Hikmah dibalik setiap Takdir

Terkadang manusia harus menjalani ketentuan dan ketetapan yang dalam pandangan matanya terlihat pedih dan menyakitkan, jiwanya ikut membenci, sedih dan galau, lalu sampai pada suatu titik dimana ia berkesimpulan bahwa apa yang dialaminya merupakan takdir buruk dari Allah Ta’ala kepada dirinya. Padahal tanpa diketahuinya, takdir itu di kemudian hari menjadi kebaikan yang banyak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang terlihat baik dan semua urusannya lancar tanpa masalah, namun ternyata di kemudian hari semua berujung pada keburukan dan petaka.

Beriman Terhadap Takdir

Iman kepada Takdir merupakan salah satu pokok iman dan merupakan rukun iman yang enam. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

Patut diketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip yang harus diimani oleh setiap muslim. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, sejak zaman azali hingga selamanya, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta’ala maupun perbuatan makhluk-Nya.

Kedua, mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfuzh catatan takdir segala sesuatu.

Ketiga, mengimani bawa segala sesuatu tidak akan terjadi melainkan karena kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah Ta’ala sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya.

Keempat, mengimani bahwa segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Dan ciptaan Allah Ta’ala mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya dan gerak-geriknya. (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 63-64)

Antara Takdir Allah dan Kehendak Makhluk-Nya

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan bahwa manusia memiliki kehendak dalam perbuatan-perbuatannya serta memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang menunjukkan ketetapan hal tersebut. Dengan kehendak dan kemampuannya dia bisa melakukan dan meninggalkan sesuatu. Dia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar. Namun, kehendak dan kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “(yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir : 28-29). (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 64-65)

Diantara prinsip ahlussunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Ahlussunnah beriman bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan seluruh takdir sejak zaman azali, dan Allah Ta’ala mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qadariyyah adalah kelompok yang mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah Ta’ala, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah Ta’ala terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah Ta’ala, Jadi menurut mereka hamba dipaksa dalam perbuatannya. (Al-Mufid fi Muhimmati At-Tauhid, hal 37-38)

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah Ta’ala berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah Ta’ala yang buruk, seluruh perbuatan Allah Ta’ala mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah Ta’ala. (Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 70)

Perhatikanlah kisah Ibunya Nabi Musa saat melarungkan bayinya ke sungai Nil. Jika kita membaca susunan kejadian sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada yang paling menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan Ibu Musa selain saat diilhamkan ke dalam hatinya oleh Allah Ta’ala agar menghanyutkan bayinya ke dalam sungai Nil. Namun, cerita ini berakhir dengan keindahan. Allah Ta’ala mengembalikan anaknya tersebut ke dalam pangkuannya dan kelak anaknya tersebut menjadi seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil.

Jangan Hanya Bersandar Kepada Takdir

Segala sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala bukan berarti kita hanya tinggal duduk berpangku tangan dan menunggu semuanya terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali. Sungguh ini adalah kesalahan yang nyata. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Apabila kita telah mengambil sebab dan mendapatkan hasil di luar keinginan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya telah terjadi. Andai pun Allah Ta’ala menakdirkan yang lain sungguh hal itu akan terjadi pula. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seadainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullahi wa maa sya’a fa’ala’ Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pinta syaitan.” (HR. Muslim no. 2664) (Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad li Syaikh Al-Fauzan, hal 316)

Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Takdir

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang berharga. Demikian pula keimanan yang benar terhadap takdir akan memberikan manfaat yang besar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Hanya bersandar kepada Allah Ta’ala ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada qadar Allah Ta’ala.
  2. Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
  3. Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah Ta’ala yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan qadar Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yng demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan terlalu sedih dan putus asa terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid : 22-23) (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 69-70)

Ada Hikmah di Balik Setiap Takdir

Setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaknya seorang mukmin menghadirkan tawakkal kepada Allah Ta’ala, bekerja dan bersungguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera mengingatkan dirinya akan kaidah mulia ini. Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216) (Qawa’id Qur’aniyyah, hal. 21)

Ketahuilah, keburukan yang terjadi dalam takdir tidak selamanya merupakan keburukan yang hakiki bagi hamba, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan. Apapun yang menimpa dirinya, segalanya telah diatur oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menginginkan agar dirinya mengimani segala takdir Allah Ta’ala dan menyadari bahwa demikianlah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya, Dia menjadikan kehidupan beserta segala lika-liku kebahagian dan kesedihan membuat mereka hanya bergantung kepada Allah Ta’ala semata. Wallahul muwaffiq.

