Story and Biography Yusuf Estes

Yusuf Estes (born Joseph Estes, 1944) is an American from Texas[1] who converted from Christianity to Islam in 1991. He was a Muslim chaplain for the United States Bureau of Prisons during the 1990s, and has served as a delegate to the United Nations World Peace Conference for Religious Leaders held at the U.N. in September 2000.

Estes has served as a guest presenter and a keynote speaker at various Islamic events.[3] Estes was named as the Islamic Personality of the Year at the Dubai International Holy Quran Award ceremony on 8 August 2012.[4]

Estes is the founder and president of Guide US TV, a free-to-air Internet and satellite TV channel, which broadcasts programs about Islam.[5] He also owns over 2200 websites/domains dedicated to Presenting True Islam in Simple English.

Timbul dan Runtuhnya Peradaban Suatu Bangsa

Manusia diperkirakan ada sejak 200.000 tahun silam. Namun hadirnya manusia dalam suatu peradaban diperkirakan oleh para ilmuwan hanya ada sekitar 6000 tahun lalu.

Kala itu, banyak lahirnya peradaban peradapan kuno seperti Mesir atau Romawi. Ternyata, peradaban yang dahulu maju, kuat dan digjaya kini telah hancur, mengundang tanda tanya terkait penyebab keruntuhannya. Banyak Ilmuwan yang mencoba mengungkap penyebab lenyapnya peradaban tadi hingga kini masih dibuat penasaran dan tanpa adanya jawaban yang meyakinkan.

Sejarah telah mencatat bagaimana peradapan masa lalu hadir dan tenggelam silih berganti,

Peradaban Lembah Indus

Peradaban yang muncul di tahun 3300 sebelum masehi ini terkenal akan sistem drainase majunya. Sisa-sisa peradaban Lembah Indus bisa kita lihat di kawasan Pakistan, sekitar sungai Gangga di India, hingga dekat Laut Arab.

Tidak hanya sistem drainase, bangsa Indus juga dikenal sebagai pembangun kota yang terstruktur dan terorganisasi. Tembok dan rumah-rumah dibangun kokoh dan rapi tidak kalah dengan pembangunan saat ini.

Sayangnya, berdasarkan jurnal ilmiah yang dipublikasikan tahun 2012, peradaban Indus tiba-tiba menghilang sekitar 1600 tahun sebelum masehi. Pemukiman maju lembah Indus berubah menjadi kota mati setelah ditinggal penghuninya.

Teori yang diajukan ilmuwan adalah perubahan iklim di mana hujan turun, penyebab kekeringan dan berangkat. Tetapi, teori ini belum terbukti sampai saat ini.

Peradaban Rapa Nui

Berbicara soal Pulau Paskah di Chili, tentu tidak lepas dari keberadaan Patung raksasa ‘Moai’. Namun, yang tidak kalah menarik adalah tepat bangsa Rapa Nui, warga asli pulau Paskah.

Saat bangsa Eropa datang ke pulau tersebut tahun 1722, mereka hanya menemukan sekitar 3000 penduduk saja. Padahal untuk membangun ratusan patung Moai di pulau itu, diperkirakan butuh 30.000 orang.

Tentu saja tepat 90 persen peradaban Rapa Nui Pulau Paskah menimbulkan pertanyaan yang besar. Ilmuwan memprediksi bangsa Rapa Nui berlebihan mengeksploitasi alam di Pulau Paskah demi membangun patung Moai.

Saat sumber daya alam menipis, terutama pepohonan, bangsa Rapa Nui diklaim melakukan ‘transmigrasi’ besar-besaran dan keluar dari pulau itu. Benar atau tidaknya teori ini masih menjadi harapan.

Peradaban Maya

Bangsa Maya diketahui pertama kali muncul 1800 sebelum masehi, atau 3816 tahun lalu. Mereka adalah bangsa yang hidup dari pertanian yang wilayah semenanjung Yucatan di Guatemala, Belize, Meksiko, serta Honduras.

Tapi, peradaban Maya dilaporkan lenyap secara tiba-tiba. Ketika itu, di tahun 1517, bangsa Spanyol berlayar ke Amerika Tengah menghancurkan peradaban yang terkenal akan ritual kematiannya itu. Akan tetapi, saat mereka tiba di sana, bangsa Maya telah hilang.

Mencapai masa keemasan sekitar tahun 900 masehi, satu per satu kota besar bangsa Maya secara misterius ditanggalkan setelahnya. Padahal, awalnya satu kota besar bisa dihuni sampai 2 juta orang.

Kota-kota besar seperti Chichen Itza, Uxmal, dan Mayapan tidak diketahui tetap ada hingga tahun 1500 Masehi. Namun sekali lagi, saat bangsa Spanyol datang di tahun 1517, semua kota Maya sudah tertutup rimbunnya hutan.

Peradaban Gobekli Tepe

Bagi Anda yang masih asing dengan peradaban ini, Gobekli Tepe adalah sebuah kuil zaman batu yang dibangun 9500-9000 sebelum masehi di pegunungan Anatolia Tenggara, Turki.

Gobekli Tepe sebagai kuil tertua di Bumi dan di bangun oleh bangsa Swiderian. Bangsa yang pertama kali muncul tahun 10.900 tahun sebelum masehi ini adalah penduduk Eropa pertama yang hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan.

Menariknya, ilmuwan tidak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan lain di sekitar Gobekli Tepe. Bahkan, kuil itu seakan-akan sengaja dikubur oleh puluhan, mungkin ratusan orang yang membangunnya.

Mengingat Gobekli Tepe sudah berumur 11.000 tahun lebih, ilmuwan sangat penasaran mengapa bangsa Swiderian meninggalkan kuil itu dan begitu saja.

Peradaban Olmec

Bangsa Olmec yang terbentuk tahun 1200 sebelum masehi di kawasan Meksiko adalah peradaban tertua di benua Amerika, hingga akhirnya mempengaruhi suku Maya dan Aztec.

