Wali Allah, Siapa yang dimaksud?

Siapakah wali Allah itu? Apa dan siapa sebenarnya yang dimaksud wali allah.? 

Sesungguhnya ada perbedaan persepsi antara apa yang Al Quran jelaskan dan pandangan kebanyakan masyarakat Muslim di negara kita tentang kriteria wali Allah. Secara prinsip Islam menganggap, wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Mereka merasa gerak-geriknya diawasi oleh Allah sehingga selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS  Yunus [10]: 62-64).

Ibnu Katsir mengatakan, pada ayat tersebut di atas Allah menjelaskan bahwa wali-wali-Nya adalah mereka yang beriman dan selalu bertakwa. Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah yang tidak mempunyai kekhawatiran terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari kiamat nanti dan tidak pula bersedih akan apa yang mereka tinggalkan di dunia ini.

Sedangkan, kriteria wali Allah yang berkembang dalam masyarakat lebih ditekankan pada aspek karomah yang ada pada diri orang yang dianggap wali Allah tersebut seperti berjalan di atas air, shalat di atas angin, bisa membaca pikiran orang, menyampaikan ramalan ramalan akan masa depan atau kesaktian-kesaktian lainnya. Kesimpulannya, mereka yang mempunyai kesaktian-kesaktian itulah yang dianggap sebagai wali.

Padahal, kesaktian-kesaktian itu bisa juga dilakukan dan diperlihatkan oleh dukun, paranormal, atau tukang sihir. Dalam Islam, ada atau tidaknya karomah dalam diri seseorang bukanlah menjadi ukuran bagi seseorang dianggap sebagai wali Allah atau bukan. Ukurannya adalah kokohnya tauhid, keimanan di dalam hati dan ketakwaan yang terpancar dalam ibadahnya serta akhlak dan muamalah kepada sesamanya.

Para sahabat Nabi Muhammad  tidak pernah memanggil ahli ibadah di antara mereka dengan sebutan wali atau auliya Allah. Rasyid Ridha menegaskan, tidak pantas bagi seorang Muslim meyakini secara pasti bahwa seseorang yang telah meninggal itu sebagai wali Allah yang diridai-Nya dan akan mendapatkan yang dijanjikan Allah kepada auliya-Nya.

Sebab, hal itu merupakan sikap melampaui batas dalam hal ilmu gaib dan tergolong mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan. Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa akhir hidup seseorang tidak ada yang mengetahuinya dan kita tidak boleh memastikan seseorang mati dalam keimanan dan akan mendapatkan surga Allah kecuali ada nash dari Allah dan Rasul-Nya.

Kita hanya berbaik sangka kepada semua orang beriman dan orang yang kita lihat keistiqamahannya dalam beragama. Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari menegaskan hal tersebut. Ada seorang perempuan bernama Ummul A’la, seorang perempuan Anshar yang pernah berbaiat kepada Rasulullah, berkisah bahwa pada saat itu dilakukan undian untuk melayani para Muhajirin.

Menurut Ummul A’la, ia mendapati Utsman bin Mazh’un yang kemudian tinggal di rumahnya. Sayangnya, Utsman jatuh sakit yang menyebabkan kematiannya. Di hari kematiannya, setelah dimandikan lalu dikafani, Rasulullah masuk dan Ummul A’la mengatakan, “Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Mazh’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu.”

Rasulullah bersabda, “Dari mana kamu tahu Allah telah memuliakannya?” Ia menjawab, “Ayahku sebagai taruhan atas kebenaran ucapanku, ya Rasulullah. Lalu, siapa yang Allah muliakan?” Rasul menjawab, “Adapun dia, telah datang kematiannya. Demi Allah berharap kebaikan untuknya. Demi Allah aku sendiri tidak tahu-padahal aku ini adalah utusan Allah-apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku.”Ummul ‘Ala mengatakan, “Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.” (HR Bukhari).

Apa dan bagaimana Hadits Yang Paling Mulia Tentang Sifat-Sifat Wali-Wali Allah HADITS YANG PALING MULIA TENTANG SIFAT-SIFAT WALI-WALI AllAH

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’

Kelengkapan hadits ini adalah:  “Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu  yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ‘ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248,

Dan Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya penolong (wali)mu hanyalah Allâh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allâh). Dan barangsiapa menjadikan Allâh, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allâh itulah yang menang.” [al-Mâidah/5:55-56]

Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sifat kekasih-kekasih-Nya yang Allâh Azza wa Jalla  cintai dan mereka mencintai-Nya yaitu rendah hati terhadap kaum mukminin dan tegas terhadap orang-orang kafir. Ketahuilah, bahwa segala bentuk kemaksiatan adalah bentuk memerangi Allâh Azza wa Jalla , semakin jelek perbuatan dosa yang dikerjakan, semakin keras pula permusuhannya terhadap Allâh. Karena itulah Allâh  menamakan pemakan riba[3] dan perampok[4] sebagai orang-orang yang memerangi Allâh dan Rasul-Nya. Karena besarnya kezhaliman mereka kepada hamba-hamba-Nya serta usaha mereka mengadakan kerusakan di bumi. Demikian pula orang yang memusuhi  para wali Allâh Azza wa Jalla . Mereka itu telah memusuhi Allâh dan telah memerangi-Nya.[5]


Sifat dan ciri-ciri wali-wali Allâh Azza wa Jalla Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan sifat  para wali-Nya. Pertama, mereka memiliki iman yang jujur; Dan kedua, mereka bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : … Sesungguhnya orang-orang yang paling utama disisiku adalah orang yang bertakwa, siapapun dan dimanapun mereka…[6]


Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Maksud wali Allâh adalah orang yang mengenal Allâh, selalu mentaati-Nya dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.”[7]

Pintu ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi wali Allâh. Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa para wali Allâh itu bertingkat-tingkat. Allâh berfirman, yang artinya,
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” [Fâthir/35:32]

Tingkatan-tingkat itu adalah : Pertama, orang yang menzhalimi diri sendiri. Mereka adalah pelaku dosa-dosa. Ibnu Katsir t berkata, ”Mereka yang melalaikan sebagian hal-hal yang wajib dan melakukan sebagian perbuatan haram.”
Kedua, orang yang pertengahan. Mereka yang melaksanakan hal-hal yang wajib, menjauhi yang haram, namun mereka meninggalkan yang sunat dan terjatuh pada yang makruh.
Ketiga, orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan, mereka selalu melaksanakan yang wajib dan yang sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh.

Adapun wali Allâh yang paling utama adalah para Nabi dan Rasul ’Alaihimus shalatu wassalam. Dan setelah mereka adalah para sahabat Radhiyallahu anhum.
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allâh, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allâh dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allâh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allâh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” [al-Fath/48:29]

Para sahabat Radhiyallahu anhum merupakan contoh yang agung dalam mewujudkan perwalian kepada Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa ingin meraih ridha Allâh, maka hendaknya dia menempuh jalan mereka.

Wali-wali Allâh mereka tidak memiliki ciri-ciri yang khusus. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ”Para wali Allâh tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dan manusia umumnya dalam perkara yang mubah. Mereka tidak berbeda dalam hal pakaian, menggundul rambut atau memendekkannya, karena keduanya perkara yang mubah. Sebagaimana dikatakan, betapa banyak orang yang jujur memakai pakaian biasa, dan betapa banyak zindiq yang memakai pakaian bagus.”[8] Para wali Allâh tidak ma’shûm (terjaga dari dosa). Mereka manusia biasa terkadang salah, keliru, dan berbuat dosa.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabbnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik, agar Allâh menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.” [az-Zumar/39:33-35]

Ayat ini memberi gambaran tentang wali-wali Allâh, yaitu Allâh akan memberi pahala yang lebih baik dari amalan mereka. Ini merupakan balasan atas taubat mereka dari perbuatan dosa. Ayat ini juga menetapkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul, terkadang berlaku salah dan dosa. Diantara dalil yang menguatkan bahwa para wali Allâh selain para Nabi dan Rasul yaitu para sahabat jatuh dalam kesalahan adalah terjadinya peperangan diantara mereka dan juga ijtihad-ijtihad mereka yang terkadang keliru. Dan ini sudah diketahui oleh mereka yang sering membaca perkataan-perkataan para sahabat dalam kitab-kitab fiqih  dan yang lainnya.[9] Meski demikian, kita tidak boleh mencela mereka, bahkan kita dianjurkan untuk mendo’akan kebaikan untuk mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa, ’Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-ssaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha penyantun, Maha penyayang.” [al-Hasyr/59:10]

Para shahabat adalah orang-orang yang dijanjikan ampunan oleh Allâh Ta’ala dan dijanjikan Surga. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fath ayat 29. Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan hal-hal yang Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.”

Setelah Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa memusuhi  para wali-Nya berarti memerangi-Nya, selanjutnya Allâh menjelaskan sifat para wali-Nya. Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan apa yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada-Nya. Wali-wali Allâh ialah orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala yang dapat mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Sebaliknya, musuh-musuh Allâh ialah orang-orang yang dijauhkan dan terusir dari rahmat Allâh Azza wa Jalla sebagai akibat amal perbuatan mereka.

Allâh Azza wa Jalla membagi  para wali-Nya menjadi dua kelompok : Pertama, yang mendekatkan diri dengan melaksanakan hal-hal wajib.  Ini mencakup melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan, sebab semuanya itu termasuk melaksanakan yang diwajibkan oleh Allâh kepada para hamba-Nya.
Kedua, yang mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunat setelah amalan-amalan wajib. Dengan jelas bahwa tidak ada bisa mendekatkan kepada Allâh, menjadi wali-Nya, dan meraih kecintaan-Nya kecuali dengan menjalankan ketaatan yang disyari’atkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya.

Jika ada yang mengklaim dirinya meraih derajat wali dan dicintai Allâh Azza wa Jalla  tetapi tidak jalan ini, maka jelas ia dusta. Seperti kaum musyrik yang mendekatkan diri kepada Allâh dengan cara menyembah tuhan-tuhan selain Allâh. Seperti dikisahkan Allâh Azza wa Jalla tentang mereka, yang artinya, “…Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ”Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allâh dengan sedekat-dekatnya…” [az-Zumar/39:3]

Dan Allâh mengisahkan tentang orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mengklaim mereka anak-anak dan kekasih[10] Allâh Azza wa Jalla , padahal mereka terus-menerus mendustakan para rasul, mengerjakan larangan-Nya serta meninggalkan kewajiban. Oleh karena itu dalam  hadits di atas, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa wali-wali Allah itu terbagi dalam dua tingkatan :

Pertama, tingkatan orang-orang yang mendekatkan diri dengan mengerjakan hal-hal yang wajib. Ini tingkatan al-muqtashidîn (pertengahan) atau golongan kanan. Mengerjakan amalan fadhu adalah amalan terbaik. Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu mengatakan, ”Sebaik-baik amal ialah menunaikan apa saja yang diwajibkan Allâh Azza wa Jalla .” ’Umar bin ’Abdul ’Aziz Radhiyallahu anhuma berkata dalam khutbahnya, ”Ibadah yang paling baik ialah menunaikan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.”[11] Karena tujuan Allâh Azza wa Jalla mewajibkan berbagai kewajiban ini supaya para hamba bisa mendekatkan diri kepada-Nya dan agar mereka bisa meraih ridha dan rahmat Allâh Azza wa Jalla .

Kedua, tingkatan orang-orang yang berlomba-lomba (dalam kebaikan), yaitu orang-orang yang mendekat diri dengan ibadah-ibadah wajib kemudian bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari yang makruh dan bersikap wara’ (takwa). Sikap itu menyebabkan seseorang dicintai Allâh, seperti difirmankan Allâh, “Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” Dan barangsiapa dicintai Allâh, maka Allâh akan anugerahkan rasa cinta kepada-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir dan berkhidmat kepada-Nya.

Itu semua menyebabkannya semakin dekat dengan Allâh dan terhormat di sisi-Nya seperti difirmankan Allâh Azza wa Jalla : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allâh mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” [al-Mâidah/5:54]

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa orang yang tidak cinta dan tidak berusaha mendekat kepada Allâh, maka Allâh tidak akan memperdulikannya dan tidak akan memberikannya anugrah yang agung ituyaitu rasa cinta. Jadi, orang yang berpaling dari Allâh, ia tidak akan mendapatkan ganti Allâh untuk dirinya sedang Allâh Azza wa Jalla mempunyai banyak pengganti untuknya. Barangsiapa meninggalkan Allâh Azza wa Jalla , maka ia tetap merugi. Bagaimana tidak, karena ia hanya mendapatkan sebagian kecil dari dunia, padahal dunia dan seisinya disisi Allâh Azza wa Jalla tidak lebih berharga dari satu helai sayap seekor nyamuk.

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, Allâh berfirman dalam  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,”Dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir,” maksudnya, mereka bergaul dengan kaum mukminin dengan rendah hati dan tawadhu’, dan mereka memperlakukan orang-orang kafir dengan sikap keras. Karena ketika mereka sudah mencintai Allâh, maka tentu mereka juga mencintai  para wali Allâh sehingga  mereka bergaul dengan para wali Allâh dengan cinta dan kasih sayang. Mereka juga membenci musuh-musuh Allâh yang memusuhi-Nya lalu memperlakukan dengan sikap keras.

Allâh berfirman : مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ  Muhammad adalah utusan Allâh dan orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka…” [al-Fath/48:29]

Kesempurnaan cinta seseorang kepada Allâh dibuktikan dengan memerangi musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla . Jihad juga merupakan wahana untuk mengajak orang-orang yang berpaling dari Allâh agar kembali setelah sebelumnya didakwahi dengan hujjah dan petunjuk. Jadi, para wali Allâh itu ingin membimbing manusia menuju pintu Allâh Azza wa Jalla . Barangsiapa tidak merespon dakwah dengan sikap lemah lembut, ia perlu diajak dengan sikap keras.

Disebutkan dalam hadits, عَجِبَ اللهُ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُوْنَ إِلَـى الْـجَنَّةِ فِـيْ السَّلَاسِلِ Allâh merasa heran kepada kaum yang dituntun ke surga dalam keadaan dibelenggu.[12]

Diantara sifat wali  Allâh yang disebutkan dalam firman-Nya  al-Maidah/5:54 diatas, yang artinya,“Dan yang tidak takut celaan orang-orang yang suka mencela,” maksudnya, orang-orang yang mencintai Allâh hanya menginginkan ridhai-Nya. Ia ridha kepada siapa saja yang Allah ridhai dan benci kepada siapa saja yang Dia benci. Jadi, orang yang masih takut celaan dalam mencintai pihak yang dicintainya, berarti cintanya tidak benar.

Selanjutnya dalam firman-Nya al-Maidah/5:54 tersebut,
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Itulah karunia Allâh yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.” Karunia maksudnya ialah derajat kewalian dengan sifat-sifat yang telah disebutkan.#

 

Wallahu a’lam bish shawab.

Makna Sukses

Sukses Menurut Islam

Semua orang ingin sukses, tapi tidak semua orang berhasil sukses. Kenapa? Masalahnya cuma satu: gagal menemukan arti sukses sebenarnya.

Ada orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang sederhana. Akhirnya, ia pun merasa sudah mencapai sukses meski tanpa berbuat apa-apa. Mengalir seperti air apa adanya, begitu katanya.

Ada juga orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, ya sudah mau bilang apa? pasrah aja, barangkali sudah takdir, begitu katanya.

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?
Sukses adalah sebuah pencapaian. Apa yang hendak dicapai?

Sukses adalah bergerak maju mencapai tujuan. Kemana hendak dituju?

Sukses adalah mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Apakah itu?

Sukses adalah sebuah proses perjalanan. Tanpa mendapatkan sesuatu?

Sukses adalah memperoleh penghargaan. Dari siapa?

Mari kita bertanya kepada Yang Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.”

“Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya”? (QS. 21:10).

Kemuliaan = Kesuksesan
Kalau begitu, mari kita membaca Alquran untuk memahami:
Apakah arti sukses?
Bagaimanakah mencapai sukses?
Siapakah orang sukses itu?
Apakah arti sukses?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. 3:185)

Jadi, sukses adalah masuk surga. Terserah apa profesi kita hari ini, yang penting kita bisa masuk surga.

