Haus akan integritas. Kecanduan dan jalan spiritual

Integritas

Sebagian dari kita ada yang merasa berbeda, terisolasi dan sendirian – seolah-olah kita melihat seluruh dunia dari luar.

Seringkali kita malu pada diri sendiri, menganggap diri kita lebih rendah, kurang penting, cerdas, atau berguna daripada orang lain.

Selain itu, kita sering dirasuki oleh kecemasan yang menggerogoti, keinginan untuk sesuatu yang lebih.

Apa yang kita cari seharusnya membantu kita merasakan keteraturan, di tempat kita, untuk merasa bahwa kita milik sesuatu yang lebih besar.

Jika kita bisa menemukannya, kita tidak akan lagi merasa kesepian.

Kita akan belajar apa artinya dicintai dan dipahami, dan kita akan mampu mencintai timbal balik.

Kita akan bahagia, puas dan damai dengan diri kita sendiri, hidup kita dan semua orang di sekitar kita.

Kita akan merasa bebas, santai, terbuka dan ceria.

Perasaan cemas dan kerinduan rohani sudah tidak asing lagi bagi banyak dari kita. Orang berbicara tentang keinginan samar untuk sesuatu yang hilang dari hidup mereka. Mereka menggambarkan kekosongan batin yang menindas yang tidak pernah bisa diisi. Kegembiraan batin yang tak henti-hentinya ini begitu kuat sehingga terkadang bisa menyakitkan. Tampaknya datang dari inti, dan bagi sebagian dari kita itu terasa lebih kuat daripada dorongan seks atau kelaparan fisik.

Kami merasakan kerinduan yang monumental untuk sesuatu yang tidak terbatas, untuk menjadi, tempat, atau pengalaman yang tidak memiliki nama. Sebagian besar dari kita mengalami beberapa derajat kekosongan, kesepian, perasaan rendah diri, idealisme, atau aspirasi spiritual. Kami mengenali dalam diri kami ketidakpuasan, keinginan untuk menghindari penderitaan, dan kecenderungan untuk mencari jawaban dalam berbagai kegiatan, substansi atau hubungan.

Kami, sebagai sebuah budaya, tidak memiliki banyak struktur yang memungkinkan kami untuk mengalami dan memuaskan aspirasi tersebut secara mendalam. Akibatnya, orang-orang dari segala usia mendistorsi dorongan yang sangat kuat ini dan mengekspresikannya dalam berbagai jenis penyalahgunaan – tidak hanya dalam alkohol dan berbagai penyalahgunaan narkoba, tetapi juga dalam pola makan yang tidak tepat, perilaku seksual, penyalahgunaan kekuasaan, uang, hubungan, perjudian dan tindakan adiktif lainnya yang tak terhitung jumlahnya.

Pada awalnya, kita tampaknya puas dengan seks, pesta, minum alkohol dan obat-obatan lain, perjudian, dan kegiatan lain yang mengembangkan kecanduan dalam diri kita. Kami pikir kami merasakan apa yang kami butuhkan dalam pelukan kekasih kami atau ketika kami mengambil Valium, atau ketika kami makan brownies cokelat lagi dengan kacang, atau ketika kami mengendarai mobil kami terlalu cepat. Kami menemukannya dalam pelupaan alkohol manis. Batas-batas kita mencair, rasa sakit menghilang, dan kita pikir kita bebas. Kami merasa nyaman dengan kulit kami sendiri dan merasakan keceriaan tanpa beban yang memberi tahu kami bahwa kami dapat menangani semuanya. Sangat mudah bagi kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang dalam kehidupan biasa tampak tak tertahankan. Kami merasa diterima dan disambut – tetapi hanya sampai alkohol berbalik melawan kami.

Akhirnya kita mendapati diri kita terperangkap dalam lingkaran setan yang mengancam kesejahteraan fisik, emosional, mental, dan spiritual kita.

Saya yakin ada orang-orang bahagia yang, merasakan kehausan ini, masih tidak memuaskannya dengan cara-cara yang merusak. Namun, banyak yang mendefinisikan sendiri aspirasi spiritual ini sebagai semacam suara yang terus-menerus mendorong mereka untuk mencapai sesuatu dalam hidup, dan karena itu mereka sering mengacaukannya dengan keinginan sehari-hari. Mereka mendefinisikannya sebagai keinginan untuk unggul di lapangan, mengembangkan kecerdasan, pergi ke perguruan tinggi bergengsi, bertemu pria atau wanita impian mereka. Mungkin mereka diliputi oleh keinginan untuk model mobil tertentu, baju baru atau hubungan seksual.