Peradaban Olmec juga sudah menyembah dewa sebelum bangsa Maya, bahkan menjalankan ritual persembahan manusia pada dewa. Beberapa dewa Olmec yang diketahui adalah naga, burung raksasa, monster ikan, dan dewa air.

Bangsa Olmec juga terkenal akan karya ukiran mereka, misalnya patung kepala raksasa dan ukiran batu giok. Kekayaan budaya membuat Olmec kerap dikatakan ‘ibu’ kebudayaan peradaban Amerika kuno.

Peradaban ini mulai menghilang dalam waktu singkat di tahun 400 sebelum masehi. Pusat-pusat pemerintahan Olmec yang ada di kota La Venta dan San Lorenzo disebut ilmuwan sudah sepi penghuni saat itu sebelum akhirnya benar-benar lenyap.

Tidak ada yang tahu alasan pasti laporan bangsa Olmec. Ilmuwan hanya bisa memprediksi kalau kelenyapannya berdasar soal iklim atau konflik tak berkesudahan.

Peradaban atau tamadun memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan perkembangan suatu bangsa. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, teknologi, kekuatan militer dan juga tinggkat kekuasaan untuk menggendalikan bangsa lainnya. Anggota-anggota dalam peradaban suatu bangsa tersusun atas beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hierarki sosial, ekonomi dan juga kekuatan kekuasaan.

Ibnu Khaldun hidup pada masa (1332-1406 M), Dia mengartikan sejarah dalam kitabnya yang fenomenal Muqaddimah sebagai “catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia”.

Ibnu Khaldun mempelajari  tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada watak masyarakat itu seperti kelahiran, keramah-tamahan, dan solidaritas golongan, tentang revolusi dan pemberontakan oleh segolongan rakyat melawan golongan lain. Dan sebagai akibatnya, kemudian  timbul kerajaan-kerajaan dan negara dengan tingkatan bermacam kegiatan dan kedudukan orang. Baik itu untuk mencapai kemajuan kehidupannya, berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan umumnya tentang segala macam perubahan yang terjadi di dalam masyarakat karena watak masyarakat itu sendiri.

Sebagai seorang sejarawan konsep-konsep sejarah pun bermunculan dari penjelasan Ibnu Khaldun tersebut, mulai dari “umat manusia”, “peradaban”, “watak masyarakat”, “solidaritas golongan” (ashobiyah), “revolusi”, “pemberontakan”, “kerajaan”, “negara”, “tingkatan dalam masyarakat”, “ilmu pengetahuan dan keterampilan”, “kemajuan” hingga “perubahan” atau “proses”.” Ilmu sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah ilmu yang sangat urgen bagi umat manusia di samping sangat digemari berbagai kalangan.

Bagi Ibnu Khaldun, sejarah terbangun dari dua sisi, sisi luar (material, lahiriah) dan sisi dalam (sisi batiniah, filosofinya). Sisi luarnya sejarah menjelaskan kondisi tentang makhluk Tuhan (umat manusia), menguraikan hal ihwalnya, perluasan wilayah dan perputaran kekuasaan di berbagai negeri.

Sisi dalam, atau bisa juga dikatakan sisi batiniah sejarah merupakan tinjauan, kajian, dan analisis tentang berbagai kejadian dan elemen-elemennya, ilmu yang mendalami tentang berbagai peristiwa dan sebab-akibatnya, serta pula filsafat moralnya.

Dengan demikian, Ibnu Khaldun termasuk sejarawan yang mensyaratkan tinjauan peristiwa, analisis, pola-pola dan sebab-akibatnya sebagai syarat ilmu dan penulisan sejarah. Menarik disimak bahwa mayoritas sejarawan Muslim, termasuk Ibnu Khaldun mempercayai bahwa filsafat moral (tentu saja yang berlandaskan Islam) adalah bukan hanya sekedar unsur belaka, tetapi juga dianggap “ruh” sejarah.

Maka, hal tersebut mengingatkan pada pemikiran George Frederick Hegel, filsuf idealisme Jerman, yang membagi sejarah ke dalam tiga jenis: sejarah asli, sejarah reflektif dan sejarah filsafati. Ibnu Khaldun ditinjau darisisi “dalam” sejarahnya memiliki kemiripan dengan sejarah reflektifnya Hegel, di mana cara penyajian sejarah tidak dibatasi oleh waktu peristiwa sejarah yang ditulis sejarawan, tetapi ruhnya melampaui masa kini dan masa lalu. Sebagai contoh yang umum bagi kita,adalah penulisan sejarah yang dihubung-hubungkan dengan rasa nasionalisme, persatuan Indonesia, atau dengan “spirit Islam”.

Sejarah jenis ini selalu dihubung-hubungkan dengan spirit atau ruh yang bisa dipetik generasi masa kini tanpa selalu terkait dengan waktu peristiwa sejarahnya sendiri. Misalnya dalam buku Menemukan Sejarah dan Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, dari beberapa aspek, kedua buku tersebut bisa mencontohkan sisi “dalam” sejarah, atau sejarah reflektif.

Sama halnya dengan Ibnu Khaldun, saya teringat Goldwin Smith, sejarawan dari Universitas Oxford di abad 19 dalam bukunya The Study of History: Two Lectures mengakui bahwa filsafat moral -sebagai sisi “dalam” sejarah- merupakan suatu kesatuan dengan sejarah. Smith menyatakan dengan untaian kata yang bernuansa slogan, “Sejarah adalah sebuah rangkaian fakta belaka tanpa filsafat moral, dan tanpa sejarah, filsafat moral cenderung menjadi mimpi belaka.”

Dari sisi “luar” atau lahiriyah sejarah, Ibnu Khaldun memiliki gagasan yang kemudian dikenal sebagai scientific history (sejarah ilmiah) setidak-tidaknya dengan empat tahapan, pertama, untuk membangun rekonstruksi penulisan sejarah terlebih dahulu diungkapkan metode kritik sejarah yang menjadi landasan pemikiran sejarahnya.

Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan sejarawan terdahulu, Ibnu Khaldun akhirnya dapat merumuskan pemikiran sejarahnya sendiri; Kedua, membuang hal-hal yang dianggap tidak diterima nalar (rasio); ketiga, objektivitas sejarah, dan terakhir (keempat), pendekatan empiris pada sejarah (historical empiricism approachment).

Menurut Muhammad Enan dalam Ibnu Khaldun: His Life and Works penulisan sejarah Ibnu Khaldun didasarkan oleh dua motif yakni semangat ilmiah dan kenegarawanannya, serta argumennya dalam sejarah menggambarkan pelepasan dari belenggu tradisi ilmiah sebelumnya.

Sehingga sering dikatakan Ibnu Khaldun menciptakan bentuk baru ilmu sejarah menjadi sejarah ilmiah (Scientific History), ini merupakan suatu terobosan ilmiah yang belum ada di masa itu, sebagaimana yang diutarakan Muhammad Syafi’i Ma’arif dalam Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur. Di Eropa, usaha-usaha untuk menjadikan sejarah sebagai “suatu disiplin yang ilmiah” baru dipopulerkan abad 19 oleh sejarawan Jerman, Leopold von Ranke.

Terkait dengan konsep “perubahan” dan “proses” sebagai konsep sejarah yang paling utama, di mana kedua konsep tersebut dianggap paling utama oleh sejarawan dan filsuf Barat di abad 19 dan abad 20, sekalipun dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda. Semua pakar Barat yang mainstream meyakini bahwa-meminjam ungkapan Ankersmith di buku Refleksi Tentang Sejarah- “pada hakikatnya sejarah merupakan suatu proses kemajuan.”

Di antara pakar yang berpendapat demikian ialah sejarawan terkemuka Jerman,Johann Gustav Droysen dalam bukunyaOutline of the Principles of History,lalu George Frederick Hegel, Karl Marx, Oswald Spaengler, Goldwin Smith hingga Auguste Comte. Johann Gustav Droysen bahkan mengatakan, “History is humanity becoming and being conscious concerning itself.” Sejarah bermakna “menjadi” atau berproses untuk menjadi.

Hingga kini “perubahan” dan “proses” dianggap sebagai unsur utama sejarah. Masih dengan ungkapan Droysen,“ setiap hal di masa sekarang merupakan salah satu yang telah datang untuk menjadi,” begitu pula seterusnya. William P. Atkinson dalam On History and the Study of History menyatakan lebih jauh bahwa sejarah adalah kisah bangkit dan pertumbuhan masyarakat manusia, dan masyarakat terbentuk dari hubungan; Jika manusia bukan makhluk sosialia tidak punya sejarah.

Ibnu Khaldun tentu juga meyakini bahwa kehidupan manusia akan selalu mengalami proses dan perubahan. Ini adalah sebuah sunnatullah, di mana bukan hanya orang Muslim saja yang percaya tapi juga kepercayaan yang diterima semua keyakinan, ideologi dan agama. Hanya saja umat Islam memahami itu semua dari tuntunan wahyu ilahi kitab suci Al-Qur’an, bahwa sejak awal kehidupan manusia hingga hari kiamat senantiasa terjadi siklus masa kejayaan dan kehancuran dari berbagai masyarakat, umat maupun peradaban yang ada. Firman Allah SWT:
 
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antaramanusia…(QS Ali Imran:140).

Rasanya Ibnu Khaldun pun terinspirasi oleh ayat ini, di mana ayat yang membahas tentang Perang Uhud ini jika ditinjau secara keumuman lafazh maka bermakna senantiasa akan terjadi jatuh-bangun, kejayaan-kehancuran, maju-mundur hingga jatuh-bangunnya peradaban-peradaban manusia.

Uni Soviet yang merupakan peradaban terkuat dengan ideologi komunisnya sejak memenangi Perang Dunia II (1939-1945), mulai tahun 1980-an merosot drastis hingga benar-benar runtuh memasuki tahun 1990. Begitu juga Amerika Serikat yang sejak memasuki abad 20 merupakan ‘pemimpin’ peradaban Barat (menggantikan Inggris) dan kokoh sebagai pemuncak peradaban bahkan jauh lebih lama dari Uni Soviet (rival Amerika Serikat) menurut “hukum sejarah” dari Al-Qur’an maupun yang populer dikemukakan Ibnu Khaldun, pasti juga akan runtuh.

Hal itu dibenarkan oleh Samuel Huntington dalam buku masterpiecenya The Clash of Civilization, di mana ia mengungkap di banding tahun 1920-an, Barat termasuk Amerika Serikat jauh mengalami kemerosotan. Faktanya memang demikian, negeri-negeri seperti China, Korea Selatan, Afghanistan, Iraq hingga yang paling baru ‘komunitas’ jihad Suriah belakangan ini mampu merepotkan negara adidaya nomor wahid tersebut.

Sampai-sampai Huntington berpendapat agar Amerika Serikat dan Barat ingin tetap menjadi ‘pemimpin’ peradaban-peradaban dunia, maka solusinya adalah dengan menghentikan laju dan gerak peradaban yang sedang tumbuh seperti peradaban Islam dan China, dengan cara apa pun.

Dalam teorisiklus sejarah Ibnu Khaldun pun dijelaskan adanya siklus atau fase-fase, di mana peradaban lahir, tumbuh, berkembang hingga mencapai puncak kejayaannya, kemudian mengalami kemunduran,hingga akhirnya mengalami keruntuhan sama sekali.

Menurut Tarif Khalidi dalam buku Classical Arab Islam: The Culture and Heritage of the Golden Age “Ilmu umran” (peradaban dan masyarakat) dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun bisa dikatakan sebuah science of social biology atau biology of civilization.

