Berfikir Positif dan Melepaskan Pikiran Negatif

Apakah Anda pernah begitu kewalahan dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Dan anda Berharap dapat menghentikan semuanya selama sehari, satu jam, atau bahkan hanya satu menit?. Apakah anda belum menemukan bagaimana memahami situasi yang anda alami sehingga sulit untuk berfikir positif dan melepaskan pikiran negatif yang sering terlintas dalam kepala anda.?

Saya selalu berusaha untuk menjadi sepositif mungkin, karena saya percaya bahwa ada sisi terang untuk segalanya, bahkan jika terkadang sisi terang itu justru tampak sedikit gelap.
Perjuangan tidak berarti Anda bersikap negatif, tetapi berpura-pura tidak akan menyakiti Anda juga.

Saya perlu menulis ini untuk mengingatkan diri saya dan semoga mengingatkan Anda tentang apa yang benar-benar penting. Apa yang ingin Anda lakukan itu penting, tujuan Anda penting, apa pun itu. Kesehatan mental, emosional, dan fisik Anda penting, dan apa pun yang di perlukan untuk mempertahankan itu penting.

Berfikir Positif dalam menangani masalah

Apa pun yang terjadi dalam hidup Anda saat ini yang mengganggu ketenangan Anda perlu di tangani. Bagi saya, saya cenderung membiarkan masalah yang bukan milik saya tidak akan memakan saya dan menghancurkan saya. Mereka mengatakan kesengsaraan suka di temani dan tidak ada keraguan tentang itu.

Hari ini saya perlu mengingatkan diri sendiri bahwa saya harus memutuskan tantangan apa yang saya hadapi, dan dalam kebanyakan situasi saya dapat memilih untuk tidak melakukannya.
Pikirkan apa yang Anda khawatirkan saat ini dan berapa banyak kekhawatiran itu yang sebenarnya ada dalam kendali Anda?

Jika itu di luar kendali Anda, lalu apa gunanya bagi Anda untuk mengkhawatirkannya? Saya tahu, lebih mudah di ucapkan daripada di lakukan, tetapi selalu ada titik awal. Apa pun yang akan terjadi, maka akan terjadi. Kita bisa menggunakan energi ini untuk melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, daripada membuangnya untuk sesuatu atau seseorang yang tidak layak.


Pikirannya bertiup betapa mudahnya kita dapat mengubah apa yang kita lakukan dengan hidup kita, kita dapat mengubahnya dalam sedetik jika kita benar-benar menginginkannya. Kita berbicara tentang seberapa besar kita menginginkan sesuatu atau seberapa buruk kita ingin mengubah sesuatu tetapi kita tidak pernah mengambil langkah selanjutnya dalam melakukannya.

Kami mendapatkan satu kehidupan dan mencoba melakukannya dengan benar, dan kadang-kadang saya melupakannya dan kehilangan pandangan untuk sesaat tetapi sangat penting untuk diingat. Sama klise dengan perkataannya, kami mengendalikan hidup kami, kami memutuskan apa yang menjadi prioritas dan saya sangat merekomendasikan menjadikan diri Anda nomor satu dalam daftar prioritas anda. Apa pun itu yang mencoba mengambil tempat itu atau membuat Anda merasa sesuatu yang lebih penting, adalah masalahnya.

Berfikir positif ataupun negatif sepenuhnya di tangan anda

Berfikir positif

Tidak ada yang akan bangun setiap hari dan memastikan bahwa Anda adalah prioritas pertama Anda, jadi Anda harus bangun setiap hari dan lakukan itu. Saya menyarankan agar lain kali hidup Anda kewalahan dan Anda merasa perlu satu hari, satu jam atau bahkan hanya satu menit, ambillah.

Catatan kecil:

Saya tidak bisa cukup menekankan betapa pentingnya kesehatan mental saya. Saya harap setiap orang yang membaca ini mengetahui hal itu. Karena begitu Anda membahayakan itu atau membiarkan orang lain membahayakan itu, adalah suatu halangan untuk kembali. Itu bukan sesuatu yang dapat Anda lihat dan sering kali bukan sesuatu yang bahkan kita sadari sampai menjadi sangat buruk. Juga jika seseorang yang Anda kenal memberi tahu Anda sesuatu tentang kesehatan mental mereka, jangan menganggap mereka membuat alasan atau berbohong. Ini sangat penting.

Stress berasal dari dalam diri kita sendiri

 

Stress itu tidak berasal dari luar diri, tapi dari dalam diri. Kejadian yang ada di luar kita hanya memicu apa yang sudah ada di dalam diri kita, perasaan yang kita tekan selama ini. Banyak orang yang tidak menyadari, ketika mereka berusaha menghilangkan stress yang di alami, mereka hanya fokus pada efek sampingnya saja, bukan pada penyebab stress itu sendiri. Ini sama saja kita berusaha untuk menurunkan demam tanpa mengobati infeksinya.

Tubuh kita di kendalikan pikiran dan perasaan kita

Pada dasarnya, pikiran dan perasaan mengontrol tubuh kita. Oleh karena itu, untuk mengobati tubuh, maka pikiran dan perasaannya harus di ubah terlebih dahulu. Apa yang ada di pikiran biasanya di tunjukkan lewat tubuh kita. Ketika kita melepaskan perasaan tersebut, maka ribuan atau bahkan jutaan pikiran yang berhubungan dengan perasaan tersebut menjadi hilang. Kita melepaskan perasaan tersebut tanpa memberikan makna, menghakiminya, atau menolaknya. Kita hanya melihat perasaan tersebut, merasakannya, tanpa perlu mengubah perasaan tersebut. Pada dasarnya, perasaan itu tidak nyata, datang dan pergi.

Belajar Berfikir Positif dan Melepaskan Pikiran Negatif

Itulah sebabnya kenapa anda harus belajar Berfikir Positif dan Melepaskan Pikiran Negatif. Biasanya, banyak orang kesulitan mencapai fase kedamaian ini karena mereka berusaha menolaknya. Mereka berusaha untuk mengontrol perasaan dan pikiran tersebut. Jika anda bisa melepaskan pikiran tersebut, melihatnya datang dan pergi. Maka, anda akan menyadari kalau pikiran tersebut bukanlah diri anda yang sebenarnya. Emosi dan marah bukanlah diri anda. Perasaan duka kehilangan yang mendalam bukanlah diri nada. Perasaan takut juga bukanlah diri anda. Diri anda yang sebenarnya sedang mengamati semua perasaan pikiran pikiran negatif tersebut. Anda berhentilah menyamakan diri anda dengan perasaan tersebut. Ini adalah kesadaran yang harus anda raih dan tentu saja untuk mencapai di tahap ini, anda pasti akan mengalami proses pembelajaran dan latihan yang terus menerus. 


Terimakasih telah membaca.

 

Baca dan Tonton Juga:

Mengelola Emosi Negatif

Cara Meningkatkan Motivasi Diri

Mencari Potensi Diri

Pendapat umum di masyarakat kita mengatakan bahwa setiap individu memiliki potensi dalam dirinya. Kerja keras dan keberuntungan menentukan bagaimana potensi tersebut menjadi bermanfaat. Postingan blog ini akan didedikasikan untuk kamu yang sedang mencari informasi mengenai apa itu potensi diri dan seperti apa contohnya.

Apa itu potensi diri? Potensi diri dapat dipahami sebagai kemampuan dalam diri seseorang yang belum teraktualisasi, belum dipraktikkan, dan belum digunakan. Artinya, potensi diri adalah tentang kemampuan tersembunyi dihadapkan dengan peluang yang jika tidak dioptimalkan akan menjadi sia-sia dan tiada berguna.

Pengertian potensi diri
Definisi paling sederhana dari potensi diri menurut saya adalah kemampuan dan kapasitas individu yang masih tersimpan dalam diri. Dengan kata lain, masih mengendap dan belum diaktualisasikan melalui perilaku, perbuatan dan aksi.

Kemampuan dan kapasitas ini bisa di bidang apa saja dan bisa berupa apa saja. Terlepas dari positif atau negatif, potensi tetaplah potensi. Keuletan, kerja keras, keberuntungan, dan bakat jika punya menentukan seberapa jauh potensi dapat diaktualisasikan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), potensi diri adalah kemampuan dan kualitas yang dimiliki seseorang, namun belum dipergunakan secara maksimal. Definisi KBBI mirip dengan definisi versi saya.

Definisi Sosiologi

Darimana datangnya potensi diri? Jawaban umum yang sering diberikan adalah dari bakat dan kerja keras. Sebagian orang berhasil mengembangkan potensinya dengan belajar dan kerja. Sebagian yang lain memang berbakat dari lahir.