Bagaimanakah cara mencapai sukses? Bagaimanakah cara masuk surga?

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214).

Sukses bukan khayalan. Sukses hanya dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Berat ya? jangan khawatir, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Allah akan menolong kita sebagaimana Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman sebelum kita.

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),” (QS. 40:51)

Pantaskah kita mendapatkan pertolongan Allah?
Bukan soal pantas tidak pantas, yang jadi soal, apakah kita sedang berjuang mencapai sukses hingga Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya? Siapa yang berjuang, dialah yang ditolong.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS. 47:7).

Nah, jika Allah sudah memberikan pertolongan, apakah masih terasa berat perjuangan menuju sukses sejati?

Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaknya kepada Allah saja orang-orang mumin bertawakkal. (QS. 3:160)

Bertawakkal kepada Allah = menyerahkan segala urusan kepada Allah = menyelesaikan segala urusan dengan cara-cara Allah = caranya pakai cara Allah, ya hasilnya terserah Allah. Habis perkara.

Jadi, bagaimana soal urusan mencapai sukses sejati, yaitu mencapai surga?
Jawabnya cuma satu: pakai cara Allah, jangan pakai cara sendiri!

Bagaimanakah cara Allah yang harus kita terapkan untuk mencapai sukses sejati?

Nah, untuk dapat menjawabnya, kita harus selesaikan pertanyaan ketiga: Siapakah orang sukses itu?

Sukses Menurut Al-Qur’an

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat lebih baik dan kekal.”(QS. A’Alaa, 87: 14 – 17)

Siapakah orang yang tak ingin meraih kesuksesan? Tentunya, setiap orang mengidam-idamkan kesuksesan. Pada umumnya, masyarakat memahami arti kesuksesan identik dengan pencapaian cita-cita, harapan, serta keinginan. Simpelnya – Kata sukses berarti pencapaian keberhasilan atau keberuntungan atas wujud nyata dari apa-apa yang dicita-citakan.

Lantas bagaimana makna, “Sukses Menurut Alquran?”

Dalam Alquran kata sukses terbagi menjadi 3 (tiga); al-falaah, an-najaat, danal-fauz. Menurut tata bahasa, al-falaah berarti kemenangan, kelestarian, kekekalan, keberuntungan, dan kebertahanan hidup. An-najaat berarti keselamatan atau keterhindarandari bencana serta kegagalan, dan terhalaunya hambatan. Adapun al-fauz berarti keberhasilan atau keberuntungan yang baik.

Dari ketiga kata yang bermakna sukses tersebut di atas, yang mendominasi disebut dalam Alquran adalah Al-falaah. Ini membuktikan pengertian secara bahasa dari kata Al-falaah sudah mencakup makna an-najaat dan al-fauz. Lebih dari 15 kali, kata Al-falaah disebutkan dalam Alquran, baik variasi ataupun derivasinya.

Beragam ayat dalam Alquran yang berkaitan dengan al-falaah, hampir rata-rata berisikan implementasi dan merefleksikan 5 hal tersebut di bawah ini.

Bebas dari hal-hal yang membuat rugi, sakit, dan memperburuk keadaan diri (An-najaat),Mendapatkan dan meraih keadaan dan kondisi yang layak, baik dan sentosa (Al-falaah),Tercapainya harapan serta cita-cita (Al-fauz),Menang dan berhasil menaklukkan berbagai rintangan (Al-fauz wa an-najaat),Menggapai ‘keabadian’ hidup (al-falaah), keberadaannya dikenang secara positif sepanjang sejarah, mendapatkan kehidupan damai (kekal) di dunia dan kehidupan akhirat.

Kata kunci adalah Tidak ada dalam Qur,an urusan dunia yang abadi disebutkan Allah .Susah senang serta kebahagiaan dunia pasti ada jalan keluarnya, sedangkan diakhirat pasti kekal dan abadi.#

Wallahua’lam bishawab.

Meditasi islami

Bagaimana kita dapat memiliki kontrol lebih besar atas pikiran kita pada saat ini informasi yang berlebihan dan kecemasan? Latihan kewaspadaan, atau muraqabah, dapat membantu mendisiplinkan pikiran kita untuk menangani situasi saat ini dan fokus pada hubungan kita dengan Allah.

Kehidupan modern melibatkan hiruk pikuk kebisingan, gangguan, dan informasi yang berlebihan setiap hari. Indera kita terus-menerus distimulasi dari setiap arah ke titik bahwa saat hening yang tenang tampaknya mustahil bagi sebagian dari kita. Agitasi yang terus-menerus ini menghalangi kita untuk mendapatkan yang terbaik dari setiap momen, mengurangi kualitas doa kita dan kemampuan kita untuk mengingat Allah.

Kita semua tahu bahwa kita membutuhkan lebih banyak kehadiran dalam doa, lebih banyak kontrol atas pikiran dan keinginan kita yang berkeliaran. Tapi apa sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk mencapai ini? Bagaimana kita dapat menjadi lebih penuh perhatian dalam semua aspek kehidupan kita, spiritual dan duniawi? Di situlah praktik melatih perhatian , dalam konteks Islam muraqabah , dapat membantu melatih pikiran kita untuk menjadi lebih disiplin dan dengan demikian dapat meningkatkan ibadah reguler dan kegiatan sehari-hari kita.

Artikel ini membahas kebajikan dari perhatian dan keheningan dalam tradisi Islam. Ini benar mengkonseptualisasikan meditasi dalam Islam dan menyajikan latihan praktis untuk perhatian sehari-hari yang dapat membantu kita mengolah muraqabah dengan Allah dan batin kita.

Kebajikan Perhatian
Mindfulness secara linguistik didefinisikan sebagai “kualitas atau keadaan sadar atau sadar akan sesuatu,” dan lebih khusus lagi, “Keadaan mental dicapai dengan memfokuskan kesadaran seseorang pada saat ini, sementara dengan tenang mengakui dan menerima perasaan, pikiran, dan sensasi tubuh seseorang. , digunakan sebagai teknik terapi. ” [1] Dalam konteks psikologi modern, perhatian adalah “alat yang dapat kita gunakan untuk memeriksa kerangka kerja konseptual.” [2] Dengan mengamati dengan cermat bagaimana kita berpikir dan merasakan, kita memperoleh kemampuan untuk mengubah kerangka kerja konseptual kita, atau pola pikir, untuk keuntungan kita sendiri. Ketika kita berada dalam keadaan lalai, kita bereaksi terhadap pikiran dan emosi secara spontan dan membiarkan mereka menuntun kita ke mana pun mereka mau. Sebaliknya, menumbuhkan kondisi perhatian memberi kita kemampuan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pikiran kita seperti yang kita pilih.

Dengan kata lain, perhatian adalah bentuk metakognisi (“kesadaran akan kesadaran seseorang”), kesadaran diri akan apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran dan hati seseorang. Ini adalah fenomena yang menarik perhatian para psikolog dan profesional kesehatan, menghasilkan ratusan makalah ilmiah, studi, dan buku tentang kesadaran setiap tahun. Menumbuhkan perhatian, bahkan dalam konteks non-religius atau netral, telah ditunjukkan untuk memberikan manfaat kesehatan dan kesejahteraan yang terukur. Menurut American Psychological Association, banyak studi peer-review menunjukkan bahwa praktik mindfulness (seperti relaksasi atau meditasi) membantu mengurangi stres, meningkatkan memori, meningkatkan fokus dan konsentrasi, mengurangi reaktivitas emosional, dan meningkatkan hubungan pribadi. Praktek mindfulness juga mempromosikan empati dan kasih sayang dan secara efektif digunakan dalam terapi kognitif klinis. [3] Bidang perhatian yang berkembang, dalam sains dan praktik spiritual, adalah perkembangan menarik yang patut diselidiki secara kritis.

Dalam konteks Islam, perhatian adalah keutamaan dari muraqabah , sebuah kata yang berasal dari akar makna “untuk menonton, mengamati, menghargai dengan penuh perhatian.” [4] Kita sudah dapat melihat kedekatan etimologis dan linguistik antara “perhatian” dan muraqabah . Sebagai istilah spiritual teknis, ini didefinisikan sebagai “pengetahuan konstan tentang hamba dan keyakinan dalam pengawasan Kebenaran, kemuliaan bagi-Nya, atas kondisi luar dan batin seseorang.” [5] Artinya, seorang Muslim dalam keadaan muraqabah adalah dalam pengetahuan penuh yang terus menerus bahwa Allah sadar akan dirinya, secara batiniah dan batiniah. Ini adalah kondisi kesadaran diri yang penuh kewaspadaan dalam hubungan seseorang dengan Allah dalam hati, pikiran, dan tubuh. Dasar dari muraqabah adalah pengetahuan kita bahwa Allah selalu mengawasi kita setiap saat dan, sebagai konsekuensinya, kita mengembangkan perhatian dan kepedulian yang lebih besar terhadap tindakan, pikiran, perasaan, dan kondisi batin kita sendiri. Seperti yang Allah katakan, “Ingatlah bahwa Tuhan tahu apa yang ada dalam jiwa Anda, jadi perhatikanlah Dia.” [6]

Ibn Al-Qayyim dan Al-Ghazali keduanya memiliki bab dalam buku-buku mereka tentang manfaat dan realitas muraqabah . [7] Dan itu bukan hanya sifat karakter yang disarankan, tetapi lebih merupakan realisasi karakter karakter tertinggi , keunggulan spiritual ( al-ihsan ). Sebagaimana Nabi ﷺ didefinisikan dalam hadis terkenal Jibril, keunggulan spiritual “adalah untuk menyembah Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, karena jika Anda tidak melihat-Nya, Dia pasti melihat Anda.” [8] Dengan kata lain, keunggulan spiritual adalah untuk sepenuhnya menyadari dan memperhatikan Allah setiap saat – puncak dari iman. Menurut Sheikh Al-Tuwayjiri,

Keunggulan spiritual adalah intisari keimanan, semangatnya, dan kesempurnaannya dengan menyempurnakan kehadiran (al-hudur) dengan Allah SWT, dan perhatian kepada-Nya (muraqabatihi), yang mencakup rasa takut akan Dia, cinta kepada-Nya, pengetahuan tentang Dia, berbalik kepada-Nya , dan ketulusan kepada-Nya . [9]

Buah dari muraqabah , di samping hadiah surga abadi di akhirat, adalah kondisi ketenangan yang mengarah pada kepuasan dalam kehidupan ini, “Sarana menuju keheningan ( al-sakinah ) dihasilkan oleh perolehan hamba dari muraqabah untuknya Tuhan, mulia dan agung adalah Dia, sampai-sampai seolah-olah dia dapat melihat-Nya. ” Semua kondisi spiritual dan mental yang positif berasal darinya, “karena muraqabah adalah dasar dari semua perbuatan hati.” [10]

Muraqabah sebenarnya merupakan pemenuhan penyembahan kepada Allah menurut pemahaman yang tepat tentang nama-nama indah yang menyampaikan pengetahuan sempurna-Nya. Ibn Al-Qayyim menyimpulkan babnya tentang muraqabah , menulis,

Muraqabah harus dikhususkan untuk nama Pengamat (Al-Raqib), Wali (Al-Hafith), Mengetahui (Al-‘Alim), Mendengar (Al-Sami ‘), Mengamati (Al-Basir) . Jadi, siapa pun yang memahami nama-nama ini dan mengabdikan diri untuk memenuhinya akan memperoleh muraqabah. [11]

Muraqabah tentu saja mencakup perhatian pada niat, pikiran, emosi, dan kondisi batin seseorang sendiri. Al-Murta’ish berkata, ” Muraqabah adalah pengamatan seseorang yang paling dalam ( al-sirr ), untuk mengetahui yang tersembunyi dengan setiap saat dan ucapan.” [12] Dalam setiap kata yang kita ucapkan dan dalam setiap pikiran yang kita pilih untuk dikejar, kita harus menyadari pola pikiran dan keadaan emosi kita untuk bereaksi terhadap pengalaman batin kita dengan cara terbaik. Sebagaimanadinyatakanoleh Ibn al-Qayyim, pemeliharaan muraqabah ke dalam adalah “dengan menjaga pikiran, niat, dan gerakan ke dalam… Ini adalah realitas hati yang murni ( al-qalb al-salim)), dimana tidak ada yang diselamatkan selain dengan datang kepada Allah dengan itu. Ini sendiri adalah realitas penyempurnaan batin ( tajrid ) dari orang yang benar, yang berbakti, dan yang sadar akan Allah. Setiap penyempurnaan batin selain ini kurang. ” [13]

Ringkasnya, menurut Sheikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani, muraqabah diwujudkan dalam empat aspek:

  1. Pengetahuan tentang Allah SWT.
  2. Pengetahuan tentang musuh Allah, Iblis (Setan).
  3. Pengetahuan tentang kemampuan jiwa Anda untuk menyarankan kejahatan.
  4. Pengetahuan tentang perbuatan yang harus dilakukan demi Allah. [14]

Aspek ketiga ini – kesadaran hati dan pikiran seseorang – bahwa melatih perhatian dalam kerangka Islam dapat membantu kita mencapai, “Untuk mengetahui hal-hal apa yang menjadi ciri (diri), apa yang diinginkan, apa yang dipanggil, dan apa yang diperintahkannya . ” [15] Jenis latihan ini adalah metode untuk melatih pikiran untuk mengidentifikasi cara pikiran dan perasaan berperilaku di dalam diri kita, dengan tujuan mengerahkan lebih banyak kontrol terhadapnya dan dengan demikian memperkaya kesehatan mental dan spiritual kita.

Praktik-praktik kesadaran non-religius atau netral yang dianjurkan oleh para psikolog terapeutik berfokus pada aspek ketiga ini, tanpa mendasarkannya pada pandangan dunia teologis, untuk memberikan daya tarik yang lebih luas pada keragaman populasi pasien mereka dan masyarakat majemuk pada umumnya. Kadang-kadang ini adalah praktik yang berasal dari tradisi Buddha atau Hindu tetapi telah disekularisasi dari tempat ontologis agama mereka. Pendekatan non-religius ini, dengan sendirinya, masih menghasilkan manfaat kesehatan dan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat. Itu akan mempertajam pikiran, tidak diragukan lagi, tetapi pikiran adalah alat yang dapat digunakan untuk kebaikan dan kejahatan. Praktik perhatian netral dapat berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan oleh orang-orang yang tidak memiliki pandangan dunia etis. Kejernihan mental yang diperoleh dari perhatian dapat digunakan oleh pemangsa yang bertujuan untuk menipu atau menyakiti orang lain. Tentu saja, seperti itu akan merupakan penyalahgunaan perhatian; lebih banyak alasan untuk mendekati topik secara kritis sesuai dengan pedoman Islam.

Bagi umat Islam, perhatian terhadap kehidupan batin hanyalah satu aspek — meskipun aspek yang kritis dan sering terabaikan — dalam kerangka muraqabah yang lebih besar . Secara keseluruhan, perhatian Islam melibatkan kesadaran komprehensif tentang dasar-dasar akidah Islam, hukum, etika, dan perubahan psikologis halus seseorang.

Untuk mulai menerapkan wawasan ini, kita masih perlu tahu mengapa begitu penting untuk belajar menikmati hanya hadir dalam keheningan , tanpa gangguan atau kebisingan dari dunia, kata-kata kita sendiri, atau monolog batin kita.

Keutamaan Kesunyian dan Keterasingan
Pepatah terkenal mengatakan, “Diam itu emas.” [16] Para pendahulu yang saleh memahami bahwa keheningan ( al-samt ) adalah keadaan default yang disukai, menurut perkataan Nabi ﷺ, “Siapa pun yang percaya pada Allah dan Hari Terakhir, biarkan dia berbicara kebaikan atau tetap diam.” [17] Kata-kata apa pun yang keluar dari mulut kita harus benar dan bermanfaat; kalau tidak, kita harus tetap diam. Jika tidak ada yang baik untuk dikatakan, kita seharusnya tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja, ada saat-saat di mana kita harus berbicara, mendukung tujuan yang baik atau menentang tindakan jahat. Nabi ﷺ berkata, “Semoga Allah mengampuni orang yang berbicara dengan benar dan diberi hadiah, atau yang diam dan tetap aman.” [18] Pidato yang netral, tidak menguntungkan atau merugikan, masih diperbolehkan, tetapi karena alasan spiritual dan moral lebih baik terbiasa membisu.