Nafsu makan yang terjadi secara alami ini dapat terwujud dalam konsumsi makanan, alkohol, nikotin, atau zat lainnya. Beberapa orang merasa tidak puas dengan pernikahan mereka dan menemukan dalam diri mereka keinginan yang penuh gairah untuk sesuatu yang lain: rumah baru, perubahan signifikan dalam perilaku pasangan mereka, hubungan yang sama sekali berbeda. Lagi pula, sepertinya selalu baik di mana kita tidak berada! Mereka merasa tidak puas, seperti ada yang hilang. Mungkin uang besar, posisi sosial yang lebih baik, atau pekerjaan baru akan membawa kebahagiaan?

Tetapi ironisnya adalah bahwa baik aktivitas eksternal maupun asupan zat tidak memuaskan aspirasi atau perasaan kekosongan yang melekat. Setelah beberapa saat, kita menyadari bahwa tidak satu pun dari solusi ini akan menyelamatkan kita dari perasaan hampa, karena semuanya mengandung penyebab potensial untuk masalah yang lebih besar. Kami terus merasa sengsara. Banyak orang menemukan objek keinginan mereka, tetapi rasa sakit yang tak henti-hentinya tetap ada. Satu bisa memenangkan gelar pemain sepak bola tahun ini, yang lain bisa mendapatkan gelar dari perguruan tinggi bergengsi. Dan orang lain, mungkin, akan menemukan dirinya sebagai pasangan hidup yang patut dicontoh, mendapatkan cukup uang dan mulai hidup seperti yang selalu ia impikan. Namun, bahkan saat mandi dalam kelimpahan, yang menyiratkan kepuasan, serta pemenuhan semua keinginan, seseorang terus merasakan kehausan ini,

Tempat yang kita cari, di mana integritas hadir, adalah inti spiritual kita, komponen penting dari sifat kita. Mengembangkan hubungan dengan sumber batin ini adalah aspek umum dan perlu dari keberadaan manusia. Sepanjang sejarah, hubungan antara dewa dan seseorang atau masyarakat telah dipertahankan dalam banyak cara – melalui berbagai bentuk latihan spiritual, ritual, dan ekspresi kreatif. Seluruh budaya telah mengakui pentingnya dan nilai dimensi spiritual kehidupan manusia dan telah secara aktif mendukung perwujudan dan pengembangan aspek penting karakter manusia ini. Keinginan untuk mencapai pengembangan semua potensi kita adalah wajar. “Kehausan akan integritas yang dirasakan jiwa kita … persatuan dengan Tuhan” –seperti yang dikatakan Jung, dorongan batin mendasar kitalah yang memiliki dampak terbesar dalam hidup kita. Dorongan untuk mengetahui kebenaran tentang diri kita sendiri memanifestasikan dalam diri kita semacam ketidakpuasan ilahi.

Jung menulis dalam suratnya yang terkenal kepada Bill Wilson: “Alkohol dalam bahasa Latin spiritus, dan kata yang sama yang kita gunakan untuk racun yang paling merusak, kita gunakan untuk pengalaman religius yang paling agung. Oleh karena itu, rumus spiritus contra spiritum berlaku di sini.”… Roh (roh) ilahi menyembuhkan dari efek merusak alkohol, atau “alkohol”. Resep ini terutama mendorong pengembangan spiritualitas sebagai penangkal alkoholisme, tetapi juga berlaku untuk jenis kecanduan lainnya, termasuk kecanduan narkoba, penyalahgunaan makanan, seks, hubungan, kekuasaan, dan perjudian. Jika, alih-alih mengikuti kecanduan, kita mulai memuaskan dahaga kita dengan pengalaman akan Tuhan, pada akhirnya kita akan mendapatkan kepuasan yang sangat kita dambakan.

Subyek keinginan kerinduan kita memiliki banyak nama: esensi ilahi, energi kreatif, kekuatan cinta, Bunda ilahi, sifat Buddha kita, Tao atau kesadaran kosmik. Orang-orang percaya menyebut ini Roh Agung, Kristus, Jiwa Terkasih, sumber inspirasi kita, Kekuatan Yang Lebih Besar, atau Tuhan, untuk menyebutkan beberapa saja. Dan meskipun kekuatan yang tak terlukiskan ini berada di luar definisi apa pun, untuk menceritakannya, kita terpaksa menggunakan kata-kata.

Bagi sebagian orang, kata-kata ini memiliki konotasi positif dan mengungkapkan sesuatu yang sangat diinginkan. Orang-orang seperti itu tidak mengalami kesulitan dengan konsep kehadiran ilahi dalam hidup mereka. Mereka bahkan mungkin memiliki pengalaman yang membuktikan keberadaan dan pengaruhnya, dan mungkin saja orang-orang seperti itu berusaha keras untuk mengembangkan hubungan dengan kekuatan ini.