Sandaran bagi hati yang lelah

Ada 4 tempat untuk mengistirahatkan hati:
1. Teman yang shalih

2. Majelis ilmu

3. Qur’an yaitu baca qur’an/hafalkan al qu’ran. Semakin dekat dengan mushaf, semakin bersih hatinya dan semakin dekat pula pada Allah.

4. Mengingat kematian agar kita bisa meninggalkan dosa dosa.

Motivasi Kehidupan Akherat

Apa itu Motivasi?

Definisi paling sederhana dari kata ‘motivasi’ adalah ‘apa yang mendorong kita untuk bertindak’. Ini mungkin satu atau lebih faktor intrinsik dan ekstrinsik yang memicu keinginan atau kebutuhan untuk berperilaku dengan cara tertentu. Keinginan biasanya digabungkan dengan konsekuensi potensial – baik hadiah atau hukuman.

Motivasi adalah konsep yang diterapkan di segala usia dan semua lingkungan; dari rumah ke ruang kelas, dari kantor ke kehidupan publik. Ini memungkinkan mereka yang berwenang untuk menjalankan harapan tanpa paksaan dan bagi mereka yang berwenang untuk menyerah tanpa banyak usaha.

Beberapa teori motivasi kontemporer menyatakan bahwa perilaku dimotivasi oleh naluri alami seperti cinta, kemelekatan, ketakutan, atau kemarahan. Beberapa mengatakan bahwa kita dimotivasi oleh imbalan eksternal untuk berperilaku dengan cara tertentu atau oleh kebutuhan untuk memenuhi keinginan internal. Beberapa teori menggabungkan naluri alamiah, keinginan internal, dan penghargaan eksternal untuk menggambarkan perilaku manusia.

Sebagai manusia, kita tertarik pada pertanyaan seperti, “Apa gunanya ini?” atau “Mengapa saya di sini?” setiap kali kita mencoba sesuatu dan, khususnya, ketika kita merasa sulit. Kami ingin pekerjaan menjadi bermakna dalam jangka panjang, ingin merasa kami melakukan sesuatu yang berharga, dan kami ingin merasa divalidasi.

Kami menerapkan kebutuhan ini tidak hanya untuk pekerjaan sehari-hari tetapi untuk kehidupan itu sendiri. Pada titik tertentu, setiap orang pasti bertanya, “Mengapa?”

Allah SWT telah menjawab pertanyaan ini untuk kita:

{Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali bahwa mereka harus beribadah kepadaKu.} ( 51:56 )

Begitu tujuan hidup telah ditetapkan dalam pikiran kita, apa yang memotivasi kita untuk memenuhi tujuan itu?

Apa ruginya jika tidak memenuhi tujuan itu, atau mencapainya tanpa semangat?

Al-Quran memberi tahu kita:

{Demi waktu; memang, manusia dalam kerugian ; kecuali orang-orang yang percaya dan berbuat benar dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran} ( 103 )

{Siapa yang melakukan kebenaran, baik laki-laki atau perempuan, ketika ia adalah orang yang beriman – Kami pasti akan membuatnya hidup baik, dan Kami pasti akan memberi mereka pahala mereka [di akhirat] sesuai dengan yang terbaik dari apa yang mereka lakukan sebelumnya .} ( 16:97 )

Tujuannya di sini bukan untuk meremehkan kedalaman makna dalam setiap ayat Quran. Namun, pada nilai nominal, mereka harus berfungsi sebagai pengingat untuk menyentak satu ke belakang, untuk berhenti, dan untuk merenungkan lebih dalam.

Harapan akan hadiah mendorong kita untuk mendapatkan kehidupan terbaik di akhirat dengan menggunakan mata uang yang telah disediakan; yaitu waktu. Seorang mukmin sejati dimotivasi oleh keinginan untuk kepuasan internal sementara juga menjaga fokus pada tujuan akhir – yaitu untuk mendapatkan keridhaan Allah.

The Destroyer of Pleasures

Apa yang membantu kita menginternalisasi tujuan, penghargaan, dan hukuman ketika kita terperangkap dalam detail yang rumit dan gangguan hidup? Bagaimana kita menerapkan reset emosional? Bagaimana kita kembali ke inti ketika kita tersesat dalam pengembaraan hidup di dunia ?

Nabi Muhammad, saw, memberi kita solusi untuk ini dengan mengatakan:

“Sering seringlah mengingat penghancur kesenangan – yaitu kematian.” (At-Tirmidzi)

Memang, mengingat cobaan di sekitar pengalaman kematian mengetuk kita kembali ke keadaan kesadaran sejati. Dengan “mengingat” kita tidak hanya berarti tindakan mengingat; yang kami maksudkan adalah menginternalisasi kenyataan yang menanti kita dan pemahaman bahwa tindakan kita akan menentukan tingkat keparahan atau kemudahan pengalaman.

Jadi, jika semuanya gagal, ingatan akan kematian saja merupakan motivator yang cukup dalam kehidupan orang percaya.

{Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan Anda hanya akan diberikan kompensasi [penuh] pada Hari Kebangkitan …} ( 3: 185 )

Kesadaran akan kematian dan realitasnya menuntun seseorang untuk bertobat dan mencari pengampunan atas dosa secara konsisten. Itu membuat kita tetap rendah hati dan terkendali. Ini membawa sejumlah kebijaksanaan yang menghasilkan ketenangan dalam menghadapi kesulitan, kepuasan batin dengan ketentuan dan berkat kita, dan manisnya melakukan tindakan ibadat yang mengarah pada pemenuhan tujuan kita dalam kehidupan ini dan menjaga prioritas kita secara teratur.

Mempertahankan ingatan akan karunia dengan berbuat baik dan mengingat kematian yang pasti tak terhindarkan dalam kehidupan kita akan mendorong kita untuk mengembangkan perilaku yang baik, untuk diingat sebagai orang yang baik, dan untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang datang setelah kita. Dengan demikian, pedoman Islam untuk motivasi tidak hanya melayani umat manusia pada tingkat individu, tetapi lebih kepada umat manusia secara keseluruhan.#

Memotivasi Diri Sendiri , Bagaimana Caranya?

Memotivasi Diri Sendiri , bagaimana caranya? karena Hidup selalu tak terduga. Anda pergi tidur pada suatu malam berharap besok akan menjadi hari yang cerah tetapi keesokan paginya membawa ke hari terburuk Anda.

Masalah yang terjadi dalam hidup anda

Anda berpikir bahwa hari-hari hanya bisa menjadi begitu buruk tetapi kemudian kehidupan menunjukkan kepada Anda bahwa itu bisa menjadi lebih buruk lagi.

Dan anda terus-menerus bertanya-tanya apa yang telah Anda lakukan hingga hal ini terjadi, dan Anda tidak pernah mendapatkan jawaban.

Selanjutnya Anda merasa sepertinya Hidup ini tidak adil. Anda tidak dapat menemukan orang lain untuk disalahkan.

Pada kondisi seperti ini Anda tidak bisa menyalahkan diri sendiri atas sebagian besar waktu yang telah berlalu. Segalanya terjadi begitu saja.

Membicarakan dengan orang yang anda percayai untuk memotivasi diri anda


Apa yang bisa kita lakukan, adalah mencoba mengingat beberapa hal.

Ya berbicara dengan orang-orang yang dekat dengan Anda itu bermanfaat, menahan perasaan Anda akan memakan Anda hidup-hidup diri anda sendiri dan semakin lama Anda menahannya semakin menyakitkan. Namun, jika Anda menyukai saya dan tidak ingin membicarakan masalah Anda dengan orang lain, mudah-mudahan posting ini akan menghilangkan sebagian kekhawatiran Anda.

Kita semua Sangat mungkin mengalami perasaan seperti yang untuk merasa seperti yang Anda alami. Syukurlah hidup tidak berhenti untuk apa pun atau siapa pun, yang berarti bahwa apa pun itu, akan berlalu.

Awalnya mungkin terlihat seperti selamanya, tetapi selalu ada harapan yang lebih layak di nanti, yakni terselesaikannya masalah dan hari yang lebih baik untuk dijalani.

Masalah adalah stimulus untuk memotivasi diri sendiri

Secara pribadi ketika ada sesuatu yang salah dalam hidup saya, saya selalu mencoba menggunakannya sebagai motivasi untuk mendorong diri saya lebih keras. Ini adalah stimulus motivasi terbaik menurut saya.

Hal lain yang perlu di ingat adalah bahwa tidak semua orang akan memahami Anda. Akan tetapi itu tidak berarti ada yang salah dengan Anda atau dengan mereka. Dan hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak peduli.

Seseorang tidak selalu bisa menjalin komunikasi dengan cara baik, jadi cobalah untuk tidak mengambil jalan yang salah ketika itu terjadi. Berangkat dari itu, jangan pernah biarkan kata-kata orang “memperburuknya” di mana justru membuat Anda merasa masalah Anda tidak mendapatkan solusi.

Berhentilah Menyalahkan Diri Sendiri dan mulailah memotivasi diri sendiri

Sekarang, ada beberapa hal yang tidak dapat Anda lakukan ketika hidup seperti tampak terbalik.
Anda tidak bisa menyalahkan diri sendiri untuk hal itu. Banyak hal terjadi di luar kendali Anda dan tindakan menyalahkan diri sendiri. Karena menyalahkan diri sendiri tidak akan mengubah apa pun kecuali membuat Anda merasa lebih buruk.

Luangkan satu atau dua hari untuk menyatukan diri dan mengumpulkan pikiran Anda jika perlu, dan cobalah bangkit kembali. Anda mungkin tidak berhasil sejauh yang ingin Anda lakukan segera. Tetapi MENCOBA akan membuat Anda jauh lebih jauh daripada tidak mencoba.

Anda dapat merasa seperti Anda sendirian, apa pun yang Anda alami, tidak masalah. Merasa sendirian menjadi salah satu perasaan terburuk karena Anda merasa mandek dan tak berdaya dan tidak bisa menoleh ke mana. Jika Anda merasa seperti ini, silakan hubungi seseorang yang Anda kenal dan anda percayai.

Terakhir, jangan merasa ingin menyerah pada diri sendiri. Ini berlaku apakah itu terhadap kesehatan mental Anda, tujuan Anda, keluarga Anda, teman-teman Anda atau bahkan sekadar menjalani hari yang berat. Saya tahu itu kadang-kadang bukanlah tugas yang mudah.

Syukuri apapun yang terjadi dalam hidup ini

Ingatlah Ini adalah kehidupan yang telah Allah berikan dan Anda sudah melaluinya sejauh ini. Anda membiarkan kehidupan menghancurkan Anda atau Anda berhasil keluar untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Pilihan ada di tangan Anda, mengapa Anda tidak ingin melihat seberapa jauh kehidupan akan lebih baik bagi anda?

Terima kasih sudah membaca.

Tonton dan Baca Juga:

Bagaimana merubah kegagalan menjadi kesuksesan

Membangkitkan semangat dari dalam

Membentuk Mental Tangguh

Bagaimana kita tahu seperti apa masa depan kita nantinya? Kita dapat melakukan semua hal yang “benar” dan masih tidak pernah “berhasil”, dan kita sering melihat orang lain melakukan hal-hal yang “benar” dan mereka mendapatkan semua yang mereka impikan, jadi apa bedanya?

Memang, saya jelas belum melakukan apa-apa, tetapi saya masih percaya saya memiliki beberapa hal untuk dikatakan. Perbedaannya adalah bagaimana kita memandang hidup kita sendiri. Kita tidak akan berhasil kecuali jika kita berusaha, dan kita tidak akan berusaha jika kita terus meragukan diri kita sendiri. Menjadi sadar diri tentang apa yang kita lakukan adalah apa yang akan membuat kita tetap berada di tempat kita berada sekarang karena kita takut bergerak maju.

Perbedaannya adalah seberapa banyak kita jujur percaya pada diri sendiri. Sungguh sungguh percaya pada diri sendiri dan tidak hanya mengatakan bahwa kita akan melakukan, kita harus cukup peduli untuk memberi tahu diri sendiri bahwa kita memiliki apa yang diperlukan dan akan melakukan apa pun utk mewujudkannya. Jika kita mulai meragukannya, bahkan hanya sedikit, maka kita tidak akan melakukan yang terbaik dan akhirnya kita akan bertanya-tanya pada diri sendiri apakah ada gunanya mencoba. Kita akan mulai malas dan akhirnya kita akan berhenti peduli. Kita akan sampai pada kesimpulan bahwa itu tidak masalah jika kita meletakkan semuanya, atau bisa jadi kita mengganggap diri sebagai pecundang yang selalu gagal karena semuanya berakhir sama. Dan itu cara berpikir yang berbahaya karena kita sudah menerima kegagalan. Semua karena bisa jadi kita tidak memiliki apa yang diperlukan dalam jiwa kita.
Hentikan mentalitas seperti itu karena hal itu sesuatu yang buruk untuk percaya diri tentang apa yang kita lakukan. Tidak mengapa untuk diketahui bahwa kita tahu apa yang kita lakukan. Sangat penting untuk percaya diri dan merasa aman ketika kita bersemangat tentang sesuatu. Kita tidak akan menjadi yang terbaik hanya dengan mengatakan bahwa kita ingin menjadi sesuatu, dan kita tidak harus menjadi yang terbaik untuk tetap hebat. Jadi, kita harus melakukannya. Berhentilah menyusutkan dirimu. Berhentilah berpikir bahwa orang lain lebih baik daripada kita.

Ternyata Kitalah yang membuat perbedaan dalam cara hidup selama ini. Jika kita terus membandingkan diri kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka kiya tidak akan pernah bahagia. Akan selalu ada orang yang terlihat seperti mereka bekerja dan melakukan jauh lebih baik daripada kita. Tetapi itu tidak berdampak pada kesuksesan kita. Kita harus bangga pada diri sendiri untuk semua yang telah kita capai sejauh ini dan kita harus yakin bahwa kita akan melakukan lebih banyak di masa depan.

Berpikir mempersiapkan diri untuk yang terburuk dan melindungi diri kita dari cedera jika kita gagal adalah hal yang baik, tetapi tidak selalu demikian. Karena Ini dapat meyakinkan kita untuk menyerah sebelum mencoba atau berhenti mencoba sebelum semuanya maksimal. Sikap mental seperti Ini meyakinkan kita untuk tidak peduli terhadap diri kita sendiri.

Perbedaan dalam cara hidup kita ternyata adalah apakah kita membiarkan diri menjadi optimis.. apakah kita berhenti memukul diri sendiri.. dan apakah kita benar-benar peduli dengan apa yang kita lakukan..!

Kita semua memiliki apa yang diperlukan. Kita semua dapat mencapai apa pun yang kita inginkan secara harfiah, mungkin masalahnya adalah karena kita belum menyadarinya.

Terima kasih sudah membaca ☀️☀️🙏😊

Bangkit dari keterpurukan

Hampir setiap dari kita pernah merasakan yang namanya jatuh dan terpuruk, ada yg terpuruk secara ekonomi, secara sosial dalam rumah tangga atau dalam masyarakat bahkan terpuruk secara mental dan spiritual.Kita pernah mengalami kondisi dimana rasa frustasi, kesepian, kehilangan kepercayaan diri, hilang gairah dan semangat, dan juga kehilangan antusiasme dalam menjalani aktivitas serta kehidupan kita.
Sepertinya tidak ada harapan lagi dan tidak ada sesuatu lagi untuk diperjuangkan. Seolah kita sedang berada pada titik terbawah dalam hidup kita.Ketika kita berada pada situasi ini mungkin banyak orang yang berada di sekitar kita yang memberikan support-nya kepada kita, yang ikut turut mengupayakan agar kepercayaan diri kita bangkit kembali, kondisi batin dan psikis kita agar normal kembali.
Namun sebetulnya semua itu tidak akan pernah berguna sama sekali apabila dari dalam diri kita tidak memiliki respon yang baik untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Karena Pada intinya, setiap masalah yang mengakibatkan diri kita down hanya akan mampu diselesaikan oleh diri kita sendiri dan bukan oleh orang lain.Kita bisa memilih untuk tetap down dan tenggelam dalam keterpurukan, atau kita bisa memilih untuk bangkit dan memupuk harapan yg baru kembali.Yang jadi permasalahan sekarang, bagaimana caranya agar kita mampu mengambil sikap utk memutuskan bangkit dan berdiri lagi dari keterpurukan…?Bagaimana caranya agar kita mampu mengumpulkan kembali kekuatan dan semangat batiniah yang sudah tercerai berai…?

Dalam dunia psikologi ada istilah Repetitive Magic Power (RMP), yaitu sesuatu yang berupa tindakan ataupun perkataan yang terus-menerus diulang ulang akan menghasilkan perubahan karakter maupun akan menumbuhkan kekuatan batin yang luar biasa.
Repetitive Magic Power (RMP) ini merupakan suatu metode pengulang-ulangan kalimat atau tindakan agar nilai-nilai yang dibacakan/ dilakukan masuk dalam pikiran bawah sadar dan pada akhirnya membentuk karakter serta akan memunculkan kekuatan seperti yang kita inginkan.Jauh sebelum ilmu psikologi berkembang seperti saat ini, islam sudah mengenal apa yg namanya Repetitive Magic Power (RMP), yaitu dengan apa yang kita kenal dengan “Sholat dan Dzikir”, dimana keduanya merupakan perkataan dan juga tindakan yang senatiasa di ulang ulang tiap saat dan tiap waktu.Jika keduanya diterapkan secara sungguh sungguh dan sepenuh hati maka inshaallah Ketenangan batin dan kemampuan pikir akan meningkat dg drastis, yang mana pada ujungnya akan mampu menghasilkan dorongan luar biasa untuk bangkitnya seseorang dari keterpurukan hidup.Hal ini sudah Alloh Tuntunkan kepada kita semua melalui Rosululloh, seperti tertulis dalam Al Quran,“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al-Baqarah [2] : 153)“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (Dzikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.” (QS.Ar Ra’d : 28).#Oleh karenanya, disaat saat kita mengalami keterpurukan.. Baik itu keterpurukan ekonomi, rumah tangga, sosial, dan segala macam keterpurukan hidup.. Maka Sholat dan Dzikir adalah Tindakan dan perkataan yang mampu membangkitkan kembali kekuatan dalam diri seseorang. Tanpa keduanya maka akan semakin terperosok seseorang ke dalam jurang keterpurukan yang lebih dalam.#Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca.😊🙏https://3afa95snjfwx7nflo9l5xc6k90.hop.clickbank.net/

Mengejar dunia akherat

Fokuslah pada tujuan Akhirat, dunia akan mendekat,

“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai obsesinya, maka Allah melancarkan semua urusannya, hatinya kaya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah).

Membicarakan akhirat tidak sama dengan beramal untuk akhirat, meski merupakan salah satu asas utamanya. Mari kita “update & upgrade status” dari membicarakan menjadi beramal.

QS. 17: 19 “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas”

Sebelum membahas tentang berbagai realitas di medan dakwah yang terkait dengan soal-soal dunia, terlebih dahulu kita menyematkan sebuah sudut pandang yang benar terhadap kehidupan dunia dengan segala kegemerlapannya. Tujuannya, agar kita betul-betul dapat membayangkan apa jadinya bila medan-medan dakwah yang suci ini sudah demikian identik dengan soal-soal dunia. Dan bagaimana jadinya jika para juru dakwah lebih banyak membicarakan dunia dengan sangat sungguh-sungguh, dengan semangat yang demikian menggebu-gebu, namun memperbincangkan akhirat dengan sangat bermain-main, dengan sisa energinya saja, dengan keyakinan yang sama-sama melekat dalam jiwa juru dakwah itu dan juga di lubuk yang paling dalam dari para pendengar dan penyimak dakwah mereka.