Ibnu Khaldun sendiri jelas menyatakan di bukunya bahwa peradaban umat manusia adalah sesuatu yang bergerak dan berproses layaknya makhluk hidup. Dalam kehidupan biologis adafase-fase kehidupan yang harus dilaui, dari mulai lahir, tumbuh berkembang menjadi anak-anak, remaja hingga dewasa, kemudian mengalami proses penuaan dan akhirnya meninggal dunia. Masa kejayaan dan keruntuhan suatu peradaban berada dalam proses dialektis, berbenturan antar suatu peradaban menetap yang disebut hadharah dan peradaban yang nomaden atau ‘bar-bar’ yan disebut badawah.

Peradaban yang dikenal dalam pemahaman modern adalah hadharah, namun menurut Ibnu Khaldun peradaban semacam ini memiliki kelemahan yang pasti, yaitu selalu berproses dan berubah ke arah keruntuhan ketika sudah mencapai fase tenang, bermegah-megahan serta bermewah-mewahan.

Fase di mana sebuah peradaban telah memuncak, materi berkelimpahan di mana-mana, baik dari penarikan pajak, hasil bumi negara dan lain-lainnya. Selain merusak jiwa manusia, kemewahan dan kemegahan merusak pula ashabiyah, ikatan fanatisme antar sesama manusia di dalam sebuah peradaban, padahal ikatan fanatisme peradaban adalah penopang peradaban itu sendiri. Kultur hadharah pasti bergerak dan berubah ke arah kemewahan dan kemegahan.

Kehidupan bermewah-mewahan serta bermegahan pasti membawa kehancuran, begitulah satu dari logika Ibnu Khaldun yang terkenal. Ia sendiri mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an
Bilamana Kami berkehendak menghancurkan sebuah kota (peradaban), Kami suruh (jadikan) orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan dan melampaui batas, tetapi mereka durhaka, maka pantaslah mereka menerima adzab kemudian Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.”(QS 17:16)

                                                           

Rupa-rupanya Ibnu Khaldun meyakini bahwa sumber kerusakan moral serta kehancuran peradaban berawal dari kesombongan, bermewah-mewahan dan bermegah-megahan. Tidak ada satupun peradaban yang selamat dari ‘penyakit’ semacam ini, tak terkecuali peradaban Islam di masa belakangan. Dari sinilah nampak solusi dari Ibnu Khaldun, peradaban ‘hadharah’ dengan segala kekuasaan dan kejayaannya wajib diatur dan dilandasi syariah Allah, terus-menerus. Kerangka sisi “dalam” sejarah Ibnu Khaldun berujung kepada keharusannya bermoral (beradab) dan menegakan syariah.

Oleh sebab itu jika ada suara-suara dari sebagian intelektual yang menganggap Ibnu Khaldun adalah sejarawan “sekular” Muslim, maka hal tersebut keliru. Dalam perjalanan sejarah berbagai peradaban besar, pendapat Ibnu Khaldun sulit untuk dibantah karena peradaban-peradaban besar merosot dan jatuh utamanya karena kecongkakan, bermegah-megahan dan bermewahan. Sebagian sejarawan dan pakar dunia Barat seperti Spengler dan Huntington sendiri mempercayai bahwa peradaban yang meyakini ia berada di puncak kejayaan dan kedigdayaan sesungguhnya telah berada dalam kemerosotan dan kejatuhannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Jika kalian telah sibuk dengan dirham dan dinar, berjual beli ‘inah (mengandung riba), mengikut ekor sapi (sibuk bertani), dan meninggalkan jihad, Allah akan memasukan kalian ke dalam kehinaan, Dia tak akan memperdulikan kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Sabda lain beliau SAW “kalian dihinggapi penyakit Al-Wahn, yaitu kecintaan pada dunia dan takut mati (dalam memperjuangkan Islam)” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Nampaknya hadits ini membuat kita percaya bahwa teori perihal kemerosotan dan kejatuhan sebuah peradaban (termasuk peradaban Islam) dari Ibnu Khaldun adalah benar.#

Wali Allah, Siapa yang dimaksud?

Siapakah wali Allah itu? Apa dan siapa sebenarnya yang dimaksud wali allah.? 

Sesungguhnya ada perbedaan persepsi antara apa yang Al Quran jelaskan dan pandangan kebanyakan masyarakat Muslim di negara kita tentang kriteria wali Allah. Secara prinsip Islam menganggap, wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah sehingga selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS  Yunus [10]: 62-64).

Ibnu Katsir mengatakan, pada ayat tersebut di atas Allah menjelaskan bahwa wali-wali-Nya adalah mereka yang beriman dan selalu bertakwa. Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah yang tidak mempunyai kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari kiamat nanti dan tidak pula bersedih akan apa yang mereka tinggalkan di dunia ini.

Sedangkan, kriteria wali Allah yang berkembang dalam masyarakat lebih ditekankan pada aspek karomah yang ada pada diri orang yang dianggap wali Allah tersebut seperti berjalan di atas air, shalat di atas angin, bisa membaca pikiran orang, menyampaikan ramalan ramalan akan masa depan atau kesaktian-kesaktian lainnya. Kesimpulannya, mereka yang mempunyai kesaktian-kesaktian itulah yang dianggap sebagai wali.

Padahal, kesaktian-kesaktian itu bisa juga dilakukan dan diperlihatkan oleh dukun, paranormal, atau tukang sihir. Dalam Islam, ada atau tidaknya karomah dalam diri seseorang bukanlah menjadi ukuran bagi seseorang dianggap sebagai wali Allah atau bukan. Ukurannya adalah kokohnya tauhid, keimanan di dalam hati dan ketakwaan yang terpancar dalam ibadahnya serta akhlak dan muamalah kepada sesamanya.

Para sahabat Nabi Muhammad  tidak pernah memanggil ahli ibadah di antara mereka dengan sebutan wali atau auliya Allah. Rasyid Ridha menegaskan, tidak pantas bagi seorang Muslim meyakini secara pasti bahwa seseorang yang telah meninggal itu sebagai wali Allah yang diridai-Nya dan akan mendapatkan yang dijanjikan Allah kepada auliya-Nya.