Namun, konsep-konsep ini, karena berbagai alasan, menyebabkan ketidaknyamanan mental yang mendalam pada banyak orang. Topik spiritualitas, “dunia spiritual” sering dianggap tabu. Kualitas hidup yang tersembunyi, tak terlukiskan, tetapi mendasar ini seringkali lebih tabu daripada bidang yang lebih kontroversial seperti seks dan uang.

Banyak dari kita menyangkal kerohanian kita. Sama seperti kita menekan dan menolak semua hal buruk yang telah kita lakukan terhadap diri kita sendiri dan orang lain, kita menolak untuk mengakui kemampuan mistik kita.

Ketika saya menulis tentang esensi ilahi atau tentang Tuhan, saya menyentuh sesuatu yang tersedia bagi kita semua. Dalam konteks ini, spiritualitas tidak mengacu pada suatu fenomena yang kabur, eksotik, atau fenomena Zaman Baru. Ia juga bukan dogma, bukan pula kebijakan atau hierarki yang direpresentasikan dalam arena keagamaan tertentu. Spiritualitas adalah elemen keberadaan yang sederhana namun kuat yang dapat diakses oleh siapa saja. Ini melibatkan pengalaman pribadi langsung tentang realitas yang berada di luar persepsi kita yang biasa dan terbatas tentang siapa kita. Lingkungan yang diberkati ini memberi makna pada hidup kita dengan menambahkan dimensi sakral ke dalamnya. Mereka memperluas rasa individualitas kita, serta pemahaman kita tentang tempat yang diberikan kepada kita di alam semesta.

Kekuatan ilahi ini bersifat transendental dan imanen pada saat yang bersamaan. Kita dapat menemukannya baik di sekitar kita maupun di kedalaman jiwa kita. Tuhan adalah sesuatu yang lebih tinggi, surgawi, ada di mana-mana dan melampaui semua bentuk yang lengkap. Tetapi, di sisi lain, Tuhan dimanifestasikan dalam ciptaan, yang menganugerahkan roh suci baik diri kita sendiri maupun segala sesuatu di sekitarnya. Tuhan tidak dapat dipahami dan pada saat yang sama dapat diketahui melalui kesadaran kita yang berkembang.

Di pusat setiap agama adalah esensi mistiknya. Para pendiri sistem ini adalah tokoh-tokoh sejarah yang memiliki pengalaman perjumpaan langsung yang kuat dengan yang ilahi. Perwakilan dari cabang mistik dari tradisi ini selama berabad-abad terus percaya pada realitas spiritual yang dengannya kita dapat berinteraksi melalui kontak langsung.

Realitas spiritual adalah kesatuan yang sempurna. Ini menawarkan kita integritas dan rasa hubungan dengan diri kita sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia di sekitar kita. Kesatuan suci ada di alam semesta di luar perbedaan dan pertentangan. Itu melampaui batasan dan mengikat banyak utas berbeda ke dalam satu kanvas keberadaan.

Esensi yang dalam ini murah hati, peduli, dan bijaksana dalam keluasannya. Mereka yang mengalaminya menggambarkan rasa syukur yang tiba-tiba memenuhi hidup mereka: mereka mengalami sesuatu seperti campur tangan dan pertolongan ilahi. Mereka dapat diliputi dengan rasa kemurahan hati dan kebaikan tak terbatas yang berasal dari sumber ilahi. Ini tidak berarti bahwa hidup akan selalu bahagia dan mudah: hidup kita, menurut definisi, penuh dengan keraguan dan cobaan, pasang surut. Namun, dalam semua kegiatan kita sehari-hari, kita merasakan bantuan rohani yang diberkati. Bahkan dalam kesulitan, kami secara berkala menerima rasa umum harmoni dan ketenangan sebagai hadiah.

Selain itu, banyak tradisi mencirikan prinsip tertinggi ini sebagai yang awalnya kreatif. Kekuatan ini dalam segala kekayaan dan keragamannya adalah Pencipta alam semesta, dan penciptaan itu terus menerus dan mengekspresikan dirinya melalui permainan keberadaan, melalui semua karakter yang bertindak di dalamnya. Dia adalah sutradara dari drama kosmik yang sedang berlangsung ini dan ada secara bersamaan baik dalam penciptaan maupun di luarnya. Denyut nafas ilahi ini adalah ritme hidup kita.