Diam memiliki efek penting pada hati dan karakter kita, karena kebiasaan bicara yang buruk atau sembrono menghasilkan hati yang tidak murni. Nabi ﷺ berkata, “Iman seorang hamba tidak tegak sampai hatinya tegak, dan hatinya tidak tegak sampai lidahnya tegak.” [19] Hati dan lidah saling terkait, jadi untuk menjaga ucapan kita juga untuk menjaga hati kita. Menjelang akhir ini, belajar untuk tidak hanya mentolerir, tetapi menikmati, keheningan adalah aspek pengembangan karakter positif. Nabi ﷺ berkata kepada Abu Dharr (ra), “Anda harus memiliki karakter yang baik dan mengamati keheningan yang lama ( tuli al-samt ). Oleh orang yang di tangannya adalah jiwa Muhammad, tidak ada yang bisa berperilaku dengan perbuatan yang lebih dicintai oleh Allah selain keduanya. ” [20] Diam juga merupakan sarana untuk membantu kita mengalahkan iblis dan bisikan setan yang datang dalam bentuk pikiran jahat. Nabi ﷺ berkata, “Anda harus mengamati periode hening yang lama, karena itu akan mengusir Setan dan membantu Anda dalam masalah agama Anda.” [21] Dan Abu Sa’eed Al-Khudri (ra) berkata, “Kamu harus diam kecuali dalam kebenaran, karena dengan itu kamu akan mengalahkan Setan.” [22]

Selain itu, perenungan diam adalah tanda orang bijak, dengan Nabi ﷺ sebagai contoh utama. Simak berkata kepada Jabir bin Samrah (ra), “Sudahkah Anda duduk bersama Rasulullah ﷺ?” Jabir berkata, “Ya, dia akan mengamati keheningan untuk waktu yang lama dan sedikit tertawa.” [23] Abu al-Darda ‘(ra) berkata, “Diam adalah bentuk kebijaksanaan, namun sedikit orang yang mempraktikkannya.” Wahb ibn Munabbih berkata, “Para dokter sepakat bahwa kepala kedokteran adalah diet, dan orang bijak setuju bahwa kepala kebijaksanaan adalah diam.” [24] Keheningan seperti ini adalah keterampilan yang harus diperoleh, seperti yang dikatakan Abu al-Dhayyal, “Belajarlah untuk diam.” [25] Mengembangkan bakat dan cinta akan keheningan juga merupakan bagian integral dari peningkatan doa dan tindakan ibadah kita. Sufyan al-Thawri berkata, “Dikatakan bahwa mengamati keheningan yang lama adalah kunci untuk beribadah.” [26] Praktek kita akan perhatian yang sunyi senyap tentu akan mengarah pada peningkatan doa-doa kita dan tindakan ibadah lainnya.

Keheningan berkaitan dengan muraqabah dalam mengamati keheningan dalam pengasingan untuk periode waktu yang teratur memupuk kehadiran , kesadaran tenang pikiran di sini dan sekarang. Abu Bakar al-Farisi ditanya tentang keheningan makhluk terdalam seseorang ( samt al-sirr ) dan dia berkata, “Ini untuk meninggalkan keasyikan dengan masa lalu dan masa depan.” [27] Ketika dalam refleksi diam atau latihan kesadaran, kita punya waktu untuk hanya menjadi hadir di saat ini tanpa khawatir tentang apa yang masa lalu atau masa depan atau di tempat lain dalam penciptaan. Ini adalah kesempatan untuk memelihara kehadiran di hadapan Allah ( al-hudur)), jenis kehadiran yang sama yang harus kita miliki dalam doa ritual. Tentu saja ada waktu yang tepat untuk memikirkan masa lalu atau masa depan — untuk belajar dari kesalahan kita, merencanakan tindakan, menjalani kehidupan sehari-hari, untuk merenungkan nasib kita. Inti pembelajaran untuk hadir dalam keheningan adalah membatasi pikiran kita pada masa lalu atau masa depan hanya pada apa yang perlu dan bermanfaat.

Pengasingan untuk beribadah adalah teman dekat keheningan; mereka berjalan beriringan. Mereka yang membuat kebiasaan menyembah dan mengingat Allah sendirian adalah beberapa yang paling dihargai di akhirat. Nabi ﷺ berkata, “Mereka yang bersunyi-sunyian ( al-mufarridun ) telah berlari maju.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah yang berada di pengasingan?” Nabi berkata, “Mereka adalah pria dan wanita yang sering mengingat Allah.” [28] Al-Munawi menjelaskan hadits ini , dengan mengatakan, “Mereka yang bersunyi adalah mereka yang mencari kesendirian dan mereka menarik diri dari orang-orang untuk menyendiri dan bebas untuk beribadah, seolah-olah seseorang membedakan dirinya untuk berbakti kepada Allah.” [29] Khalwat, dipraktikkan dengan baik, pada akhirnya adalah obat untuk perasaan buruk di hati, seperti yang dikatakan Ibn al-Qayyim, “Di dalam hati ada gangguan yang tidak bisa diperbaiki tetapi dengan menanggapi Allah, di dalamnya ada perasaan sunyi yang tidak bisa dihilangkan tetapi oleh keintiman dengan-Nya dalam kesendirian ( khalwah ). ” [30]

Bayangkan sejenak betapa jauh lebih baik situasi hidup kita jika kita bisa duduk sendirian di kamar kita, puas hanya dengan berada di depan Allah . Tidak perlu untuk smartphone, atau game, atau televisi, atau elektronik, atau kecanduan, atau gangguan. Apakah Anda akan lebih tenang, lebih bahagia, dan lebih puas? Blaise Pascal, teolog dan ilmuwan Prancis, berkomentar,

Saya telah menemukan bahwa semua ketidakbahagiaan manusia timbul dari satu fakta tunggal, bahwa mereka tidak dapat tinggal diam di kamar mereka sendiri. Seorang pria yang memiliki cukup uang untuk hidup, jika dia tahu bagaimana tinggal dengan senang di rumah, tidak akan membiarkannya melayang atau mengepung sebuah kota . [31]

Memang, jika setiap orang cukup disiplin untuk menikmati kehidupan batin tanpa hasrat yang terus-menerus untuk stimulasi eksternal, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik bagi kita semua.

Karena itu, bagaimana kita dapat belajar untuk menikmati keheningan dan dengan demikian meningkatkan perhatian kita pada Allah dan kondisi batin kita sendiri? Islam memiliki tradisi meditasi yang mendalam, dan mungkin terlupakan, yang dirancang untuk membantu kita melakukannya.

Meditasi dalam Islam


Meditasi didefinisikan sebagai “pemikiran yang terus-menerus atau diperluas, refleksi … kontemplasi religius yang taat atau introspeksi spiritual,” yang berasal dari meditasi Latin (“thinking over”). [32] Sebagai istilah umum, meditasi secara linguistik mengacu pada setiap dan semua kegiatan mental yang disengaja dan terarah. Dalam praktik terapi atau spiritual, berbagai jenis meditasi telah dibuktikan secara ilmiah untuk mencapai perhatian penuh dan kesehatannya yang terkait dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Encyclopedia of Positive Psychology , “Meditasi, terlepas dari bentuk tertentu, digunakan untuk mengarah pada perhatian pasca-meditasi.” [33] Meditasi dapat dilakukan dengan banyak cara dan untuk banyak tujuan. Bagi sebagian orang, ini hanyalah cara menenangkan relaksasi dan menghilangkan stres, cara memperlambat pikiran mereka. Yang lain bermeditasi dengan secara intens merenungkan sebuah gagasan atau memusatkan perhatian mereka pada Tuhan atau sesuatu yang lain.

Beberapa orang Muslim ragu-ragu atau skeptis tentang kata “meditasi”, karena ada begitu banyak jenis meditasi, beberapa di antaranya secara khusus dikaitkan dengan kepercayaan dan praktik keagamaan yang bertentangan dengan Islam. Akan tetapi, faktanya adalah bahwa para pendahulu kita yang saleh mempraktikkan beberapa bentuk meditasi, dalam pengertian linguistik yang murni, dan melalui meditasi ini mereka mencapai keadaan spiritual yang maju dan meningkatkan tindakan penyembahan, doa, dan ingatan mereka. Kunci untuk menghidupkan kembali praktik-praktik mereka adalah memeriksa dengan cermat bagaimana mereka mengonseptualisasikan meditasi dan untuk meniru praktik-praktik mereka dalam kerangka kredo, ibadah, etika, dan etika Islam. Kita bahkan dapat menggabungkan wawasan modern dari para praktisi psikologi dan perhatian selama kita tetap berpijak pada tradisi Islam,[34]

Doa ritual ( shalat ) di zaman modern telah ditingkatkan dan dibantu oleh peralatan audio, sementara di periode klasik ilmu arsitektur dimanfaatkan untuk meningkatkan dan membantu akustik dari membaca Al-Qur’an. Tidak satu pun dari ini adalah inovasi agama yang patut disalahkan ( bid’ah ) karena mereka tidak melakukan apa pun untuk mengubah keyakinan, ibadah, atau etika Islam. Dengan cara yang sama, wawasan modern tentang perhatian, dan khususnya latihan perhatian, dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk meningkatkan doa dan spiritualitas.

Ibn Al-Qayyim telah memberikan salah satu penjelasan terbaik dan paling ringkas tentang banyak makna “meditasi” dalam Islam. Dia menyatakan bahwa bagian integral dari persiapan kita untuk akhirat adalah dengan “merenungkan ( tafakkur ), mengingat ( tadhakkur ), memeriksa ( nathr ), bermeditasi ( ta’amul ), merenungkan ( i’tibar ), berunding ( tadabbur ), dan merenungkan ( istibsar ). ” Setiap kata-kata ini mewakili nuansa aktivitas mental yang berbeda yang dapat dianggap sebagai bentuk meditasi. Ada banyak tumpang tindih makna di antara mereka semua, tetapi ada perbedaan yang halus juga. Ibn Al-Qayyim melanjutkan:

Ini disebut ‘refleksi’ karena di dalamnya adalah pemanfaatan pemikiran dan pengadaannya selama itu. Itu disebut ‘zikir’ karena itu adalah mengambil pengetahuan yang harus dipertimbangkan setelah teralihkan atau tidak ada darinya … Itu disebut ‘meditasi’ karena itu berulang kali memeriksa berulang-ulang sampai menjadi jelas dan terbuka di hati seseorang. Hal ini disebut ‘pelajaran-karena contemplation’-mengambil satu mengambil pelajaran dari itu untuk menerapkan di tempat lain … itu disebut ‘musyawarah’ karena sedang memeriksa kesimpulan dari hal-hal, ujung dan konsekuensi mereka, dan berunding di mereka . [35]

Semua jenis meditasi Islam ini melibatkan beberapa bentuk mengingat atau kesadaran akan Allah, yang tujuannya adalah untuk memurnikan hati dari perasaan jahat dan pikiran dari pikiran jahat. Setiap jiwa manusia seperti cermin yang dipoles oleh perhatian atau ternoda oleh ketidakpedulian. Al-Ghazali menulis:

Jantung berada dalam posisi cermin yang dikelilingi oleh hal-hal yang berpengaruh dan sifat-sifat ini berlanjut ke jantung. Adapun sifat-sifat terpuji yang telah kami sebutkan, mereka akan memoles cermin hati dan meningkatkannya dalam kecemerlangan, cahaya, dan cahaya sampai kejelasan kebenaran bersinar dari dalamnya dan realitas materi yang dicari dalam agama diungkapkan. [36]

Dengan memupuk zikir dan muraqabah Allah melalui berbagai latihan mental dan aktivitas, kita secara efektif “memoles” hati kita dan mengungkap sifat saleh jiwa ( al-nafs al-rabbaniyyah ), yang merupakan kondisi spiritual murni yang telah Allah ciptakan bagi kita. untuk tinggal. [37] Abu al-Darda (ra) berkata, “Sesungguhnya, segala sesuatu memiliki semir dan semir hati adalah kenangan Allah SWT.” [38] Dan Ibn al-Qayyim menulis,

Hati tercoreng oleh dua hal: ketidak-nyataan (al-ghaflah) dan dosa. Dan itu dipoles oleh dua hal: mencari pengampunan dan mengingat Allah . [39]

Sebagai contoh, merefleksikan berkah Allah adalah tindakan ibadah dan aktivitas mental (meditasi) yang luar biasa yang menghasilkan rasa syukur di hati dan mengeluarkan rasa tidak bersyukur darinya. Umar ibn Abdul Aziz berkata, “Berbicara untuk mengingat Allah SWT itu baik, dan memikirkan berkah Allah adalah tindakan ibadah terbaik.” [40] Memastikan Allah dengan kata-kata lahiriah adalah suatu kebajikan, tentu saja, tetapi memikirkan berkah kita bahkan lebih baik karena itu harus terjadi di dalam hati; kita tidak selalu sepenuhnya sadar akan kata-kata yang kita dengar, bahkan ketika itu adalah kata-kata yang baik.

Selain itu, memikirkan Hereafter dengan cara yang seimbang dan terinformasi harus mengarah pada hasil psikologis positif, kepuasan dengan tempat seseorang di dunia dan penolakan terhadap materialisme. Abu Sulaiman berkata,

Pemikiran atas dunia adalah tabir di akhirat dan hukuman bagi manusia. Memikirkan Hereafter menghasilkan kebijaksanaan dan kehidupan di hati. Siapa pun yang memandang dunia sebagai pelindungnya akan datang untuk menerima delusinya. [41]

Di sisi lain, berpikir tentang dunia dan ketidaksenangannya lebih sering daripada yang diperlukan akan menyebabkan ketidakbahagiaan dan hati yang tidak murni.

Seseorang tidak dapat berpikir tentang Allah dan dunia pada saat yang bersamaan; itu adalah satu atau yang lain. Terlalu banyak pemikiran yang tidak perlu atas dunia melemahkan perhatian kita secara keseluruhan, terutama dengan mengurangi harapan pada Allah yang mendorong kita untuk melakukan perbuatan baik dan rasa takut akan Allah yang memaksa kita untuk menghindari dosa. Al-Nasrabadhi berkata, “Harapan memotivasi Anda untuk melakukan tindakan kepatuhan dan ketakutan menjauhkan Anda dari tindakan ketidakpatuhan, dan muraqabah mengarah ke jalan kebenaran.” [42] Oleh karena itu, kita harus meluangkan waktu untuk merenungkan Allah dan akhirat setiap hari, sebagai sarana untuk meningkatkan perhatian kita akan kehadiran-Nya, rasa terima kasih atas banyak bantuan-Nya, dan untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang.

Membaca Al-Qur’an itu sendiri, yang telah dinamai “Zikir” ( Al-Dzikir ), adalah salah satu bentuk meditasi yang paling kuat dan memuaskan, seperti yang Allah katakan, “Ini adalah Kitab Suci yang diberkati, yang telah kami kirimkan ke Anda, sehingga orang-orang dapat memikirkan pesan-pesannya dan orang-orang yang paham memperhatikan. ” [43]

Al-Ghazali merekomendasikan bagi kita untuk terlibat dalam empat praktik spiritual harian yang berbeda ( al-watha’if al-arba’ah ): permohonan ( dua ‘ ), zikir ( dzikir ), pembacaan Alquran ( qira’at ), dan perenungan ( fikr ). [44] Berbagai tindakan ibadah ini akan mencegah seorang penyembah menjadi terlalu bosan dengan tindakan tunggal, sementara juga memelihara hati dan pikiran dengan cara yang berbeda dan saling melengkapi. Sama seperti diet seimbang bergantung pada kelompok makanan yang berbeda untuk nutrisi, kehidupan spiritual yang seimbang tergantung pada berbagai tindakan ibadah dan meditasi untuk mendapatkan makanan lengkap.

Salah satu praktik spiritual yang dijelaskan oleh Al-Ghazali sangat mirip dengan praktik mindfulness modern tetapi dalam pandangan dunia teologis Islam. Baginya, itu hanyalah bentuk zikir lainnya . Penyembah harus duduk dalam pengasingan, mengosongkan hati mereka dari semua masalah, dan “tidak mencerai-beraikan pikirannya dengan pembacaan Al-Qur’an, atau merenungkan penjelasannya, atau dengan buku-buku hadits , atau apa pun; melainkan, ia berusaha untuk tidak berpikir memasuki pikirannya selain Allah Ta’ala. ” Penyembah melakukannya untuk menanamkan “kehadiran hati” sampai “hatinya rajin mengingat.” Akibatnya, Al-Ghazali melanjutkan:

Jika niatnya benar, kekhawatirannya teratur, dan ketekunannya ditingkatkan, maka ia tidak akan tertarik pada keinginan basisnya dan tidak akan disibukkan dengan pikiran-pikiran kosong yang terkait dengan dunia. Realitas Kebenaran akan bersinar di dalam hatinya . [45]

Setiap bentuk meditasi Islam memiliki tempat dan fungsinya, dan seringkali mereka tumpang tindih dan menyatu. Untuk tujuan mencapai kesadaran diri yang penuh perhatian, seperti yang dibahas, kami tertarik pada tindakan ta’amul ke dalam , untuk terus memeriksa dan mengamati kehidupan batin kita dalam pengasingan yang sunyi sampai realitas keadaan mental dan emosional kita (“kerangka kerja konseptual” ) menjadi jelas bagi kami. Ini adalah teknik khusus untuk menumbuhkan kesadaran akan keadaan batin kita, untuk memerhatikan pikiran kita meluap ke permukaan pada saat permulaannya daripada dibawa pergi dengan pemikiran sebelum kita bahkan tahu apa yang terjadi.

Untuk menjadi lebih sadar akan apa yang terjadi dalam diri kita, kita perlu memahami bagaimana pikiran kita berkembang melalui tahapan menjadi tindakan. Menurut Al-Suyuti, tahap pertama dari pemikiran adalah al-hajis , pemikiran yang tiba-tiba dan cepat yang datang dan pergi sebelum orang dapat mempertimbangkannya. Kita bahkan mungkin tidak memperhatikannya sama sekali. Tahap kedua adalah al-khatir , pemikiran yang kami berikan perhatian dan pertimbangan. Pada tahap ini kita memiliki pilihan untuk melanjutkan alur pemikiran ini atau mengabaikannya. Tahap ketiga adalah hadits al-nafs , dialog batin kita atau “berbicara tentang diri” ketika kita mengejar pemikiran dan secara serius mempertimbangkan untuk bertindak atasnya. Tahapan terakhir adalah al-ham dan al-‘azm, keputusan dan tekad untuk mewujudkan pemikiran tersebut. [46] Tentu saja, ketika pikiran baik, kita bisa dan harus mengejarnya. Masalahnya datang dari pikiran buruk. Bagaimana kita belajar untuk mengabaikannya, terutama ketika mereka merasa begitu kuat dan luar biasa?

Latihan mindfulness dalam konteks ini bukan tentang menekan pikiran, tetapi lebih pada menyadarinya dan belajar untuk membiarkannya berlalu. Ketika kita menjadi lebih sadar akan pikiran kita, kita mulai merasakan jarak antara diri kita dan pikiran kita. Kita melepaskan dan menyangkal diri kita dari pikiran kita; pikiran kita yang tidak disengaja hanyalah “kejadian” ( hadath ) dan tidak selalu mencerminkan siapa kita. Pikiran awal ( al-haji ) dapat berasal tanpa sadar dari diri, seperti yang Allah katakan, “Kami menciptakan manusia — Kami tahu apa yang dibisikkan oleh jiwanya kepadanya.” [47] Pikiran juga berasal dari sumber eksternal, bisikan ( al-waswasah ) dari setan atau malaikat. Nabi ﷺ berkata:

Sesungguhnya, Setan memiliki pengaruh dengan putra Adam dan malaikat memiliki pengaruh. Adapun pengaruh Setan, ia menjanjikan kejahatan dan menyangkal kebenaran. Adapun pengaruh malaikat, ia menjanjikan kebaikan dan menegaskan kebenaran. Siapa pun yang menemukan kebaikan ini, beri tahu dia bahwa itu dari Allah dan biarkan dia memuji Allah. Siapa pun yang menemukan sesuatu yang lain, biarkan dia mencari perlindungan kepada Allah dari Setan yang terkutuk . [48]

Kemudian Nabi ﷺ membacakan ayat tersebut, “Setan mengancam Anda dengan kemungkinan kemiskinan dan memerintahkan Anda untuk melakukan perbuatan jahat; Tuhan menjanjikan Anda pengampunan dan kelimpahan-Nya. ” [49] Tidak peduli dari mana pikiran berasal, tanpa sadar dari diri bawah sadar atau eksternal dari saran malaikat atau setan, perhatian mengajarkan kita untuk lebih memahami zona antara kita dan pikiran saat terjadi dan sebelum mereka berkembang menjadi pikiran sadar dan sukarela.

Kami bukan orang jahat karena memiliki pikiran buruk; kita semua memiliki pikiran buruk, betapapun benarnya kita. Berbahaya dan kontraproduktif membebani diri kita sendiri dengan rasa bersalah karena kita mengalami pikiran buruk. Nabi ﷺ berkata, “Sesungguhnya, Allah telah mengampuni bangsa saya karena pikiran buruk mereka di dalam diri mereka selama mereka tidak berbicara tentang mereka atau bertindak atas mereka.” [50] Kita hanya bertanggung jawab atas pikiran kita jika kita secara sadar memilih untuk menindakinya. Dengan melatih diri kita untuk menjadi lebih sadar akan pikiran, ini memberi kita ruang antara diri kita dan pikiran kita sehingga kita punya waktu untuk bereaksi dengan benar, mengabaikan apa yang buruk dan mengejar apa yang baik.

Pertimbangkan pemikiran buruk dari Setan atau ego Anda seolah-olah mereka adalah anjing yang pada akhirnya berada di bawah kendali Allah. Ibn Taymiyyah berkata, “Jika anjing gembala membuatmu kesal, jangan sibuk sendiri berperang dan bertahan melawannya. Anda harus memohon kepada gembala untuk mengarahkan anjing menjauh dari Anda. ” [51] Jangan mencoba melawan pikiran jahat dengan melibatkannya atau mencoba menekannya. Alih-alih, kembalikan perhatian Anda ke perhatian dan ingatan, seperti yang Allah katakan, “Jika Setan mendorong Anda untuk melakukan sesuatu, berlindunglah kepada Tuhan.” [52] Inilah sebabnya mengapa mengerahkan upaya besar untuk menekan pikiran buruk — dan karenanya memberi lebih banyak perhatian daripada yang pantas — sering kali malah menjadi bumerang dan memperburuk keadaan. Kita akhirnya berbicara kepada diri kita sendiri tentang pikiran jahat (“Aku sangat buruk karena memikirkan itu!” “Aku seharusnya tidak berpikir seperti itu!”) Yang kemudian memberi makan kembali ke dalamnya dan memberinya oksigen untuk membuatnya tetap hidup.

Untuk sudut pandang lain, pertimbangkan pikiran Anda seolah-olah itu adalah kolam yang tenang dan pikiran Anda adalah riak dan gelombang di kolam ini. Kami memupuk perhatian dengan menyadari riak-riak dan belajar untuk mengabaikannya atau melibatkan mereka sesuka hati. Pikiran buruk seperti riak di kolam. Jika Anda menyentuhnya, atau mengaktifkannya, itu hanya membuat ombak lebih kuat. Anda tidak bisa mengalahkan ombak dengan klub; Anda harus belajar membiarkannya melayang. Melalui latihan mindfulness diam, kita membiarkan gelombang dan riak menghilang begitu saja. Perhatikan mereka, akui mereka, dan biarkan mereka lewat begitu saja saat Anda mengarahkan diri kembali ke muraqabah dengan Allah. Singkatnya, ini adalah latihan latihan perhatian.

Latihan mindfulness bukan tentang mengalami ekstasi spiritual, meskipun kadang-kadang praktik tersebut mengarah pada perasaan yang menyenangkan. Banyak orang berusaha bermeditasi atau melakukan praktik perhatian hanya karena mereka ingin merasakan spiritual yang tinggi, tetapi perasaan itu bukanlah intinya. Ini tentang latihan — pelatihan ( riyadah ) —dengan cara yang sama kita melatih tubuh kita; kadang-kadang olahraga terasa enak, bonus tambahan pasti, tetapi tujuan utamanya adalah untuk mengumpulkan kesehatan dan kekuatan. Demikian pula, latihan perhatian adalah sarana untuk mengumpulkan kekuatan mental dan, dalam hubungannya dengan kerangka kerja Islam, kekuatan spiritual.

Latihan mindfulness juga bukan tentang menggantikan tindakan ibadah utama kita yang teratur. Di antara manfaat lainnya, itu berfungsi sebagai jenis persiapan untuk tindakan ibadah utama, mirip dengan bagaimana beberapa Muslim mempersiapkan Ramadhan dengan makan lebih sedikit pada hari-hari non-puasa. [53] Pikirkan latihan kesadaran seperti latihan basket dan doa ritual ( shalat ) seperti pertandingan basket; kami memperkuat muraqabah kami melalui latihan dan latihan sehingga ketika kami menerapkan muraqabah dalam tindakan, dalam shalat , kami berada dalam kondisi mental dan spiritual terbaik. The shalat adalah kinerja, latihan kesadaran adalah latihan.

Pada bagian berikut, kami menyajikan cara mudah untuk melatih latihan perhatian harian dalam konteks Islam. Yang pasti, tidak ada metode yang ditentukan khusus latihan kesadaran dalam Islam seperti ada untuk doa ritual harian. Latihan ini adalah kegiatan sukarela yang melengkapi tindakan ibadah wajib, meskipun menggabungkan tindakan ibadah termasuk zikir ( dzikir ) dan doa ( doa ‘). Praktisi biasa akan menemukan bahwa mereka dapat membangun berdasarkan latihan mereka, untuk beradaptasi dan menyesuaikannya dengan preferensi khusus mereka, dengan cara yang sama individu dapat menggunakan prinsip kebugaran umum untuk merancang rutinitas pribadi mereka sendiri di gym. Setiap jiwa dan situasi manusia berbeda — tidak ada satu cara yang cocok untuk melakukan latihan perhatian — sehingga setiap orang harus menemukan yang terbaik untuk mereka.

Latihan Mindfulness dalam Islam
Untuk memulai, pilih waktu di mana Anda bisa berada di tempat yang sepi sendirian. Beberapa Muslim lebih suka waktu sebelum sholat subuh ( fajar) atau doa lain, sebelum atau setelah bekerja, saat istirahat makan siang, atau bahkan sebelum tidur. Latihan cepat sebelum berdoa sangat bermanfaat sebagai persiapan mental untuk berdoa. Adalah baik untuk memilih waktu reguler untuk latihan sehari-hari, tetapi itu dapat dilakukan kapan saja sesuai dengan jadwal Anda. Ini juga dapat dilakukan selama yang Anda inginkan, satu jam atau bahkan lima menit sehari. Pemula yang ingin memajukan latihan mereka harus berkomitmen setidaknya lima menit setiap hari, untuk memantapkannya sebagai kebiasaan jangka panjang, dan secara bertahap meningkatkannya dari waktu ke waktu sesuai keinginan mereka. Ketika Anda mulai melihat efek positif kumulatif dari latihan, dan belajar untuk menikmati keheningan dan keheningan dan hanya hadir, Anda mungkin akhirnya ingin melakukan latihan lebih lama.

Selanjutnya, pilih postur yang Anda rasa nyaman. Anda dapat duduk di kursi, di atas bantal yang nyaman, atau bahkan berbaring miring atau berbaring di tempat tidur, ketika Allah memuji orang-orang yang “mengingat Tuhan yang berdiri, duduk, dan berbaring.” [54] Tujuannya adalah menemukan postur yang rileks dan nyaman, tetapi tidak terlalu rileks sehingga Anda akan tertidur. Sebagai catatan tambahan, kenangan meditatif tentang Allah dalam konteks lain — ketika berbaring untuk tidur — dapat membantu memudahkan kita tidur. Ibn Al-Qayyim menulis, “Nabi sleep akan tidur ketika dibenarkan, di sebelah kanannya dan mengingat Allah sampai tidur menyalip matanya.” [55]

Sekarang, mulailah dengan memfokuskan kesadaran pada pernapasan alami Anda. Secara progresif rilekskan ketegangan otot ke seluruh tubuh Anda: lengan Anda, kaki Anda, inti Anda, rahang Anda. Anda bisa menutup mata atau menurunkannya. Saat Anda mulai dengan pernapasan santai, rasakan perasaan hati dan pikiran Anda pada saat ini. Apa yang sedang kamu rasakan? Apa yang kamu pikirkan? Apakah pikiran Anda berpacu atau tenang? Cobalah untuk menenangkan pikiran Anda dengan membawa kesadaran pada pernapasan alami dan santai Anda, cukup rasakan kehidupan dan energi yang Allah berikan kepada Anda di seluruh tubuh Anda. Rasakan rasa terima kasih yang mendalam kepada Allah atas napas, hidup, dan keberadaan Anda pada saat ini.

Ketika Anda diam di ruang batin Anda, mulailah merasakan perasaan muraqabah dengan Allah. Ketahuilah dan rasakan bahwa Dia memperhatikanmu, “Dia bersamamu di mana pun kamu berada.” [56] Dia tahu semua yang terjadi di dalam diri Anda saat ini dan setiap saat. Fokuslah pada perasaan muraqabah dalam kondisi keheningan batin ini ( samt al-sirr ). Cobalah untuk berhenti berbicara kepada diri sendiri ( hadits al-nafs ) atau mengejar pemikiran. Bungkam dialog batin Anda sebanyak yang Anda bisa dan hanya fokus hadir dengan Allah pada saat itu.

Ketika pikiran Anda mulai mengembara — dan itu pasti akan — Anda ingin mengembalikan kesadaran Anda ke pusat keberadaan Anda, dan ke hadirat Anda pada saat ini di hadapan Allah, dengan dengan tenang melantunkan ingatan akan Allah. Nabi ﷺ akan menggunakan permohonan untuk membawanya kembali ke kondisi muraqabah jika dia terganggu. Nabi ﷺ berkata, “Sesungguhnya, kadang-kadang ada kabut di hatiku, jadi aku mencari pengampunan dari Allah seratus kali dalam sehari.” [57] Al-Nawawi menjelaskan hadits ini , dengan mengatakan, “Dikatakan bahwa itu berarti ia memiliki periode tidak memperhatikan dan tidak sadar akan ingatan Allah, yang merupakan keadaan normalnya. Ketika dia memiliki periode tidak diperhatikan, dia akan menganggap itu sebagai dosa dan mencari pengampunan untuk itu. ” [58] Bahkan Nabi ﷺ kadang-kadang akan mengalami periode pelupa yang singkat, sehingga ia akan mencari pengampunan dari Allah (ia akan mengatakan ” astaghfirullah “) sebagai cara untuk membawa dirinya kembali ke keadaan muraqabah . Jika itu kondisinya, maka berapa banyak lagi yang bisa kita harapkan dari pikiran kita sendiri untuk berkeliaran?

