpul-simpul Islam dan terpecah belahnya jama’ah (kesatuan) umat Islam. Sehingga, berita tentang terlepasnya simpul-simpul Islam sangat erat kaitannya dengan sistem pemerintahan, para, penguasa, dan hukum-hukum yang diterapkan untuk menjaga kesatuan umat dan pelaksanaan ajaran Islam yang diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Imam Ibnu Mandzur dalam kitab lisan al-Arabmenyatakan bahwa ‘ura adalah jamak dari ‘urwah. Sedangkan kata ‘urwah sendiri secara bahasa memiliki beberapa makna antara lainalwutsqa (perjanjian) atau tamassuk (pegangan). Al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir menyatakan bahwa ‘ura islam adalah gaya majaz isti’arah yang digunakan untuk menyebut perkara agama berupa cabang-cabang Islam yang dijadikan pegangan dan tempat untuk bergantung. Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman menyebutkan yang dimaksud ‘urwah adalah hal-hal yang menjadi pegangan dalam menjaga agama, hukum-hukum, serta syari’at-syari’atnya.Demikian pula penjelasan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shohihnya bahwa ‘ural Islam adalah hudud, ahkam, dan beberapa perkara yang berkaitan dengan ajaran Islam.Dengan demikian, simpul-simpul Islam adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri, dimana ajarannya meliputi berbagai perkara; baik aspek pemerintahan yang menjalankan hukum atau aspek ibadah ritual seperti pelaksanaan ibadah sholat.

Oleh sebab itu, aspek pemerintahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari islam seperti halnya sholat. Hadits ini telah menggugurkan pendapat orang bahwa pemerintahan adalah urusan dunia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ajaran islam. Justru sebaliknya, hadits di atas menyatakan bahwa salah satu simpul ajaran islam yang mesti dipegang adalah sistem pemerintahan yang menjalankan seluruh hukum-hukum Islam. Karena itu pula, memisahkan pemerintahan dari islam sama artinya dengan membuang salah satu simpul islam. Realitas telah menunjukkan, ketika pemerintahan islam yakni khilafah di Turki berhasil diruntuhkan oleh Inggris dan anteknya Mushafa kemal at-tartuk, banyak sekali hukum-hukum islam yang harusnya diterapkan, diabaikan begitu saja, bahkan hilang dari ruang publik pengaturan masyarakat. Hingga sekarang, hanya tersisa pada sektor privat yang tercermin pada ritual ibadah, unsur akhlak, dan pernikahan semata.

Dalam hadits di atas mengabarkan bahwa ‘ura islam itu akan diurai satu persatu. Ungkapan dalam bentuk fasif (bina majhul) menunjukkan bahwa terurainya ‘ural islam itu tidak terjadi dengan sendirinya.Tetapi diurai atau dirusak, bahkan dihancurkan oleh orang yang tidak suka terhadap ajaran-ajaran Islam.Sehingga, umat Islam terperdaya dan mengikuti jejak langkah mereka. Bahkan, mereka mampu untuk memperalat umat islam untuk menghancurkan ajaran-ajarannya sendiri. Kalimat al-hukm yang menjadi kalimat pertama dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa al-hukm menjadi fokus pertama atau sasaran utama untuk dihancurkan. Jika al-hukm berhasil diurai atau dirusak maka itu menjadi pembuka bagi terurainya simpul-simpul islam yang lain. Hingga perkara terakhir yang menjadi benteng umat Islam yang berkaitan dengan ibadah sholat pun, diabaikan dan disepelekan pelaksanaannya.Padahal, bila masih ada sistem pemerintahan Islam, umat Islam yang tidak melaksanakan sholat tetap terkena hukuman sebagaimana penjelasan para ulama mazhab dalam kitab-kitab mereka.