Beberapa musisi dan seniman mengakui Kekuatan Yang Lebih Tinggi ini sebagai sumber inspirasi mereka. Atlet luar biasa mengaitkan rekor mereka dengannya. Penyembuh menganggapnya sebagai sumber yang terletak di jantung karunia penyembuhan mereka. Mereka yang menghabiskan waktu di alam – di pantai, di hutan atau di pegunungan – berbicara tentang dia sebagai kekuatan di balik Alam dan kehidupan rahasia. Beberapa mendefinisikannya sebagai cinta, kasih sayang dan perhatian yang datang dari orang lain atau dari sekelompok orang. Tetapi ada juga orang yang mengatakan bahwa Kekuatan ini mewakili potensi spiritual kita, kemungkinan dan karunia kita yang tidak terbatas yang tetap tersembunyi dalam diri kita untuk waktu yang lama.

Poin penting di sini adalah bahwa kuasa ilahi ini, tidak terbatas dan universal, masih tersedia bagi kita. Siapa pun kita dan dari mana pun kita berasal, kita dapat mencapainya, karena Esensi yang dalam ini ada di dalam diri kita masing-masing. Karena kita memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan “diri terdalam” kita, untuk memastikan perkembangan spiritual kita, kita tidak boleh bergantung pada perantara. Hubungan langsung kita dengan yang ilahi tidak dapat dibandingkan dengan dogma dan politisi, atau dengan orang-orang hebat. Spiritualitas sama sekali bukan pencarian eksternal untuk beberapa entitas samar dan jauh yang menghakimi dan mengkritik. Ini berkaitan dengan hubungan batin kita sendiri, dengan esensi tak terbatas dan abadi yang berada di dalam. Inilah yang kami perjuangkan.

Berdasarkan buku Christina Grof “The Thirst for Integrity”.Pengarang: Christina Grof.

Rizki Menurut Al Ghazali

Rizki Menurut Al Ghazali. Banyak muslim yang tahu bahwa Allah memiliki asma’ul husna berupa ar-Razzak. Banyak pula yang tahu bahwa makna ar-Razzak adalah dzat pemberi Rizki. Tapi jarang yang tahu apakah makna Rizki tersebut? Apakah rezeki itu adalah setiap yang kita pinta dalam doa kita? Dan bagaimana bentuk keyakinan kita bahwa Allah dzat pemberiRizki. Kita akan simak uraian al-Ghazali tentang makna tersebut dalam kitab berjudul al-Maqsad al-Atsna fi Syarhi Asmail Husna.

Pendapat Al Ghazali Tentang Rizki

“Allah lah yang menciptakan Rizki, menciptakan orang yang menerima Rizki, yang memberikan kepada mereka dan menciptakan hal yang membuat mereka menikmati Rizki tersebut” begitu ungkap al-Ghazali. Dari sini al-Ghazali secara tidak langsung menyatakan bahwa lafadz tersebut tidaklah melulu pada soal bentuk Rizki, tapi juga mengenai penerima, cara menerimakan dan bagaimana si penerima menikmati rezeki tersebut. Sehingga secara tidak langsung beliau mengingatkan bahwa perihal nama ar-Rozzak jangan hanya di kaitkan dengan bentuk Rizki, tapi juga keberadaan penerima, cara menerimakan dan cara penerima menikmati Rizki tersebut.

Hal itu menyadarkan kita bahwa:

1) Kuasa Allah terkait rezeki tidak terbatas bentuk Rizki, tapi juga semisal bagaimana Allah memunculkan Rizkitersebut;

2) Sesuatu yang sering kita remehkan kadang itu adalah sebuah Rizki yang di peruntukkan pada sesuatu yang tidak kita sadari. Semisal sebutir nasi yang jatuh; yang tampak tak berguna adalah Rizki seekor semut yang sebelunya mondar-mandir mencari makanan;

3) Apakah setiap orang yang di beri apa yang ia pinta akan selalu bisa menikmatinya? Misalnya, orang meminta uang banyak kemudian di beri Allah akan lantas bisa menikmatinya? Bagaimana bila saat menerima uang itu si peminta terkena stroke sehingga tidak bisa bergerak dan tidak bebas memakan makanan yang ia sukai?

Al-Ghazali kemudian meneruskan:

“Rezeki ada dua. 1) Rizki dzahir, yaitu rezeki berupa bahan pokok dan makanan. rezeki ini di peruntukkan untuk anggota dzahir, yaitu badan manusia. 2) Rizki bathin, yaitu berbagai pengetahuan tentang keagungan dan ketersingkapan pada Allah. rezeki ini di peruntukkan pada hati”

Bentuk Bentuk Rezeki Menuru Al Ghazali

Dari sini, al-Ghazali menerangkan bahwa rezeki tidaklah selalu berupa materi atau hal yang kembali kepada jasad dan mempertahankannya hingga ajal. Tapi, bisa juga bertambahnya pemahaman, pengetahuan, pengalaman atau keyakinan atas dzat Allah taa’la yang bisa jadi berupa hikmah atas berjalannya satu taqdir Allah. Orang yang berdoa sebelum bepergian agar di beri keselamatan, tapi Allah mentaqdirkannya mengalami kecelakaan, bisa jadi di beri rezeki tidak berupa keselamatan pada jasad yang bersifat sementara hingga ajal, tapi berupa kesadaran bahwa Allah yang berkuasa atas segala hal. Hamba bisa meminta, tapi tak bisa menuntut Allah agar mengabulkannya.