Sebab, hal itu merupakan sikap melampaui batas dalam hal ilmu gaib dan tergolong mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan. Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa akhir hidup seseorang tidak ada yang mengetahuinya dan kita tidak boleh memastikan seseorang mati dalam keimanan dan akan mendapatkan surga Allah kecuali ada nash dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita hanya berbaik sangka kepada semua orang beriman dan orang yang kita lihat keistiqamahannya dalam beragama. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan hal tersebut. Ada seorang perempuan bernama Ummul A’la, seorang perempuan Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah, berkisah bahwa pada saat itu dilakukan undian untuk melayani para Muhajirin.

Menurut Ummul A’la, ia mendapati Utsman bin Mazh’un yang kemudian tinggal di rumahnya. Sayangnya, Utsman jatuh sakit yang menyebabkan kematiannya. Di hari kematiannya, setelah dimandikan lalu dikafani, Rasulullah masuk dan Ummul A’la mengatakan, “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Mazh’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Rasulullah bersabda, “Dari mana kamu tahu Allah telah memuliakannya?” Ia menjawab, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu, siapa yang Allah muliakan?” Rasul menjawab, “Adapun dia, telah datang kematiannya. Demi Allah berharap kebaikan untuknya. Demi Allah aku sendiri tidak tahu-padahal aku ini adalah utusan Allah-apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”Ummul ‘Ala mengatakan, “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” (HR Bukhari).

Apa dan bagaimana Hadits Yang Paling Mulia Tentang Sifat-Sifat Wali-Wali Allah HADITS YANG PALING MULIA TENTANG SIFAT-SIFAT WALI-WALI AllAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’

Kelengkapan hadits ini adalah:  “Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu  yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248,

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya penolong (wali)mu hanyalah Allâh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allâh). Dan barangsiapa menjadikan Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allâh itulah yang menang.” [al-Mâidah/5:55-56]

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sifat kekasih-kekasih-Nya yang Allâh Azza wa Jalla  cintai dan mereka mencintai-Nya yaitu rendah hati terhadap kaum mukminin dan tegas terhadap orang-orang kafir. Ketahuilah, bahwa segala bentuk kemaksiatan adalah bentuk memerangi Allâh Azza wa Jalla , semakin jelek perbuatan dosa yang dikerjakan, semakin keras pula permusuhannya terhadap Allâh. Karena itulah Allâh  menamakan pemakan riba[3] dan perampok[4] sebagai orang-orang yang memerangi Allâh dan Rasul-Nya. Karena besarnya kezhaliman mereka kepada hamba-hamba-Nya serta usaha mereka mengadakan kerusakan di bumi. Demikian pula orang yang memusuhi  para wali Allâh Azza wa Jalla . Mereka itu telah memusuhi Allâh dan telah memerangi-Nya.[5]


Sifat dan ciri-ciri wali-wali Allâh Azza wa Jalla Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sifat  para wali-Nya. Pertama, mereka memiliki iman yang jujur; Dan kedua, mereka bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : … Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan dimanapun mereka…[6]


Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Maksud wali Allâh adalah orang yang mengenal Allâh, selalu mentaati-Nya dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.”[7]

Pintu ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi wali Allâh. Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa para wali Allâh itu bertingkat-tingkat. Allâh berfirman, yang artinya,
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” [Fâthir/35:32]

Tingkatan-tingkat itu adalah : Pertama, orang yang menzhalimi diri sendiri. Mereka adalah pelaku dosa-dosa. Ibnu Katsir t berkata, ”Mereka yang melalaikan sebagian hal-hal yang wajib dan melakukan sebagian perbuatan haram.”
Kedua, orang yang pertengahan. Mereka yang melaksanakan hal-hal yang wajib, menjauhi yang haram, namun mereka meninggalkan yang sunat dan terjatuh pada yang makruh.
Ketiga, orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, mereka selalu melaksanakan yang wajib dan yang sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh.

Adapun wali Allâh yang paling utama adalah para Nabi dan Rasul ’Alaihimus shalatu wassalam. Dan setelah mereka adalah para sahabat Radhiyallahu anhum.
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allâh, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allâh dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allâh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” [al-Fath/48:29]

Para sahabat Radhiyallahu anhum merupakan contoh yang agung dalam mewujudkan perwalian kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa ingin meraih ridha Allâh, maka hendaknya dia menempuh jalan mereka.

Wali-wali Allâh mereka tidak memiliki ciri-ciri yang khusus. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Para wali Allâh tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dan manusia umumnya dalam perkara yang mubah. Mereka tidak berbeda dalam hal pakaian, menggundul rambut atau memendekkannya, karena keduanya perkara yang mubah. Sebagaimana dikatakan, betapa banyak orang yang jujur memakai pakaian biasa, dan betapa banyak zindiq yang memakai pakaian bagus.”[8] Para wali Allâh tidak ma’shûm (terjaga dari dosa). Mereka manusia biasa terkadang salah, keliru, dan berbuat dosa.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabbnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik, agar Allâh menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” [az-Zumar/39:33-35]

Ayat ini memberi gambaran tentang wali-wali Allâh, yaitu Allâh akan memberi pahala yang lebih baik dari amalan mereka. Ini merupakan balasan atas taubat mereka dari perbuatan dosa. Ayat ini juga menetapkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul, terkadang berlaku salah dan dosa. Diantara dalil yang menguatkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul yaitu para sahabat jatuh dalam kesalahan adalah terjadinya peperangan diantara mereka dan juga ijtihad-ijtihad mereka yang terkadang keliru. Dan ini sudah diketahui oleh mereka yang sering membaca perkataan-perkataan para sahabat dalam kitab-kitab fiqih  dan yang lainnya.[9] Meski demikian, kita tidak boleh mencela mereka, bahkan kita dianjurkan untuk mendo’akan kebaikan untuk mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa, ’Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-ssaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha penyantun, Maha penyayang.” [al-Hasyr/59:10]

Para shahabat adalah orang-orang yang dijanjikan ampunan oleh Allâh Ta’ala dan dijanjikan Surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fath ayat 29. Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan hal-hal yang Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”

Setelah Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa memusuhi  para wali-Nya berarti memerangi-Nya, selanjutnya Allâh menjelaskan sifat para wali-Nya. Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan apa yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada-Nya. Wali-wali Allâh ialah orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Sebaliknya, musuh-musuh Allâh ialah orang-orang yang dijauhkan dan terusir dari rahmat Allâh Azza wa Jalla sebagai akibat amal perbuatan mereka.