Munculnya pemahaman yang keliru berkaitan dengan hak asasi manusia, dimana seorang ayah sekalipun tidak boleh memukul anaknya walaupun dalam urusan agar anaknya mau melaksanakan ibadah sholat sebagaimana hadits Rasulullah saw, hal ini merupakan upaya agar anak-anak umat ini memiliki pemahaman sebagaiman orang-orang yang berupaya untuk memisahkan simpul-simpul islam. Karena itu, ‘urwah islam yang berkaitan dengan ibadah sholat serta metode menegakkannya harus tetap dijaga.Anak-anak umat ini harus diajarkan bagaimana pentingnya melaksanakan ibadah sholat, termasuk tatacara mengerjakannya.Namun, upaya yang terakhir ini menuntut kita untuk menggalang persatuan dalam rangka mewujudkan ‘urwah al-hukm. Karena ‘urwah al-hukm akan melindungi dan melaksanakan seluruh pelaksanaan ‘ural islam. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa imam (penguasa dalam Islam) adalah junnah (perisai) yang melindungi Islam dan kaum Muslim dari berbagai penindasan, kedzholiman, dan keterjajahan sebagaimana yang kita saksikan hari ini.

Dengan demikian, apa dijelaskan oleh para ulama berkaitan terlepasnya simbol islam karena pemimpin yang tersesat atau rusaknya penguasa serta hukum-hukum islam yang tidak dijalankan lagi menjadi bukti tersendiri dengan lahirnya realitas yang semakin mengkhawatirkan terkait dengan ajaran-ajaran islam. Upaya untuk memperbaiki merupakan kewajiban utama bagi anak-anak umat ini agar Islam sebagaimana pernah diterapkan pada masa yang lalu, tampil kembali sebagai institusi yang sangat disegani kawan dan ditakuti oleh lawan. Bandingkan dengan realitas institusi yang dimiliki oleh umat islam pada masa ini, yakni sistem tatanegara yang diterapkan oleh umat Islam dengan perpecahannya yang cukup banyak, tidak mampu mengangkat harkat dan martabat islam dan kaum muslim dari berbagai penjajahan yang dilakukan oleh Barat, bahkan anak-anak umat islam rela dan dengan senang hati menghamba pada Barat, walaupun mereka telah melecehkan keberadaan islam.

Karena itu, pernyataan bahwa ‘ural islam sangat erat kaitannya dengan terpecah belahnya kesatuan umat islam telah terlihat di depan mata. Al-hukm yang menjadi titik fokus penyerangan yang pertama kali benar-benar telah menjadikan umat islam tidak mampu lagi untuk melindungi urwah-urwah islam yang lainnya. Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan kembali ‘urwah al-hukm, yakni sistem hukum yang menerapkan seluruh hukum-hukum Allah dan dapat melindungi umat ini dari kedzholiman, merupakan upaya strategis untuk memperbaiki seluruh simbol-simbol islam. Disisi lain, penerapan seluruh hukum-hukum Allah dan kuatnya kembali persatuan umat Islam bukan dalam rangka menjajah berbagai negeri dan mendzholimi manusia sebagaimana yang telah dilakukan Barat pada umat islam. Namun, islam yang tampil dengan seluruh potensi dan seluruh kekuatannya hanya ditujukan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah.

Penjara adalah Hadiah Rutin Ulama Oleh Penguasa

Ulama ditahan itu biasa. Ciri ulama pemberani sepanjang sejarahnya adalah akrab dengan penjara. Bagi ulama dan pejuang, penjara itu tempat biasa, kawan akrab, tidak aneh bahkan kenikmatan. Justru bahwa mereka pejuang beneran, pejuang ori, sejauh mana akrab dengan penjara.

Karena keberanian ulama, sepanjang sejarahnya, pasti meresahkan, menggelisahkan dan membuat gerah para penguasa dan penjara adalah hadiah dan pahalanya di dunia sebagai medan perjuangan. Zaman Nabi begitu, zaman kekhilafahan begitu, zaman kolonial begitu, zaman penguasa modern apalagi, zaman Orde Lama dan Orde Baru juga sama. Sekarang, ya apa anehnya. Jangan tanya apa kesalahannya dan mengapa penguasa memenjarakannya.