Lalu bagaimana cara kita menghayati atau memperkuat pemahaman kita nama tersebut? Al-Ghazali mengarahkan hendaknya ia mendalami sifat ini. Dan menyadari bahwa Allah lah pemilik diri nya. Sehingga ia tidak menanti rezeki kecuali darinya dan tidak bertawakkal kecuali padanya. Seorang petani yang gagal panen semisal, tidak akan terlalu di risaukan sebab kegagalan usahanya. Karena bukan usahanyalah yang memberi rezeki, tapi Allah. Dan Allah memiliki banyak jalan dan banyak cara memberi rezeki. Saat sadar bahwa Allah lah pemberi rezeki, maka ia akan ingat bahwa gagal panen hanyalah kegagalan kecil yang tak sebanding dengan cara Allah memberikan rezeki yang terbaik bagi kita.

Baca dan tonton Juga:

Cara Meraih Sukses Menurut Islam

Meraih Kebahagiaan Hidup

Faktor Penyebab Anak Menjadi Tempramental

Secara umum, temperamen bisa diartikan sebagai perbedaan perilaku dan emosi yang ditunjukkan oleh seseorang ketika ia merespon suatu hal. Temperamen bisa dibilang sebagai karakter diri seseorang yang terbentuk sejak lahir. Maka secara khusus, temperamen pada anak sendiri merupakan sebuah gambaran bagaimana ia memahami dan menyikapi berbagai hal yang ada di sekelilingnya.

Bahagia dalam konsep Islam

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.

Lantas apakah yang disebut”bahagia’ (sa’adah/happiness)?

Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Dalam Islam “Kesejahteraan’ dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.

Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta’ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.’

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.

Ma’rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.

Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah”, dan bersakssi bahwa “Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.”

Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.

Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka “senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.

“Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.

“Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…”

“Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”

Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Baca Juga :

Menghadapi rasa takut tidak mampu meraih bahagia

Kuatir tidak mampu meraih bahagia

Menjaga diri dari sifat Munafik

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Tanda orang munafik ada tiga. Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat. (HR Bukhari). Dalam HR Muslim ada penambahan, ”Walaupun ia puasa, shalat, dan mengaku sebagai Muslim.”

Menurut para ulama, penipuan, makar, pengelabuan dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan, termasuk dalam nifak. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’u l-Ulum wa l-Hikam membagi nifak dalam dua jenis.

Pertama, nifak besar (akbar) yang biasa dikenal dengan nifak i’tiqady. Pelakunya berkamuflase mengaku beriman kepada Allah SWT, malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, dan hari akhir.

Namun, di balik itu ia mendustakan semua atau sebagiannya. Nifak seperti ini ada pada zaman Muhammad SAW dahulu. Saat itu, Abdullah bin Ubay menjadi panutan kaum munafik. Ia menyebarkan isu bahwa antara Ummul Mukminin Aisyah dan Shafwan bin Mu’aththal ada affair.

Kedua adalah nifak kecil (asghar) yang bersifat amali. Biasanya si pelaku bersikap hipokrit (munafik) dengan menampakkan kebaikan yang sejatinya tidak demikian. Sebagian ciri-ciri nifak jenis ini seperti dusta, ingkar janji, dan khianat.

Sudah jamak diketahui bahwa dusta dalam berbicara adalah sifat yang tidak terpuji. Apalagi kalau dusta kepada orang yang percaya akan kejujuran si pembicara. Dalam al-Musnad ada sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Sebuah pengkhianatan yang besar jika kamu berbicara dengan saudaramu dan ia percaya kepadamu (bahwa kamu tidak akan berdusta), sedangkan kamu berdusta kepadanya.”

Sedangkan ingkar janji adalah perkara yang dilarang keras dalam Islam, baik dalam urusan yang besar maupun remeh. Abdullah bin Amir pernah bercerita, ”Suatu ketika Muhammad SAW berkunjung ke rumah kami. Ketika itu aku masih kecil. Tatkala aku hendak keluar rumah untuk bermain, ibuku memanggilku, Abdullah! sini ibu punya sesuatu untukmu.”