Allâh Azza wa Jalla membagi  para wali-Nya menjadi dua kelompok : Pertama, yang mendekatkan diri dengan melaksanakan hal-hal wajib.  Ini mencakup melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan, sebab semuanya itu termasuk melaksanakan yang diwajibkan oleh Allâh kepada para hamba-Nya.
Kedua, yang mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunat setelah amalan-amalan wajib. Dengan jelas bahwa tidak ada bisa mendekatkan kepada Allâh, menjadi wali-Nya, dan meraih kecintaan-Nya kecuali dengan menjalankan ketaatan yang disyari’atkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya.

Jika ada yang mengklaim dirinya meraih derajat wali dan dicintai Allâh Azza wa Jalla  tetapi tidak jalan ini, maka jelas ia dusta. Seperti kaum musyrik yang mendekatkan diri kepada Allâh dengan cara menyembah tuhan-tuhan selain Allâh. Seperti dikisahkan Allâh Azza wa Jalla tentang mereka, yang artinya, “…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ”Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya…” [az-Zumar/39:3]

Dan Allâh mengisahkan tentang orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mengklaim mereka anak-anak dan kekasih[10] Allâh Azza wa Jalla , padahal mereka terus-menerus mendustakan para rasul, mengerjakan larangan-Nya serta meninggalkan kewajiban. Oleh karena itu dalam  hadits di atas, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa wali-wali Allah itu terbagi dalam dua tingkatan :

Pertama, tingkatan orang-orang yang mendekatkan diri dengan mengerjakan hal-hal yang wajib. Ini tingkatan al-muqtashidîn (pertengahan) atau golongan kanan. Mengerjakan amalan fadhu adalah amalan terbaik. Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu mengatakan, ”Sebaik-baik amal ialah menunaikan apa saja yang diwajibkan Allâh Azza wa Jalla .” ’Umar bin ’Abdul ’Aziz Radhiyallahu anhuma berkata dalam khutbahnya, ”Ibadah yang paling baik ialah menunaikan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.”[11] Karena tujuan Allâh Azza wa Jalla mewajibkan berbagai kewajiban ini supaya para hamba bisa mendekatkan diri kepada-Nya dan agar mereka bisa meraih ridha dan rahmat Allâh Azza wa Jalla .

Kedua, tingkatan orang-orang yang berlomba-lomba (dalam kebaikan), yaitu orang-orang yang mendekat diri dengan ibadah-ibadah wajib kemudian bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari yang makruh dan bersikap wara’ (takwa). Sikap itu menyebabkan seseorang dicintai Allâh, seperti difirmankan Allâh, “Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” Dan barangsiapa dicintai Allâh, maka Allâh akan anugerahkan rasa cinta kepada-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya.

Itu semua menyebabkannya semakin dekat dengan Allâh dan terhormat di sisi-Nya seperti difirmankan Allâh Azza wa Jalla : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allâh mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [al-Mâidah/5:54]

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa orang yang tidak cinta dan tidak berusaha mendekat kepada Allâh, maka Allâh tidak akan memperdulikannya dan tidak akan memberikannya anugrah yang agung ituyaitu rasa cinta. Jadi, orang yang berpaling dari Allâh, ia tidak akan mendapatkan ganti Allâh untuk dirinya sedang Allâh Azza wa Jalla mempunyai banyak pengganti untuknya. Barangsiapa meninggalkan Allâh Azza wa Jalla , maka ia tetap merugi. Bagaimana tidak, karena ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari dunia, padahal dunia dan seisinya disisi Allâh Azza wa Jalla tidak lebih berharga dari satu helai sayap seekor nyamuk.

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, Allâh berfirman dalam  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,”Dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir,” maksudnya, mereka bergaul dengan kaum mukminin dengan rendah hati dan tawadhu’, dan mereka memperlakukan orang-orang kafir dengan sikap keras. Karena ketika mereka sudah mencintai Allâh, maka tentu mereka juga mencintai  para wali Allâh sehingga  mereka bergaul dengan para wali Allâh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka juga membenci musuh-musuh Allâh yang memusuhi-Nya lalu memperlakukan dengan sikap keras.

Allâh berfirman : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ  Muhammad adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka…” [al-Fath/48:29]

Kesempurnaan cinta seseorang kepada Allâh dibuktikan dengan memerangi musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla . Jihad juga merupakan wahana untuk mengajak orang-orang yang berpaling dari Allâh agar kembali setelah sebelumnya didakwahi dengan hujjah dan petunjuk. Jadi, para wali Allâh itu ingin membimbing manusia menuju pintu Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa tidak merespon dakwah dengan sikap lemah lembut, ia perlu diajak dengan sikap keras.

Disebutkan dalam hadits, عَجِبَ اللهُ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُوْنَ إِلَـى الْـجَنَّةِ فِـيْ السَّلَاسِلِ Allâh merasa heran kepada kaum yang dituntun ke surga dalam keadaan dibelenggu.[12]

Diantara sifat wali  Allâh yang disebutkan dalam firman-Nya  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,“Dan yang tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela,” maksudnya, orang-orang yang mencintai Allâh hanya menginginkan ridhai-Nya. Ia ridha kepada siapa saja yang Allah ridhai dan benci kepada siapa saja yang Dia benci. Jadi, orang yang masih takut celaan dalam mencintai pihak yang dicintainya, berarti cintanya tidak benar.