Sejarah banyak menyimpan catatan para ulama dipenjara. Imam Abu Hanifah pernah dipenjara, As-Sarakhsi, (ulama mazhab Hanafi) pernah penjara, Ibn Taimiyyah pernah dipenjara, Sayyid Qutb pernah dipenjara, Buya Hamka pernah dipenjara. Semuanya akrab dengan penjara. Apa ulama jadi hina dengan dipenjara? Tidak pernah sekalipun dalam sejarah, ulama jadi hina gara-gara masuk penjara. Justru itu kemuliaan yang dikenang sejarah karena penjara adalah simbol perlawanan moral ulama.

Bahkan banyak ulama menyelesaikan karya besarnya yang bermanfaat sebagai amal jariyah dan ilmunya dikenang sepanjang sejarah karena karya² besarnya di dalam penjara: As-Sarakhsi menulis kitab ilmu fikih Mazhab Hanafi yang terkenal, berjudul Al-Mabsūth. Sayyid Qutb menulis Tafsir “Fi Dzilalil Qur’an” dalam penjara, Buya Hamka menyelesaikan Tafsir “Al-Azhar”-nya dalam penjara.

Penjara adalah hadiah rutin buat para ulama pemberani yang mengkritik atau melawan penguasa yang tidak semua ulama sanggup melakukannya. Ulama yang fokusnya pada jama’ah dan umat (dakwah amar makruf) tidak memasuki politik atau tidak meresahkan penguasa ya tentu akan aman-aman saja walaupun tidak semua ulama merasa aman karena hakikatnya semua ulama pernah dipenjara, hanya bentuknya beda-beda: Ada penjara kenikmatan duniawi, ada penjara sosial, ada penjara popularitas, ada penjara kebebasan diri dan penjara jeruji besi. Semua tergantung medan dakwahnya.

Ciri ulama yang berpengaruh pada penguasa adalah dakwahnya yang mengganggu penguasa. Bukan mengganggu tugasnya mengurusi rakyat tapi menganggu dari kemungkinan lalai atas tugasnya menegakkan keadilan, lalai dari kewajiban menjalankan syariat agama, lalai dari mengingat murka Allah bila memerintah tidak adil, lalai mengingat akhirat yang akan menghisab tugas kepemimpinannya, lalai dari mengingat ancaman neraka jahanam bila menyakiti rakyatnya dan seterusnya.

Penjara adalah ciri seorang ulama berpengaruh kepada penguasa karena ia mendakwahinya dengan kritik atau teguran keras bukan menghibur dan menyenangkannya apalagi salah benar didukung yang oleh Imam Al-Ghazali disebut sebagai ulama su’. Ulama su’ itu konon lebih berbahaya ketimbang dajjal. Wajar, karena ia menjual agama kepada penguasa demi keselamatan dirinya dan kesenangan duniawi yang tugas ulama justru menasehati dan menegur penguasa agar tidak melenceng dari jalan Allah.

Beberapa ulama terdahulu pernah diterpa cobaan hingga pada akhirnya ditahan dan dipenjara karena menentang penguasa saat itu. 

Meski begitu, terpaan masalah itu sekalipun tidak membuat mereka jauh dari Allah SWT. Mereka tetap berjuang dengan berbagai karya-karyanya demi kemaslahatan umat Muslim.

Imam empat mazhab pun pernah merasakan kurungan penjara. Termasuk juga Ibnu Taimiyyah. Berikut ini adalah lima ulama yang pernah ditahan di penjara oleh rezim penguasa saat itu.

1. Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah dicabuk dan dipenjara di era penguasa al-Manshur pada zaman Dinasti Abbasiyah. Dia ditahan karena menolak dijadikan qadhi. Sebelum itu, di zaman Dinasti Umayyah, Imam Abu Hanifah juga pernah ditahan saat Marwan bin Muhammad menjadi penguasa karena menolak tawaran menjadi hakim.

Beliau meninggal dunia pada bulan Rajab 150H/767M ketika berusia 68 tahun), yakni ketika berada di dalam penjara karena memakan makanan yang telah diracuni. Dalam riwayat lain, disebutkan beliau dipukul dalam penjara sampai wafat. 