Untuk menjelaskan ciri khas kaum beriman, simbol kaum bertaqwa, Allah menjelaskan (yang maknanya):

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18].” Al-Baqarah[2]:4.

[17] Kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.
[18] Yakin ialah kepercayaan yang Kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.

Memang tidak disangkal, bahwa bagaimana pun dan siapa pun, pasti memiliki kecenderungan atau bisa disebut rasa suka terhadap hal-hal duniawi.

Allah berfirman (yang maknanya) :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” Aali ‘Imraan [3]:14.

[186] yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.

Namun kemudian, Allah menegaskan bahwa semua kenikmatan itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan di sisi-Nya, yakni kenikmatan yang kekal abadi. Bukan kenikmatan yang tak ubahnya fatamorgana, seperti dunia ini.

Allah berfirman (yang maknanya) :

Aali ‘Imraan [3]:15. Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.

Aali ‘Imraan [3]:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Ghaafir [40]:39. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Kenikmatan dunia yang beragam, semuanya mengandung nilai godaan dengan kapasitas sendiri-sendiri. Harta dan anak, menempati posisi unggulan sebagai bagian duniawi yang begitu menggoda. Allah ‘Azza wa Jalla telah memperingatkan tentang godaan harta dunia dan anak-anak. Dia berfirman (yang maknanya) :

Al-Anfaal [8]:28. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Jadi, seperti yang sudah kita fahami bersama, dunia ini begitu murahnya dan begitu tidak ada artinya di sisi Allah Yang Maha Pencipta. Dan demikianlah seharusnya manusia memandangnya. Rasulullah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Seandainya dunia ini di sisi Allah hanya senilai sayap nyamuk sekalipun, Allah tidak akan memberi minum orang kafir seteguk air pun”. (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya Hasan).

Itulah sebabnya, Allah melarang kita memandang kehidupan “manusia-manusia dunia” sedemikian takjub. Karena batas hidup mereka adalah kematian. Sementara bagi “orang-orang akhirat”, kematian adalah awal dari kehidupan sesungguhnya, sesuai firman Allah (yang maknanya) :

Thaa-Haa[20]:131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang Telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Waallahua’lam Bishawab.#

Cara pandang mengatasi masalah

 

 
Sebuah Kaca mata bisa membuat kita melihat sesuatu yang sama dengan pandangan yg berbeda, selanjutnya pandangan yg berbeda akan menciptakan persepsi yg berbeda pula yg pada ujungnya akan membawa pada suasana batin dan perasaan yg juga berbeda.

 

Perumpamaanya seperti saat siang hari yg panas dg matahari bersinar terang, lalu kita menggunakan kaca mata hitam. Maka pandangan mata akan berbeda.. Dan apa yg kita rasakan juga akan terasa berbeda pula.

 

Begitu pula didalam kehidupan sehari hari yg kita jalani. Kita bisa melihat sesuatu dg berbagai macam alat pandang yg kita inginkan.

 

Utk melihat dan merasakan sesuatu Alloh telah mengkaruniakan kpd kita dg (tiga) 3 macam alat pandang dimana jenis, fungsi dan tingkat sensitifitas yg berbeda.
“Kacamata Akal, Kacamata Insting naluri dan Kacamata Nurani.”
Kacamata Akal utk memandang sesuatu dr scr Rasional, Kacamata Nafsu Naluri/ insting utk merasakan dan menilai sesuatu scr Emosional, dan Kacamata Nurani utk memandang sesuatu menurut hakekat kemudian memaknainya scr batiniah.

 

Jk kita dapat menSinergikan dan menselaraskan tiga kacamata tersebut akan membuat kita mampu untuk mengambil keputusan yang terbaik didalam menghadapi setiap persoalan hidup yg kita jalani.#