Misalnya, mencopet dalam kerumunan diperlukan skill, latihan dan pengalaman. Mencopet adalah perbuatan merugikan orang lain, tapi orang yang sudah terlatih dan punya skill tingkat dewa dalam mencopet telah berhasil mengembangkan potensi mencopet.

Contoh lain, berbicara di depan umum atau di depan layar adalah kemampuan yang tidak dimiliki setiap orang. Sebagian orang memiliki potensi itu, sebagian lainnya tidak. Mereka yang mengasah kemampuan public speaking akan mampu mengaktualisasikan potensinya berbicara di depan umum.

Untuk lebih memahami tetang apa itu potensi diri, kita perlu menilik jenis-jenisnya. Sebagaimana disinggung di awal, potensi memiliki beragam bentuk. Musik dan memasak adalah potensi yang berbeda. Koki dan musisi profesional adalah orang-orang berhasil mengaktualisasikan potensinya masing-masing.

Jenis-jenis potensi diri
Paparan berikutnya adalah tentang jenis-jenis potensi diri. Saya akan menjelaskan sekaligus memberikan contohnya agar mudah dipahami pembaca. Jenis potensi diri disini dapat dipahami sebagai kemampuan atau kecerdasan seseorang yang munculnya bisa dari bakat, bisa pula dari belajar. Apa saja jenis-jenis kemampuan tersebut?

Kemampuan sosiologis
Yaitu kemampuan seseorang untuk peka terhadap permasalahan sosial di sekitar. Kepekaan ini mendorong dirinya untuk berpikir kritis dan emansipatoris. Simpati dan empati merupakan wujud kepekaan yang dimiliki mereka yang punya potensi kemampuan berpikir sosiologis.

Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli

Kemampuan naturalis
Yaitu kemampuan yang seseorang untuk merasa peka terhadap lingkungan alam sekitar. Orang yang punya potensi kemampuan naturalis akan merasa sakit apabila alam disakiti. Tak hanya itu, potensi ini juga dapat digambarkan dengan adanya kemampuan memahami kehidupan ekologi di bumi.

Kemampuan musikal
Yaitu kecerdasan seseorang untuk menciptakan harmoni lewat suara. Suara tersebut umumnya diciptakan lewat permainan alat musik. Skill memainkan alat musik dan kecerdasan menghayati alunan nada merupakan beberapa contoh potensi yang hanya dimiliki orang tertentu.

Kemampuan spasial
Yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan pemahaman akan ruang spasial. Ruang spasial sering dikaitkan dengan pemetaan. Sopir profesional biasanya mengembangkan potensi ini. Contoh, ketika ia lewat suatu jalan yang asing, masuk ke dalam gang-gang yang sempit, ia tetap bisa keluar dari gang tanpa kesasar. Kemampuan tersebut merupakan kemampuan spasial.

Kemampuan visual
Yaitu kecerdasan untuk menciptakan kreasi visual. Kreasi ini bisa berupa gambar, lukisan, atau film. Tak hanya itu, mereka yang punya potensi ini dapat memahami suatu teka-teki yang tampak secara visual, misalnya menerjemahkan makna dari sebuah lukisan.

Kemampuan logika
Yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan matematis. Potensi ini berkaitan dengan kecerdasan dalam pikirannya untuk memahami sesuatu secara numerik, termasuk menghitung dan menghapal rumus-rumus matematis. Potensi kemampuan logika bisa diperoleh dari bakat atau belajar.

Kemampuan linguistik
Yaitu kemampuan individu dalam berbahasa. Kemampuan ini memiliki cakupan yang luas, tidak hanya memahami teks deskriptif, namun juga berbicara, berceramah, dan diskusi. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kecerdasan yang dimiliki seseorang dalam mengembangkan skill aktualisasi diri secara verbal.

Kemampuan kinestetik
Yaitu kemampuan seseorang dalam menggerakkan tubuhnya. Tak sekadar bergerak, namun juga mengembangkan elastisitas atau kelenturan tubuh serta mencipakan harmoni melalui gerakan-gerakan fisik yang tepat dan mempesona, seperti penari profesional.

Kemampuan interpersonal
Yaitu kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan sosial. Potensi kecerdasan seseorang yang piawai melakukan hubungan interpersonal terlihat dari kemampuannya berkomunikasi, melobi, mewawancarai orang lain atau semacamnya. Kemampuan ini adalah tentang menciptakan dan menjaga hubungan antar manusia.

Kemempuan intrapersonal
Yaitu kemampuan seseorang dalam memahami, mengatur, serta memanajemen diri sendiri. Orang yang berhasil mengembangkan potensi intrapersonalnya piawai dalam mengambil keputusan, merancang visi, dan menetapkan tujuan hidup. Kemampuan intrapersonal dapat dilatih melalui upaya-upaya pengendalian emosi diri.

potensi diri
Seringkali orang kesulitan mengetahui apa potensi diri yang dimilikinya karena tersembunyi terlalu dalam. Padahal problemnya bukan potensinya yang ngumpet tapi kegigihan dirinya untuk mengasah kemampuan sehingga potensi itu muncul.

Sebagian orang memang berbakat. Sebagai contoh, seorang balita sudah hafal Alquran, pandai main piano dan sulap. Kita akan tercengang melihatnya dan berpikir darimana mereka memperoleh kemampuan itu sedangkan dengan berlatih perlu waktu bertahun-tahun.

Potensi yang berasal dari bakat semacam itu biasanya dianggap turunan. Artinya faktor genetika menjadi determinan utama yang mempengaruhi. Sebagaimana kondisi fisik, kita tidak bisa memilih dilahirkan seperti apa. Hal terpenting dalam pengembangan potensi adalah keuletan dan kerja keras yang dilakukan secara konsisten. Apa potensimu?




https://3afa95snjfwx7nflo9l5xc6k90.hop.clickbank.net/

Bangsa Yang Tergadai

Mengapa pilpres yang hanya soal pergantian presiden dan kita sudah pengalaman menyelenggarakannya beberapa kali tapi kemarin demikian panas, tegang, sulit saling mengalah, dan banyak kecurangan yang begitu masif dan bahkan berani terang-terangan? Petahana bisa dengan mudahnya menangkap siapa saja yang dianggapnya provokator. Sisi lain, oposan banyak mengerahkan gerakan rakyat yang disebut people power walaupun sebuah gerakan damai.

Kata “kalah” waktu itu, tampak sulit diterima oleh kedua belah pihak. Apakah kekalahan bida diterima hanya oleh kubu 02? Tidak. Kubu 01 juga sama.

Bagi kubu 02, pemilu kemarin penuh rekayasa, karena dianggap penuh kecurangan struktural dan masif yang disiapkan sejak awal, catatannya kecurangan di tim BPN mencapai ribuan, termasuk membangun opini melalui quick count yang diyakini hanya pesanan semata, hanya konstruksi untuk mempengaruhi pikiran dan mental masyarakat agar hasil pemilu bisa diterima dari hasil quick count dan perhitungan KPU.

Bagi kubu 01, pemilu yang lalu tidak akan mungkin bisa terima jika mereka kalah, karena diyakininya ada kelompok Islam radikal menyatu pada kubu 02 yang dituduhkannya akan merubah NKRI dan Pancasila. Prabowo iya nasionalis tapi dia didompleng oleh elemen Islam radikal dan ini membahayakan kelangsungan NKRI. Itulah pikiran di kubu 01. Maka, bagaimana pun caranya, 02 tidak boleh menang walaupun itu kekuatan rakyat.

Kalau soal pemilu biasa yang jurdil dan kondisi negara normal, kubu Jokowi dan kubu Prabowo pasti akan menerima kalah dan menang sebagai hal yang biasa. Tapi mengapa kondisi jadi rumit, panas, tegang dan gawat? Mengapa ada ribuan kecurangan yang dibaca masyarakat dari berita-berita media dan ditonton langsung dari banyak sekali video yang beredar? Mengapa survei dan quick count yang fungsinya membantu menghitung cepat tapi kali ini banyak kontroversial dan tak diterima oleh satu paslon? Berarti ada sesuatu. Itu jawabannya.

Bukankah pada banyak pemilu sebelumnya, quick count tidak jadi masalah? Karena tidak ada nuansa kecurangan apalagi masif. Di pilpres 2019 lalu, masalahnya jelas karena pemilunya tidak wajar. Bukankah sepanjang sejarah pemilu Indonesia baru kali ini begitu banyak kecurangan yang disaksikan masyarakat? Mengapa ada korban kematian panitia begitu banyak hingga 550 lebih? Ada apa? Apa artinya? Sekali lagi, artinya ada sesuatu, ada yang tidak wajar, ada misteri yang besar yang sekarang jadi kontroversi. Bukankah mudah saja memahami itu? Diagnosis Ikatan Dokter Indonesia sudah membuktikan mereka bukan mati oleh kelelahan. Kelelahan bukan penyebab langsung kematian. Bila kematian massal itu diautopsi, sebabnya akan terbuka.