Meninggalnya Imam Abu Hanifah menjadi kehilangan yang amat besar bagi umat Islam. Sholat jenazahnya dilakukan sebanyak denam gelombang, dan dengan jamaah setiap sholat mencapai 50 ribu orang.

2. Imam Malik

Imam Malik pernah dihukum gubernur Kota Madinah pada tahun 147H/764M. Beliau dihukum karena mengeluarkan fatwa bahwa hukum talaq yang akan dilaksanakan penguasa tidak sah.

Ketika itu, Kerajaan Abbasiyah membuat fatwa, yaitu seluruh penduduk perlu taat kepada pemimpin. Siapa pun yang tidak mau makan akan terjatuh talaq atas istirinya. Lalu Imam Malik dicambuk karena melawan perintah Abu Ja`far al-Manshur, karena meriwayatkan hadist bahwa tidak ada talak bagi orang yang dipaksa.

3. Imam Syafii

Imam Syafii pernah dituding mendukung Syiah oleh orang yang dengki dengan dirinya, yaitu Mutharrif bin Mâzin. Mutharrif memprovokasi Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Imam Syafii dan orang-orang Alawiyin.

Mutharrif memfitnah dan melaporkan pada Khalifah Harun bin Rasyid, lalu menyebut Imam Syafii terlibat dalam rencana merongrong kekuasaan Harun Al-Rasyid. Kemudian Imam Syafii ditangkap. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai, lalu diarak di jalanan sebagai sosok yang tertuding melawan kekuasaan negara.

Namun Khalifah Harun Al-Rasyid adalah sosok yang cerdas dan bijaksana. Tuduhan bahwa beliau seorang yang terlibat sebagai bagian dari Syiah Rafidhah yang diduga merencanakan konspirasi perlawanan tidak terbukti kemudian dilepaskan.

4. Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad bin Hanbal pernah dicambuk dan dipenjara selama 30 bulan oleh Khalifah Makmun karena tidak mengakui sisi kemakhlukan Alquran seperti yang diyakini aliran muktazilah.

Khalifah Al-Makmun saat itu menyukai bidang filsafat dan mulai memaksakan pandangannya tentang Alquran bahwa Alquran adalah makhluk, lantas para ulama dipaksa mengikuti pemikirannya. 

Namun Imam Ahmad bin Hanbal menolak mengikuti pemikiran Al-Makmun dan meyakini Alquran adalah kalamullah dan bukan makhluk. Setelah itu Imam Ahmad dipenjara. Lalu bebas setelah Khalifah Al-Mutawakkil menjalankan kekuasaan.

5. Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah juga pernah dipenjara di Kairo lalu diasingkan ke Alexandria karena perbedaan pendapat dengan ulama lain yang sezaman kala itu. Setelah bebas, ia berangkat ke Syam dan mengajar di Damaskus. Namun di sana dia kembali berbeda pendapat dalam hal persoalan sumpah dengan talak.

Karena masalah itu, dia kembali dipenjara selama lima bulan. Ia sempat bebas, tetapi setelah itu dipenjara lagi di penjara Damaskus bersama muridnya yang setia, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Di penjara, Ibnu Taimiyah mendapatkan waktu yang banyak untuk membaca dan menulis sejumlah buku untuk kemudian dikirim ke luar penjara.

Pada akhirnya, penguasa saat itu malah meminta agar kitab, kertas, tinta dan pena yang digunakan itu dikeluarkan dari dalam penjara Ibnu Taimiyah. Pada tahun 728 H, Ibnu Taimiyah dilarang membaca. Kemudian Ibnu Taimiyah jatuh sakit dan meninggal dunia#

Syiah dan Kenapa Para Ulama Aswaja mengingkarinya

Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan..

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi)

Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm)

Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahana, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.

Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya.

Saat itu mereka terbagi menjadi tiga golongan.