Selanjutnya dalam firman-Nya al-Maidah/5:54 tersebut,
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Itulah karunia Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” Karunia maksudnya ialah derajat kewalian dengan sifat-sifat yang telah disebutkan.#

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Simpul Islam Terlepas , mengapa bisa terjadi.? apa penyebabnya.?

Simpul Islam Terlepas! “, Dalam sebuah hadits rosulullah menyampaikan “Sungguh, simpul-simpul Islam akan di lepaskan satu demi satu, setiap kali satu simpul terlepas, orang-orang ber-gantung pada simpul berikutnya. Yang pertama terlepas adalah al-hukm (Pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah sholat.” (Imam Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini) 

Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini menyatakan bahwa hadits tersebut seluruh isnadnya shohih. Hadits tersebut juga di riwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman, Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu’jam al-kabir, dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Imam Ahmad.

Adapun Imam Ahmad menukil hadits di atas berturut-turut dari Walid bin Muslim, dari Abdul Aziz bin Ismail bin Ubaidillah, dari Sulaiman bin Habib, dari Abu Umamah al-bahili, dari Rasulullah saw. Selain itu, Muhammad bin Nusr bin al-Hajjaj al-Muruzi dalam kitab Taqdir Qadr ash-shalah, al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawa’id, dan al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir juga menilai hadits di atas adalah hadits yang tidak di ragukan lagi tentang keshahihannya. Karena itu, hadits di atas hadits yang dapat di terima terkait dengan berita yang di sampaikan. Sebab berdasarkan riwayatnya adalah shohih dan di rayahnya tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

Simpul Islam yang pertama kali lepas adalah rusaknya hukum (pemerintahan) dan penguasanya

Terkait dengan simpul-simpul islam tersebut Imam al-hakim dalam kitab al-Mustadrak ‘ala shahihaini juga mengeluarkan beberapa hadits yang lain, di antaranya : “Sungguh, simpul-simpul Islam akan di lepaskan satu demi satu, (pada saat itu) akan ada para pemimpin yang tersesat, dan sungguh keluarlah dajjal yang ketiga pada masa itu.” Imam Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya menilai bahwa hadits tersebut merupakan berita tentang simpul Islam yang pertama kali terlepas adalah dari sisi rusaknya hukum (pemerintahan) dan penguasanya.

Sedangkan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihhya menyatakan tentang terlepasnya simpul-simpul Islam dan terpecah belahnya jama’ah (kesatuan) umat Islam. Sehingga, berita tentang terlepasnya simpul-simpul Islam sangat erat kaitannya dengan sistem pemerintahan, para penguasa, dan hukum-hukum yang di terapkan. Karena ketiganya merupakan penjaga kesatuan umat dan pelaksanaan ajaran Islam agar bisa di terapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Imam Ibnu Mandzur dalam kitab lisan al-Arabmenyatakan bahwa ‘ura adalah jamak dari ‘urwah. Sedangkan kata ‘urwah sendiri secara bahasa memiliki beberapa makna antara lainalwutsqa (perjanjian) atau tamassuk (pegangan). Al-Minawi dalam kitab Faidh al-Qadir menyatakan bahwa ‘ura islam adalah gaya majaz isti’arah yang di gunakan untuk menyebut perkara agama berupa cabang-cabang Islam yang di jadikan pegangan dan tempat untuk bergantung.

Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu’bul Iman menyebutkan yang di maksud ‘urwah adalah hal-hal yang menjadi pegangan dalam menjaga agama, hukum-hukum, serta syari’at-syari’atnya. Demikian pula penjelasan Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab shohihnya. Beliau menjelaskan bahwa ‘ural Islam adalah hudud, ahkam, dan beberapa perkara yang berkaitan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, simpul-simpul Islam adalah ajaran-ajaran Islam itu sendiri, di mana ajarannya meliputi berbagai perkara; baik aspek pemerintahan yang menjalankan hukum atau aspek ibadah ritual seperti pelaksanaan ibadah sholat.

Simpul Islam yang terpenting adalah Aspek pemerintahan dimana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari islam

Sistem pemerintahan islam

Oleh sebab itu, aspek pemerintahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari islam seperti halnya sholat. Hadits ini telah menggugurkan pendapat orang bahwa pemerintahan adalah urusan dunia yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ajaran islam.

Justru sebaliknya, hadits di atas menyatakan bahwa salah satu simpul ajaran islam yang mesti di pegang adalah sistem pemerintahan yang menjalankan seluruh hukum-hukum Islam.

Karena itu pula, memisahkan pemerintahan dari islam sama artinya dengan membuang salah satu simpul islam. Realitas telah menunjukkan, ketika pemerintahan islam yakni khilafah di Turki berhasil di runtuhkan oleh Inggris dan anteknya Mushafa kemal at-tartuk. Ketika itu banyak sekali hukum-hukum islam yang harusnya di terapkan, di abaikan begitu saja, bahkan hilang dari ruang publik pengaturan masyarakat. Hingga sekarang, hanya tersisa pada sektor privat yang tercermin pada ritual ibadah, unsur akhlak, dan pernikahan semata.

Dalam hadits di atas mengabarkan bahwa ‘ura islam itu akan di urai satu persatu. Ungkapan dalam bentuk fasif (bina majhul) menunjukkan bahwa terurainya ‘ural islam itu tidak terjadi dengan sendirinya. Tetapi di urai atau dirusak, bahkan dihancurkan oleh orang yang tidak suka terhadap ajaran-ajaran Islam. Sehingga, umat Islam terperdaya dan mengikuti jejak langkah mereka. Bahkan, mereka mampu untuk memperalat umat islam untuk menghancurkan ajaran-ajarannya sendiri.

Simpul Islam terlepas karena Rusaknya sistem Hukum

Kalimat al-hukm yang menjadi kalimat pertama dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa al-hukm menjadi fokus pertama atau sasaran utama untuk dihancurkan. Jika al-hukm berhasil di urai atau di rusak maka itu menjadi pembuka bagi terurainya simpul-simpul islam yang lain. Hingga perkara terakhir yang menjadi benteng umat Islam yang berkaitan dengan ibadah sholat pun, di abaikan dan di sepelekan pelaksanaannya. Padahal, bila masih ada sistem pemerintahan Islam, umat Islam yang tidak melaksanakan sholat tetap terkena hukuman sebagaimana penjelasan para ulama mazhab dalam kitab-kitab mereka.

Munculnya pemahaman yang keliru berkaitan dengan hak asasi manusia seringkali menyesatkan. Seperti contoh di mana seorang ayah sekalipun tidak boleh memukul anaknya walaupun dalam urusan agar anaknya mau melaksanakan ibadah sholat. Hal ini bergesekan dengan ajaran islam. Kita tahu sebagaimana hadits Rasulullah saw. Hal ini merupakan upaya agar anak-anak umat ini memiliki pemahaman sebagaiman orang-orang yang berupaya untuk memisahkan simpul-simpul islam.

Karena itu, ‘urwah islam yang berkaitan dengan ibadah sholat serta metode menegakkannya harus tetap di jaga. Anak-anak umat ini harus di ajarkan bagaimana pentingnya melaksanakan ibadah sholat, termasuk tatacara mengerjakannya. Namun, upaya yang terakhir ini menuntut kita untuk menggalang persatuan dalam rangka mewujudkan ‘urwah al-hukm. Karena ‘urwah al-hukm akan melindungi dan melaksanakan seluruh pelaksanaan ‘ural islam. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa imam (penguasa dalam Islam) adalah junnah (perisai). Perisai yang melindungi Islam dan kaum Muslim dari berbagai penindasan, kedzholiman, dan keterjajahan sebagaimana yang kita saksikan hari ini.

Pemimpin yang tersesat dan sistem hukum yang rusak

Dengan demikian, apa yang di jelaskan oleh para ulama berkaitan terlepasnya simbol islam. Adalah karena pemimpin yang tersesat atau rusaknya penguasa serta hukum-hukum islam yang tidak di jalankan lagi. Hal ini menjadi bukti tersendiri dengan lahirnya realitas yang semakin mengkhawatirkan terkait dengan ajaran-ajaran islam.

Upaya untuk memperbaiki merupakan kewajiban utama bagi anak-anak umat ini agar Islam sebagaimana pernah di terapkan pada masa yang lalu. Islam tampil kembali sebagai komponen bangsa yang sangat di segani kawan dan ditakuti oleh lawan. Bandingkan dengan realitas institusi yang di miliki oleh umat islam pada masa ini. Sistem tatanegara yang di terapkan oleh umat Islam saat ini menimbulkan dampak perpecahannya yang cukup banyak. Sistem saat ini tidak mampu mengangkat harkat dan martabat islam dan kaum muslim dari berbagai penjajahan yang di lakukan oleh Barat dan kaum kapitalis. Bahkan anak-anak umat islam rela dan dengan senang hati menghamba pada Barat, walaupun mereka telah melecehkan keberadaan islam.

Karena itu, pernyataan bahwa ‘ural islam sangat erat kaitannya dengan terpecah belahnya kesatuan umat islam telah terlihat di depan mata. Al-hukm yang menjadi titik fokus penyerangan yang pertama kali benar-benar telah menjadikan umat islam tidak mampu lagi untuk melindungi urwah-urwah islam yang lainnya.

Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan kembali ‘urwah al-hukm, yakni sistem hukum yang menerapkan seluruh hukum-hukum Allah dan dapat melindungi umat ini dari kedzholiman. Hal ini merupakan upaya strategis untuk memperbaiki seluruh simbol-simbol islam.

Di sisi lain, penerapan seluruh hukum-hukum Allah dan kuatnya kembali persatuan umat Islam bukan dalam rangka menjajah berbagai negeri dan mendzholimi manusia sebagaimana yang telah di lakukan Barat pada umat islam. Namun, islam yang tampil dengan seluruh potensi dan seluruh kekuatannya hanya di tujukan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah.

Baca dan Tonton juga:

Sejarah Pertumbuhan Islam Eropa

Muncul dan hancurnya suatu Peradapan

Jalan menuju Sorga

Jika Allah mentakdirkan kita menjadi ahli sorga, maka Allah akan membentangkan dan memudahkan jalannya,. Akan tetapi jalan jalan yang membentang dan mudah menuju sorga akherat adalah merupakan jalan jalan terjal dan teramat berat dikehidupan dunia.

Seperti apa jalan jalan yang lapang dan dan yang dimudahkan Allah itu..?
1. Dijadikan ia senantiasa beramal sholih sebelum kematian menjelang.
Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya[1], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah jadikan ringan dalam beramal.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dijadikan dia beramal?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dibukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridha kepadanya.”

2. Dipercepat sanksinya di dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hamba-Nya, Allah akan menahan adzab baginya akibat dosanya (di dunia), sampai Allah membalasnya (dengan sempurna) pada hari Kiamat.” (HR. At-Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik)[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

3. Diberikan cobaan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu merupakan janji Allah. Allah berfirman,
“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar” (QS. Al Baqarah: 155).

Bersabarlah ketika kita mendapatkan cobaan, karena cobaan itu untuk menggugurkan dosa atau mengangkat derajat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

4. Dijadikan faham terhadap agama Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang Al-Qur’an dan hadits didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al-Qur’an dan hadits dengan benar.

5. Diberikan kesabaran
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas selain dari kesabaran.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya amat dibutuhkan kesabaran. Karena iblis dan balatentaranya tak pernah diam dari menyesatkan manusia dari jalan Allah. Allah berfirman,
“Tidaklah diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidaklah diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan, beri kami kesabaran untuk menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami.#