Maka Rasulullah bertanya, ”Apa yang akan kamu berikan buat anakmu?” ”Akan kuberi kurma,” jawab ibuku. Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya kamu tidak memberi apa-apa kepada anakmu maka kamu dicatat telah berbuat dusta.” (HR Abu Daud).

Mengenai amanah, ia merupakan perwujudan kepercayaan orang kepada yang diamanahi. Sangat tidak wajar jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada pengkhianat. Selayaknya seorang Muslim membalas kepercayaan saudaranya dengan menjaga amanah yang dibebankan kepadanya.

Menjaga diri dari tiga sifat di atas sangatlah perlu. Jika tiga sifat itu bersemayam dalam diri seseorang dan tidak segera diobati, maka pada gilirannya akan menggiring pada nifak akbar yang ancamannya tidak ada selain api neraka.#

Menggali Potensi diri untuk beramal sholeh

Manusia beruntung dan bahagia adalah yang menjadikan dunia sebagai ladang beramal saleh. Namun, sedikit saja orang menyadari hal itu. Hanya Mukmin sejati yang mampu memahaminya. Ia menjadikan dunia sebagai persiapan menuju akhirat. Karena itu, ia pun menjadikan berbagai fasilitas yang ada sebagai sarana memperbanyak amal saleh.

Kehidupan dunia bukanlah tujuan utama, melainkan jembatan menuju akhirat. Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lain sebagai tempat ibadah, tempat bersedekah, tempat berjihad, dan tempat ia berlomba dengan saudaranya untuk menggapai kebaikan (surga). Berharap, atas usahanya itu ia tergolong orang-orang yang bertakwa. Ia senantiasa memperbanyak bekal, yaitu takwa. Ia meyakini hanya dengan takwa, kebahagiaan sejati bisa diraih.

Allah SWT berfirman, “Berbekallah. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqarah:197). Kehidupan dunia hanya sementara. Jadikan iman sebagai motivator, pendorong diri untuk terus beramal saleh. Sebab, hanya amal saleh yang akan menemani perjalanan kita, kelak setelah mati. Manfaatkan waktu yang terbatas ini untuk beribadah sebaik mungkin. Beramal saleh dengan apa yang kita miliki. Jika dikaruniai harta, berinfaklah.

Jika diberikan ilmu, manfaatkan dan ajarkanlah. Bantulah orang yang membutuhkan. Sekecil apa pun ke sempatan berbuat baik hadir, kita harus mampu memaksimalkannya. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS ar-Ra’d Ayat: 29). Ketahuilah segala apa yang kita peroleh adalah dari Allah. Maka sudah sepatutnya, kita pergunakan di jalan yang Dia ridai. Gunakan semua itu untuk memperoleh pahala dari-Nya (QS al-Qashash:77).

Bagi Mukmin sejati, dunia tidak lebih dari sebuah penjara. Ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya, apalagi mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika melewati batas itu, dirinya akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung pada penyesalan. Begitulah Rasulullah SAW mengabarkan, dalam sabdanya, “Dunia itu penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim).

Keimananlah yang senantiasa membimbing hati dan penglihatannya. Ketika melihat suatu kegelapan, ia akan mengingat kegelapan alam kubur. Jika melihat sesuatu yang menyakitkan, ia akan ingat siksa Allah. Jika men dengar suara yang keras, ingat suara sangkakala hari kiamat. Saat melihat orang yang tidur nyenyak, ia mem bayangkan orang yang meninggal. Manakala melihat kelezatan, pikirannya langsung ke surga.

Kesadaran itu akan membuat Mukmin sejati selalu waspada dan mawas diri. Sesegera mungkin menjauhi kemaksiatan dan bergegas dalam beramal saleh.#

Hikmah dibalik setiap Takdir

Terkadang manusia harus menjalani ketentuan dan ketetapan yang dalam pandangan matanya terlihat pedih dan menyakitkan, jiwanya ikut membenci, sedih dan galau, lalu sampai pada suatu titik dimana ia berkesimpulan bahwa apa yang dialaminya merupakan takdir buruk dari Allah Ta’ala kepada dirinya. Padahal tanpa diketahuinya, takdir itu di kemudian hari menjadi kebaikan yang banyak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang terlihat baik dan semua urusannya lancar tanpa masalah, namun ternyata di kemudian hari semua berujung pada keburukan dan petaka.

Beriman Terhadap Takdir

Iman kepada Takdir merupakan salah satu pokok iman dan merupakan rukun iman yang enam. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

Patut diketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip yang harus diimani oleh setiap muslim. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, sejak zaman azali hingga selamanya, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta’ala maupun perbuatan makhluk-Nya.

Kedua, mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfuzh catatan takdir segala sesuatu.

Ketiga, mengimani bawa segala sesuatu tidak akan terjadi melainkan karena kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah Ta’ala sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya.

Keempat, mengimani bahwa segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Dan ciptaan Allah Ta’ala mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya dan gerak-geriknya. (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 63-64)

Antara Takdir Allah dan Kehendak Makhluk-Nya

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan bahwa manusia memiliki kehendak dalam perbuatan-perbuatannya serta memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang menunjukkan ketetapan hal tersebut. Dengan kehendak dan kemampuannya dia bisa melakukan dan meninggalkan sesuatu. Dia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar. Namun, kehendak dan kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “(yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir : 28-29). (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 64-65)

Diantara prinsip ahlussunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Ahlussunnah beriman bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan seluruh takdir sejak zaman azali, dan Allah Ta’ala mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qadariyyah adalah kelompok yang mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah Ta’ala, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah Ta’ala terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah Ta’ala, Jadi menurut mereka hamba dipaksa dalam perbuatannya. (Al-Mufid fi Muhimmati At-Tauhid, hal 37-38)

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah Ta’ala berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah Ta’ala yang buruk, seluruh perbuatan Allah Ta’ala mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah Ta’ala. (Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 70)

Perhatikanlah kisah Ibunya Nabi Musa saat melarungkan bayinya ke sungai Nil. Jika kita membaca susunan kejadian sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada yang paling menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan Ibu Musa selain saat diilhamkan ke dalam hatinya oleh Allah Ta’ala agar menghanyutkan bayinya ke dalam sungai Nil. Namun, cerita ini berakhir dengan keindahan. Allah Ta’ala mengembalikan anaknya tersebut ke dalam pangkuannya dan kelak anaknya tersebut menjadi seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil.

Jangan Hanya Bersandar Kepada Takdir

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala bukan berarti kita hanya tinggal duduk berpangku tangan dan menunggu semuanya terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali. Sungguh ini adalah kesalahan yang nyata. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Apabila kita telah mengambil sebab dan mendapatkan hasil di luar keinginan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya telah terjadi. Andai pun Allah Ta’ala menakdirkan yang lain sungguh hal itu akan terjadi pula. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seadainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullahi wa maa sya’a fa’ala’ Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pinta syaitan.” (HR. Muslim no. 2664) (Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad li Syaikh Al-Fauzan, hal 316)

Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Takdir

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang berharga. Demikian pula keimanan yang benar terhadap takdir akan memberikan manfaat yang besar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Hanya bersandar kepada Allah Ta’ala ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada qadar Allah Ta’ala.
  2. Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
  3. Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah Ta’ala yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan qadar Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yng demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan terlalu sedih dan putus asa terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid : 22-23) (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 69-70)

Ada Hikmah di Balik Setiap Takdir

Setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaknya seorang mukmin menghadirkan tawakkal kepada Allah Ta’ala, bekerja dan bersungguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera mengingatkan dirinya akan kaidah mulia ini. Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216) (Qawa’id Qur’aniyyah, hal. 21)

Ketahuilah, keburukan yang terjadi dalam takdir tidak selamanya merupakan keburukan yang hakiki bagi hamba, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan. Apapun yang menimpa dirinya, segalanya telah diatur oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menginginkan agar dirinya mengimani segala takdir Allah Ta’ala dan menyadari bahwa demikianlah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya, Dia menjadikan kehidupan beserta segala lika-liku kebahagian dan kesedihan membuat mereka hanya bergantung kepada Allah Ta’ala semata. Wallahul muwaffiq.

Sandaran bagi hati yang lelah

Ada 4 tempat untuk mengistirahatkan hati:
1. Teman yang shalih

2. Majelis ilmu

3. Qur’an yaitu baca qur’an/hafalkan al qu’ran. Semakin dekat dengan mushaf, semakin bersih hatinya dan semakin dekat pula pada Allah.

4. Mengingat kematian agar kita bisa meninggalkan dosa dosa.

Surat Cinta dari DIA

Ketika Allah Rindu

Sungguh Agung dan Mulia Allah, yang mengatur jalannya kehidupan dan menetapkan rezeki setiap hambanya tanpa ada yang alpa satu pun..

ketika kita berada dipuncak kesenangan/kebahagiaan maka Allah menyapa kita, agar tidak terlalu tinggi mendaki angan-angan yanng masih abstrak..

ketika kondisi kita fit, keadaan tubuh sehat dan bugar maka Allah memanggil kita dengan santun, agar selalu memuji dan mengucapkan syukur atas nikmatnya..

ketika kita disibukkan dengan mengurus pundi-pundi kekayaan, perhiasan, ternak, sawah dan ladang maka Allah menegur kita dengan indah agar ingat siapa yang meminjamkan harta itu semua kepada kita..

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS. Ali Imraan 14.

Tahukah engaku wahai saudaraku, Allah rindu pada kita. Disaat kita tenggelam dalam gemerlap harta, kesibukan yang bersifat duniawi kita selalu membusungkan dada, menegakkan kepala tanpa pernah menoleh kebelakang, apa tujuan dari semua itu.

Dalam hadist qudsi ALLAH berfirman: “Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya” (HR.Thabrani dari Abu Umamah)

Allah sedang rindu pada rintihan hambanya yang dulu sering, sekarang sudah jarang. Jarang sekali kita mengingat-Nya dalam kesibukan dunia, bahkan tidak sema sekali.

Maka disaat itulah allah menunjukkan kerinduannya lewat cobaan dan ujian yang ditimpakan kepada kita dalam menjalani hidup didunia ini. Allah ingin sekali mendengar kembali rintihan hamba-Nya, mengadu kepada-Nya tentang kehidupannya selama ini.

Namun seringkali, kita tidak menggubris keirinduan itu wakau sadar ada kesulitan (ujian) yang ditaburkan oleh Allah di jalan-jalan kita.

Disaat sehat, Allah menguji dengan sakit. Tapi disakit itu seberapa banyak diantara kita yang mengucap istighfar, atau berdoa, mendisiplinkan ibadah.

Saat kita diuji dengan kelaparan beberapa saat, maka seberapa banyak diantara kita yang mengingat-Nya lalu mengucap syukur atas rasa sehat kita dulu. Tapi ironinya, dalam keadaan lapar, wajah kita menjadi masam lalu otak yang kotor ini hanya memberi signal kepada makanan (nasi goreng, dll), tanpa pernah malu dan mengingat kepada pemilik-Nya.

Sungguh saudaraku, hati akan menjadi gersang dengan serangkaian hal yang ‘meremehkan’ Allah dari segala aspek. Hari itu akan mengeras, lebih keras dari pada batu, sehingga ketika ada hal-hal yang lembut lagi indah masuk dihati kita, tak akan bisa, sudah dikalahkan oleh kiatnya keburukan dan nafsu yang memupuk hati ini. Na’udzubillah..

Ingatlah saudaraku, ketika Allah menegurmu lewat berbagai hal, ucapkan syukur terbaikmu. Ingat keagungan dan kebesaran-Nya yang terus mengiringi hari-harimu.

Bagaimana mungkin kita dapat hidup didunia ini jika Sang Pengasih melupakan kita? Jika begitu masih enggankah kita bersyukur? Maka tidak akan dapat hidup seorang manusia didunia ini tanpa rasa Syukur. Sedangkan saat kita mengucapkan Syukur saya juga atas karunia Allah subhanahu wata’ala..

Ya Allah, ajarilah kami untuk tidak congkak dan sombong dalam luasnya Rizki-Mu

Ya Allah, ajarilah kami untuk berbagi lewat rizki yang Engkau titipkan kepada kami..

Ya rabb, ajarkan kami memberi sebelum meminta,

Ajarkan kami untuk jernih berfikir sebelum bertindak,

Ajarkan kami diam dalam kemarahan,

Ajarkan kami ridha dalam kesulitan,

Didiklah kami agar memiliki kelembutan hati seperti Abu Bakar As-Shiddiq

Agar memiliki kebijaksanaan seperti Umat bin Khattab

Agar memiliki kedermawanan seperti Utsman bin Affan

Agar memiliki kecerdasan seperti Ali bin Abi Thalib..

Aamiin.

Konsep Rezeki Dalam Islam

Allah menyampaikan di dalam Al Quran bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Sangat jelas sekali dalam firman Allah Tidak ada satu pun di antara hamba-hamba-Nya yang beriman yang meragukan firman Allah Ta’ala.

Hanya saja, Allah Ta’ala melapangkan rezeki bagi sebagian hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya bagi sebagian yang lainnya, untuk suatu hikmah yang Allah ketahuinya.

Hal itu merupakan kebijaksanaan dari-Nya dan sesuai dengan ilmu-Nya tentang apa yang bermanfaat dan yang layak bagi hamba-hamba-Nya.

Oleh karena Rezeki sudah dijamin dan di atur oleh Allah maka sudah seharusnya menjadikan kita lebih tenang, sebaliknya karena kehidupan akhirat kita tidak dijamin maka sudah semestinya membuat kita harusnya lebih giat beramal.#