  1. Golongan yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ketika mengetahui sekte ini Ali membakar mereka dan membuat parit-parit di depan pintu masjid Bani Kandah untuk membakar mereka. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali). Andaikan aku yang melakukannya aku tidak akan membakar mereka karena Nabi pernah melarang penyiksaan sebagaimana siksaan Allah (dibakar), akan tetapi aku pasti akan memenggal batang leher mereka, karena Nabi bersabda:
    من بدل دينه فاقتلوه
    Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah ia
  2. Golongan Sabbah (pencela). Ali mendengar tentang Abu Sauda (Abdullah bin Saba’) bahwa ia pernah mencela Abu Bakar dan Umar, maka Ali mencarinya. Ada yang mengatakan bahwa Ali mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi ia melarikan diri
  3. Golongan Mufadhdhilah, yaitu mereka yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Padahal telah diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad bahwa beliau bersabda,خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر“Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”.
    Riwayat semacam ini dibawakan oleh imam Bukhari dalam kitab shahihnya, dari Muhammad bin Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya, siapakah manusa terbaik setelah Rasulullah, ia menjawab Abu Bakar, kemudian siapa? dijawabnya, Umar.

Dalam sejarah syiah mereka terpecah menjadi lima sekte yang utama yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat dan Ismailliyah. Dari kelima sekte tersebut lahir sekian banyak cabang-cabang sekte lainnya.

Dari lima sekte tersebut yang paling penting untuk diangkat adalah sekte imamiyyah atau rafidhah yang sejak dahulu hingga saat ini senantiasa berjuang keras untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin, dengan berbagai cara kelompok ini terus berusaha menyebarkan berbagai macam kesesatannya, terlebih setelah berdirinya negara syiah, Iran yang menggulingkan rezim Syah Reza Pahlevi.

Rafidhah menurut bahasa arab bermakna meninggalkan, sedangkah dalam terminologi syariat bermakna mereka yang menolak kepemimpinan abu bakar dan umar, berlepas diri dari keduanya, mencela lagi menghina para sahabat nabi.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari berkata, “Tatkala Zaid bin ‘Ali muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka beliaupun mengatakan kepada mereka:

رَفَضْتُمُوْنِي؟

Kalian tinggalkan aku?

Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

Pencetus paham syiah ini adalah seorang yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin saba’ al-himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Abdullah bin Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan, ia kemudian menggalang massa, mengumumkan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (menurut persangkaan mereka).

Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bin Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).

Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Ali yang mengetahui sikap berlebihan tersebut kemudian memerangi bahkan membakar mereka yang tidak mau bertaubat, sebagian dari mereka melarikan diri.

Abdullah bin Saba’, sang pendiri agama Syi’ah ini, adalah seorang agen Yahudi yang penuh makar lagi buruk. Ia disusupkan di tengah-tengah umat Islam oleh orang-orang Yahudi untuk merusak tatanan agama dan masyarakat muslim. Awal kemunculannya adalah akhir masa kepemimpinan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian berlanjut di masa kepemimpinan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Dengan kedok keislaman, semangat amar ma’ruf nahi mungkar, dan bertopengkan tanassuk (giat beribadah), ia kemas berbagai misi jahatnya. Tak hanya aqidah sesat (bahkan kufur) yang ia tebarkan di tengah-tengah umat, gerakan provokasi massa pun dilakukannya untuk menggulingkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Akibatnya, sang Khalifah terbunuh dalam keadaan terzalimi. Akibatnya pula, silang pendapat diantara para sahabat pun terjadi. (Lihat Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 8/479, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izz hlm. 490, dan Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hlm. 123)

Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte syiah yang paling ringan kesalahannya.

Allamah M.H. Thabathaba’i dalam buku yang ditulisnya, Syiah Dar Islam (Syiah dalam Islam), yang kemudian diterjemahkan menjadi Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya, menyebutkan mayoritas orang Syiah adalah penganut aliran Imam Dua Belas atau Imamiyah.