Mana mungkin sebuah hasil pemilu akan diterima oleh peserta bila kecurangan begitu banyak? Di negara manapun pasti akan jadi masalah, yang kalah pasti akan protes karena permainan tidak fair, karena pemilu tidak jujur. Ada apa dengan kematian panitia KPPS hingga 500 orang lebih? Apakah ini pemilu yang biasa? Pemilu yg normal dan wajar? Tentu tidak. Semua masyarakat tahu dan merasakan ini pemilu yang tidak biasa, tidak wajar. Kematian massal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, sekali lagi, ada apa dengan pemilu pilpres 2019?

Mengamati dan merasakan ketidakwajaran Pilpres 2019 sebenarnya bukan soal Jokowi lawan Prabowo, bukan hanya soal pergantian presiden, bukan soal Islam moderat dan Islam radikal, bukan soal Pancasila vs Khilafah, bukan soal nasionalisme religius vs nasionalisme sekuler. Bukan soal rebutan kekuasaan antar anak bangsa. Kalau hanya itu semua, pemilu tidak akan segawat dan segenting saat itu. Dalam banyak hal masyarakat kita sudah terbiasa dan menerima perbedaan.

Maka, jawabannya tidak lain adalah sesuatu yang lebih besar dari sekedar pemilu. Yang lebih besar dari sekedar pergantian presiden yaitu masalah kedaulatan negara dan masa depan bangsa. Hanya, yang satu kubu seperti tidak perduli, tidak menyadari, karena lebih memandang aspirasi politik kelompoknya. Kubu lain tahu, sangat perduli dan melihat urusan yang lebih besar, yaitu soal kedaulatan bangsa dan negara yang sedang tergadaikan. Soal ancaman kepada rakyat yang akan jadi kacung di negerinya sendiri.

Ini era global. Negara-negara besar mencaplok negara-negara lain tidak melalui penjajahan langsung tapi melalui neo-kolonialisme, melalui imperialisme politik yang gejalanya sudah banyak di Indonesia tapi masih juga sulit diyakinkan kepada sebagian masyarakatnya.

Samuel Huntington menjelaskan secara rasional dalam bukunya “The Clash of Civilization and Remaking New Order,” bahwa negara-negara raksasa dengan ledakan penduduknya yang sudah tak terkendali di negerinya karena sudah lewat batas, pasti akan mencari sumber-sumber alam dan penghidupan dengan membanjiri negara-negara tetangganya dan menganeksisasi secara ekonomi dan politik. Kolonialisme dulu karena kerakusan, sekarang kolonialisme karena mempertahankan hidup dari negara yang terlalu besar.

Penduduk Cina sekrang sudah sekitar 1,4 milyar yang sumber alamnya sudah tak bisa diandalkan. Bagaimana ia harus mempertahankan hidup? Seperti air, dengan meluber keluar, menganeksasi bangsa-bangsa lain. Dan Cina sudah membuktikan itu dengan jebakan-jebakan utang yang besar yang membuat negara lain tidak berdaya: Tibet sudah jadi negara Cina, Malaysia sudah terlambat untuk bisa lepas dari hegemoni Cina.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengungkapkan, Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 juta dollar AS kepada China dan tak mampu membayar sehingga harus mengganti mata uangnya menjadi Yuan sebagai imbalan penghapusan utang sejak 1 Januari 2016. Nigeria yang disebabkan oleh model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan dalam jangka panjang membuat China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Negeria.

Sri Lanka yang juga tidak mampu membayarkan utang luar negerinya untuk pembangunan infrastruktur dan harus melepas Pelabuhan Hambatota sebesar Rp 1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya dijual kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) China. Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga.

Kapan Indonesia sadar?

Hutang Indonesia sudah mencapai 5000an Trilyun dan Indonesia akan kesulitan membayarnya. Satu-satunya cara adalah intervensi Cina harus diterima menghegemoni Indonesia dengan dikte-dikte ekonomi dan politiknya yang kini semakin kuat.

Melalui konglomerasi raksasa, Indonesia harus dibawah kendali mereka. Jokowi dan petahana adalah akses yang bisa diintervensi yang selama menambah terus utangnya hingga titik kritis. Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman yang sangat berkuasa, sudah menandatangi 23 kontrak proyek dengan Cina untuk memperkuat dan semakin mengunci Indonesia dengan utang.

Liputan Kompas dan banyak media lain mengkhawatir bahaya jebakan hutang ini dan banyak tokoh mengkritiknya. Tapi Wiranto malah menyambutnya dengan membentuk Tim Hukum Nasional yang bernuansa dihidupkannya politik otoriter Orde Baru.

Kesadaran ancaman atas kedaulatan negara disikapi berbeda oleh kedua kubu capres dan masing-masing pendukungnya. Petahana menganggapnya bukan masalah karena mungkin sudah akrab tanpa melihat dampak dan akibatnya, kubu oposisi sangat merasakan ini berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara.

Kapan keduanya akan menyadari bersama? Mungkin kelak kalau bangsa ini, tanpa sadar dan tidak berdaya, sudah menjadi bagian dari negeri asing. Kita baru akan menyadari ketika kedaulatan sudah hilang di negeri yang dimerdekakan oleh hasil keringat darah rakyat, para pejuang dan para ulama dari 350 tahun kolonialisme.

Sekarang sudah nyata siapa pemenang pemilu dan siapa yang memimpin negeri ini. Dan disini titik perubahan besar bangsa ini akan dimulai. Perubahan bangsa yang kaya dan berdaulat menjadi bangsa kacung yang tergadai negerinya atas hutang yang semakin menumpuk, juga lepasnya aneka kekayaan negeri yang sekarang sebagiannya sudah terbukti.#

Wallahu a’lam.#

Pemimpin Penipu

Seorang pemimpin diibaratkan seperti nahkoda kapal yang harus siap-siaga dalam setiap pelayaran guna bertanggung jawab atas kesejahteraan dan keselamatan seisi kapal. Mulai dari lingkup kecil, sosok ayah sebagai tulang puggung rumah tangga adalah pemimpin bagi setiap anggota keluarganya. Sementara di lingkup yang lebih besar (masyarakat), sosok lurah, bupati, gubernur dan juga presiden atau pemimpin negara merupakan figur-figur yang harus bertanggung jawab atas kesejahteraan para rakyatnya.

Menjadi sosok pemimpin yang dicintai anggotanya (baca: rakyat) adalah mimpi dan harapan besar dari setiap pemimpin. Hal ini dapat dimengerti karena salah satu parameter sederahana yang dapat digunakan untuk mengukur seorang pemimpin itu sukses atau tidak adalah dengan melihat respon serta kecintaan masyarakat kepadanya. Bila respon masyarakat kepadanya baik, maka bisa dipastikan pemimpin itu telah sukses dalam mengayomi para anggotanya. Namun sebaliknya, bila respon masyarakat kepadanya buruk, maka besar kemungkinan bahwa ia telah gagal dalam melaksanakan amanah sebagai pemimpin rakyat.

Islam sebagai ‘pemimpin’ dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya, dalam sejarahnya telah mampu melahirkan sosok-sosok pemimpin yang dicintai rakyat. Contoh paling masyhur dan nyata adalah Nabi Muhammad saw, yang selain menjadi Rasul (utusan) juga menjadi pemimpin negara kala itu. Islam, melalui ‘tangan emas’ Rasulullah mampu mensejahterakan, bahkan mengayomi semua lapisan masyarakat, tanpa memandang ras, suku bahkan agama. Rasulullah tidak hanya dicintai kaum muslimin, tapi lebih dari itu orang-orang non-muslim juga merasa mendapatkan perlindungan serta pengayoman di bawah payung kepemimpinannya. Sosok pemimpin seperti inilah yang senantiasa dirindukan kehadirannya oleh umat. Sosok pemimpin yang bertanggung jawab, adil, jujur, tidak otoriter, berpihak kepada yang lemah dan merakyat.

Meskipun sekarang Rasulullah telah tiada, namun paling tidak spirit kepemimpinan beliau dapat terus terwariskan ke dalam setiap diri pemimpin yang benar-benar berusaha meneladaninya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan beberapa hadits tentang pemimpin dan kepemimpinan serta kriteria-kriteria pemimpin yang dicintai rakyat.