Dalam latihan ini, permohonan atau ingatan bertindak sebagai “jangkar” untuk muraqabah Anda . Jangkar adalah ungkapan yang Anda ucapkan di dalam hati ketika pikiran Anda mengembara, yang membantu membawa pikiran Anda kembali ke pusat keberadaan dan kesadaran. Ini tidak selalu merupakan objek konsentrasi yang sangat terfokus, diulang berulang-ulang. Alih-alih, ini adalah frasa yang menenangkan bahwa pikiran Anda akan dikaitkan dengan keadaan muraqabah , baik di dalam maupun di luar latihan. Yang terbaik adalah memilih jangkar dari salah satu dari banyak permohonan otentik dalam Sunnah , “Dua kata dicintai oleh Yang Maha Penyayang, ringan di lidah tetapi berat dalam skala: Kemuliaan dan pujian kepada Allah ( subhan Allahi wa bi hamdih ) , dan kemuliaan bagi Allah SWT (subhan Allahi al-‘Athim ). ” [59] Dan lagi, “Zikir terbaik adalah menyatakan tidak ada Tuhan selain Allah ( la ilhaha illa Allah ), dan permohonan terbaik adalah menyatakan semua pujian adalah karena Allah ( al-hamdulillah ).” [60] Mencari pengampunan Allah ( al-istighfar ) adalah salah satu jangkar Nabi, jadi tidak ada yang lebih baik. Jangkar Anda juga bisa menjadi salah satu dari nama-nama indah Allah yang membangkitkan ingatan dan kesadaran di hati Anda, atau Anda bisa menggunakan semua kombinasi di atas.

Ketika Anda hadir di saat ini di hadapan Allah, pikiran akan berkeliaran lagi dan lagi menjadi ketidakpedulian dan gangguan karena pikiran yang muncul. Tidak apa-apa, tidak ada yang salah dengan itu; sebenarnya, itu sangat normal. Tetapi setiap kali Anda menggunakan jangkar Anda (zikir atau permohonan) untuk kembali ke keadaan muraqabah , itu seperti melakukan push-up mental atau sit-up. Melalui latihan yang berkelanjutan, Anda akan memperkuat otot mental dan spiritual Anda. Jangan menyalahkan atau mengecam diri sendiri ketika pikiran Anda mengembara, bawa saja kembali dengan tenang ke kesadaran dengan jangkar Anda. Ini adalah tindakan ta’amul , berulang kali membawa diri Anda kembali ke keadaan muraqabah, with Allah and with your inner self, until it becomes a natural and comfortable habit to be in this state.

Sometimes our minds race and race during the exercise, wandering off again and again until we feel that we have not achieved anything from our exercise. That would be a mistaken notion. The best mindfulness exercise session is the one you completed, period. No matter how long your mind spent in unmindfulness, every time you brought it back to muraqabah it became stronger and stronger. And every time you mentioned the name of Allah inside you or silently nurtured gratitude for His giving you life and energy and breath, it was written down by angels in the record of your good deeds and it polished away some of the rusted spots over your heart.

Fruits of Mindfulness Exercise
Jika Anda menjadikan praktik sederhana ini sebagai kebiasaan biasa, Anda akan melihat hasil positif yang menumpuk dari waktu ke waktu. Anda akan memperhatikan bahwa memiliki kehadiran dalam doa menjadi lebih mudah dan lebih alami daripada sebelumnya. Anda akan dapat menghilangkan stres dengan lebih baik dan mendapatkan relaksasi yang menenangkan, lebih memfokuskan perhatian Anda saat dibutuhkan, memiliki waktu yang lebih mudah dalam menghadapi saat-saat sulit dalam hidup, dan mengalami lebih banyak belas kasih dengan orang lain. Jangkar Anda (zikir atau permohonan) dalam latihan dapat digunakan kapan saja untuk membawa Anda kembali ke keadaan muraqabah , di mana pun Anda berada dan apa pun yang Anda lakukan. Tentu saja, sementara latihan latihan perhatian menjadi menyenangkan, kita seharusnya tidak pernah menekankannya pada pengabaian terhadap tindakan ibadah lainnya yang sangat baik seperti sholat sukarela, puasa, atau membaca Alquran.

Salah satu hasil terpenting dari praktik tersebut adalah berada dalam cara kita memperoleh kendali atas pikiran dan emosi kita. Ketika kita memperhatikan pikiran muncul pada permulaannya selama latihan kita, di lain waktu kita akan lebih mudah memperhatikan pikiran buruk ketika mereka muncul. Ini memberi kita ruang waktu untuk bereaksi terhadap mereka sebelum kita mulai mengikuti jalan pikiran yang buruk dan bertindak tanpa sadar apa yang terjadi. Kita sekarang dapat memandang pikiran-pikiran buruk sebagai riak-riak di kolam, terikat untuk menghilang selama kita menyadarinya ketika mereka meluap dari pikiran bawah sadar (atau dari Setan) dan membiarkannya berlalu tanpa melibatkan mereka atau berbicara kepada diri kita sendiri tentang mereka. Ketika kita memiliki pikiran yang baik, kita akan lebih cepat memperhatikannya dan karenanya memelihara mereka seperti yang kita inginkan. Kami tidak ingin melepaskan diri dari pikiran sama sekali, seperti yang diajarkan oleh beberapa praktisi perhatian,

Mekanisme serupa juga berlaku untuk perasaan dan emosi. Ketika kita terbiasa memperhatikan perubahan internal yang halus, kita menjadi lebih sadar akan jarak antara perasaan dan reaksi terhadapnya. Sebagai contoh, Nabi ﷺ berkata, “Jangan marah.” [61] Tetapi kita semua pasti merasa marah dan memiliki pikiran yang marah pada beberapa titik. Seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, para ulama mengatakan bahwa makna hadis adalah “untuk menghindari penyebab kemarahan dan jangan memaparkan diri Anda pada apa yang menghasutnya … jangan bertindak atas apa yang diperintahkan kemarahan kepada Anda.” [62] Ketika kita menjadi lebih sadar akan perasaan kita, kita menjadi lebih sadar akan pemicu negatif kita untuk menghindarinya, serta menempatkan zona penyangga antara kita dan perasaan kita yang memberi kita waktu untuk bereaksi dengan cara yang benar, seperti mengingat untuk berlindung pada Allah ketika marah bukannya secara refleks meneriaki orang lain atau melakukan sesuatu yang terburu-buru yang akan kita sesali nanti.

Lebih jauh, kita pasti akan mengalami keinginan dan dorongan untuk melakukan dosa. Ini adalah bagian dari cobaan hidup. Ketika kita menumbuhkan muraqabah , kita dapat menyadari keinginan seperti itu ketika mereka mulai berkecambah. Kita bisa mengakuinya tanpa rasa bersalah; mereka alami dan tidak dapat dihindari. Memiliki keinginan buruk tidak membuat kita menjadi orang jahat. Tetapi semakin kita memperhatikan keadaan batin kita, semakin baik kita melepaskan diri dari hasrat kita yang lebih rendah dan sebaliknya bertindak berdasarkan hasrat kita yang saleh dan lebih tinggi. Kebiasaan merujuk kembali ke jangkar kita (zikir atau permohonan) memberi kita cukup ruang bernafas untuk dengan percaya diri mengatakan “tidak” pada saran jahat diri atau iblis.

Kesimpulan


Perhatian penuh dalam Islam ( al-muraqabah ) adalah kondisi sadar dari kesadaran komprehensif Allah dan kondisi batin kita dalam hubungannya dengan-Nya. Dalam bentuknya yang lengkap, ini adalah kondisi spiritual tertinggi yang bisa dicapai — realisasi sempurna dari keunggulan dalam keimanan ( al-ihsan ). Ilmu pengetahuan modern telah menunjukkan kemanjuran latihan kesadaran dalam memperoleh sejumlah manfaat kesehatan dan kesejahteraan, bahkan dalam konteks non-religius. Wawasan ini dapat disintesis secara kritis dengan konsep meditasi tradisional Islam untuk menghasilkan teknik kontemporer praktis yang menumbuhkan perhatian Islam, meningkatkan ibadah, dan memperkaya kualitas hidup kita.
Keberhasilan datang dari Allah, dan Allah paling tahu apa yang terbaik bagi kita.#

Psikologi kesabaran

Apa itu psikologi Kesabaran?


Secara psikologis Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap tenang dan tetap punya kendali diri disaat Anda sedang menunggu hasil yang Anda butuhkan, disaat anda mengalami situasi dan kondisi yang sulit dan disaat anda tertimpa suatu kejadian yang membuat hidup anda kacau dan goncang. Menurut penelitian seorang psikolog Sarah Schnitker, kesabaran datang dalam tiga varietas utama: kesabaran interpersonal, kesabaran kesulitan hidup, dan kesabaran kerepotan sehari-hari.

Mari kita lihat ini lebih terinci:

  1. Kesabaran Antar pribadi
    Adalah merupakan Kesabaran interpersonal, yang merupakan kesabaran dengan orang lain, dimana berkaitan dengan tuntutan dan kegagalan mereka.

Anda mungkin menganggap beberapa orang atau bisa jadi anak anda sebagai pembelajar yang lamban, sulit dimengerti, atau bahkan benar-benar tidak masuk akal. Atau, mereka mungkin memiliki kebiasaan buruk yang membuat Anda jengkel. Tetapi kehilangan kesabaran Anda dengan mereka tidak akan bermanfaat, dan itu bisa memperburuk keadaan.

Kesabaran dan pemahaman terhadap orang lain sangat penting ketika Anda berada ditengah keluarga ataupun ditempat kerja.

Jenis kesabaran ini aktif. Keterampilan mendengarkan dan empati sangat penting, dan, ketika Anda berurusan dengan orang-orang sulit , Anda perlu kesadaran diri dan kecerdasan emosional untuk memahami bagaimana kata-kata dan tindakan Anda memengaruhi situasi. Anda tidak bisa hanya menunggu dan berharap yang terbaik.

  1. Kesabaran Kesulitan Hidup, kita bisa menggunakan istilah ketekunan untuk menyimpulkan kesabaran hidup. Ini bisa berarti memiliki kesabaran untuk mengatasi kemunduran serius dalam hidup, kesabaran dalam menjalani tekanan dan kekacauan dalam kehidupan rumah tangga seperti menunggu hasil dalam jangka panjang, Tetapi itu juga dapat mencakup kemampuan Anda untuk bekerja menuju tujuan jangka panjang – apakah itu berupa pekerjaan atau karir, atau apakah itu berupa upaya perbaikan hubungan dalam rumah tangga.

Apa pun hambatan yang harus Anda atasi, kemungkinan akan membutuhkan tekad dan fokus untuk mencapai. Dan Anda perlu mengendalikan emosi Anda sepanjang perjalanan. Emosi ini dapat berkisar dari keinginan untuk menyelesaikannya, untuk marah pada frustrasi yang Anda temui di sepanjang jalan – yang dapat menyebabkan Anda menjadi terdemotivasi.

  1. Kesulitan Kesulitan Harian,
    Terkadang Anda membutuhkan kesabaran untuk menghadapi keadaan yang berada di luar kendali Anda. Ini adalah “kerepotan hidup” Anda. Sesuatu yang sepele seperti terjebak dalam rutinitas mengurus buah hati anda misalnya, atau dalam membimbing anak anda yang berkebutuhan khusus.

Anda juga perlu kesabaran untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari yang membosankan tetapi tidak terhindarkan yang tidak selalu berkontribusi pada tujuan pribadi Anda. Kemampuan mempertahankan disiplin diri , dan memberikan pekerjaan – tidak peduli seberapa biasa – perhatian terhadap detail yang dibutuhkannya, adalah ciri khas kesabaran.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi frustrasi kecil dan konstan ini lebih cenderung lebih empatik, lebih adil, dan lebih sedikit menderita dari depresi.

Manfaat dan Risiko Kesabaran
Secara umum, bersabar berarti kemungkinan besar Anda dipandang secara positif oleh rekan kerja, oleh anak maupun anggota keluarga anda, oleh teman teman dan lingkungan sosial maupun lingkungan profesi anda.

Jika Anda sering tidak sabar, orang mungkin melihat Anda sombong, tidak sensitif dan impulsif. Rekan kerja mungkin berpikir bahwa Anda adalah pembuat keputusan yang buruk, karena Anda membuat penilaian cepat atau mengganggu orang. Jika Anda mendapatkan reputasi karena memiliki keterampilan orang miskin dan temperamen yang buruk, orang lain bahkan mungkin dengan sengaja menghindari bekerja dengan Anda. Akibatnya, tidak mengherankan, orang yang tidak sabar tidak akan menjadi yang teratas dalam daftar untuk promosi.

Tentu saja, bersabar bukan berarti Anda harus menjadi “penurut.” Jauh dari itu. Terkadang tidak masalah untuk menunjukkan ketidaksenangan Anda ketika orang-orang membuat Anda menunggu dengan tidak perlu. Jadi, pastikan Anda menetapkan batasan yang kuat . Tapi, pastikan Anda sopan dan tegas , tidak pernah marah dan agresif.

Kunci dari semuanya adalah kesabaran. Anda mendapatkan ayam dengan menetaskan telur, bukan dengan menghancurkannya.


  • Ketidaksabaran berakar pada frustrasi. Ini adalah perasaan stres yang meningkat yang dimulai ketika Anda merasa bahwa kebutuhan dan keinginan Anda diabaikan. Dalam lingkungan modern di mana kita terbiasa dengan komunikasi instan dan akses langsung ke data, itu adalah masalah yang berkembang. Tetapi mengenali tanda-tanda peringatan dapat membantu Anda mencegah ketidaksabaran terjadi.

Gejala Ketidaksabaran
Ketidaksabaran memiliki berbagai gejala. Tanda-tanda fisik dapat termasuk dangkalnya cara berfikir, pernapasan cepat, ketegangan otot, dan tangan mengepal. Atau Anda mungkin mendapati diri Anda gelisah dengan gelisah.

Mungkin ada perubahan dalam suasana hati dan pikiran Anda juga. Anda mungkin menjadi mudah tersinggung, marah, atau mengalami kecemasan atau gugup. Bergegas untuk melakukan sesuatu dan membuat keputusan cepat – gejala penyakit terburu – buru – adalah tanda-tanda yang jelas bahwa ketidaksabaran Anda sedang berada di atas angin.

Pemicu Ketidaksabaran
Jika Anda mengalami perasaan dan gejala ini, cobalah untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkannya. Banyak dari kita memiliki “pemicu” untuk ketidaksabaran. Ini bisa berupa orang, kata, atau situasi tertentu.

Buatlah daftar hal-hal yang menyebabkan Anda menjadi tidak sabar. Jika Anda kesulitan mengidentifikasi pemicu Anda, berhentilah dan pikirkan kapan terakhir kali Anda merasakan hal ini. Apa penyebabnya?

Jika Anda tidak yakin, tanyakan rekan kerja Anda (atau teman dan keluarga Anda) tentang ketidaksabaran Anda. Kemungkinannya, mereka tahu apa yang membuat Anda “terluka dan menjadi tidak sabar”.

Cobalah membuat jurnal untuk merekam ketika Anda mulai merasa tidak sabar. Tuliskan detail situasinya, dan mengapa Anda merasa frustrasi. Ini dapat membantu Anda untuk memeriksa tindakan Anda dan memahami mengapa Anda merespons dengan cara ini.

Anda tidak akan selalu bisa menghindari pemicu yang membuat Anda tidak sabar. Tetapi Anda bisa belajar mengelola reaksi Anda terhadap hal tersebut.#

Psikologi Islam

Apa itu spikologi islam.?

Psikologi Islam (Ilm Ul Nafs) adalah studi tentang “diri” (nafs) atau “jiwa” dari Perspektif Islam dengan konsep-konsep yang tidak termasuk dalam bentuk-bentuk barat mempelajari bidang tersebut yaitu pengaruh yang tak terlihat, dampak takdir, goyangan shaytaan dan masuknya jiwa. Psikologi Islam juga membahas topik dalam psikologi dengan ajaran, sejarah, nilai-nilai dan ide-ide Islam sebagai dasar seperti ilmu saraf, filsafat pikiran, psikiatri, kedokteran dan terapi.

Psikologi didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang pikiran manusia, fungsinya dan polanya yaitu proses dan persepsi pikiran; bagaimana hal itu memengaruhi perilaku atau pengaruh karakter tertentu terhadap perilaku dan secara umum, keadaan mental pikiran.

Ketika Islam melekat pada Psikologi dan dijadikan studi akademis dan disiplin Anda mulai mempertanyakan berapa lama komunitas Muslim mungkin mengabaikan kesehatan mental, efek, penyebab dan jalan untuk pemulihan? Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan seharusnya hanya “dilakukan”, beberapa mungkin mengatakan bahwa kesulitan harus tetap antara Anda dan hubungan Anda dengan Allah, yang lain mungkin mengatakan pengaruh klasik – jin, sementara yang lain mungkin mengatakan ” ini adalah sesuatu yang baru, dan belum pernah dipertimbangkan sebelumnya ”. Namun, jika kita melihat kembali ke sejarah Islam kita yang kaya, Anda pasti bertanya-tanya “bagaimana mungkin kemajuan peradaban, ketika pengaruh fundamental dilupakan dan nilai-nilai kita berbalik ke belakang?”