Dalam Syiah Dua Belas Imam ini, Imam ada 12 dan nama-nama mereka adalah:

1.Ali ibn Abi Talib
2.Hasan ibn Ali
3.Husain ibn Ali
4.Ali ibn Husain
5.Muhammad ibn Ali
6.Ja’far ibn Muhammad
7.Musa ibn Ja’far
8.Ali ibn Musa
9.Muhammad ibn Ali
10.Ali ibn Muhammad
11.Hasan ibn Ali
12.Mahdi

Menurut Allamah M.H. Thabathaba’i, dalam bukunya, ketika Nabi wafat, Ali –yang menjadi Imam pertama– telah berusia 30 tahun. Ali juga hadir dalam semua peperangan yang diikuti Rasulullah, kecuali pertempuran di Tabuk ketika dia diperintahkan tinggal di Madinah menggantikan Nabi. Dia juga tidak pernah membangkang.

Itu mengapa kawan-kawan dan pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali, salah satu sahabat Nabi. Para pengikut Ali melihat kepada diri Ali dan Ahlul Bait Nabi sebagai satu-satunya saluran penyampaian risalah Islam yang asli.

Untuk Imam kedua belas, menurut Syiah, masa depan akan menyaksikan suatu hari ketika umat manusia dipenuhi dengan keadilan, ketika semua ingin hidup dalam kedamaian dan ketenteraman dan ketika manusia sepenuhnya memiliki kebajikan dan kesempurnaan. Keadaan seperti itu akan terwujud melalui tangan manusia namun dengan pertolongan Tuhan.

“Dan pemimpin umat yang seperti itu, yang menjadi juru selamat umat manusia, disebut dalam bahasa hadis: Mahdi,” tulis Allamah M.H. Thabathaba’i dalam bukunya.

WAJIB DIKETAHUI UMAT ISLAM

Berikut tujuh belas doktrin Syi’ah yang perlu diketahui umat Islam. Syi’ah selalu menyembunyikan diri dari kaum muslimin sebagai bagian dari doktrin taqiyah, mereka sering kali masuk dan berkamuflasi sebagai Ahli Sunnah Wal Jamaaah untuk tujuan menyembunyikan kesyi’ahannya.

Ini dia 17 doktrin ini terdapat dalam kitab suci Syi’ah:

1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).

Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.

2. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).

Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.

3. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).

4. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).

5. Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).

6. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).

7. Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).

8. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).

9. Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).

10. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).

11. Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)

12. Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).

13. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).

14. Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).

15. Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).

16. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).

17. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).

Ketujuh belas doktrin Syi’ah di atas, apakah bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.

Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas !!!.

[Disusun dari dari berbagai sumber, di antaranya kitab Al-Furqon Bainal Haq Wal Batil tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, judul bahasa indonesia “Membedah Firqoh Sesat” penerbit Al-Qowam]

Perang pemikiran atau ghazwul Fikri

Perang pemikiran atau ghazwul Fikri adalah cara dan strategi baru dalam menghancurkan kaum muslimin. Perang pemikiran ini berbeda dengan perang militer atau fisik. Ia lebih soft, hemat waktu dan biaya bahkan lebih efektif dari perang fisik yang banyak menguras tenaga juga biaya yang tidak sedikit.

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi munculnya strategi ini. 

Pertama, sulitnya mengalahkan umat Islam secara militer. Bahkan invasi militer ini telah memakan biaya yang tidak sedikit & jatuhnya banyak korban tewas. Terbukti dengan adanya perang di Afghanistan, Iraq, Chechnya, Suriah dan sejumlah Negara muslimin lainnya. Namun mereka (Barat) tidak mampu mengalahkan dan menguasai Negara-negara tersebut. Inilah yang menyebabkan mereka mencari ‘jalan lain’ untuk mengalahkan kaum muslimin.

Keduakarena biayanya lebih rendah, mereka tidak perlu membeli tank-tank, pesawat-pesawat, amunisi. Yang mereka perlukan hanya menyebarkan ide-ide yang mereka usung keseluruh belahan dunia dengan tujuan imperialisme-kolonialisme. Ternyata, cara ini bisa melumpuhkan umat muslim sampai ke akarnya.