Menumbuhkan Kesadaran Kepemimpinan dalam Diri

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Dari Abdullah (Ibn Umar) ra (berkata), Rasulullah saw bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggung jawab dan tugasnya (kepada anaknya). Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Ketahuilah, kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertang jawaban) dari hal yang dipimpinnya.”

Hadits yang dibawa Ibnu Umar ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 2554, no. 2409, no. 2558, vol. 4, no. 2751, vol. 7, no. 5188, no. 5200) dengan beberapa varian matan yang berbeda, namun dengan subtansi yang tetap sama. Selain itu, hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (vol. 3, no. 1829), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath (vol. 4, no. 3890), Malik dalam al-Muwatha’ (no. 991), Abu Dawud dalam Sunan-nya (vol. 3, no. 2930), al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (vol. 4, no. 1705), al-Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (no. 4881, no. 6975), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya(vol. 10. No. 4489, no. 4490, no 4491) dan beberapa mukharrij lainnya dalam karya-karya mereka. Hadits ini tidak perlu diragukan lagi keotentikannya, karena diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang terkenal ketat dalam meriwayatkan hadits serta beberapa imam lainnya.

Satu pesan besar dari hadits ini adalah spirit tanggung jawab. Siapapun dia dan apapun profesinya, pada hakikatnya ia adalah pemimpin. Pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Seorang suami akan ditanya tentang kepemimpinannya terhadap keluarga. Seorang istri akan ditanya tentang tugasnya dalam rumah tangga. Seorang penuntut ilmu akan ditanya tentang ilmu yang ia dapatkan. Seorang pemimpin negara juga akan ditanya tentang tanggung jawabnya terhadap rakyat yang dipimpinnya. Tanggung jawab dalam hal ini tidak semata-mata bermakna melaksanakan tugas saja, kemudian setelah itu tidak memberikan dampak apapun bagi yang dipimpin. Melainkan lebih dari itu, yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih kepada upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpinnya.

Dengan menyadari bahwa setiap individu pada dasarnya adalah pemimpin (minimal bagi dirinya sendiri), niscaya akan tumbuh rasa tanggung jawab atas apa yang diamanahkan kepadanya. Jika setiap orang telah tahu dan sadar bahwa apa yang ada padanya hanyalah titipan dan amanah, maka tentu ia akan berhati-hati dalam mengelola dan menggunakannya.

Pemimpin yang Jujur

عَنْ الْحَسَنِ قَالَ عَادَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ الْمُزنِيَّ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ قَالَ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ لِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Artinya: “Dari al-Hasan, ia berkata, ‘Ubaidullah ibn Ziyad mengunjungi Ma’qil ibn Yasar yang sedang sakaratul maut. Kemudian Ma’qil berkata: aku akan memberitahumu sebuah hadis yang aku dengar langsung dari Rasulullah saw. Seandainya aku tahu kalau aku masih bisa hidup (setelah ini), maka aku tidak akan menceritkan ini kepadamu. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “tiada seorang yang diamanati oleh allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti allah mengharamkan baginya surga.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya (vol. 9, no. 7150), Muslim dalam Shahih-nya (vol. , no. 142), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (vol. 10, no. 4495), al-Darimi dalam Sunan-nya (vol. 2, no. 2796), al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (vol. 9, no. 18359) dan Syu’ab al-Iman (vol. 6, no. 6976), dan al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (vol. 20, no. 474).

Hadits di atas merupakan ancaman besar bagi para pemimpin yang tidak jujur. Para pemimpin yang senantiasa menipu rakyat demi keuntungan pribadi dan juga kelompoknya. Mereka yang tanpa merasa salah berbuat tidak jujur kepada rakyat ini diancam oleh Allah dengan haramnya surga. Bentuk keharaman ini menurut al-Manawi ialah dengan cara menundanya masuk surga (Al-Manawi, Faid al-Qadir, vol. 5, hal. 623). Begitu besar ancaman yang diberikan Allah kepada para pemimpin yang suka menipu rakyat, mengindikasikan betapa pentingnya kejujuran harus selalu ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jujur adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang jujur adalah ia yang dapat mengemban amanah tanpa harus takut bila suatu ketika rakyat yang dipimpinnya menuntut sikap transparansi tentang apa yang telah ia lakukan. Lebih jauh lagi, rasa kejujuran yang dimiliki oleh seorang pemimpin juga harus mampu menjadi stimulus bagi para ‘bawahan’nya untuk turut melestarikan kejujuran di tengah roda pemerintahan.#

Dipenghujung Waktu

Penghujung Waktu

Kita berdiri ditepian hari menanti panggilan pertanggung jawaban yg pasti akan kita lalui…Kita berdiri diujung waktu menunggu kedatangan Izroil yang telah ditetapkan terhadap tiap tiap diri kita..Kita berdiri dg kaki gemetar dan penglihatan nanar memandang dunia yang sewaktu waktu meluluh lantakkan batin dan iman kita…Kita berdiri menanti seribu pertanyaan yg akan menghantarkan tiap tiap diri kita menuju keabadian siksa atau kebahagiaan tak terbatas masa…Kita semua tak tau apakah arah langkah kita sudah benar berada di jalur yang sesuai dengan takdir keyakinan yang kita genggam saat ini., karna setan setan selalu mengincar dan nafsu yang ada didalam dada selalu pantang menyerah untuk menjatuhkan diri kita..!Kita, adalah hamba hamba yang penuh sayatan dosa dan luka menganga di dalam dada, yang kini berdiri di penghujung waktu.#

Esensi ikhlas dan riya’

Salah satu sudut Madinah ramai oleh kerumunan orang siang itu. Ternyata ada satu orang yang dikerubuti belasan orang lain macam pedagang mainan anak-anak yang dikerumuni anak-anak kecil. Ternyata dialah Abu Hurairah, salah satu periwayat hadits Rasulullah. Maka bertanyalah Syafiy Al Ashbahi, satu di antara mereka, “Wahai Abu Hurairah, beritahukan kepada kami hadits Rasulullah yang kau ketahui hakikatnya.

“Akan aku sampaikan salah satu hadits Rasulullah yang kuketahui dan kupahami, “ jawab Abu Hurairah. Tetapi setelah mengucapkan itu, beliau malah pingsan. Tak tanggung-tanggung, hingga empat kali beliau tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di yaumul hisab adalah ahli jihad. Kemudian didatangkanlah mujahid tersebut ke hadapan Allah. Ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya di dunia dan iapun mengakuinya. Lalu Allah bertanya, “Apa yang telah kau lakukan atas nikmat itu?” Dijawabnya, “Aku berperang di jalanMu hingga menjemput syahidku.” Tetapi apa kata Allah, “Bohong kau! Kau melakukan semua itu agar semua orang mengenalmu sebagai orang yang pemberani dan yang demikian itu telah Aku perlihatkan kepadamu di dunia, kau dikenal sebagai orang yang pemberani.” Lalu Allah menyuruh malaikat melemparkan orang tersebut ke neraka.

Kemudian setelah itu, Allah memanggil hambaNya yang ahli ilmu, mengajar dan menghafal Al Qur-an. Lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah Allah berikan dan ditanya lagi dengan pertanyaan sama yang diberikan kepada orang pertama. Kemudian dijawabnya, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya kepada orang-orang yang belum tahu, serta membaca dan menghafal Al Qur-an untukMu.” Allah tetap menyebutnya sebagai pendusta, “Yang kau lakukan tak lain hanya agar manusia menganggapmu sebagai orang yang paling berilmu, kau juga ingin dikenal sebagai hafizh Qur-an yang baik. Semua juga sudah kukabulkan di dunia dan kini tak ada balasan yang lebih baik selain neraka.”

Lalu didatangkanlah orang ketiga, seorang yang diberi nikmat berupa keluasan rezeki dan keberlimpahan harta. Semua nikmat itu ditunjukkan padanya hingga ia mengakuinya. Allah pun menanyakan pertanyaan yang sama dengan orang pertama dan kedua. Orang terakhir ini pun menjawab dengan bangga, “Tidak ada sepeserpun dari hartaku yang tidak kusedekahkan di jalanMu, ya Allah.” Ironis, Allah pun menolak jawaban tersebut dengan mengatainya pembohong, “Kau bersedekah agar dianggap orang sebagai ahli sedekah yang dermawan. Semua itu juga sudah telah Kucukupkan untukmu di dunia. Orang-orang mengenalmu sebagai sang dermawan.” Kemudian, sama seperti sebelumnya, Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya ke neraka.’” (HR Muslim)

Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Berlatih Ikhlas
Dari hadits riwayat Muslim di atas, maka keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting. Betapa pun seorang hamba mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, bahkan dikenal karena kedermawanannya, tapi jika tidak disertai dengan keikhlasan, maka menjadi sia-sialah amalnya.
Ternyata kata ikhlas, bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Atau bahkan tidak berucapkan ikhlas. Boleh jadi, tanpa kita sadari, keikhlasan kita bercampur dengan riya’ dan ingin menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang pemberani, yang berilmu, dan dermawan.
Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya, seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”
Ma’ruf al-Karkhi sampai memukul dirinya sendiri sambil berkata, “Wahai jiwa, ikhlaslah! Maka kamu akan bahagia.”
Yahya bin Mu’adz berkata, “Ikhlas adalah memisahkan amal dari cacat seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”
Yusuf bin Husain berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Berapa besar kesungguhanku untuk mengeluarkan pamer dari dalam hati, namun sepertinya ia menetap di hati dalam bentuknya yang lain.”
Setiap kali Ayyub as-Sakhtiyani berbicara, ia mengusap wajahnya sambil berkata, “Aku terserang demam.” Padahal ia takut pamer dan ujub. Dia takut kalau orang-orang berkata tentang dirinya seperti ini. Dia menangis karena takut pada Allah.
Seorang ulama mengatakan, “Jika Allah tidak suka kepada seseorang, maka Allah memberinya tiga hal dan menghalanginya dari tiga hal. Pertama, Allah memberi dia teman yang saleh, namun dirinya tidak menjadi orang saleh. Kedua, Allah memberi dia amal saleh, namun dia tidak ikhlas menjalankannya. Ketiga, Allah memberi dia hikmah, namun dia tidak mempercayainya.”

Hakikat Riya
Riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedanghkan sum’ah (ketenaran) berasal dari kata Samaa’ (mendengar). Riya’ adalah ingin dilihat orang-orang supaya mendapat kedudukan. Riya’ itu tersamar seperti jalannya semut. Termasuk riya’, yaitu orang yang berpura-pura zuhud, berjalan memaksa diri untuk bersikap tenang dan bersikap lemah-lembut.
Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali menegaskan, riya itu haram dan pelakunya dibenci oleh Allah Swt. Hal itu ditunjukkan dalam QS. Al-Ma’un: 4- 6: “Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.”
Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa kita selamat?” Rasulullah menjawab, ”Bila manusia tidak mengamalkan ketaatan kepada Allah swt demi mengharap pujian orang-orang.”
Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan atas kamu adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Riya.”
Lalu Allah Swt berkata di Hari Kiamat ketika membalas manusia-manusia atas amal-amal mereka: “Pergilah (kamu) kepada orang-orang dulu kamu berbuat riya terhadap mereka di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapat balasan dari mereka?”
Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Berlindunglah kamu dengan Allah dari jubbul huzun (lembah duka). Sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?’ Nabi Saw menjawab, “Sebuah lembah di neraka Jahanam yang disediakan bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya”.#

Cara Membentuk Kebiasaan Baik

Membentuk Kebiasaan baru dan Pertahankan Perilaku baik.

Kebiasaan adalah perilaku yang didefinisikan dengan cermat dan sangat terstruktur. Pikirkan sesuatu yang sederhana seperti menyikat gigi. Menyikat gigi adalah sesuatu yang Anda rasa harus dilakukan secara konsisten. Kita tidak perlu mencatat aktifitas menyikat gigi pada daftar “yang harus kita lakukan” karena memang sudah menjadi kebiasaan.

Inilah yang ingin kita capai dalam tujuan kita. Alih-alih secara paksa melakukan suatu kebiasaan, maka pada akhirnya kebiasaan itulah yg justru yang akan menarik kita ke arah itu.

Lihatlah pada hal apa kita yang Terbaik.
Lihatlah pada bagian mana dari kehidupan kita di mana kita mampu secara efektif melakukannya. Jk kita bisa menyadarinya maka kita akan menemukan bahwa kebiasaan tertentu akan membantu mewujudkannya:

• Jika kita makan dengan cara yang sehat, itu mungkin karena kita telah membangun rutinitas di sekitar makanan yang kita beli dan apa yang ingin kita masak di dapur kita.

• Jika kita bugar, itu mungkin karena kita memiliki perilaku/ kebiasaan yang teratur untuk berolahraga.

• Jika kita berhasil dalam pekerjaan penjualan, kita mungkin memiliki ritual persiapan mental bagus dan juga memiliki kebiasaan cara berbicara yang menarik pula, serta punya sikap positif dalam menghadapi penolakan.

• Jika kita bisa mengelola orang lain secara efektif, maka kita cenderung memiliki gaya memberikan umpan balik yang membuat orang merasa tertantang daripada terancam.

• Jika kita berhubungan dekat dengan pasangan dan anak-anak kita, bisa jadi karena kita mungkin memiliki kebiasaan tertentu di dilingkungan sekitar keluarga dalam menghabiskan waktu bersama mereka.

Hasil yang bagus mengandalkan kebiasaan positif dalam mengelola energi dalam diri kita guna mencapai suatu tujuan yang diharapkan.

Mengapa Kebiasaan Positif itu Penting

Kebiasaan dalam mengelola energi positif akan mengurangi beban mental saat kita melakukan suatu pekerjaan yang telah kita putuskan. Kebiasaan ini akan membantu kita untuk berada dalam “mode pilot otomatis” guna menyelesaikannya.

Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita memiliki kebiasaan yang baik.
Dari para pakar psikologo Kita mungkin mendengar bahwa dibutuhkan 21-30 hari untuk menciptakan kebiasaan baru. Sekarang mari kita ulas apa yang sebenarnya terjadi dalam 1-30 hari ini.

Hari 1-10: “Fase gravitasi”
Dalam fase ini, kita memasukkan kebiasaan baru ke dalam hidup kita. Ini adalah fase gravitasi, dan kita akan mendapatkan tarikan gravitasi untuk menghentikan diri kita sendiri saat mulai beraksi. Dalam fase ini, kita bekerja melawan gravitasi kebiasaan tubuh kita sendiri untuk menyelesaikan sesuatu.

Hari 10-20: fase “Perlawanan”
Pada fase ini, kita mulai merasa lebih baik, meskipun kita memiliki beberapa perlawanan internal di sana-sini.

Hari 20-30: fase “Aklamasi”
Kebiasaan baru kita (perubahan pola hidup) mulai terintegrasi dalam hidup kita. Sekarang, itu mulai terasa seperti hal yang wajar untuk dilakukan. Itu menjadi bagian dari kepribadian atau rutinitas Anda.

Lepas Hari 30: Kebiasaan kita sekarang menjadi bagian dari hidup kita, insyaAllah.

Tanyakan siapa saja yang konsisten melakukan olahraga, maka kita akan dapat melihat bahwa dia telah membangun rutinitas untuk itu. Jika kita bertanya kepada mereka bagaimana itu “sebelum” – mereka mungkin memberi tahu kita bahwa sulit bagi mereka untuk pergi dan secara konsisten melakukan olahraga. Jika kiat bertanya kepada mereka, betapa mudahnya bagi mereka “sekarang” untuk berolahraga dan berolahraga, mereka akan mengatakan itu sangat mudah dan alami bagi mereka untuk melakukannya. Ini karena mereka memiliki rutinitas tertentu dalam mengatasi 20 hari pertama, dan sekarang itu adalah bagian dari jadwal harian mereka. Mereka melakukannya tanpa berpikir terlalu banyak. Itulah kekuatan rutinitas!!

Kita dapat menyesuaikannya berdasarkan aktivitas apa yang penting bagi kita. Selain itu, buatlah rutin yang paling sesuai dengan situasi pribadi kita — misalnya, jika kita bekerja dari rumah, maka kita akan memiliki rutinitas yang berbeda dari seseorang yang memiliki 1 jam perjalanan ke kantor. Sesuaikan dengan kebutuhan kita, tetapi pastikan bahwa kita memungkinkan untuk menjalaninya secara rutin.

Apakah Kebiasaan Membosankan atau Menyenangkan?

Sayangnya, banyak dari kita memiliki hubungan negatif dengan kebiasaan. Ketika sebuah kebiasaan mulai terasa hampa, dan bahkan terasa tak bermakna , penjelasan yang mungkin adalah bahwa ia telah kehilangan hubungannya dengan nilai-nilai yang dipegang teguh.

Suatu kebiasaan Tanpa struktur dan kejelasan makna, maka akan rentan terhadap tuntutan mendesak dalam aktifitas hidup kita, mudah beralih karena godaan aktifitas sesaat dan ujungnya akan memporak porandakan kedisiplinnan kita. Di sisi lain, jika kebiasaan kita menjadi terlalu kaku, tidak berubah-ubah dan linier, konsekuensi akhirnya adalah kebosanan, pelepasan, dan bahkan gairah dan produktivitas justru yang akan berkurang. Apa yang kita butuhkan adalah keseimbangan yang harus kita temukan dan terapkan sesuai dengan itu.

Buat Satu kebiasaan Rutin dalam Satu Waktu

Sering kali kita memiliki kebiasaan mencoba mengubah diri kita sekaligus. Ini memberi tekanan pada diri kita sendiri, “perlawanan” batin kita dan kita akan kembali ke kehidupan lama kita dengan cepat. Namun, mengerjakan satu kebiasaan baru per bulan adalah yang terbaik.

Bayangkan, dalam satu tahun kita akan memiliki 12 kebiasaan baru!

Jadi apa ritual baru yang ingin kita tambahkan dalam hidup kita selama 30 hari ke depan?
Smoga kebiasaan itu akan menjadikan diri satu tingkat lebih baik dari diri kita sebelumnya, dan smoga menjadikan kita satu langkah lebih dekat kepada Allah ta’ala.. Aamiin.#

Gesekan Mental

Menangani Gesekan Mental

Bayangkan kita mengendarai mobil dengan tangan dalam posisi istirahat. Kita mungkin tidak akan berjalan sangat cepat, dan inilah yang terjadi ketika kita mengarahkan diri kita untuk menjalani suatu “kehidupan”. Ini menyebabkan kita menjadi tidak produktif tanpa kita sadari.

Tanpa memahami sikap kita, kita tidak dapat memperoleh motivasi untuk bertahan atau mencapai tujuan kita. Akibatnya, kita sering kali menunda-nunda. Inilah sebabnya mengapa banyak program peningkatan diri berfokus pada “kepercayaan diri”. Kita akan berbicara tentang memahami sistem kepercayaan diri dan cara membuatnya bekerja untuk diri kita sendiri.

Bagaimana kita berpikir memengaruhi perilaku kita. Sering kali kepercayaan ini tersembunyi jauh di dalam pikiran bawah sadar kita. Keyakinan seperti “Sekarang sudah terlambat” atau “Saya seorang korban” sering kali dapat membuat seseorang lebih banyak diam dalam persepsi yang salah, padahal sebenarnya banyak sekali yang bisa di lakukan.

Tiga Jenis Sistem Kepercayaan diri
1. Keputusasaan:
Jika seseorang tidak memiliki harapan, ia merasa atau percaya suatu hasil tidak mungkin terjadi. “Tidak ada harapan” – ini adalah keyakinan bahwa hasilnya tidak mungkin dan dengan demikian tidak ada gunanya apapun yang kerjakan.

2. Ketidakberdayaan:
Dalam kondisi ini, seseorang percaya sesuatu itu mungkin, tetapi dia tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. “Saya terlalu lemah”, “Itu mungkin tetapi saya tidak mampu”, “Saya tidak memiliki apa yang diperlukan” adalah contoh-contoh ketidakberdayaan yang berbicara sendiri.

3. Tidak Berharga:
Beberapa orang bahkan tidak akan mencoba karena mereka pikir mereka tidak layak untuk mencapai sesuatu.

Sebagai Muslim, kita harus melawan sikap ini karena kita harus menaruh harapan dan kepercayaan pada Allah, dan ingat bahwa Allah memiliki kuasa atas semua hal. Ketika kita mentransfer harapan kita dari diri kita yang terbatas kepada Allah Yang Mahatinggi, bahkan tugas yang paling sulit pun bisa menjadi sangat mungkin dan sangat mudah (Sejarah Islam bersaksi tentang ini seperti Pertempuran Badr!)

Jika Anda berpikir: “Ini semua baik, tetapi tidak akan berhasil – Saya sudah pernah mencobanya sebelumnya dan tidak bisa melakukannya”, ubah pemikiran itu menjadi: “Jika saya melakukan semua yang saya pelajari dan coba, maka saya akan menjadi mampu mencapainya insya Allah ”. Memiliki pendekatan positif akan mendorong kita maju menuju tujuan kita.

Harga Diri dan Sistem Kepercayaan Kita.
Harga diri kita secara langsung terkait dengan keyakinan batin kita.

Dibawah Ini adalah kuis yang dapat Anda lakukan untuk menemukan tingkat harga diri Anda. Seperti pemeriksaan kesehatan biasa, tes ini membantu Anda menemukan di mana Anda berdiri pada tingkat harga diri Anda. Jawab 16 pertanyaan di bawah ini dengan Benar atau Salah. Jawab benar hanya jika Anda 100% yakin tentang jawabannya. Sekalipun 99% benar, jawablah salah.

Setelah anda menyelesaikan test dibawah ini, gunakan kunci jawaban untuk menemukan tingkat harga diri Anda.

Tandai Benar atau Salah pada pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Orang lain tidak lebih beruntung dari saya.

2. Saya menerima diri saya apa adanya, dan saya senang dengan diri saya sendiri.

3. Saya menikmati bersosialisasi.

4. Saya pantas mendapatkan cinta dan hormat.

5. Saya merasa dihargai dan dibutuhkan.

6. Saya tidak membutuhkan orang lain untuk memberi tahu saya bahwa saya telah melakukan pekerjaan dengan baik.

7. Menjadi diri sendiri itu penting.

8. Saya berteman dengan mudah.

9. Saya bisa menangani kritik tanpa merasa jengkel.

10. Saya mengakui kesalahan saya secara terbuka.

11. Saya tidak pernah menyembunyikan perasaan saya yang sebenarnya.

12. Saya selalu berbicara sendiri dan menyampaikan pandangan saya.

13. Saya orang yang riang bahagia.

14. Saya tidak khawatir dengan pendapat orang lain tentang pandangan saya.

15. Saya tidak perlu persetujuan orang lain untuk merasa baik.

16. Saya tidak merasa bersalah melakukan dan mengatakan apa yang saya inginkan.

Kunci jawaban:

1) Jumlah benar di atas 14: Anda melakukannya dengan sangat baik.

2) 12-14 benar: Anda melakukan cukup baik. Ada ruang untuk diperbaiki.

3) 8 – 11 benar: Menampilkan tanda-tanda harga diri rendah.

4) Kurang dari 8 benar: Tingkat harga diri rendah.

Sangat penting untuk mengetahui di mana Anda berdiri dalam hal harga diri karena percaya pada diri sendiri sangat penting untuk produktivitas Anda.

Anda tahu, jika kepercayaan Anda tidak memberdayakan Anda, maka tidak heran Anda tidak termotivasi untuk mencapai tujuan Anda? Apakah mengherankan bahwa Anda menghindari melakukannya, dan karenanya Anda menunda-nunda?

Berdayakan diri kita,
Mengubah keyakinan dan mengganti dengan keyakinan yang memberdayakan adalah penting untuk kesuksesan kita. Ingatkan diri kita tentang sikap positif baru yang telah kita putuskan untuk diadopsi. Berikut adalah teknik yang dapat Anda gunakan:

Setiap kali pikiran negatif muncul di benak, segera katakan – “Tidak apa-apa, saya bisa melakukannya dengan bantuan Allah”. Dan tiba-tiba, Anda akan mulai merasa lebih percaya diri dan optimis!

“Dalam hidup, pastilah ada masalah, dan dibalik masalah pastilah ada penyelaian dan juga peluang. Kita semua memiliki peluang di sekitar kita, untuk itu mari mulai melakukan perbuatan baik, berusaha lulus atas ujian hidup apapun, meningkatkan kwalitas keimanan dan kemampuan untuk membuat perbedaan dari diri kita sebelumnya, demi mencapai tujuan yang kita harapkan. Insyaallah tercapai.. Aamiin. #

Membentuk pola sukses

Percaya atau tidak, Anda memiliki motivasi dan kemauan di dalam diri Anda. Anda mungkin tidak mengetahuinya, tetapi Anda telah memotivasi diri sendiri berkali-kali dalam hidup Anda. Selama masa-masa dengan motivasi yang kuat dan kemauan yang kuat, Anda kemungkinan besar dapat mengatasi banyak hambatan. Bagaimana Menjaga Motivasi & Memperkuat Kekuatan Anda,

Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan kepada Anda pola sukses, pola yang dapat Anda buat berulang kali, kapan pun Anda mau insya Allah.

Kita Suka Awal Baru
Kita, sebagai manusia, menyukai awal yang baru. Kita senang pindah ke rumah baru, mendapatkan pekerjaan baru, melihat tempat baru, makan makanan baru, memulai sesuatu yang baru. “Kebaruan” ini menciptakan kegembiraan di dalam, perasaan kesegaran. Itulah salah satu alasan mengapa kita begitu “termotivasi” selama masa Ramadhan untuk menghasilkan resolusi untuk mengubah hidup kita.

Meskipun kita memiliki harapan tinggi untuk resolusi baru selama ‘awal baru’, terlalu sering kita tidak meletakkan fondasi kesuksesan ketika membuat resolusi ini di dalam diri kita. Akibatnya, resolusi kita tidak membuahkan hasil.

Jika Anda tahu bagaimana tubuh / pikiran kita bekerja, maka Anda dapat memperlakukan setiap hari sebagai hari yang baru, segar, berenergi! Untuk mendapatkan yang terbaik dari seri yang sedang berlangsung ini, kenali SATU area dalam hidup Anda di mana Anda membutuhkan motivasi. Mulailah menerapkan prinsip-prinsip yang digunakan dalam artikel ini pada satu bidang kehidupan Anda.

Tekad yang berkelanjutan

Apa yang kita inginkan adalah kemauan yang “berkelanjutan”. Perubahan yang langgeng tidak terjadi dengan mentalitas langsung, “lakukan saja”. Agar perubahan yang langgeng terjadi, suatu sikap dan pendekatan baru harus secara bertahap tertanam dalam diri kita.

Mengatur panggung: Memahami kesuksesan ‘luar’ & ‘luar’

Keberhasilan batin: Ini adalah perasaan emosional tentang kebahagiaan dan kepuasan; itu mengatasi hambatan internal.

Keberhasilan eksternal: Ini adalah pencapaian dan membuat sesuatu terjadi secara nyata.

Tujuan kita adalah untuk menggabungkan kesuksesan dalam dan luar untuk gaya hidup yang lebih menentramkan.

Dalam bidang apa kehidupan Anda yang Anda butuhkan kemauan?

Apakah itu untuk berolahraga dan menurunkan berat badan? Atau apakah perlu waktu untuk mengerjakan bisnis Anda? Atau apakah perlu waktu untuk mempersiapkan ujian Anda yang akan datang? Atau apakah untuk berdoa tepat waktu, atau bangun untuk Tahajjud? Atau apakah berpuasa sunnah di hari biasa? Semua ini tampaknya merupakan “keberhasilan luar”, namun, ada kesuksesan batin yang Anda coba capai dengan ini. Mungkin kemauan ekstra tadi itu akan membuat Anda “merasa lebih baik tentang diri sendiri” (kesuksesan batin).

Keberhasilan luar ini semua membutuhkan disiplin dan inisiatif, dan menerobos penundaan atau apa pun hambatan mental lainnya akan memberi Anda rasa prestasi dan kekuatan batin.

Pastikan Anda telah menentukan keberhasilan dalam dan luar yang ingin Anda capai. Semakin Anda merasa sukses secara internal dan eksternal, semakin Anda merasa termotivasi dalam hidup Anda (ingat kesuksesan Anda pada akhirnya harus tertuju kepada Allah Ta’ala, dan perlu diingat bahwa kesuksesan sejati adalah kesuksesan di akhirat).

Tantangan besar:
Kami sekarang menjadi lebih peduli dengan hiburan daripada dengan hasilnya. Kita membaca hal-hal yang hebat, mengatakan bahwa itu luar biasa dan kemudian kita kembali ke kehidupan rutin kita. Kita perlu menyadari bahwa jika kita ingin menjadi lebih produktif, kita harus mendisiplinkan diri kita sendiri dan yang menghasilkan hasil dengan pengetahuan dan alat yang sudah kita miliki.

Untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan, Anda perlu mengambil tindakan. Anda harus melepaskan gagasan bahwa ada perbaikan instan atau pil ajaib! Alat dan sifat untuk mencapai sudah ada dalam diri Anda dan iman Anda. Anda perlu memanfaatkan itu, dan kita bisa belajar caranya.

Hasil jangka pendek vs hasil jangka panjang

Hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang dari suatu tindakan biasanya berbeda. Sering kali, kita mengorbankan hasil jangka panjang untuk kesenangan jangka pendek yang akan kita dapatkan dengan suatu tindakan. Mendapatkan disiplin membutuhkan kerja keras – jika Anda dapat melakukan hal yang benar secara konsisten, Anda akan meningkatkan momentum dan menanamkan motivasi diri sebagai ciri karakter baru. Setelah Anda mengumpulkan momentum, sulit untuk kembali ke cara lama dalam melakukan sesuatu.

Mendiagnosis Penyebab Masalah,
Ketika Anda memiliki masalah dalam hidup, ada gejala yang muncul – kelemahan Anda. Jika Anda pergi ke dokter untuk sakit kepala, itu bisa karena stres ringan, atau mungkin gejala dari masalah kesehatan yang jauh lebih parah. Dokter yang baik akan mendiagnosis dengan benar sebelum memberikan obat apa pun. Ini berlaku untuk kehidupan kita juga. Banyak kali kita menutupi atau mengabaikan masalah sebenarnya dan mencari perbaikan cepat atau ‘tablet’ untuk motivasi. Ini tidak berfungsi, setidaknya tidak dalam jangka panjang!

Hadiah sekunder

Dalam psikologi, ada sesuatu yang disebut “hadiah sekunder”. Teori ini menyatakan bahwa apa pun yang dilakukan seseorang yang dianggap eksternal sebagai buruk sebenarnya memiliki “hadiah sekunder” yang secara internal berusaha untuk dipuaskan. Jika kita hanya “menghentikan” kebiasaan buruk, tanpa menemukan cara yang berbeda untuk memberikan “hadiah sekunder”, maka itu menciptakan gesekan dalam hidup kita.

Dengan kata lain, gantikan kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik.

Jika Anda memeriksa email Anda, setiap 5 menit, Anda mungkin berpikir ini tidak baik untuk Anda. Tapi, ada imbalan sekunder yang tubuh Anda coba dapatkan dengan tindakan seperti itu. Misalnya, memeriksa email Anda setiap 5 menit mungkin memberi Anda perasaan “signifikansi” atau “perasaan terhubung”. Sekarang, jika Anda berhenti memeriksa email Anda tiba-tiba, tubuh Anda “kehilangan” imbalan sekunder yang didapatnya, dan dalam beberapa hari, Anda kembali ke keadaan lama. Salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan buruk adalah dengan menemukan cara yang berbeda untuk memuaskan imbalan sekunder.
Bagaimana jika kita melakukan zikir setiap 5 menit?

Memahami Imbalan Sekunder sangat penting jika Anda ingin mengubah kebiasaan Anda. Setiap kali Anda melihat Anda melakukan “sesuatu” yang ingin Anda ubah, dan mencari motivasi untuk berubah, coba ini:

1. Ambil napas dalam-dalam, dan tanyakan pada diri sendiri dengan tulus – “apa yang saya coba capai dengan melakukan ini?” Dan perhatikan jawaban Anda.

Kata-kata yang Anda ucapkan kepada diri sendiri akan memberi Anda petunjuk tentang “imbalan sekunder” yang Anda coba capai. Ketika Anda ingin membuat perubahan dalam hidup Anda, sadari bahwa Anda harus memiliki jalan baru bagi pikiran / tubuh Anda untuk memenuhi “imbalan sekunder” ini, jika tidak, dalam beberapa hari / minggu, Anda akan kembali ke keadaan lama yang sama. .

Masa Lalu dan Masa Depan Anda

Anda dapat hidup di hari lain seperti masa lalu Anda, berusaha mempertahankan bagaimana Anda dulu. Tetapi jika Anda menjalani kehidupan dengan cara ini, Anda mungkin tidak akan mencapai potensi penuh Anda.

Besok bisa menjadi hari lain yang terjadi pada Anda, atau itu bisa menjadi hari Anda masuk dengan antusiasme dan energi jika Anda diberikan kehidupan sampai saat itu. Anda dapat memulai setiap hari baru dengan melihat bagaimana memaksimalkannya dengan ibadah yang membangkitkan semangat dan kegiatan produktif. Mengubah pandangan Anda berpotensi mengubah hidup Anda.

Latihan Motivasi (Dilakukan segera setelah membaca artikel ini insyaAllah)

Berikut adalah 2 latihan jalur cepat untuk membantu Anda mulai menciptakan perubahan dalam hidup Anda sekarang.

1) Membersihkan meja mental Anda:

Idenya adalah jika meja Anda berantakan, maka Anda tidak dapat bekerja secara efektif. Hal yang sama berlaku untuk pikiran Anda dengan semua pikiran itu!

Latihan ini harus dilakukan selama 15 menit: Ambil selembar kertas kosong dan mulailah menulis semuanya di pikiran Anda. Pikiran Anda harus merasa rileks setelah melakukannya.

2) Menyelesaikan penghisap energi: Masalah tidak selesai yang menyedot energi dari hidup Anda harus diselesaikan. Mungkin Anda berkelahi dengan seseorang 2 tahun yang lalu, dan Anda masih memikirkannya. Mungkin Anda memulai sesuatu dan tidak pernah menyelesaikan proyek?

Buatlah daftar semua bidang kehidupan Anda di mana Anda merasa perlu ditutup. Daftar harus maksimal satu halaman. Setelah Anda memiliki daftar Anda, periksalah daftar itu dan prioritaskan sesuai dengan yang paling merampas energi Anda; masalah-masalah itulah yang ingin kami tangani terlebih dahulu.

Alih-alih mengatakan “Saya lebih termotivasi” dan berakhir di sana, pikirkan bidang hidup Anda yang ingin Anda lihat perubahannya. Perubahan spesifik apa yang akan Anda buat dalam hidup Anda dan bagaimana Anda bisa mengukur perubahan itu?
InsyaAllah akan terwujud. Aamiin..#

Ujian Hidup

DALAM sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani daripada Abu Umamah, Allah berfirman kepada malaikat-Nya bermaksud : “Pergilah kepada hambaKu. Lalu timpalah bermacam-macam ujian kepadanya kerana Aku mahu mendengar suaranya.”

Hadis di atas menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan malaikatNya yang tidak pernah mendurhakai dan tetap melaksanakan apa yang Allah SWT perintahkan kepada mereka untuk melakukan berbagai ujian dan godaan terhadap hamba-hambaNya. Dengan godaan dan ujian ini, diharapkan akan keluarlah suara hamba itu (doa, dan permohonan ampunan). Namun begitu, sekiranya tidak keluar suara hamba itu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sesuatu yang tersembunyi dalam hati hambaNya. Sesungguhnya kehidupan ini tidak sunyi daripada kesenangan dan kesusahan, kesukaan dan kedukaan yang silih berganti. Oleh itu, barang siapa yang beranggapan kehidupan ini adalah kesenangan, kemewahan semata-mata atau penuh dengan kesukaran dan kesusahan selama-lamanya, itu adalah salah.

Melalui hadits di atas, Allah SWT mengingatkan bahwa kesenangan dan kesusahan itu adalah ujian terhadap hambaNya dan itu adalah sunnatullah. Semua kehidupan dipenuhi dengan ujian dan godaan, karena sesuatu yang tidak diuji, tidak akan kelihatan keasliannya. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:
“Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3).

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(Surah Al-Baqarah(2), Ayat : 155)

Melalui ayat di atas, Sayyid Qutb (1327-1386 Hijrah) menafsirkan sesungguhnya iman itu bukanlah hanya sebuah kata-kata yang diucap, iman adalah suatu hakikat yang mempunyai tugasnya, suatu amanah yang mempunyai beban tanggung jawab, suatu jihad yang memerlukan kesabaran dan suatu perjuangan yang memerlukan ketabahan. Manusia tidak cukup dengan hanya berkata: “Kami telah beriman…” Mereka tidak dibiarkan membuat dakwaan seperti itu hingga datang kepada ujian dan godaan guna membuktikan kebenaran dakwaan mereka. Mereka juga perlu keluar daripada ujian itu dengan hati bersih sebagaimana api menguji emas untuk memisahkan unsur logam yang murah melekat padanya. Inilah makna asal kata-kata ujian dari segi bahasa.

Dalam ayat lain, Allah SWT menerangkan secara jelas bahawa hubungan manusia dengan kehidupan adalah hubungan ujian dan godaaan.
Dalam firmannya Allah SWT menyampaikan, “Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi itu sebagai perhiasan, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya.” (QS Al-Kahfi:7-8).
Ayat ini menjelaskan bahawa tujuan Allah SWT mendatangkan pelbagai kenikmatan ke atas hambaNya adalah untuk menilai siapakah di antara hamba-hambaNya yang terbaik. Yang terbaik amalnya itulah adalah orang terbaik di sisi Allah. Ujian yang Allah datangkan kepada hamba-Nya tidak hanya berupa kesusahan, kesulitan dan kesakitan semata-mata. Malah, manusia perlu waspada kerana ujian dan godaan akan datang kepada mereka dalam bentuk kesenangan, kemewahan dan kekayaan. Ini secara terang difirmankan olehNya bermaksud:
“Dan kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kepada Kamilah kamu akan kembali.” (QS al-Anbiya:35).

Sebenarnya ujian Allah SWT kepada hambaNya dengan nikmat harta kekayaan dan berbagai kesenangan, pada hakikatnya lebih berat daripada ujian dengan bencana, siksaan dan kesusahan. Coba kita rasakan berapa banyak orang yang memiliki kekayaan, tetapi hidupnya penuh dengan kesiasiaan.. Hartanya tersia siakan hanya utk kesenangan dirinya sendiri, waktunya tersiasiakan lbh banyak untuk bersenang senang menikmati kemapanannya.
Byk dari kita yang gagal memanfaatkan untuk kepetingan akheratnya, lalai menyalurkannya pada tempat tempat dan Allah anjurkan. Ini jelas diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bermaksud:
“Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi umatku ialah harta kekayaan.”

Demikian juga dengan orang yang diuji dengan pangkat dan kekuasaan, hingga mereka menyangka mereka telah berkuasa sepenuhnya dan memiliki segala-galanya. Hal ini diperingatkan Allah dalam firman-Nya,
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas ketika menganggap dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmu tempat kembali.” (QS Al-Alaq:6-8)

Ayat ini menegur sikap manusia yang angkuh dan sombong yang menganggap mereka memiliki segala-galanya dan boleh melakukan apa saja selepas mendapat kekuasaan dan pangkat dalam masyarakat. Padahal apa yang dimiliki hanya sedikit daripada kurnia Allah SWT kepada para hambaNya. Rasulullah SAW pernah memperingatkan kita d suatu hadits:
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khuatirkan atas kamu, akan tetapi aku khuatir sekiranya kemewahan dunia yang kamu dapat sebagaimana yang telah diberikan kepada orang sebelum kamu, lalu kamu bergelimang dalam kemewahan itu hingga binasa, sebagaimana bergelimang dan binasanya umat terdahulu.” (HR Bukhari)

Ujian berat bagi kaum lelaki ialah ujian terhadap wanita. Ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Sepeninggalanku tiadalah yang ujian yang lebih berbahaya kepada kaum lelaki kecuali godaan kaum wanita.” (HR Bukhari) Ujian yang menyebabkan manusia mudah tergelincir pula ialah mengenai akidah dan agama. Ini karena, banyak orang yang mengaku dirinya Muslim, beriman tetapi setelah diuji Allah akan iman dan agamanya dengan berbagai cobaan, ternyata banyak diantara mereka yang berguguran dan tergelincir keluar dari jalan yang benar.
Perkara itu dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:
“Dan antara manusia ada yang berkata: “Kami beriman kepada Allah.” Tetapi apabila mendapat gangguan dan rintangan dalam melaksanakan perintah Allah, dia menganggap gangguan itu seakan-akan seksaan daripada Allah. Dan jika datang pertolongan daripada Allah, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami berserta dengan kamu (kaum mukmin).” Sesungguhnya bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia? Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang yang beriman dan benar-benar mengetahui orang yang munafik.” (QS Al-Ankabut:10-11).

Oleh itu, sekiranya diuji Allah, hendaklah kita berupaya sekuat kuatnya utk bersabar karena dengan bersabar kita akan mendapat ganjaran luar biasa dan dihapuskan dari dosa dosa hingga kelak kita diwafatkan dlm kondisi bersih dari dosa dan kesalahan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum mukmin baik lelaki atau wanita yang mengenai diri, harta dan anak-anaknya, tetapi dia bersabar, dia akan menemui Allah dalam keadaan tidak berdosa.” (HR At-Tirmidzi)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa ujian yang Allah SWT turunkan kepada hambaNya mempunyai berbagai bentuk. Ada ujian yang menimpa tubuh, anak, harta kekayaan, pengaruh, kekuasaan, pangkat, akidah, kekayaan dan kemiskinan, kesenangan dan kesusahan, semuanya adalah untuk menilai dan memilah siapakah orang yang benar-benar beriman denganNya.. Siapakah yang layak untuk diampuni dan dihapuskan dosa dosanya.. Dan siapa yang layak untuk mendapatkan kebahagiaan di kehidupan yang sesungguhnya setelah kematiannya nanti.#