Muslim sering bangga dengan nenek moyang mereka dan penemuan-penemuan Islam yang dibawa ke barat yaitu kopi, peta, jam dan instrumen bedah tetapi ketika datang ke Psikologi dan “penyembuhan mental”, kita semua sedikit tersesat dan gagal untuk mengklaim keberhasilan – mungkin itu karena kita tidak begitu berhasil hari ini.

Sejarah psikologi dimulai dengan orang-orang Yunani kuno, tetapi apa yang para cendekiawan Timur Tengah waktu itu bawa ke rumah-rumah pengetahuan dan kebijaksanaan mereka yang membentuk psikologi yang kemudian akan mempengaruhi Eropa ketika ia mengalami kebangkitan pertama. Seperti orang Yunani, para sarjana tidak memiliki istilah untuk “psikologi” dan tidak mengklasifikasikan diri mereka sebagai psikolog; sebaliknya mereka mendekatinya dengan cara praktis yang mencari cara untuk menyembuhkan, menyembuhkan dan menyeimbangkan tubuh daripada hanya berteori. Sementara banyak sarjana Muslim berkontribusi pada studi Psikologi Islam, karya-karya lain hilang dalam gerakan dan waktu – ada beberapa nama yang harus dicatat karena signifikansinya bagi Psikologi Islam hari ini.

Kami memiliki Ibn Sinna (Avicenna) yang mengusulkan bahwa manusia memiliki 7 indera batin yang memuji indra luar: Akal sehat, Imajinasi retensi, Imajinasi hewan dan manusia komposit, kekuatan Estimasi, Memori dan Pemrosesan. Semua yang pada dasarnya mendasari materi umum yang digunakan untuk mengajar psikologi hari ini, dan usulannya juga telah menjadi titik rujukan bagi banyak orang untuk mengejarnya yang telah mempelajari aspek-aspek tertentu secara individual. Psikologinya menuntunnya untuk mengembangkan ketakutan, kejutan, dan terapi musik yang menempatkan kepercayaan – “penyakit mental disebabkan oleh setan / kerasukan” , diam (lihat betapa terbelakangnya kitaadalah?). Dia tetap setia pada ide-ide Yunani keseimbangan internal, tetapi mendorong lebih jauh dengan mengatakan kepercayaan adalah salah satu komponen yang dapat mempengaruhi semua aspek tubuh. Dia menyarankan mengatakan bahwa jika seseorang percaya bahwa dia bisa menjadi lebih baik, penyakit fisiknya akan dikalahkan, sebaliknya, orang yang sehat bisa menjadi sakit, jika mereka percaya mereka akan menjadi sakit. Ini menambahkan penyakit / gangguan somatik / psikosomatik ke kamus Psikologi.

Kita memiliki orang-orang besar seperti Muhammad Zakariyah-e-Razi (Razi / Rhases) yang berkontribusi terlalu banyak dalam bidang sains, tetapi pengamatannya tentang pikiran manusia sangat menarik. Dia membuat pernyataan tentang kondisi emosional manusia dan membuat saran untuk perawatan mereka, dengan fokus pada nutrisi dan makanan. Dia juga membuat pengamatan yang sangat baik tentang penggunaan terapi bersyarat, berabad-abad sebelum psikolog perilaku abad ke -20.

Tokoh terkenal lainnya termasuk Al-Ghazali yang mungkin meletakkan dasar untuk Psikolog Anak terkemuka seperti Piaget dan konsep asosiasi, pembelajaran dan kondisi untuk behavioris seperti Pavlov dan John Watson. Al-Ghazali adalah salah satu yang pertama yang memperkenalkan sifat ego-sentrisme anak-anak sejak lahir dan gagasan takut diajarkan atau dipelajari dari pengalaman. Sebagai seorang sufi, ia sangat percaya bahwa pengamatan diri dan analisis diri adalah kunci untuk memahami penyakit mental dan menemukan sumber tersembunyi dari masalah internal. Dari ini, kita tidak bisa tidak bertanya-tanya sejauh mana ide-idenya mempengaruhi ide penilaian diri dalam praktik saat ini. Dia juga membawa ke dunia psikologi ide kebutuhan, dan mengusulkan bahwa kepribadian manusia memiliki dorongan dan keinginan yang perlu dipenuhi untuk fungsi yang optimal – meskipun versinya dikategorikan lebih tajam dibandingkan dengan “Hirarki kebutuhan” Maslow, modelnya memang memberikan pedoman yang signifikan untuk mengelompokkan kebutuhan / keinginan mental. . Ada juga Ibn Khaldun yang akan digambarkan sebagai ahli perilaku hari ini ketika ia mengusulkan bahwa kepribadian dibentuk oleh lingkungan dan lingkungan individu. Pandangan bertindak sebagai petunjuk untuk ide-ide seperti perdebatan Alam vs Nurture dan alasan eksperimental untuk pendukung biologi dan behavioris. Karya-karya Najub Uddin Muhammad ditemukan sangat rinci tentang banyak gangguan mental seperti depresi, paranoia,

Selama masa ini, Islam berkembang dan banyak orang akan menggambarkan tahun-tahun dari 750CE – 1258CE sebagai Zaman Keemasan Islam. Setelah Abbasiyah didirikan dan Baghdad menjadi modal mereka – penguatan kekuasaan dan perluasan kekaisaran mereka berarti akumulasi pengetahuan, terutama di dalam ilmu-ilmu. Dari astronomi hingga matematika, tetapi kedokteran dan kesehatan selalu tetap menjadi prioritas utama karena pentingnya menjaga orang-orang di sekitar Anda dan diri Anda sebagai Muslim. Seperti yang kita semua tahu, penting untuk tidak hanya menjaga kesehatan spiritual orang lain dengan membiarkan mereka berdoa Sholat di mana dan kapan saja mereka inginkan, tidak mengalihkan mereka dari Quran, dan selamanya mendorong untuk maju dalam pengetahuan Islam dan Arab dll – tetapi kita juga harus menjaga kesehatan fisik dan mental masing-masing.

“Tak satu pun dari Anda akan benar-benar beriman sampai Anda mencintai saudara Anda apa yang Anda cintai untuk diri sendiri.”
(Bukhari & Muslim)

Abbasiyah benar-benar hidup sampai saat ini. Mungkin ada banyak alasan mengapa mereka memutuskan untuk mengemudi dan mendanai lebih jauh ke rumah sakit – satu kenyataan bahwa dalam Islam, yang kurang beruntung adalah mereka yang harus diberi perhatian paling besar, dari yang cacat fisik, perjuangan keuangan, hingga yang sakit jiwa. Kekhalifahan jelas-jelas membantu kami semua karena rumah sakit sangat maju dalam hal organisasi, perawatan (medis dan dukungan) serta pemulihan umum. Ada bangsal terpisah untuk pria, wanita, penyakit dalam, pasien bedah, penyakit menular, dan yang sakit mental. Pelatihan ekstensif, fasilitas canggih dan spesialis selalu siap untuk memberikan perawatan dan pengobatan terbaik untuk semua pasien, termasuk non-muslim. Abbasiyah tidak membeda-bedakan antara yang waras dan yang gila, tetapi juga tidak membeda-bedakan agama. Hidup adalah hidup, dan manusia adalah manusia.

Jika itu sebelum kita, jauh sebelum kita dapat mengenali, mendiagnosis dan mengobati penyakit mental, dan jika itu sebelum kita, jauh sebelum kita menguasai konsep-konsep yang tampak begitu “umum” untuk kita hari ini, dan jika itu sebelum kita, jauh sebelum kami melahirkan beberapa aspek Psikologi sebagai disiplin – mengapa kita tidak bisa melakukan seminimal mungkin? Mengapa kita tidak dapat menerima, mengenali, dan mengakui kesehatan mental sebagai sangat benar, sangat nyata, dan sangat mentah bagi mereka yang mengalami masalah kesehatan mental?

Kita tidak lagi berada di zaman di mana kita memiliki alasan untuk tetap bodoh, dan kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa kesehatan mental tidak ada dalam Islam – Islam dikirim untuk semua umat manusia, kepada semua umat manusia sepanjang waktu, yang berarti bahwa kita jelas telah melewatkan sesuatu jika kesehatan mental masih tampak sangat baru dan tabu bagi kita.

Kesehatan mental adalah kebenaran yang kita semua tahu tetapi sepakat untuk tidak membicarakannya dan sekarang saatnya untuk mengubahnya.#

Motivasi Kehidupan Akherat

Apa itu Motivasi?

Definisi paling sederhana dari kata ‘motivasi’ adalah ‘apa yang mendorong kita untuk bertindak’. Ini mungkin satu atau lebih faktor intrinsik dan ekstrinsik yang memicu keinginan atau kebutuhan untuk berperilaku dengan cara tertentu. Keinginan biasanya digabungkan dengan konsekuensi potensial – baik hadiah atau hukuman.

Motivasi adalah konsep yang diterapkan di segala usia dan semua lingkungan; dari rumah ke ruang kelas, dari kantor ke kehidupan publik. Ini memungkinkan mereka yang berwenang untuk menjalankan harapan tanpa paksaan dan bagi mereka yang berwenang untuk menyerah tanpa banyak usaha.

Beberapa teori motivasi kontemporer menyatakan bahwa perilaku dimotivasi oleh naluri alami seperti cinta, kemelekatan, ketakutan, atau kemarahan. Beberapa mengatakan bahwa kita dimotivasi oleh imbalan eksternal untuk berperilaku dengan cara tertentu atau oleh kebutuhan untuk memenuhi keinginan internal. Beberapa teori menggabungkan naluri alamiah, keinginan internal, dan penghargaan eksternal untuk menggambarkan perilaku manusia.

Sebagai manusia, kita tertarik pada pertanyaan seperti, “Apa gunanya ini?” atau “Mengapa saya di sini?” setiap kali kita mencoba sesuatu dan, khususnya, ketika kita merasa sulit. Kami ingin pekerjaan menjadi bermakna dalam jangka panjang, ingin merasa kami melakukan sesuatu yang berharga, dan kami ingin merasa divalidasi.

Kami menerapkan kebutuhan ini tidak hanya untuk pekerjaan sehari-hari tetapi untuk kehidupan itu sendiri. Pada titik tertentu, setiap orang pasti bertanya, “Mengapa?”

Allah SWT telah menjawab pertanyaan ini untuk kita:

{Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali bahwa mereka harus beribadah kepadaKu.} ( 51:56 )

Begitu tujuan hidup telah ditetapkan dalam pikiran kita, apa yang memotivasi kita untuk memenuhi tujuan itu?

Apa ruginya jika tidak memenuhi tujuan itu, atau mencapainya tanpa semangat?

Al-Quran memberi tahu kita:

{Demi waktu; memang, manusia dalam kerugian ; kecuali orang-orang yang percaya dan berbuat benar dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran} ( 103 )

{Siapa yang melakukan kebenaran, baik laki-laki atau perempuan, ketika ia adalah orang yang beriman – Kami pasti akan membuatnya hidup baik, dan Kami pasti akan memberi mereka pahala mereka [di akhirat] sesuai dengan yang terbaik dari apa yang mereka lakukan sebelumnya .} ( 16:97 )

Tujuannya di sini bukan untuk meremehkan kedalaman makna dalam setiap ayat Quran. Namun, pada nilai nominal, mereka harus berfungsi sebagai pengingat untuk menyentak satu ke belakang, untuk berhenti, dan untuk merenungkan lebih dalam.

Harapan akan hadiah mendorong kita untuk mendapatkan kehidupan terbaik di akhirat dengan menggunakan mata uang yang telah disediakan; yaitu waktu. Seorang mukmin sejati dimotivasi oleh keinginan untuk kepuasan internal sementara juga menjaga fokus pada tujuan akhir – yaitu untuk mendapatkan keridhaan Allah.

The Destroyer of Pleasures

Apa yang membantu kita menginternalisasi tujuan, penghargaan, dan hukuman ketika kita terperangkap dalam detail yang rumit dan gangguan hidup? Bagaimana kita menerapkan reset emosional? Bagaimana kita kembali ke inti ketika kita tersesat dalam pengembaraan hidup di dunia ?

Nabi Muhammad, saw, memberi kita solusi untuk ini dengan mengatakan:

“Sering seringlah mengingat penghancur kesenangan – yaitu kematian.” (At-Tirmidzi)

Memang, mengingat cobaan di sekitar pengalaman kematian mengetuk kita kembali ke keadaan kesadaran sejati. Dengan “mengingat” kita tidak hanya berarti tindakan mengingat; yang kami maksudkan adalah menginternalisasi kenyataan yang menanti kita dan pemahaman bahwa tindakan kita akan menentukan tingkat keparahan atau kemudahan pengalaman.

Jadi, jika semuanya gagal, ingatan akan kematian saja merupakan motivator yang cukup dalam kehidupan orang percaya.

{Setiap jiwa akan merasakan kematian, dan Anda hanya akan diberikan kompensasi [penuh] pada Hari Kebangkitan …} ( 3: 185 )

Kesadaran akan kematian dan realitasnya menuntun seseorang untuk bertobat dan mencari pengampunan atas dosa secara konsisten. Itu membuat kita tetap rendah hati dan terkendali. Ini membawa sejumlah kebijaksanaan yang menghasilkan ketenangan dalam menghadapi kesulitan, kepuasan batin dengan ketentuan dan berkat kita, dan manisnya melakukan tindakan ibadat yang mengarah pada pemenuhan tujuan kita dalam kehidupan ini dan menjaga prioritas kita secara teratur.

Mempertahankan ingatan akan karunia dengan berbuat baik dan mengingat kematian yang pasti tak terhindarkan dalam kehidupan kita akan mendorong kita untuk mengembangkan perilaku yang baik, untuk diingat sebagai orang yang baik, dan untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang datang setelah kita. Dengan demikian, pedoman Islam untuk motivasi tidak hanya melayani umat manusia pada tingkat individu, tetapi lebih kepada umat manusia secara keseluruhan.#

Kekhalifaan Islam

Khilafah atau kekhalifahan Islam adalah Kepemimpin atau pemerintahan yang menjadikan Syariat Islam (Quran & Hadist) sebagai sumber hukum tertinggi yang diakui dan dipatuhi oleh seluruh umat Islam diseluruh dunia dan dipimpin seorang Khalifah , seperti halnya pemerintahan Madani pada zaman Nabi di Madinah.

Beberapa pendapat bahkan memberi syarat yang lebih berat yaitu bahwa seorang Khalifah akhir zaman adalah seorang wakil Allah dimuka bumi, maka kemunculannya pasti sudah diisyaratkan oleh Allah.

Jadi jika ada sekelompok orang/pemerintahan yang mengklaim sebagai khilafah Islam tapi hanya dipatuhi oleh suatu kelompok dan tidak dipimpin oleh seseorang yang diisyaratkan agama (Hadist), tentu bukanlah khilafah Islam. Karena beberepa fihak lain bisa juga mengklaim sebagai khilafah Islam . dalam arti bisa terjadi puluhan klaim khilafah Islam dalam satu waktu.

Kalau pendirian Khilafah dipandang seperti mendirikan negara maka bisa kita bayangkan betapa kacaunya dunia Islam, misal saja ada 10 atau 15 klaim khilafah Islam didunia yang masing masing berbeda mazhab dan masing masing punya kekuatan militer. Padahal dengan adanya puluhan sekte saja kita melihat setiap sekte merasa yang paling benar dan saling bertengkar.

Dengan demikian membuat kekhalifahan Islam ternyata tidak semudah seperti mendirikan suatu negara, Karena harus ditaati oleh umat Islam sedunia, juga pemimpinnya (khalifahnya) harus sudah diisyaratkan oleh Allah, seperti halnya Khilafah Islam Imam Mahdi (Hadist) , Khilafah umat Nabi Isa (hadist), atau juga dipenunjukan langsung oleh Allah kepada Nabi Dawud as (QS. Ashaad 26) yang merupakan Khilafatullah Pertama dimuka bumi.
Satu catatan penting adalah bahwa, kedua Khilafah yang mendapat legitimasi/diridloi Allah yang pernah ada dimuka bumi, Yaitu yangi secara khusus buat umat Islam (Era Nabi dan Khulafaur Rasyidin ) dan satu lagi secara khusus untuk Bani Israeli (Era Nabi Dawud as dan Sulaiman as). keduanya, paling tidak memiliki dua kesamaan yaitu :

Kedua Khilatullah itu sama sama dibentuk ditempat suci, Khilafah Islam dikota suci Madinah, dan Khilafah untuk Bani Israel dikota suci Yerusalem.
Setelah era kedua Khilafah itu, Allah menjanjikan akan kembalinya kedua Khilafah itu. Bani Israel dijanjikan dengan akan turunnya kembali Al Masih, Umat Islam dijanjikan dengan akan turunnya Al Mahdi.
Tentang akan terbentuknya Khilafah Islam kedua (terakhir) itu sendiri, kita melihat paling tidak ada tiga alasan (berdasar Sunnah dan Ayat Quran) yang menurut kami sangat cukup menjadi petunjuk kapan Khilafah Islam itu akan terbentuk , yaitu :

Hadist menyebut Khilafah Islam hanya akan terjadi dua kali.
Selama Ya’juj Ma’juj masih ada maka tidak Mungin dibentuk Khilafah Islam .
Hanya Khllafah Islam yang dipimpin Al Mahdi yang diisyaratkan Hadist sebagai Khilafah akhir zaman, tidak ada yang lain.
Poin ketiga sudah sangat jelas, Kita akan bahas poin kesatu dan kedua.

Khilafah Islam Hanya Akan Terjadi Dua Kali
Kita akan mengupas hadist yang sebenarnya sering kali dikutip oleh banyak fihak tapi sayangnya kebanyakan gagal mengambil makna yang terkandung didalamnya. Padahal cukup dengan hadist itu kita sudah tahu apakah mungkin suatu khilafah Islam itu bisa begitu saja dibentuk oleh seseorang yang mengaku sebagai khalifah atau wakil Allah dimuka bumi.

Secara umum umat Nabi Muhammad sejak beliau diangkat Nabi sampai akhir zaman akan mengalami 5 zaman , hal ini telah diIsyaratkan dalam beberapa Hadist Shahih riwayat Ahmad dan Abu Dawud, Kita kutip salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi (Muhammad) diam.” (HR Ahmad)

Mari kita identifikasi satu persatu 5 zaman itu :

Zaman Kenabian ( Mulai Muhammad diangkat Nabi sampai meninggalnya Beliau) (570M-632M)
Zaman Kekhalifahan Islam pertama (masa Khulafaur Rasyidin) ,(632-662M).
Zaman Raja2 menggigit (penindas) Kerajaan Umayyah, Abassiyah, Ustmani , 662M-1924M
Zaman Raja2 pemaksa (diktator) Kerajaan Arab Saudi ,1932 – sekarang.
Zaman khilafah Islam Terakhir yang akan diprakarsai Imam Mahdi dan Nabi Isa .
Berakhirnya sejarah manusia, menuju proses kiamat (diisyaratkan “Nabi terdiam”),
Kalimat “Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah” , maknanya Khilafah Islam itu hanya akan terjadi dua kali Yaitu zaman Khulafaur Rasyidin dan khilafah Islam dunia terakhir yang akan dibentuk Imam Mahdi.

Kalimat “ Kemudian Nabi (Muhammad saw) terdiam “ , bermakna bahwa setelah berakhir khilfah Islam yang dipimpin Imam mhadi dan Nabi Isa maka berakhirlah sejarah umat manusia dan sejarah dunia, artinya dunia akan memasuki proses2 kiamat. Artinya, KeKhalifahan Islam yang dimaksud akan terjadi diujung akhir zaman (sebelum kiamat).

Karena banyak hadist lain yang menyebut Imam mahdi yang akan membentuk Kekhalifahan akhir zaman, maka dengan gampang kita menyimpulkan bahwa kekhalifahan Islam yang dimaksud hadist diatas adalah yang akan dibentuk oleh Imam Mahdi.

Ehmm ternyata bukan sembarangan orang ya yang pantas menyebut dirinya sebagai seorang Khalifah …..tentu saja karena seorang khalifah pastilah seorang wakil Allah dimuka bumi. Sederhananya kalau nama kita , ciri2 fisik waktu dan tempat kemunculan kita sama sekali tidak masuk kriteria yang diisyaratkan hadist ya sangat tidak lucu kalau mengklaim sebagai seorang Khalifah Allah.
.

Kita akan membahas langsung pada fase ketiga karena fase pertama dan kedua sudah sangat jelas.

Fase Ketiga

Setelah masa Khulafaur Rasyidin ada 3 pemerintahan yang “mengklaim” sebagai Khilafah Islam , Yaitu Kekhalifahan Umayyah (662M-750M), Abassyah (750M-1258M) dan Ustmani (1294-1924). Jelas ketiga pemerintahan Islam itu masuk ke fase ketiga Raja2 menggigit (penindas). Silahkan baca sendiri sejarah sepak terjang tiap dinasti itu, tapi yang pasti tiap pergantian dinasti selalu diawali dengan perebutan kekuasaan dengan kekerasan.

Pada akhir fase ketiga ada Kekhalifahan Ustmani. Saya kira sejarah telah mencatat bagaimana kekhalifahan Ustmani itu dibentuk dari penyerangan terhadap Kekasiran Bizantium yang beragama Kristen Orthodox. Dan bahkan ada tindakan memalukan yang tidak pernah diajarkan Islam yaitu mereka merubah fungsi Katedral Hagia Sofia menjadi Masjid.

Tidak satupun Ayat atau Hadist yang menyuruh menyerang umat lain jika mereka tidak menyerang umat Islam, Islam adalah pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia :

Jangankan menyerang agama lain yang tidak menyerang kita , mencerca agama lain saja kita dilarang :

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS AL An’am:108)

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (al Mumtahanah: 8)

Surat Al Baqarah 256 juga menyatakan bahwa kita tidak boleh memaksakan Islam kepada pemeluk agama lain :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah 256)

Islam juga menghormati kebebasan beragama , baca surat AlKafirun 1-6. Dan Allah juga tidak menjadikan Islam sebagai momok yang menakutkan , melainkan pembawa rahmat bagi seluruh isi dunia.

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

.

Fase Keempat

Pada Fase ke 4 jelas kita bisa identifikasi sebagai Kerajaan Saudi Arabia, karena beberapa tahun setelah ambruknya Kekaisaran Ustmani (yang dianggap “Khilafah” Islam) berdirilah Kerajaan Saudi yang menjadi barometer Islam diseluruh dunia sampai saat ini. Rasanya tidak mungkin kita identifikasi sebagai Iran atau Mesir atau lainnya karena dalam Hadist shahih lain disebutkan berakhirnya Fase keempat itu adalah tanda munculnya Imam mahdi (dari Madinah) yang akan membentuk Khilafah Islam terakhir.

Seperti yang diisyaratkan hadist berikut :

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِنَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ

“Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)

Kenapa Hadist pertama diatas menggolongkan Kerajaan Saudi sebagai Pemaksa ? sejarah mencatat bagaimana Kerajaan itu dibentuk atas kerjasama dengan zionis Inggris (superpower waktu itu) untuk melepaskan diri dari Kekhalifahan Ustmani. Sistem Kerajaan murni yang diterapkan membuat Raja Saudi adalah pemegang otoritas tunggal tanpa ada badan Negara lain yang bisa mengontrol.

Ketika chatting dengan seseorang dari eropa yang beragama nasrani beberapa tahun lalu saya sempat bingung menjawab kenapa Saudi yang pusat Islam banyak terlibat dalam kekerasan padahal katanya Islam agama penuh damai.

Tidak bisa dibantah memang kelakuan Penguasa Saudi (bukan seluruh rakyat Saudi) dikancah politik dunia sangat membingungkan kita, Keterlibatannya dalam kekerasan2 yang lakukan bersama dengan sekutunya AS dengan militernya (NATO) terlalu banyak . Mulai dari keterlibatan dalam penghancuran Libiya , Keterlibatan dalam penghancuran Suriah, Keterlibatan dalam peristiwa WTC , keterlibatan dalam pembentukan kelompok2 radikal di Timteng seperti El Nusra dan ISIS sampai dengan secara terang2an membantai umat Islam dinegara paling miskin diTimteng Yaman.

Sejarah dan liku liku mencengangkan berdirinya Kerajaan Arab Saudi ini bisa anda baca dalam buku Survey of International Affair 1925 yang disusun oleh Arnold J Toynbee yang sekarang bisa didownload dengan gratis. Mudah2an anda tidak kaget membacanya.

.

Tampaknya kesalahan pola fikir dari kebanyakan kita yang sebenarnya membingungkan kita sendiri. Kita selalu beranggapan apa saja yang dari arab Saudi adalah suci. Yang suci adalah kota Makah dan Madinah , para penguasanya itu adalah manusia biasa yang bisa dijalan yang benar dan bisa dijalan yang salah.
.

Bukankah para penguasa Saudi telah membuat fasilitas haji yang luar biasa dan mengurus Masjidil Haram ?

Al-Quran Surat At-Taubah-19 telah menjawab pertanyaan tersebut :

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.(QS At Taubah-19)

Penjelasan :

Ayat itu mengisyaratkan akan muncul fenomena dimana banyak orang berpendapat bahwa para penguasa yang kita lihat membangun fasilitas haji (disimbolkan memberi minum orang berhaji) dan mengurus Masjidil Haram adalah orang yang beriman dan berjihad dijalan Allah. Padahal dari sisi pandangan Allah tidak dianggap begitu, bahkan menggolongkan mereka sebagai orang2 yang zalim (aniaya). Sangat jelas kezaliman mereka itu sedang gencar mereka lakukan saat ini terhadap negara2 muslim tetangganya.

Ada yang menyangkal pendapat ini dengan mengatakan yang dimaksud At Taubah-19 itu adalah orang2 musrik yang disebut dalam ayat sebelumnya (ayat 17).

Obyek yang dimaksud ayat ke 17 dan ayat 19 sangat berbeda, ayat 17 menyebut :

Orang2 yang dimaksud adalah jelas orang musrik dan mereka jelas mengaku kafir.
Peristiwanya bisa terjadi diMasjid dimana saja diseluruh dunia.
Sedang ayat 19 menyebut :

Yang membuat fasilitas haji dan mengurus Masjidil Haram adalah fihak yang ddianggap beriman dan berjihad dijalan Allah. Alasan kedua, tidak ada orang yang mengaku kafir yang mendirikan fasilitas haji dan mengurus Masjidil Haram
Masjid yang dimaksud adalah khusus masjidil Haram.

Kebingungan kita dengan perilaku kekerasan para penguasa Saudi ini juga sudah diisyaratkan oleh banyak Hadist yang menyebut akan munculnya “tanduk setan” dan fitnah fitnah yang turun bak air hujan dari arah timur kota Madinah (Riyadh) . InsyaAllah nanti bisa kita bahas tersendiri dalam suatu artikel.

Hadist dan ayat diatas member Pelajaran penting bahwa tidak semua pemerintahan yang menurut klaim manusia adalah Khilafah Islam atau pemerintahan/ Kepemimpinan Islam dunia tapi ternyata menurut Allah adalah bukan , karena jelas menyalahi sunatullah yang diisyaratkan Hadist. Maka yang terbentuk hanyalah klaim Khilafah Islam yang dibentuk dengan pemaksaan/ kekerasan, dan tidak dipatuhi oleh umat Islam seluruh dunia dan tidak dipimpin oleh seorang yang pantas disebut wakil Allah dibumi.

.

Fase KeLima (Khilafah akhir zaman)

Kalau Kekhalifahan Ustmani tidak dianggap Kekhalifahan Islam lalu kenapa ada hadist2 yang mengisyaratkan pembentukan Kekhalifahan Islam di Konstantinopel (Turki) seperti hadist2 dibawah ini ?

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْاَمِيرُ اَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ قَالَ فَدَعَانِي مَسْلَمَةُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ فَسَاَلَنِي فَحَدَّثْتُهُ فَغَزَا الْقُسْطَنْطِينِيَّةَ

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad ]

Ternyata ada beberapa Hadist lain yang memastikan bahwa Kekhalifahan Ustmani itu bukanlah yang dimaksud oleh hadist pertama diatas, karena Kekhalifahan yg diisyaratkan akan terjadi diKonstantonopel itu akan terjadi setelah Al Malhamah (baca Isyarat Islam tentang perang nuklir) . dan nanti akan diprakarsai oleh Imam Mahdi , karena jelas disebutkan dalam Hadist berikut peristiwanya akan terjadi menjelang keluarnya Dajjal :

حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ يَخَامِرَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمْرَانُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ خَرَابُ يَثْرِبَ وَخَرَابُ يَثْرِبَ خُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ وَخُرُوجُ الْمَلْحَمَةِ فَتْحُ قُسْطَنْطِينِيَّةَ وَفَتْحُ الْقُسْطَنْطِينِيَّةِ خُرُوجُ الدَّجَّالِ ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى فَخِذِ الَّذِي حَدَّثَهُ أَوْ مَنْكِبِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا لَحَقٌّ كَمَا أَنَّكَ هَاهُنَا أَوْ كَمَا أَنَّكَ قَاعِدٌ يَعْنِي مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ

Makmurnya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Madinah, hancurnya kota Madinah adalah tanda terjadinya peperangan besar (Al-malmah kubra), terjadinya peperangan besar adalah tanda dari pembukaan kota Konstantinopel, & pembukaan kota Konstantinopel adalah tanda keluarnya Dajjal. Kemudian beliau menepuk-nepuk paha orang yg beliau ceritakan tentang hadits tersebut, atau dalam riwayat lain, ‘pundaknya’. Kemudian bersabda: Semua ini adalah sesuatu yang benar, sebagaimana engkau -Mu’adz bin Jabal- sekarang berada di sini adalah sesuatu yg benar. [HR. Abu Daud )

Penjelasan :

Hadist ini menjelaskan rentetan peristiwa secara berurutan, Yathrib ialah Madinah kota ini telah lama redup sebagai pusat Kekhalifahan Islam, Baitul Maqdis adalah Masjidil Aqsa diIsrael dimana Israel sudah lama Berjaya menjadi kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Maka peristiwa berikutnya adalah AlMalhamah (perang besar/ perang nuklir)

Disusul kemudian Pembebasan Konstantinopel bisa diartikan akan muncul Kekhalifahan terakhir di Turki.

Peristiwa berikutnya adalah keluarnya Almasih Dajjal. Hadist lain menjelaskan Dajjal akan keluar tujuh tahun setelah AlMalhamah. Karena dijelaskan dalam Hadist lain bahwa Nabi Isa , Imam Mahdi dan Dajjal akan bertemu digerbang Masjid Menara Putih di Suriah dan Nabi Isa yang akan membunuh Dajjal maka mudah difahami bahwa Nabi Isa dan Imam Mahdi juga akan muncul sekitar tujuh tahun setelah Al_malhamah.

Hadist dibawah semakin menguatkan bahwa Kekhalifahan akhir zaman yang akan terjadi di Konstantinopel (Turki) hanya akan terjadi menjelang keluarnya Dajjal. Dan pembentukannya terjadi Tanpa pertumpahan darah.

سَمِعْتُمْ بِمَدِينَةٍ جَانِبٌ مِنْهَا فِـي الْبَرِّ وَجَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَحْرِ؟ قَالُوا: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَغْزُوَهَا سَبْعُونَ أَلْفًا مِنْ بَنِي إِسْحَاقَ، فَإِذَا جَاءُوهَا نَزَلُوا، فَلَمْ يُقَاتِلُوا بِسِلاَحٍ وَلَمْ يَرْمُوا بِسَهْمٍ، قَالُوا: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ أَحَدُ جَانِبَيْهَا -قَالَ ثَوْرٌ( أَحَدَ رُوَاةِ الْحَدِيْثِ) لاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ قَالَ:- الَّذِي فِي الْبَحْرِ، ثُمَّ يَقُولُوا الثَّانِيَةَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيَسْقُطُ جَانِبُهَا اْلآخَرُ، ثُمَّ يَقُولُوا: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، فَيُفَرَّجُ لَهُمْ، فَيَدْخُلُوهَا، فَيَغْنَمُوا، فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ، إِذْ جَاءَ هُمُ الصَّرِيخُ، فَقَالَ: إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ، فَيَتْرُكُونَ كُلَّ شَيْءٍ وَيَرْجِعُونَ.

“Pernahkah kalian mendengar satu kota yang satu sisinya ada di daratan sementara satu sisi (lain) ada di lautan?” Mereka menjawab, “Kami pernah mendengarnya, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “Tidak akan tiba hari Kiamat sehingga 70.000 dari keturunan Nabi Ishaq menyerangnya (kota tersebut), ketika mereka (bani Ishaq) mendatanginya, maka mereka turun. Mereka tidak berperang dengan senjata, tidak pula melemparkan satu panah pun, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ maka salah satu sisinya jatuh (ke tangan kaum muslimin) -Tsaur (salah seorang perawi hadits) berkata, “Aku tidak mengetahuinya kecuali beliau berkata, ‘Yang ada di lautan.’” Kemudian mereka mengucapkan untuk kedua kalinya, ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ akhirnya salah satu sisi lainnya jatuh (ke tangan kaum muslimin). Lalu mereka mengucapkan untuk ketiga kalinya: ‘Laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar,’ lalu diberikan kelapangan kepada mereka. Mereka masuk ke dalamnya dan mendapatkan harta rampasan perang, ketika mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan perang, tiba-tiba saja datang orang yang berteriak meminta tolong, dia berkata, “Sesungguhnya Dajjal telah keluar,’ lalu mereka meninggalkan segala sesuatu dan kembali.’ (HR. Muslim).

Penjelasan :

Dari peta kita tahu yang dimaksud kota sebagian didarat dan sebagian menjorok kelaut adalah Kota Istanbul yang dulu bernama Konstantinopel adalah yang dimaksud.
Kalimat “tidak akan tiba hari kiamat sehingga…” maknanya adalah bahwa peristiwanya akan terjadi diakhir zaman (lihat artikel Time table akhir zaman).
Banyak pendapat tentang siapa Bani Ishak dan kita tidak mau terjebak dengan silsilahnya yang belum tentu benar, Yang pasti hadist lain menjelaskan bahwa Pasukan itu akan berangkat dari Khurasan (wilayah Afghanistan).
Mereka tidak berperang dengan senjata. Ini adalah kata kunci yang penting bahwa pendirian Kekhalifahan Islam terakhir nanti tanpa pertumpahan darah.
Bahwa peristiwa penaklukan Istambul / Konstantinopel untuk mendirikan kekhalifahan Islam terakhir itu sangat dekat waktunya dengan Kemunculan Dajjal.

Usia Kekhalifahan Islam terahir

Sebenarnya ada dua khilafah akhir zaman yang dilegitimasi oleh Allah, yaitu Khilafah bentukan Imam Mahdi dan Khilafah Bentukan Nabi Isa as. Kita telah kaji petunjuk agama yang bisa menyimpulkan kearah itu dalam artikel lain.

Hadist hadist yang menjelaskan usia masing masing khilafah itu menunjukkan hal yang sama dan saling menguatkan , yaitu tujuh tahun.

سنن أبي داوود ٣٧٣٦: حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ تَمَّامِ بْنِ بَزِيعٍ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَهْدِيُّ مِنِّي أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الْأَنْفِ يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Tammam bin Bazi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Imran Al Qaththan dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al Mahdi itu dari keturunanku, dahinya lebar dan hidungnya mancung, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi pernah dipenuhi dengan kejahatan dan kezhaliman. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun.” (HR. Abu Daud 3736)

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ ثُمَّ يَمْكُثُ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ لَيْسَ بَيْنَ اثْنَيْنِ عَدَاوَةٌ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ رِيحًا بَارِدَةً مِنْ قِبَلِ الشَّأْمِ فَلاَ يَبْقَى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ أَحَدٌ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ أَوْ إِيمَانٍ إِلاَّ قَبَضَتْهُ

“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam seperti Urwah bin Mas’ud, ia mencari Dajjal dan membunuhnya. Setelah itu selama tujuh tahun, manusia tinggal dan tidak ada permusuhan di antara dua orang pun. Kemudian Allah mengirim angin sejuk dari arah Syam lalu tidak tersisa seorang yang dihatinya ada kebaikan atau keimanan seberat biji sawi pun yang tersisa kecuali mencabut nyawanya” (HR. Muslim no. 2940)

Selain menjelaskan usia kedua Khilafah , Hadist diatas juga menjelaskan bahwa dengan berakhiranya masa kedua Khilafah itu, maka selesailah sejarah hidup seluruh umat mukmin dan Umat muslim , semuanya akan diwafatkan. Kita tidak akan mengalami dan melihat proses kiamat yang hanya akan disaksikan oleh umat yang tetap kafir setelah kedatangan Al Mahdi dan Nabi Isa as.

Kita kutip petikan Hadist sahih Muslim No 2937, teks Hadist lengkapnya silahkan simak pada bagian referansi artikel “Dua Khilafah kembar akhir zaman” :

… Saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang Mu`min dan Muslim di bawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.” (HR. Muslim no. 2937)

2. Selama ada Ya’juj Majuj Tidak Mungkin dibentuk Khilafah Islam

Mungkin anda baru mendengar dan tentu saja menganggap aneh pendapat ini, tapi pendapat ini bukan tanpa dasar tapi berdasar petunjuk Quran dan hadist. Kita akan sajikan ringkasannya saja, karena sebenarnya pendapat itu kita simpulkan dalam kajian tentang Ya’juj Ma’juj.

Jadi sebelum dilanjutkan jika anda tidak tahu bahwa Ya’juj Ma’juj sudah lama dilepas sebaiknya anda baca dulu kajian “analisa dan identifikasi Ya’juj Ma’juj” dan sepak terjangnya bisa dibaca pada “Ya’juj Ma’juj adalah penyelenggara perang nuklir”.

Setelah kita tahu bahwa Ya’juj Ma’juj sudah lama dilepas dan seluruh upaya yang dilakukan Ya’juj ma’juj yang akhirnya menjadikan Yerusalem/ Israel sebagai pusat komandonya adalah dalam rangka mencapai tujuan besarnya yaitu menyambut “Al masih” umat Yahudi (Al Masih Dajjal) , maka gampang difahami bahwa seluruh upaya apapun yang akan dilakukan dalam membentuk Khilafah Islam adalah tidak mungkin dilakukan selama masih ada Ya’juj Ma’juj, karena :

Ya’juj Ma’juj mempunyai tujuan yang serupa yaitu membentuk Pemerintahan Tunggal Dunia (NWO). Khilafah ala Al Masih palsu Dajjal itu akan berpusat di Yerusalem (Israel) .(Baca Kajian Dajjal Sang Al Masih Palsu).
Ya’juj Ma’juj tidak bisa dikalahkan, Allah nanti yang akan menghancurkannya saat Nabi Isa as telah turun kembali.

Poin satu artinya setiap upaya mendirikan Khilafah islam maka sudah pasti dianggap ancaman bagi tujuan besar Ya’juj Ma’juj dan pasti akan dipatahkan.

Poin dua artinya adalah mustahil setiap upaya mendirikan Khilafah islam akan terwujud , karena sama saja kita menerjang tembok yang sudah ditakdirkan Allah tidak bisa ditembus. Hadist sudah bilang “mereka tidak bisa dikalahkan” , kalau masih nekad sama saja kasarnya (maaf) kita menentang sunatullah.

Kalimat ” mereka tidak bisa dikalahkan” sepertinya sederhana tapi agak sulit difahami, jadi silahkan baca sepak terjangnya pada artikel Ya’juj Ma’juj adalah penyelenggara perang nuklir. Jumlah mereka hanya sedikit, tapi kekuatan finansialnya bisa menggerakkan militer negara2 superpower seperti AS, Inggris , Perancis , Jerman dll.

Umat Islam tidak perlu berkecil hati, karena pada saatnya nanti yang kami yakin tidak terlalu lama (hadist mengisyaratkan sekitar 7 tahun setelah perang nuklir Konstantinopel akan dibebaskan) , kita akan mengalami masa khilafah Islam yang diimpikan itu.

Nah sekarang tinggal kita pilih saja sikap yang akan kita tempuh, apakah kita memilih tetap gigih dengan cita cita mendirikan khilafah yang hanya akan menjadi tindakan konyol karena menafikkan petunjuk Allah ataukah memilih jalan cerdas dengan mencari dan menggunakan petunjuk Allah bagaimana menyikapi hidup dalam penindasan Ya’juj Ma’juj yang memang tidak bisa dikalahkan itu sebagai bagian dari ujian hidup dari Allah.
Jangankan kita yang manusia biasa , Hadist menggambarkan setelah turun kembali nanti Nabi Isa saja tidak mampu mengatasi kekuatan militer Ya’juj Ma’juj dan harus mengungsi ke bukit Thursina.(di Mesir). Dan Khilafah Islam terakhir yang dipimpin Al Mahdi baru bisa terbentuk setelah mereka dihancurkan oleh Allah.

Lalu bagaimanakah menyikapi penindasan yang dilakukan oleh Ya’juj Ma’juj yang sejak dilepas sampai saat ini menindas dan memperbudak (bahasa umumnya : terjadi ketidak adilan dimana mana) tidak hanya umat Islam tapi seluruh umat manusia dibumi ? Apakah kita hanya diam saja atau melakukan sesuatu padahal mereka tidak bisa dikalahkan ? Tidak perlu khawatir Qur’an dan Hadist sudah memberi petunjuk, kita akan coba kaji tersendiri dalam artikel menyikapi penindasan Ya’juj Ma’juj.

KESIMPULAN
Kekhalifahan Islam Itu hanya terjadi dua kali dalam sejarah dunia , Yaitu masa Khulafaur Rasyidin dan masa kekhalifahan akhir zaman yang nanti akan diprakarsai oleh Imam Mahdi dan Nabi Isa.
Hadist memvonis bahwa Kekhalifahan Umayyah, Abassyah dan Ustmani tidak termasuk Khilafah Islam. Bahkan malah masuk dalam fase Raja Raja yang menggigit ( menindas) atau raja raja diktator.
Hadist juga memvonis bahwa klaim Khilafah Ustmani oleh Muhhammad Fatih adalah bukan Khilafah yang dimaksud oleh agama. Alasan pertama, karena Hadist lain menyebut pembebasan Konsantinopel yang dimaksud adalah akan terjadi tanpa pertumpahan darah. Alasan kedua, Hadist lain menyebut Pembebasan Konstantinopel itu akan terjadi hampir bersamaan dengan munculnya Dajjal.
Pembetukan Kekhalifahan akhir zaman itu hanya akan terjadi setelah terbunuhnya Dajjal dan dibasminya Ya’juj Ma’juj oleh Allah. Sedangkan dalam Hadist lain (baca peristiwa setelah perang nuklir) diriwayatkan bahwa Munculnya Dajjal dan Kekhilafah akhir zaman adalah setelah Al Malhamah.
Hanya ada satu Khilafah Islam Yang diisyaratkan Hadist yaitu yang akan dibentuk oleh Al Mahdi.
KeKhalifahan Islam akhir zaman oleh Imam Mahdi dibentuk tanpa pertumpahan darah. Bahkan sampai disimbolkan cukup dengan teriakan kalimat Tahlil dan Takbir.
Timbul pertanyaan bukankah saaat ini Konstantinopel (Turki) telah dikuasai oleh penguasa Musilm, kenapa harus dibebaskan ? Baca jawabannya pada Artikel Peristiwa peristiwa setelah perang nuklir.
Tidak Mungkin membentuk Khilafah Islam selama masih ada Ya’juj Ma’juj, karena Ya’juj Ma’juj selain tidak bisa dikalahkan dan juga mempunyai tujuan yang serupa yaitu Pembentukan Pemerintahan Tunggal Dunia (NWO).
Diciptakannya Ya’juj Ma’juj harus diterima sebagai Ujian besar umat Islam, Ketika kita sudah ditakdirkan tidak akan bisa melawannya maka setiap tindakan yang melawan sunatullah tentu hanya akan menjadi tindakan konyol.
Quran dan Hadist sudah menuntun kita bagaimana menyikap ketidakadilan dan penindasan yang yang dilakukan Ya’juj Ma’juj. Silahkan baca sepak terjang mereka sebagai salah satu ujian besar Umat Islam akhir zaman.#

Wallahua’lam bishawab.

Kesempurnaan hidup

Setiap orang selalu menginginkan dan mengharapkan kesempurnaan dalam setiap aspek kehidupannya. Kita semua sering kali berlomba dan berusaha menggapai apa yang namanya kesempurnaan hidup.

Dan rata rata dari kita seringkali mengganggap bahwa Perjalanan menuju kesempurnaan hidup adalah proses yang panjang dan melelahkan. Kita harus melalui jalan jalan yang terjal dan mendaki, kita harus selalu memikirkan dan senantiasa berhati hati dalam setiap langkah yang kita putuskan. Semuanya dalam rangka untuk menuju suatu titik yang namanya hidup yang kesempurnaan.

Akan tetapi sebetulnya ada yang perlu di renungkan kembali, apakah ada kesempurnaan hidup di dunia ini…?

Jika kesempurnaan itu ada, maka dimana adanya dan bagaimana cara mencapainya..?

Kisah Kahlil Gibran menemukan makna dari kesempurnaan hidup

Dalam suatu kisah, seorang filosof dan penyair bernama Kahlil Gibran pernah bertanya pada gurunya tentang makna kesempurnaan dalam hidup.

Sang guru berkata, “berjalanlah lurus di taman bunga, lalu pentiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang.
Lalu, Kahlil Gibran mengikuti nasehat gurunya. Ia berjalan dan sampai di ujung taman, namun ia tak memetik sekuntum bungapun.

Gurunya bertanya, “kenapa kamu tidak mendapatkan bunga barang sekuntum..?

Gibran menjawab, “sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun, ketika aku sudah sampai di ujung taman, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah bunga yang terindah, namun aku tak bisa kembali ke belakang lagi.
Sang guru berkata, “itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tidak akan pernah mendapatkannya. Sebab, sebenarnya didunia ini kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada.

Kesempurnaan Hidup hanya ada di dalam hati

“Kesempurnaan hanya ada dalam hati yang ikhlas untuk menerima kekurangan dari sesuatu.”
Secara filosofis, nasehat sang guru mengajarkan kepada kita bahwa kesempurnaan dari sesuatu hal berbanding lurus dengan kemampuan hati dalam menerima ketidaksempurnaan dan kekurangan itu sendiri.

Kesempurnaan hidup tergantung seberapa besar hati mampu menerima semua yang terjadi dalam hidup kita.

 

Dan itulah salah satu makna dari Hati yang Kaya, yakni hati yang mampu bersikap “Zuhud, Qona’a (merasa cukup) serta Ikhlas” karena ketiganya adalah penyempurna terhadap segala sesuatu yang ada di kehidupan dunia. Jika hati kaya, maka semua hal akan terasa sempurna.

Dan yang perlu di pahami lagi adalah bahwa untuk bisa bersikap Zuhud, Qona’ah, dan Ikhlas tidak hanya batin yang harus di paksa menerima tanpa penjelasan yang logis, akan tetapi seseorang harus mampu juga memahaminya menurut logika akalnya agar sejalan dan tidak timpang antara batin dan akal.

Jika kita memahami dengan benar bagaimana memahami konsep rezeki, insyaallah akan lebih mudah bagi kita untuk merasakan kebahagiaan. (Baca konsep Rezeki.. ).

Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hati.”
(HR.Muttafaqun Alaih)

Baca dan Tonton:

Bahagia menurut Islam