Mass Media dan saluran saluran sosial media lainnya mereka manfatkan dengan maksimal untuk mengampanyekan pemikiran dan ide busuk mereka supaya terlihat indah dan menawan.

Ketiga,karena lebih mudah dilakukan berkat bantuan kaki tangan mereka dari kalangan munafiqin dan Buzzer buzzer bayaran.

Keduanya berkolaborasi menyebarkan virus pemikiran yang sesat tersebut dan memolesnya dengan slogan-slogan menawan, seperti kebebasan berpikir, toleransi dan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme. Semuanya hanya untuk menggiring ke ranah Islamobia.

Keempat,memiliki hasil yang lebih memuaskan untuk melanggengkan penjajahan terhadap dunia Islam.

Ada beberapa langkah dan strategi yang mereka jalankan dalam menjalankan projek ghazwul fikri:

Pertama,mendangkalkan Aqidah hingga pemurtadan. Jika tujuan ini berhasil, banyak nya muslim yang murtad mereka berpandangan umat akan menjadi lemah dalam segi kuantitas.

Kedua, menumbuhkan keraguan terhadap ajaran islam. Yaitu dengan mengacak-acak syari’at Islam. Mereka menyebut syari’at islam sudah tertinggal oleh jaman tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang, hukum potong tangan, rajamcambuk dsb-nya tidak manusiawi dan melanggar HAM. Ahlul Bait dan keturunan Nabi mereka hinakan, dan ironisnya mereka menghasut dan menggunakan kaum muslim sendiri untuk melakukan hal tersebut.

Ketiga, mereka menciptakan sekulerisme (memisahkan agama dari realitas kehidupan). Mereka berpendapat Agama tidak perlu dibawa-bawa dalam aktifitas keseharian terkhusus dalam hal politik dan pemerintahan. Slogan ” Jangan jadikan agama sebagai alat politik” mereka gaungkan, padahal sudah seharusnya dan semestinya kita sebagai umat islam memperjuangkan islam dengan cara masuk ke panggung politik demi kepentingan Islam dan tegaknya syariat Allah.

Keempat, menumbuhkan Islamphobia baik pada kalangan (umat) Islam maupun  kalangan non-islam. Mereka menciptakan ide ‘Perang melawan Teroris dan radikalisme yang seringkali menyudutkan Islam seolah olah adalah biangnya teroris dan radikalis, yang sebetulnya bermaksud perang melawan pejuang Islam untuk menegakkan Kalimatullah. Mereka mencitrakan para Aktifis dakwah sebagai teroris dan berbahaya, mereka membuat citra citra negatif tentang budaya berpakaian celana cingkrang dan gamis seolah adalah kaum radikalis dan intoleran.

Kelima, merusak moral kaum muslimin. Mereka merusak moral kaum muslimin dengan cara “memperkenalkan” pergaulan bebas, Clubbing, free sex, lagu-lagu cengeng tentang cinta, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya generasi muda

Keenam, memecah belah persatuan umat islam. Salah satunya dengan mengelompokkan kaum muslimin kepada, Islam Radikal atau Islam Fundamentalis, Tradisionalis dan Islam moderat dll.

ketujuh, melanggengkan kolonialisme baru di tengah-tengah dunia islam. Mereka menjajah, merampas kekayaan negeri-negeri muslim untuk kepentingan negara mereka. Mereka “membeli” orang-orang yang berpengaruh dalam negerinya untuk dijadikan antek mereka. Mereka meruntuhkan negeri negeri Otokrasi menjadi Demokrasi dan Menggeser Negeri Demokrasi menjadi Negeri Oligarki. Dengan cara seperti itu mereka dapat membeli, menyuap dan mengendalikan negeri kaum muslimin karena para penguasanya telah mereka “kuasai”.

Kita sebagai umat harus selalu waspada. Perkuat barisan dan ukhuwah, terus tambah keilmuan kita untuk menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam.#

%d blogger menyukai ini: